Category Archives: agama

Kepastian yang tidak pasti

Ucapan Duka Cita

Pagi ini aku ke Bandung dan menulis statis di FB tentang perjalananku ke Bandung. Seorang teman setia, juga membuat status tentang perjalananku itu, dengan menulis kalimat tentang sebuah “Kepastian yang tidak pasti”. Kalimat dari temanku itu terus menempel di kepalaku sampai aku pulang dari Bandung dan sampai aku menuliskannya di artikel ini.

Merujuk pada kejadian kepergianku ke Bandung, maka aku merasa kalimat Kepastian yang tidak pasti itu adalah sebuah kalimat yang pasti benar, tapi jarang orang yang mau menuliskannya di status FB mereka. Paling mereka hanya memberi jempol, sebagai tanda suka, atau malah menulis status yang lain, meskipun masih berhubungan dengan “kepastian” itu.

Aku jadi ingat beberapa puluh tahun lampau ketika sering menghadiri acara di mushola kampung. Secara rutin ada pembicara yang selalu bercerita tentang “kepastian” dalam hidup ini. Kalau sang pembicara adalah bapak itu, maka pasti ceritanya tentang “kepastian hidup” dan beliau tidak pernah mengambil topik yang lain.

Pada kehidupan sehari-harinya, bapak itu bekerja sebagai sopir di rumah sakit yang sering membawa mayat orang dalam mobilnya. Selalu saja ada cerita lucu tentang kejadian di kamar mayat, di mobil jenazah atau dimana saja tentang sang mayat. Satu hal yang paling kuingat ketika dia harus menjadi driver sendirian dan penumpangnya adalah seorang yang sudah menjadi mayat.

Dalam perjalanan malam berkilo-kilo meter jauhnya, tiba-tiba jantungnya hampir copot karena ada yang menepuk pundaknya sambil berkata.”sudah sampai dimana ini?”

Kita semua ikut kaget dan kemudian disambung riuhnya kita menertawakan teman di samping kita yang ikut kaget seperti sang driver. Rupanya ada penumpang gelap yang tertidur di dalam mobil jenazah dan begitu terbangun menyapa sang driver, padahal sang driver merasa yakin bahwa penumpangnya hanya seorang yang sudah menjadi mayat.

Almarhum bapak juga sering bercerita yang lucu-lucu tentang kejadian di rumah duka. Banyak sekali cerita tentang hal itu yang didongengkan bapak di masa hidup beliau. Ceritanya sudah sangat umum dan mirip-mirip tetapi tetap saja aku suka mendengarkan cerita dari bapak. Mungkin sama kejadiannya dengan anak-anakku yang sangat suka didongengkan cerita apa saja ketika mereka masih kecil.

Sholat Jenazah

Sholat Jenazah

Kalau dari bapak, cerita yang paling kuingat adalah ketika sedang di kampung menungguin jenazah sambil main kartu. Setelah lewat tengah malam dan menjelang subuh, para pemain kartu mulai ngantuk dan merasa kedinginan, sehingga merekapun berpamitan pulang. Ternyata ada salah satu orang yang merasa bertanggung jawab dan tidak ikut pulang, tapi tetap menungguin jenazah di ruangan itu. Paginya orang ribut berlarian karena mayat yang ada di keranda ternyata masih hidup. Itulah sang penunggu mayat yang karena kedinginan ikut tidur disamping sang mayat.

Kisahku sendiri di seputaran mayat adalah ketika aku menjadi MC (pembawa acara) saat ada upacara pemberangkatan jenazah. Sebagian besar penduduk kampungku mengenalku sebagai pembawa acara di berbagai acara, baik di kampung maupun di luar kampung, maka merekapun menyerahkan tugas pembawa acara pada aku.

Akupun jadi mati kutu, karena banyak menemukan bahan humor selama menjadi MC, tetapi aku tidak bisa menyampaikan pada para hadirin. Waktu itu rasanya benar-benar tidak nyaman. Serba salah tapi tidak boleh salah.

Ucapan Duka Cita

Ucapan Duka Cita

Di sepanjang perjalanan dari Bandung Jakarta, di mobil, aku ikut terhanyut dalam pembahasan tentang sebuah “kepastian yang tidak pasti” ini. Kuceritakan saat adik kandungku Dwi Suharno meninggal. Dirapikannya semua peralatan pancingnya dan ditemuinya istrinya sebelum meninggal, setelah sebelumnya dia pamit meninggal pada ibuku. Adikku itu akhirnya meninggal dalam dekapan istrinya.

