Berbaik Sangka


Paijo mempersiapkan diri dengan beberapa ayat Quran dan hadits nabi, sebelum pergi ke rumah Parman, yang baru saja kena musibah, sehingga harta bendanya tidak hanya habis, tapi minus.

Ayat Quran yang disiapkan antara lain adalah :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (Al-Baqarah: 286)

Iapun mempersiapkan kisah-kisah bijak tentang perlunya berkhuznudzon pada Allah, karena Allah swt paling tahu apa yang terbaik buat kita.

Sesampainya di rumah Parman, ia langsung beruluk salam dan kemudian terlibat perbincangan yang hangat dengan Parman.

Iapun jadi lupa untuk berdakwah, menyampaikan kata-kata hiburan berdasar ayat-ayat Quran yang sudah dihapalnya. Sampai akhirnya ia menyadari, bahwa tujuannya adalah menghibur Parman dan bukan bersenda gurau seperti ini.

Iapun akhirnya tergelitik untuk bertanya,

“Mas, katanya baru saja ditipu orang ya?”

“Halah, berita udah menyebar ya?”, jawab Parman sambil bergelak ketawa.

“Gimana sih ceritanya, kok sampai sebegitunya?”, kata Paijo.

Parmanpun bercerita panjang lebar tentang musibah yang dialaminya. Yang membuat Paijo makin heran adalah model berceritanya Parman, yang tidak terlihat sedikitpun unsur menyalahkan penipu ataupun mengeluhkan tentang hidupnya setelah ditipu habis-habisan.

Penasaran, Paijopun bertanya,

“Kok kelihatannya mas Parman gak sedih menerima musibah ini?”

Parman tergelak ketawa, dan kemudian mulailah Parman bercerita tentang hidupnya setelah habis-habisan hartanya dikuras oleh penipu.

Dulu, ketika masih punya uang banyak, maka setiap akan menghitung zakat, Parman selalu dipusingkan dengan angka-angka yang terasa njlimet. Setelah membayar zakatpun, dengan rumus 1,5 kali besaran zakat wajib, rasanya masih saja ada yang kurang dizakati.

Sudah sedekahpun, rasanya masih ada juga hak orang miskin di hartanya. Hal ini membuat pikiran Parman sering tidak tenteram.

“Sekarang ini mas, saya gak perlu pusing mikirin besaran zakat. Lha saya ndak punya uang kok, malah mungkin saya ini wajib diberi zakat”, demikian penutup dari Parman.

“Lha kok ndak marah sama yang menipu sampeyan?”, kata Paijo masih belum puas.

“Penipuku itu belum kenal Tuhan mas, jadi semoga sekarang dia bisa kenal Tuhan. Semoga dia diingatkan, bahwa harta dunia itu tidak kekal, tidak barokah kalau mendapatkannya dengan cara yang gak bener”

“Ooo…”

“Masih untung mas, aku ditipu pada saat sekarang ini. Coba aku ditipu pas aku jadi orang yang lebih kaya. Bukan tidak mungkin yang terkena imbas dari tipuan itu termasuk orang-orang yang bekerja padaku. Kan kasihan mereka. Kalau sekarang ini, alhamdulillah, hanya aku yang terkena, jadi gak apa-apalah. Ini kan ujian dari Allah, agar aku naik kelas”

“…..”

“Aku percaya kok mas, kalau sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan…”

“…..”

3 comments on “Berbaik Sangka

  1. Ping-balik: Berbaik Sangka [lagi] « PoJoK YoGyA (lagi)

  2. Makasih doanya.

    Aku juga suka melihat blog “rindu”, biasanya dapat pencerahan sehabis lihat blognya, terus jadi rindu untuk datang lagi.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s