Beli Indonesia, tonton Rasul Darurat, asli produk Indonesia

Dia bukan Nabi Darurat tapi Joko Kamto


Tepuk tangan membahana ketika Sabrang Noe Letto mengumumkan para pemeran Pagelaran Teater Nabi Darurat Rasul Adhoc di Taman Budaya Jogjakarta. Para pemainpun terus memberi hormat pada para penonton yang terus bertepuk tangan, sampai akhirnya pertunjukan memang harus diakhiri.

nabi darurat (23)

Tanpa terasa ternyata pertunjukan ini memakan waktu sekitar 3 jam. Sebuah durasi pertunjukan yang luar biasa untuk ukuran masa kini. Saat para penonton pada umumnya lebih suka tontonan yang hanya berdurasi sekitar 2 jam, ternyata Teater Perdikan tetap “pe dhe” dengan menampailkan sebuah pagelaran selama 3 jam.

Hasilnya tentu bisa terlihat dari respon penonton yang tetap segar di sepanjang pertunjukan. Tentu tidak semua penonton dalam kondisi segar seperti itu. Ada saja sebagian penonton yang mendengkur atau pulas tertidur di antara penonton lain yang serius menyimak tampilan teater Perdikan dari awal sampai akhir.

nabi darurat (2)

Komentar pada artikelku tentang Nabi Darurat Siapa Itu ternyata tidak terbukti. Waktu itu aku sempat kaget juga mendapat komentar seperti ini :

Tontonan yang tidak layan ditonton. Dari judulnya saja sudah dapat menyesatkan orang lain.
Apa yang dicari dari tontonan ini? Tidak ada. Yang ada hanya memenuhi rasa penasaran yang tidak terarah.
Apakah sekedar ingin mendapatkan uang yang banyak? Atau ingin mendapatkan pembaca yang banyak?
Mereka mempermainkan kata-kata untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit, namun mengorbankan keuntungan yang besar.
Astaghfirullahal ‘adhim.

nabi darurat (18)

Judul pagelaran teater Perdikan ini memang ada nuansa nakalnya, tapi kalau melihat penampilan seluruh ceritanya, maka kesan seperti itu tidak muncul. Justru Emha ingin menunjukkan bahwa fenomena seperti ini ada dan solusinya juga ada. Cuma naskah Nabi Darurat Rasul Adhoc ini termasuk cukup berat, sangat berat malahan, tetapi sutradara dengan piawai memasukkan kelompok musik Letto yang membuat materi yang berat itu bisa sedikit mencair.

nabi darurat (5)

Jempol dua patut diberikan pada Agus Patub yang begitu santai memerankan perannya. Dialog yang cerdas dan khas Jogja mewarnai sebagian besar adegan Letto. Sutradara pasti nanti akan membuat suasana versi lain saat dipentaskan di Surabaya atau Jakarta.

Materi berat yang diucapkan Ruwat Sengkolo diterjemahkan dalam dialog-dialog cair oleh Agus Patub dan teman-teman Lettonya. Adegan kelompok Letto juga menunjukkan bahwa sebenarnya kaderasi teater Jogja amat sangat kurang padahal bakat-bakat baru bisa muncul darimana saja.

nabi darurat (15)

Joko Kamto yang begitu prima memainkan perannya bukan membuatku senang dan bahagia. Meski aku harus mengangkat empat jempol pada Joko Kamto, tetapi adegan-adegan yang dia mainkan justru menunjukkan bahwa belum ada yang bisa menggantikan peran Joko Kamto di dunia teater Jogja.

Kalau saja bukan Joko Kamto yang memainkan peran Ruwat Sengkolo dalam pertunjukkan Nabi Darurat Rasukl Adhoc ini, maka bukan tidak mungkin akan lebiih banyak lagi penonton yang tertidur di kursi empuknya. Akupun mencoba menduga-duga kenapa ada saja penonton di dekatku yang bisa tertidur pulas saat menonton pagelaran ini.

1. Mungkin saja dia bukan penonton teater asli, tetapi datang menonton karena dia percaya bahwa pertunjukan ini hanya akan berlangsung paling lama dua jam.

2. Mungkin dia datang ke pertunjukkan ini hanya mengantar kawan atau saudaranya dan bukan mau menonton teater.

3. Bisa jadi dia memang penggemar fanatik Letto, jadi dia datang hanya ingin menikmati penampilan Letto.

4. Mungkin ada penyebab lain yang aku tidak tahu, silahkan tulis di komentar artikel ini.

nabi darurat (9)

Sekedar saran buat sang sutradara, bila beberapa dialog lebih diperingkas, lebih cerdas, maka jangan-jangan tidak ada satupun penonton yang tertidur.

Bagi yang belum nonton silahkan buktikan sendiri kemampuan akting prima dari Joko Kamto dan Agus Patub Letto. Buat pemain yang lain. salut juga kuucapkan, karena tetap setia dengan dunia yang sudah makin ditinggalkan ini.

Salam sehati.

Beli Indonesia, tonton Rasul Darurat, asli produk Indonesia

Beli Indonesia, tonton Rasul Darurat, asli produk Indonesia

+++

Foto-foto selengkapnya bisa dilihat disini.

17 comments on “Dia bukan Nabi Darurat tapi Joko Kamto

  1. Kebetulan saya banyak belajar dari Beliau “Cak Nun” dan memang penggemar Cak Nun, dan aktif mengikuti pengajian padhang mbulan, kita merasa tidak hanya sekedar menonton tetapi juga “sinau”, memahami keadaan dengan akal sehat dan hati nurani supaya tidak terjerumus untuk berbuat anarkis & menghujat …. Salam Maiyah

  2. Hahahahaha
    Yang tertidur mungkin belum tahu bahwa ada jutaan ilmu yang bisa diserap dalam teater itu pak

    • Hahahaha….

      Iya tuh, di luar hujan terus turun, di dalam tahu-tahu sudah ngorok
      Tapi masih banyak yang terus terjaga dan terus memberi respons atas kejadian di panggung.

      salam sehati

  3. Ping-balik: Dia bukan Nabi Darurat tapi Joko Kamto | Kenduri Cinta

    • Hahahaha…
      intele malah kinbtel kintel je…

      sayang gak pethuk dab!:-)

      pada ajang “DICIPOK” kita juga gak ketemuan ya, padahal sampai malam aku banyak nongkrongnya di JEC

      salam sehati bin tlisipan

    • Yes!
      Kita nonton sekeluarga.
      Pergi bersama menikmati suguhan khas berselera, musisi jalanan mengiringi makan malam kami setelah selesai nonton
      (hehehe… terinspirasi lagu KLA Project, padahal hanya makan lesehan tanpa musisi jalanan)

      Salam sehati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s