Bulan lalu, kakak dari istriku juga meninggal dalam pelukan anaknya. Sekarang kawanku yang sangat periang, penyabar dan selalu rajin bercanda ria, meninggal malam tadi. Semuanya seperti sudah tahu bahwa “kepastian meninggal” itu sudah pasti datang dan mereka sangat tahu kapan kejadiannya. Sementara kita yang ditinggal sampai saat ini tahu tentang “kepastian” itu tetapi tidak pernah tahu dengan pasti kapan “kepastian” itu datang.

Semua orang juga baru menyadari semua perlambang kepastian itu ketika kepastian itu sudah datang. Benar kata panutan kita,”nasehat yang paling baik adalah melihat kematian berlangsung di depan kita”.

Keranda

Keranda

+++

Copas BC dari BBM teman :

Kalimat indah dari Dr. ‘Aidh Al-Qarni:
Kita tidak bisa merubah yang telah terjadi
Juga tidak bisa menggariskan masa depan
Lalu mengapa kita bunuh diri kita dengan penyesalan, atas apa yang sudah tidak bisa kita rubah?
Hidup itu singkat sementara targetnya banyak
Maka, tataplah awan dan jangan lihat ke tanah
Kalau merasa jalan sudah makin sempit, kembalilah kepada Allah yang Maha Mengetahui hal yang gaib
Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja.
Kapal titanic dibuat oleh ratusan orang
Sedang kapal nabi Nuh dibuat hanya oleh satu orang
Tetapi, Titanic tenggelam. Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia
Taufik hanya dari Allah swt
Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga
Tempat, dimana orang tua kita, Adam, tinggal pertama kali.
Kita tinggal di sini hanya untuk sementara,
Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali.
Maka berusahalah semampumu,
Untuk mengejar kafilah orang-orang salih, Yang akan kembali ke tanah air yg sgt luas, di akhirat sana…
Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini..!!
Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yg jauh, Atau karena ditinggal orang tercinta,
Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan, sebab kita akan bertemu lagi di akhirat
Perpisahan adalah ketika satu diantara kita masuk surga,
sedang yang lainnya terjerembab ke neraka.
Semoga Allah menjadikan aku dan kalian semua menjadi penghuni surgaNya.

Dicari Buka Puasa Bersama plus Sholat Jamaah Isya

Masjid di atap Mall

“Dicari Buka Puasa Bersama plus Sholat Jamaah isya”

Aku mencoba menuliskan kalimat itu di halaman mesin pencari Google dan alhamdulillah muncul beberapa acara buka bersama yang diikuti dengan sholat Isya berjamaah dan dilanjutkan terus dengan tarwikh berjamaah.

Sayangnya, dalam kenyataannya, undangan buka bersama yang masuk ke inbox-ku tidak banyak yang menyertakan acara buka bersama dengan acara jamaah sholat Isya dan tarwikh. Namun aku tetap bersyukur, karena acara buka bersama yang rutin kuikuti tetap setia dengan menu acara tarwikh berjamaah.

Hari Minggu kemarin, aku kembali menerima banyak undangan buka bersama dan sayangnya semuanya tidak menyertakan paket Isya berjamaah. Akhirnya akupun mendatangi lokasi buka bersama yang paling dekat dengan rumahku. Sepuluh menit sebelum Isya, aku pamit dan bisa melanjutkan sholat Isya berjamaah di masjid dekat rumahku.

Nostalgia masa kecilku memang penuh dengan ingatan acara buka bersama di beberapa masjid Jogja. Ada masjid Danurejan, masjid Sulthoni, masjid Pasar Beringharjo, Masjid Gedhe Kauman dan beberapa masjid lainnya. Ingatan yang begitu kuat tentang peristiwa buka bersama itu pernah membuatku kecele ketika pertama kali sholat maghrib di Masjid Baiturrahman Banda Aceh pada tahun 1989.

