Category Archives: hikmah

Menangani Kecelakaan Kerja Perusahaan

Polri juga Manusia

Pada milis K3, aku membaca sebuah pertanyaan tentang bagaimana cara “Menangani Kecelakaan Kerja Perusahaan” agar prosedur tetap jalan dan penanganan KK (Kecelakaan Kerja), utamanya tentang pengelolaan informasi kejadian, dapat berjalan dengan baik.

Sebagai seorang yang sering terlibat dalam penanganan kasus KK, maka biasanya yang sering kujumpai adalah bagaimana caranya agar menghindari berita kasus KK tersebut agar tidak sampai ke institusi polri atau mass media.  Mungkin sama dengan kejadian sehari-hari di kehidupan kita, bila sedang berbuat salah, maka yang berbuat salah selalu mencoba menutup-nutupi kejadian atau bahkan menyembunyikan serapat mungkin kesalahan itu. Yang dipikirkan adalah bagaimana membuat kesalahan itu hanya diketahui oleh dia sendiri dan tidak pernah ada niatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Konsep tersebut didasarkan pada suatu pendapat, bahwa makin sedikit yang tahu kejadiannya akan makin baik, dengan demikian dia dapat fokus untuk mengelola kasus KK secara lebih baik. Namun yang terjadi adalah sebuah pelajaran yang menunjukkan bahwa yang berbuat salah tidak peduli dengan kesalahannya, sehingga kejadian kesalahan itu bisa saja terjadi lagi dengan skala yang lebih besar.

Pengalamanku berkata, bahwa sepandai-pandainya menyembunyikan berita KK, tetap saja institusi POLRI dan mass media akan menemukan beritanya. Apa akibatnya bila terjadi seperti itu ?

Yang melakukan kesalahan akan makin pusing memikirkan perbaikan kesalahan dan bagaimana menjawab pertanyaan dari POLRI maupun dari mass media yang mengharuskan dia menjawab dengan benar.

Bagikan buku K3 untuk semua personil proyek

Bagikan buku K3 untuk semua personil proyek

Beberapa hal yang mendasari sikap untuk menyembunyikan kejadian yang sebenarnya, biasanya karena berbagai hal, antara lain :

1. Tidak mau proses pekerjaan terhenti
2. Menghindari birokrasi
3. Takut reputasi dan track record jelek
4. Tidak suka dengan petugas dari kepolisian atau petugas medis
5. Tidak mengerti pentingnya laporan KK
6. Takut dianggap tidak disiplin
7. dll

Padahal dengan bertindak dengan benar, akan didapat hasil yang lebih bermanfaat daripada menyembunyikan diri dari fakta yang ada. Ini saranku pada teman yang bertanya :

1. Buat kronologis kejadian yang menunjukkan proses terjadinya kecelakaan kerja. Silahkan difilter sesuai kepentingan perusahaan, yang penting tidak ada informasi palsu (bohong) yang beredar, karena informasi ini bisa jadi akan diperiksa silang ke karyawan perusahaan.
2. Tentukan nama orang yang berhak memberikan keterangan pers, antara lain penanggung jawab lokasi kecelakaan kerja dan pimpinan di atasnya, sampai pimpinan tertinggi yang bertanggung jawab masalah KK. Usahakan semua komunikasi berhenti sampai di penanggung jawab lokasi kejadian.
3. Lapor ke petugas yang berhak menerima laporan KK, sehingga mereka menerima laporan pertama dari kita, bukan dari pihak lain. Pihak kepolisian pasti tahu kejadian KK di lokasi kita, meskipun kita tidak melapor, sehingga lapor lebih dahulu akan lebih bagus penanganannya.
4. Bila perlu, adakan konferensi pers dengan bahan hardcopy item 1 di atas. Bila kronologis sudah jelas, maka biasanya mereka tidak akan datang lagi. Jawaban terakhir sebagai senjata pamungkas adalah “masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak yang berwajib, silahkan tunggu laporan finalnya”.
5. Jawab pertanyaan yang perlu, tidak perlu memperlebar masalah. Fokus pada kronologis yang sudah disepakati.
Kejadian KK pernah kualami beberapa tahun lalu dan setiap hari beritanya masuk koran ataupun masuk berita di internet, setelah saranku diterima dan dilakukan, maka berita koran dan internet mendadak tiodak muncul lagi. Hanya koran kecil saja yang masih memuat dengan kolom yang kecil.

