Pagi ini kubaca sebuah pertanyaan menggelitik di TL Twitterku. Aku yakin pertanyaan itu bukan ditujukan kepadaku, tapi aku langsung merespon pertanyaan itu dengan harapan dan kemudian diamini oleh beberapa temanku.
Pertanyaan yang sangat sederhana memang, tetapi maknanya sangat dalam.
Ustadz, kita Riya’ ga pamerin subuh di twittr #tanyaserius
Beberapa jawaban dari teman-teman (ustadz) antara lain sebagai berikut :
Mdh tersusupi ![]()
Moga2 niatnya bukan krn ingin pamer
Dari dua jawaban itu, aku langsung tercenung. Jangan-jangan yang kulakukan di tiap pagi untuk memberikan nuansa epos malah tersusupi oleh niat riya”, ingin pamer karena rajin subuh dsb.
Semua ibadah yang kita lakukan sebenarnya memang sangat dekat dengan pamer, ketika kita ingin menyebarkannya. Beda sangat tipis antara pamer dan menyebarkan epos (energi positip). Apalagi sebagai seorang blogger, biasanya aku punya penyakit kronis : NARSIS !:-).
Mungkin hanya ibadah puasa yang susah dipamerkan. Untuk ibadah yang lain akan lebih mudah jatuh ke modus pamer, meskipun awalnya hanya ingin berbagi epos.
Semoga meskipun ada nuansa narsisnya, tetapi manfaat epos tetap lebih banyak dibanding mudharatnya. Amin.

nyimak dulu ah g brani komment…
ambil aman…
ahaha
salam
ambil aman
safety player !:-)
salam sehati
Saya ingat ungkapan “Takut akan riya’ adalah riya”. Jika Pada saat beramal terlintas niat riya’, maka langkah yang paling tepat adalah memperbaiki niat bukannya malah meninggalkan amal kebaikan. Memper baiki niat itu lebih mudah dari pada beramal.
Makasih masukannya.
Sangat bermanfaat.
Salam sehati.
Heheheh.. ternyata obrolan di twitter itu “dibahas” disini
IMHO, semuanya dikembalikan kepada niat. Kalau sudah urusan niat hanya Allah dan diri kita (hati) saja yg lebih tahu. Sepanjang niatnya lurus dan baik, insyaAllah itu bukan pamer, malah boleh jadi menjadi syiar.
Justru kita harus menghindari “takut atau berhenti beramal” karena takut dibilang riya (biasanya yang suka nakut-nakutin itu syetan). Jadi, teruslah berbuat baik, sambil terus pula memperbaiki dan meluruskan niat, sehingga kita bisa mengenal dengan baik “batas” (yg sesungguhnya amat tipis itu) antara riya atau bukan riya.
Kalau saya mah begitu, mas Eshape. Mudah-mudahan tidak salah-salah amat alias ada benarnya.. Kalaupun salah mohon dikoreksi.
Salam mas @Imam Suyono
Sepakat mas. Masukan dari siapapun sebaiknya kita renungkan manfaatnya.
Semoga dengan saling mengingatkan, kita bisa lebih nyaman menyampaikan syiar Islam.
Insya Allah. Amin.
Salam sehati
Saya sejak dulu berusaha menghindarkan diri dari menulis twit2 atau status2 yang menyangkut ibadah. Sebab untuk urusan hati, kadang2 sangat membedakan antara niat berbagi untuk kebaikan, dengan riya.
Menurut saya, daripada terjebak riya secara halus bahkan tanpa kita sadari, lebih baik hentikan membuat twit2 atau status2 yang berupa “laporan ibadah”.
Btw:
Sekadar info: DUlu saya pernah membuat update status tentang kegiatan saya menulis di tengah malam. Lalu ada seorang teman yang berkomentar, “Jangan lupa tahajud juga Pak. Agar lebih afdol”.
Saya tidak menjawab komentar ini. Karena jika saya jawab, bisa2 nanti unsur riya, sombong dan sebagainya ikut terlibat. Soal apakah saya shalat tahajud atau tidak, biarlah hanya Allah yang tahu.