Ketika itu aku jalan kaki dari hotel Medan menuju ke masjid Baiturrahman dan duduk manis menunggu adzan dikumandangkan dari masjid termegah di Aceh itu. Begitu adzan dikumandangkan, aku mulai menengok ke kanan dan ke kiri, aku mencari-cari makanan kecil untuk membatalkan puasa. Ternyata sampai sholat Maghrib usai, tidak ada makanan kecil sedikitpun.

Ternyata beda kota beda pula cara mereka membatalkan puasa di masjid.

Masjid di kala hening malam

Masjid di kala hening malam

Berbuka puasa bersama teman-teman memang sangat mengasyikkan, sekalian kopdar dapat kenyang dan dapat santapan batin. Suasana yang meriah selalu mewarnai acara buka bersama, sangat kontras dengan suasana pada waktu takziah. Dua acara itu memang kontras sekali, sehingga kalau ada acara takziah yang diisi dengan canda tawa pasti akan menjadi anomali. Sayangnya, aku pernah melihat hal ini.

Namun kalau aku mencoba menerawang beberapa tahun ini, maka kulihat makin banyak acara buka bersama yang mulai berpikir untuk ditautkan dengan acara sholat berjamaah maghrib maupun Isya. Beda dengan beberapa tahun lalu yang kadang acara buka puasa justru tidak ada acara sholat jamaah maghribnya. Mereka mencari lokasi yang menyediakan makanan enak di resto mahal atau tempat megah, tetapi tidak mempunyai fasilitas musholla yang memadai.

Berkumpul bersama keluarga memang nikmat

Berkumpul bersama keluarga memang nikmat

Beberapa tahun lalu aku pernah ikut buka bersama yang diadakan oleh teman-teman yang rajin sholat, sehingga aku berbaik sangka saja bahwa acaranya akan dimulai dengan buka bersama dan disisipi dengan sholat berjamaah.

Benar yang kuduga, begitu selesai membatalkan puasa kita langsung menuju ke lokasi mushola resto mahal itu. Ternyata untuk mengambil air wudhu saja susah banget, apalagi untuk masuk ke mushola. Kulihat antrian panjang di toilet dan tempat wudhu dan di dekat mushola antrian yang lebih panjang lagi dari mereka yang ingin sholat berjamaah.

Ternyata diperlukan data tentang lokasi sholat dan proses pengambilan air wudhu sebelum memutuskan memilih tempat buka puasa. Alhamdulillah, pengalaman berharga itu membuat aku selalu melihat lokasi wudhu dan lokasi sholat sebelum memilih tempat buka atau ketika memasuki tempat buka puasa bersama.

Inilah tips berbuka bersama :

1. Pilih acara buka bersama yang kita yakin ada rangkaian sholat jamaah Maghrib (minimal) dan idealnya ada acara tarwikh berjamaah.

2. Sebelum acara makan, lihat dulu lokasi pengambilan air wudhu, toilet dan lokasi sholat (musholla)

3. Sarankan untuk memasukkan acara sholat berjamaah, bila kita mendapat undangan buka bersama (seperti judul artikel ini “Dicari Buka Puasa Bersama plus Sholat Jamaah isya”).

4. Lakukan semua itu dengan baik dan benar, tanpa menyinggung pihak-pihak yang ada kemungkinan tersinggung dengan sikap kita.

Salam sehati.

Lokasi Buka Bersama paling ideal

Lokasi Buka Bersama paling ideal sebaiknya di Masjid yang cukup luas

+++

Mari kita mencari acara Buka Puasa Bersama plus Sholat Jamaah Isya

 

Hari kasih sayang dan kehangatan keluarga

Sapi Qurban untuk 7 orang

“Hari kasih sayang dan kehangatan keluarga ya hari ini saat kita berpesta mensyukuri nikmat kasih Allah swt”.

Ada hari yang dilarang untuk berpuasa, mulai hari lebaran Haji sampai 3 hari sesudahnya. hari-hari itu adalah hari dimana kita disunahkan untuk berpesta, bersenang-senang mensyukuri semua kasih sayang yang telah kita terima dari Allah swt. Kita selalu dihadapkan pada cerita tentang Ibrahim dan Ismail.

Dua nabi itu memberi contoh pada kita tentang betapa mulianya kasih sayang seorang ayah, Ibrahim, dan kisah betapa patuhnya seorang anak kesayangan yang bernama Ismail. Mereka berdua selalu memberikan inspirasi tentang bagaimana sebaiknya seorang bapak dan seorang anak saling bersikap untuk menunjukkan kasih sayang mereka.