Waktu itu kita adakan konferensi pers dan semua wartawan hadir pada saat itu. Semua pertanyaan dijawab dengan jelas dan semua hadirin juga diberi salinan hardcopy kronologis kejadian KK. Untuk jaga-jaga wartawan yang terlambat datang, maka semua driver dan OB (office boy) kita beri juga salinan kronologis kejadian. Siapapun yang ditanya akan menjawab dengan jawaban yang sama. Setelah kejadian konferensi pers, maka kita bisa lebih fokus untuk mencari akar permasalahan yang lebih rinci, sehingga didapat tindakan pencegahan yang lebih efektif dan efisien.

KK adalah sesuatu yang harus dihindari dan bila terjadi harus segera dilakukan penyelidikan agar didapat akar masalahnya, penyebabnya dan cara mengatasinya maupun cara mencegahnya agar tidak terulang lagi. Polri ada untuk membantu melindungi kita, bukan untuk menyusahkan kita.

Polri juga Manusia

Polri juga Manusia

Alhamdulillah aku difitnah

Masjid di atap Mall

“Alhamdulillah aku difitnah, itu ucapan yang seharusnya kita ucapkan saat kita difitnah”, begitu kata pembicara di atas mimbar dengan wajah teduh dan penuh senyum.

Hadirin dan aku tentu saja tersenyum mendengar ucapan itu. Kita saling pandang dan saling senyum. Aku membayangkan betapa beratnya mengucapkan kalimat itu saat kita benar-benar sedang difitnah. Harus bersyukur saat sedang difitnah ?Rasanya kok agak tidak masuk akal.

“Hadirin pasti tahu, bahwa seseorang yang rajin beramal, rajin beribadah dan melakukan segala yang baik-baik di dunia, bisa saja di akhirat nanti tetap akan masuk neraka karena perbuatannya sendiri”

Kutebak pasti yang dibahas adalah orang yang rajin beribadah tapi suka bergunjing, sehingga ketika di akhirat ditimbang amalnya, ternyata amalnya habis untuk membayar dosanya ketika bergunjing. Saat amalnya sudah habis, maka dosa orang-orang yang digunjingkannya harus dia terima sebagai dosanya.

“Amalnya hangus karena ternyata tidak sanggup membayar dosanya. Jadi itulah sebabnya kita harus selalu bersyukur saat difitnah. Apa jadinya jika justru kita yang memfitnah? Apa jadinya jika amalan kita yang sedikit tidak cukup membayar dosa kita?”

Hadirin akhirnya makin mafhum dengan apa yang disampaikan. Di dunia ini memang yang namanya fitnah itu sangat mudah dilakukan, baik fitnah kecil-kecilan sampai ke fitnah yang beneran.

Pelajaran khotbah Jumat kali ini memang sangat berkesan, padahal yang disampaikan sangat biasa. Kita sudah sangat sering mendengarnya dan kitapun sudah lama memahami maksud sang khotib, tetapi cara penyampaian yang lugas dan wajah yang penuh senyum ramah,  membuat kita seperti tersihir.

Masjid di kala hening malam

Masjid di kala hening malam

Kuperhatikan wajah-wajah jamaah masjid, kali ini tidak banyak yang menundukkan wajah dengan khusuk alias ngantuk. Sebagian besar menyimak khotbah singkat ini. Cuma beberapa menit, tidak sampai berjam-jam, bahkan tidak sampai setengah jam, khotbah I sudah selesai. Khotbah ke dua hanya diisi doa dan selesailah sholat Jumat kali ini.

Biasanya saat Khotib sudah naik ke atas mimbar adalah saat kepala ditundukkan dan mata mulai terpejam, secara sengaja maupun tidak sengaja. Padahal nilai ibadah Jumat adalah nilai dari saat Khotib naik mimbar sampai imam selesai memimpin sholat. Tak ada pembicaraan apapun selama khotib mulai angkat bicara. Semua wajib diam mendengarkan, bahkan meminta orang lain untuk diam saja dijauhi.

