Tabungan Udin


Siang itu sehabis acara syukuran dengan teman-temannya, Udin memacu motornya balik ke rumahnya. Tak terasa sebuah senyuman tersungging di mulutnya. Memang ini hari yang menyesakkan buat Udin.

Beberapa hari ini dia telah mencurahkan semua tenaga, daya dan upaya untuk mengikuti serangaian acara yang melibatkan banyak orang di kampungnya.

Suatu hal yang dulunya terasa tidak mungkin dilakukan, sekarang ternyata menjadi mungkin dilakukan.

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Terima kasih pak Dhe atas segala nasihatnya”, begitu tak terasa terucap kata terimakasih pada pak Dhe dari hatinya yang paling dalam.

Dulu Udin selalu merasa sendirian di lingkungannya yang ramai, tetapi setelah mendengar anjuran pak Dhe untuk mengikuti kelompok mastermind, tiba-tiba dia mempunyai saudara baru dan mempunyai tempat untuk mencurahkan semua isi hatinya. Bagaikan ombak laut yang tak pernah kenal henti, curahan hati Udin terus menerjang berondongan kalimat yang disampaikan Udin dalam kelompok itu.

Berdasar oret-oretan, maka modal yang dipakainya akan impas jika acara tersebut berlangsung dengan baik. Keuntungan bagi Udin adalah reputasinya di bidang EO yang akan makin berkibar. Kerugian di satu bagian acara akan tertutupi oleh acara yang lain.

Sisa keuntungan akan dipakainya untuk melakukan syukuran dengan teman-temannya yang telah ikut mensukseskan acara itu.

Begitulah, ketika acara syukuran akhirnya dapat dilaksanakan, maka sujud syukur kembali disampaikan oleh Udin. bagaimana tidak, saat acara syukuran itu berlangsung, datang undangan acara yang lain. Sebuah event yang lebih besar dan lebih menjanjikan keuntungan.

Lebih melegakan lagi, ternyata warung tempat mereka syukuran merasa tersanjung dengan kedatangan Udin, sehingga memberikan potongan harga yang tidak tanggung-tanggung.

Selesai acara, Udin menghitung uang di sakunya.

“Wah.. ada uang kontan 500 ribu nih. Untuk apa ya? Tadi kan direncanakan uang ini habis atau sisa sedikit saja”, begitu pikir udin.

Akhirnya Udin melupakan keinginan uyntuk menggunakan uang itu, karena sudah larut dalam suasana yang begitu membesarkan dadanya. Seolah mau meledak saja dada Udin mengalami hari yang begitu indah ini. rasanya semua capek yang terjadi di minggu-minggu ini sudah terbayar lunas ditambah bunganya lagi..!:-)

Tak terasa, bukannya mengarah pulang tapi sepeda motor Udin malah mengarah ke luar kompleks. Seharsunya dia belok kiri, tetapi karena perasaan sedang senang tak terkira, maka secara otomatis sepeda motor itu mengikuti arah keluar kompleks. Itulah arah sehari-hari Udin kalau mau keluar kompleks.

Udin baru sadar ketika melewati polisi tidur yang agak tinggi.

“Halah..??? Mau kemana aku ini?”

Udin langsung mencari putaran balik dan belok ke kanan menuju arah rumahnya lagi. Sayangnya banyak kendaraan lewat, sehingga Udin harus menunggu sampai kendaraan yang lewat di U-Turn itu berkurang ramainya.

Tanpa ada perasaan apa-apa, Udin melihat bangunan yang ada di depan U-Turn itu. Itulah sebuah bangunan BANK.

Tiba-tiba teringatlah janji udin pada kawan-kawannya untuk membuka tabungan haji. Udinpun ingat acara di rumah pak Dhe yang meriah dan mengharukan, yaitu saat pak Dhe mengumumkan atau diumumkan oleh Pak Ustadz bahwa dia akan naik haji.

“Bagaimana kalau sekarang aku buka tabungan haji ya? Paling enggak nanya-nanya dulu persyaratannya”, begitu pikir udin.

Sepeda motor merah Udin langsung parkir di depan BANK dan Udinpun masuk ke ruangan dalam. Dengan ramah seorang petugas untuk pelanggan menjawab semua pertanyaan Udin.

“Setoran pertama cukup 500 ribu saja kok pak”

“Wah pas jumlahnya”, tanpa sadar terpekik suara Udin mendengar ucapan sang petugas BANK.

“Ditambah meterai jadi 506 ribu pak…”

“Waduh, kok ada 6 ribunya ya?”, dikeluarkannya semua uangnya, dan ternyata setelah dihitung ulang hanya ada 505 ribu rupiah.

“Masak nabung kok utang seribu, gak aci deh…”, begitu pikir udin

“Masak nggak jadi nabung gara-gara uang seribu? Pasti ada cara yang lebih baik”, lanjut pikiran Udin.

Ketika Udin kembali memeriksa dompetnya lagi, maka matanya tertumbuk pada lipatan kertas putih tipis di samping KTPnya.

Dengan tergesa-gesa dibukanya lipatan kertas itu.

“Alhamdulillah. Ini surat kuasa yang kemarin tidak jadi kubuat. Hahahaha… ada materainya disini. Untung belum kutanda tangani”

Udinpun menyodorkan materai bekas dan uang 500 ribu.

Senyum Udin makin mengembang ketika akhirnya dia memagang buku tabungan Hajinya.

“Aku tak tahu kapan aku naik Haji, tapi aku akan berusaha untuk naik haji tahun depan. Insya Allah. Amin”

+++
artikel terkait :
Pak Dhe ke tanah suci

5 komentar

  • Ping-balik: Udin : Nyandu Jualan « PoJoK YoGyA (lagi)

  • syukurlah, niat baik selalu ada berkah tak dinyana… bagus bener critanya… kang…

    • salam kangTopan

      cerita aslinya tidak seperti ini, kurobah di beberapa titik agar sesuai dengan karakter Udin dan Pak Dhe

      tapi semangat dan inti cerita memang dari pengalaman seorang kawan

      semoga kawan itu akhirnya naik haji beneran, dengan modal 500 ribu itu
      amin

      salam

  • wuah… masih sisa untuk beli bensin si Udin,… alhamdulillah….

    • ini contoh berpikir positif dari kang Suryaden

      coba berpikir sebaliknya, pasti yang muncul adalah energi negatip
      aku makin yakin deh dengan energi positip

      makasih pencerahannya Kang…

      salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s