Dari tahun ke tahun, suasana hari raya lebaran Haji ini selalu berbeda. Saat aku masih kecil, maka begitu selesai sholat Ied, maka para jamaah langsung bertebaran, pulang ke rumah masing-masing atau tetap di lapangan dan mulai asyik membeli makanan yang ada di lokasi.

Endog Abang dari KratonPedia.com

Endog Abang dari KratonPedia.com

“Endog Abang” (telor yang dicat warna merah) adalah makanan yang wajib dibeli, meskipun rasanya sebenarnya biasa-biasa saja, karena memang itu hanya sebutir telor rebus saja. Hanya saja kalau pulang dari alun-alun utara Jogja dan tidak membawa endog abang kok rasanya beda.

Beberapa tahun ini aku selalu sholat Ied di lapangan parkir monumen Pangeran Diponegoro, Tegal Rejo Jogjakarta. Tahun pertama di lapangan ini, maka seusai sholat selalu saja lapangan jadi penuh dengan sampah koran. Lokasi parkir jadi kotor dan perlu seorang atau beberapa orang pemulung yang akan membersihkan sisa koran yang dipakai para jamaah sholat Ied.

Hari ini, 15 Oktober 2013, kulihat lokasi parkir benar-benar bersih dari sampah koran. Di beberapa pojok lapangan kulihat tumpukan koran yang sudah dirapikan. Pemulung yang datang akan dengan mudah membawanya pergi. Beberapa koran bahkan terlihat dilipat rapi dan beberapa masih asal dikumpulkan di suatu tempat tanpa dirapikan dulu.

Seperti biasa, para penjual kaki lima sudah mangkal di lokasi parkir sejak sebelum sholat dimulai. Mereka akan kelarisan begitu sholat usai ditunaikan. Kuperhatikan, makin tahun makin berbeda suasananya. Tahun ini para jemaah terlihat tekun mengikuti sholat termasuk khotbahnya, sehingga ketika selesai khotbah, maka secara serentak mereka berdiri dan menuju lokasi parkir atau menuju ke lokasi jajanan kaki lima.

Aku kurang begitu tahu bagaimana kondisi jamaah putri, karena lokasinya cukup jauh dan begitu aku selesai melipat koran, maka mereka juga sudah selesai melipat koran mereka. Yang kutahu, di deretan jamaah laki-laki suasananya cukup tertib. Anak-anak meski tidak memperhatikan isi khotbah, tapi tidak membuat gaduh. Mereka asyik tidur-tiduran.

Jajanan pasar yang paling digemari adalah Leker. Harganya 2.000 rupiah per buah dan harus antri panjang untuk mendapatkannya. Haslita kebagian antrian terakhir, sehingga parta jamaah sudah sepi baru kita bisa menyantap leker kecintaan itu.

Leker Monumen Diponegoro

Leker Monumen Diponegoro

Sambil menunggu pelanggan leker sepi, maka kita duduk-duduk sambil menyantap telor kecil-kecil campur mie. Akhirnya untuk menunggu leker masak, kita perlu makan telor mini plus mie seharga 15.000 rupiah.

Pulang dari sholat Ied, kita menuju lokasi penyembelihan hewan ternak. Suasananya rame banget di masjid. Kita ikut menyaksikan proses penyembelihan qurban sambil merasakan aura kegembiraan seluruh tetangga kampung yang hari ini berkumpul bersama di masjid.

Hari raya lebaran ini memang istimewa. Kita bisa berkumpul bersama dalam sebuah suasana kebersamaan. Inilah makna kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as. Tidak salah kalau hari ini menjadi “Hari kasih sayang dan kehangatan keluarga”

Terima kasih ya Allah atas karuniaMu. Alhamdulillah. Sesungguhnya memang tidak ada lagi nikmat Allah yang kita dustakan.

Sapi Qurban untuk 7 orang

Sapi Qurban untuk 7 orang

+++

Gambar endog abang dari kratonpedia.com

Sahur bersama

Gerbang utama masjidil Haram Kabah Mekah

“Pak Dhe sekarang ini kan fenomena sahur bersama sudah ramai, tapi katanya dulu sudah pernah ada di rumah pak Dhe ya?”

Pak Dhe tersenyum mendengar pertanyaan dari Khalid. Dipandanginya semua orang yang sedang menyelesaikan nasi terakhir di piring masing-masing saat berbuka puasa di rumah pak Dhe.

“Pasti acara ini ide Udin ya? Agar aku cerita peristiwa yang sama di beberapa tahun lalu?”

“Hahaha.. iya pak Dhe. Kata mas Udin, nanti pak Dhe akan cerita ketika jaman dulu pak Dhe memperingati acara ulang tahun dengan sahur bersama”, jawab Khalid sambil melirik pada Udin yang sedang menyeruput teh hangatnya.

“Acara sahur bersama itu terjadi tanpa sengaja. Waktu itu kita mengadakan acara makan bersama di rumah. Nah ceritanya kita sudah menyediakan makanan untuk teman-teman, tapi ternyata beberapa teman juga membawa makanan sebagai pelengkap acara buka bersama itu”

“Mereka tahu tidak bahwa hari itu adalah hari ulang tahun pak Dhe?”

“Pacarku tentu tahu, tapi yang lainnya tidak”

“Pacar pak Dhe itu bu Dhe yang sekarang?”

“Aku bukan pacar pak Dhe yang hadir di acara buka bersama itu lho mas Khalid”, tiba-tiba Bu Dhe ikut menimpali, sehingga semua jadi ikut tertawa mendengarnya.

“Iya benar. Waktu itu bu Dhe belum masuk dalam kehidupanku. Dia masih pacaran dengan pemuda lain..”, pak Dhe mencoba menjelaskan

“Eit..siapa bilang aku pernah pacaran?”, sahut bu Dhe yang tidak terima dibilang pernah pacaran.

“Iya iya, maksudku ketika Bu Dhe masih dekat dengan lelaki lain”, pak Dhe tersenyum sambil meralat ucapannya

“Jangan salah, aku tidak dekat sama dia lho, dia yang mendekatiku”, rupanya bu Dhe masih belum mau terima dengan ralat dari pak Dhe

“Ya benar, waktu itu bu Dhe sedang didekati lelaki lain”, bu Dheopun puas dengan ralat terakhir dari pak Dhe.

Para pendengar cerita pak Dhe jadi tersenyum-senyum melihat dialog antara pak Dhe dan Bu Dhe ketika membahas saat mereka masih belum menikah dulu.

Pak Dhepun mulai mengembara ke masa beberapa tahun silam. Itulah peristiwa di rumah pak Dhe yang sangat berkesan.

Seperti biasa, kalau kumpul di rumah pak Dhe, biasanya ada saja yang tetap tinggal di rumah sepulang dari sholat tarwikh untuk melanjutkan buka puasa mereka. Saat itu rupanya makanan yang ada terlalu banyak, sehingga meskipun sudah dimakan lagi sehabis tarwikh, tetap saja masih tersisa makanan di beberapa panci.

Akhirnya muncul ide dari salah seorang teman pak Dhe.

“Bagaimana kalau besok kita ajak teman-teman untuk datang ke sini lagi dan makan bersama-sama disini?”

“Apa mau mereka?”

“Piye carane waelah, sing penting podho teko (bagaimana caranya yang penting mereka bisa datang)”

Rupanya ide ini masuk akal mereka, sehingga merekapun meluncur ke beberapa tempat kumpul anak-anak muda dan mengabarkan acara sahur bersama ini. Ternyata menjelang sahur benar-benar mereka sukses mengumpulkan orang untuk sahur bersama.

“Jadi begitulah ceritanya. Sederhana kan?”, kata pak Dhe mengakhiri ceritanya.

“Pak Dhe, kata Udin ada yang istimewa di malam hari itu, saat muncul ide sahur bersama”

“Hahaha… tidak istimewa sih, tapi menyesakkan. Hahaha… waktu itu rumah kita kan kecil dan teman-teman sehabis tarwikh tiduran di kamar kita. Paling banyak di tempat tidur adikku, bayangkan saja satu ranjang kecil bisa muat 7 atau 8 orang”

“Terus..?”

“Ya ranjang itu langsung runtuh !”

“Hahaha….”

“Semua yang tidur di ranjang itu jatuh, bertebaran di lantai dan ranjang itu dinyatakan rusak total”

“Total?”

“Sebenarnya tidak juga, soalnya papan ranjang masih bisa dipakai, tinggal nyari dudukan papan itu saja”

“Jadi saat itulah muncul ide sahur bersama ya pak Dhe?”

“Ya benar. Sayang kawan pak Dhe itu sekarang sudah meninggal. Padahal dia masih muda, enerjik dan selalu penuh semangat membantu sesama”

“Kenapa ya pak Dhe, orang baik itu selalu dipangil duluan?”

“Ah gak ada itu. Berarti orang yang belum mati ini jelek semua?”

“Hahahaha……”

“Sebenarnya yang istimewa di malam itu adalah pertemuan perdana antara adikku dan calon istrinya”

“Woow… gimana ceritanya..?”

“Wah ndak ada ceritanya itu. Hanya adikku dan istrinya yang tahu. Yuk tarwikh aja dulu”

Terdengar suara adzan Isya dan pertemuan buka bersama itupun  berpindah ke mushola di dekat rumah pak Dhe. Melihat masih banyaknya lauk di tikar yang ada di ruang tamu, kelihatannya akan ada acara sahur bersama di rumah pak Dhe.

Ruangan tamu dan ruangan keluarga pak Dhe menjadi sepi karena pak Dhe memang mengajak semua peserta buka bersama untuk sholat tarwikh di mushola tanpa kecuali.

“Jangan sampai buka bersama ini menjadi sesat karena semuanya asyik ngobrol tanpa kenal Isya dan tarwikh. Meski sholat tarwikh itu sunat, tapi sebisanya kita ikuti, kecuali bagi mereka yang berhalangan”

“Gitu ya pak Dhe?”

“Ya ini sebenarnya nasehat juga untuk diriku sendiri, karena kadang aku masih juga meninggalkan sholat tarwikh sehabis buka bersama karena alasan yang tidak bisa ditolak. Persis dengan apa yang terjadi ketika Udin sampai lupa tidak sholat subuh gara-gara kekenyangan ikut acara buka bersama

BB Z10 dan tandemnya iPhone 5

BB Z10 dan tandemnya iPhone 5

Setan tertawa saat Ramadhan

Salam Damai dari Markas

“Din aku tidak setuju, semalem pak Dhe bilang kalau Setan tertawa saat Ramadhan”

“Memang salah ya?”

“Bukankah pada bulan Ramadhan setan dibelenggu?”

“Terus?”

“Ya salah dong pak Dhe. Dia pakai hadits dari mana itu?”

“Mungkin pak Dhe pakai logika saja”

“Lho ndak boleh agama berdasar logika doang mas Din”

Udin memperbaiki duduknya dan berkata sambil memandang Khalid.

“Lalu kenapa tadi malam kok tidak menyanggah perkataan pak Dhe?”

“Aku takut salah Din. Biasanya pak Dhe kan selalu punya jawaban untuk pernyataan yang kontroversial seperti ini”

“Hahahaha…. ya sudah, kalau begitu sekarang saja temuin pak Dhe dan tanya langsung ke beliau”

“Nanya mas Din aja deh. Kira-kira apa maksud pak Dhe menyampaikan pernyataan itu?”

Udin, kembali memperbaiki duduknya dan memandang Khlaid.

“Mau tahu jawabanku tentang pernyatan Setan Tertawa di bulan Ramdhan?”

“Ya mas”

“Menurutku sih begini. Saat ini kan setan sedang dibelenggu. Nah, pertanyaannya, apakah dengan dibelenggunya para setan, kehidupan di dunia ini jadi aman tenteram, karena semua orang tidak tergoda setan dan melakukan perbuatan baik semua?”

“Ya tidak mas. Masih banyak perbuatan tidak baik terjadi di lingkungan kita”

“Nah disitulah intinya”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, biarpun setan dibelenggu ternyata manusia tetap berbuat seperti seolah-olah setan tidka terbelenggu. Mereka masih melakukan perbuatan yang disukai setan”

“Makanya setan tertawa mas?”

“Ya begitulah. Setan merasa sukses mengkader manusia menjadi manusia berjiwa setan, sehingga patut dirayakan dengan tertawa dalam bulan ramadhan”

Udin menjawab Khalid sambil menancapkan jack audio dari speaker Sansui ke ponselnya dan mengalunlah lagu Setan Tertawa dari Good Bless.

“Setan Tertawa”

Pahlawan berkata dengan air mata
Perjuanganku terbuang percuma
Keserakahan kini merajalela
S’gala derita dimana-mana

Wahai tuan yang berwajah bijaksana
Ajar kami untuk berkarya
Perhatikan generasi kaum muda
Semangat empat lima kami percaya

Ibu tertawa bagaikan orang gila
Anak dijual sangat murahnya
Harga diri dibuang asalkan harta
Setan tertawa gembira

Mereka lupa Tuhan ada
Setan tertawa berpesta-pora

Membawa lagu ia berkata
Tambah kawan masuk neraka

Membawa lagu ia berkata
Tambah kawan masuk neraka

Mereka lupa Tuhan ada
Setan tertawa berpesta-pora

Selepas lagu Setan tertawa, Udin menyambungnya dengan lagu Neraka Jahanam dari Duo Kribo.

Hai setan engkau berdusta
Membujuk Adam Hawa
Mencoba buahnya surga
Membawa malapetaka bagi manusia

Berkorban semua kesucian
Karna bujuk rayuan
Tak ada ampunan Tuhan
Adam Hawa disiksa dibawa ke dunia

Reff.
Karna engkau
Adam Hawa menderita
di dunia
Tak puasnya kau menggoda
Dosa semakin melimpah oh

Hai setan, kini engkau menang
Semoga engkau senang
Kudoakan kepada Tuhan
Untukmu kumohonkan neraka jahanam

Untukmu keyakinanmu untukku keyakinanku

Tas dengan niat baik

Pagi ini aku menulis di statusku “Untukmu keyakinanmu, untukku keyakinanku. Kuatkan aku dari godaan keyakinanmu dan boleh tidak tergoda dengan keyakinanku. Pisss !:-)”

Kubaca juga status temanku, “Berpuasa dan tidak berpuasa sama saja, jika tidak bisa menghormati TUHANmu secara utuh..”

Beberapa status dari teman-teman hari ini memang beraneka rasa dan cita. Ada yang berpihak pada satu golongan tertentu ada yang menyindir golongan tertentu dan ada juga yang memilih menulis tentang hal yang lebih luas. Aku sendiri memilih tidak memihak siapa-siapa, lebih memilih meyakini apa yang sudah kuyakini dari dulu dan meneguhkan keyakinan itu. Mungkin aku dianggap kuper, kurang pergaulan, tapi itulah pilihanku.

Dengan pilihanku ini, aku jadi bisa bergaul dengan semua teman-temanku, bisa mendengarkan pendapat mereka dan bisa mengambil hikmah dari buah pikiran mereka, yang kadang begitu cerdas dan keluar dari pemikiran yang umum berlaku. Aku jadi ingat pelajaran dasar berpikir di luar kotak “think out of the box”. Ini bukan pola pikir yang paling benar, tapi ini adalah salah satu pola pikir yang membantu ketika kita hanya asyik berpikir dalam pola pikir yang rutin.

Beberapa waktu lalu, aku bahkan mendapat masukan dari staf pak Dahlan Iskan (DI), tentang pola pikir DI yang tidak pernah berpikir memakai pola dalam kotak atau pola pikir di luar kotak, tetapi sudah berpikir tanpa kotak. Jadi bukan “thin out of the box” tetapi “think no box”.

Hasilnya adalah pola pikir yang membuat kalang kabut orang-orang yang bersentuhan dengan DI. Model penyelesaian masalah ala DI selalu kontroversial dan meskipun beberapa pola pikirnya akhirnya terbukti benar, tetap saja membuat repot orang yang ada di sekelilingnya.

Mungkin itulah yang diyakini DI sebagai sebuah keyakinan pola pikir yang tidak terbantahkan baginya. “Untukmu keyakinanmu untukku keyakinanku”.

Bulan Ramadhan juga selalu memunculkan p0lemik tentang kapan harus memulai puasa dan mengakhiri puasa. Masing-masing mempunyai dasar hukum yang kuat dan pembuktian yang nyata. Selama beberapa tahun perbedaan pendapat ini tidak pernah selesai dan tidak terlihat upaya yang jelas dari pemerintah untuk menyelesaikannya dengan baik. Masing-masing keyakinan itu dihormati dan tidak dipertentangkan, sehingga permasalahan beda tanggal ini akan terus muncul sampai tahun berapapun.

Yang membuat lega adalah kenyataan bahwa perbedaan pendapat itu makin diyakini sebagai sebuah perbedaan dan bukan perpecahan. Mungkin mereka berpendapat bahwa meyakini masalah itu sebagai perbedaan lebih baik dibanding meyakininya sebagai sebuah perpecahan. Perbedaan pendapat adalah rahmat dan perpecahan adalah awal kehancuran!

Hari ini aku juga meyakini bahwa apa yang kulakukan adalah sebuah upaya memahami indahnya perintah Allah yang selalu bisa multi tafsir, meskipun memakai dasar pijakan yang sama. Aku kemudian menulis dengan mantap “Untukmu keyakinanmu untukku keyakinanku”

Selamat berpuasa bagi yang berpuasa pada hari ini, Selasa 9 Juli 2013, dan selamat berpuasa untuk mereka yang berpuasa pada tanggal 10 Juli 2013. Perbedaan ini tidak membuat kita terpecah tetapi membuat kita meyakini ada hikmah dibalik semua yang kita kerjakan hari ini.

Insya Allah kita bisa berlebaran pada hari yang sama.

Tetap tarik senyum dari ujung ke ujung

Tetap tarik senyum dari ujung ke ujung

 

 

Al Khairiyah #Mosque Cebu Philippine, akhirnya ketemu #masjid

Yuk Menulis Blog

Hari ini aku mau cerita tentang sebuah masjid, namanya Al Khairiyah #Mosque Cebu Philippine. Waktu itu Aku hunting masjid untuk sholat Jumat dan alhamdulillah ketemu dengan sebuah masjid kecil. Itulah Green Mosque in Cebu. Kitapun ngobrol dengan pak Sholeh, tentang masjid yang ada di Cebu Philippines.

“Ada tiga masjid yang menyelenggarakan sholat Jumat. Salah satunya ya masjid ini”

“Yang lainnya ?”

“Masjid Mambaling yang dekat dengan masjid ini”

” kalau jalan kaki berapa lama waktunya?”

“………..,

“Sekitar setengah jam atau sejam ?”

“…………”

“Setengah jam ?”

“Yes”

Kamipun meluncur naik taksi ke lokasi masjid Mambaling. Ternyata namanya masjid Al Khairiyah. Sebuah masjid yang menurutku cukup nyaman untuk disebut sebagai masjid. Ruangannya cukup luas dan bersih.

Langsung saja aku check in di 4Sqr dan meluncur ke hotel lagi. Sekarang aku harus siap-siap mandi dan pergi ke masjid. Kucari beberapa kawan yang ingin ke masjid dan ternyata peserta Jumatan kali ini cukup banyak, hampir penuh isi bis yang menuju ke Masjid ini.

“Al Khairiyah #Mosque Cebu Philippine, akhirnya aku ketemu #masjid”

Sholat Jumat kali ini benar-benar tak terlupakan. Beberapa pengurus masjid terlihat antusias menyambut kami, karena rombongan kami yang datang naik bis dan kelihatan sangat asing bagi mereka. Sebagian dari mereka menginginkan kami yang berceramah tapi sebagian lain ingin ustadz mereka yang berceramah.

Akhirnya bagaimana rembugannya, ustadz mereka yang berceramah dan isinya ternyata luar biasa. Mungkin karena disini kaum muslimnya adalah kaum minoritas, maka semangat mereka beribadah jadi luar biasa. Maklum nyari makanan halal saja susah di Cebu ini. Padahal inilah sebuah kota yang disebut sebagai Balinya Philipina.

Cuma mungkin benar juga sebuatan Balinya Philipina, bukankah di Bali yang asli, mencari makanan yang halal juga tidak gampang? Aku pernah mengantar tourist dari Turki dan dia protes ketika aku memilihkan sate ayam, karena ada “wine” di sate itu.

“Mister Eko, please another food saja …”

Aku sampai ngakak mendengar suara mas Turki yang mencoba nyampur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Yang penting di Philipina ioni akhirnya aku bisa sholat Jumatd an bsia bertemu dengan saudara-saudara dari Philipina yang seiman seagama.

Salam sehati

20120921-094733.jpg

« Older Entries