Adab sholat Jumat itu gampang, seperti juga adab sholat hari Raya, tapi banyak jamaah yang masih sering salah memahaminya. Dua rukun yang ada adalah mendirikan sholat jamaah dan mendengarkan khotib berceramah, tanpa menimbulkan bunyi apapun atau melakukan hal-hal lain selain mendengarkan. Hanya itu saja rukunnya, tapi waktu aku kecil sampai jaman mahasiswa, jamaah sholat hari Raya masih saja melakukan diluar yang disarankan.

Alhamdulillah, saat ini sudah makin banyak yang ikut rukun sholat hari Raya atau sholat Jumatan dan makin banyak khotib yang berkualitas, sehingga tidak membuat jamaah mengantuk tanpa sengaja.

Masjid di atap Mall

Masjid di atap Mall

Jakarta kembali Banjir

Jakarta terancam darurat banjir

Seperti tahun-tahun yang lalu, Jakarta kembali banjir. Sejak hari Sabtu tanggal 7 Pebruari 2015, sampai Senin 9 Pebruari 2015, hujan terus turun membasahi kota Jakarta dan sekitarnya. Yang paling menakutkan memang hujan yang terus menerus turun di hulu sungai yang mengalir ke Jakarta. Kiriman banjir dari hulu ke hilir terbukti sudah membuat Jakarta lumpuh di tahun-tahun lalu.

Kali ini warga Jakarta dan juga organisasi peduli banjir Jakarta sudah mulai bersiap-siap untuk kembali turun memenuhi panggilan nurani untuk membantu rakyat Jakarta yang tak pernah jera ditimpa banjir. Banyak faktor yang telah membuat mereka tetap tinggal di rumah mereka sekarang, walaupun ancaman banjir terus menghantui tiap tahun.

Aku kembali ingat akan komentar salah seorang pembaca artikelku “Peduli Banjir Jakarta“, ketika Jakarta kebanjiran pada tahun 2013.

“Salam kenal Mas Eko
Kita belajar berprasangka baik saja kepada Tuhan, bencana ini menghidupkan rasa kemanusiaan kita yang terkadang disibukkan dengan angka-angka, ego kepentingan dan keasyikkan saling tuding.
Hati kita berkepentingan akan sebuah saluran hasrat ingin membantu sesama.
Salam dari Semarang”

Posko peduli Banjir Jabodetabek

Posko peduli Banjir Jabodetabek

Pada tahun 2014, suasana Jakarta kurang lebih sama. Banjir Jakarta tetap datang dan tim relawan kembali menyambut kedatangan banjir dengan segala tindakannya. Penanganan banjir masih belum terasa signifikan, meskipun sudah lebih baik dari tahun sebelumnya. Tim Peduli Banjir Jakarta yang tiap tahun kuikuti sedikit kuubah modelnya dibanding tahun sebelumnya. Timku masuk ke lokasi yang paling dekat dengan lokasi Cawang dan baru memasuki lokasi banjir ketika sebagian relawan sudah mulai kehabisan sumber daya.

Tidak seperti tahun sebelumnya yang gegap gempita dan penuh suasana heroik, tahun 2014 timku mendata apa yang diperlukan oleh para korban banjir dan bukan memberikan sesuatu yang sering diberikan oleh kelompok peduli banjir (dadakan). Yang kulihat programnya bagus adalah tim ACT, Dompet Dhuafa dan DERU UGM. Mereka terlihat sangat siap menghadapi suasana yang selalu berbeda dan tidak hanya muncul di awal bencana tapi mereka tetap muncul sampai pasca bencana, terutama tim DERU dari UGM.

banjir belum puncak

banjir belum puncak

Tahun 2014 adalah tahun kesabaran yang terlihat jelas di mata para korban banjir. Tidak seperti tahun sebelumnya yang kulihat banyak pembagian bantuan yang tidak merata, di tahun 2014 mereka terlihat sangat memahami bila bantuan terlambat datang atau bila jumlahnya kurang. Tahun 2015 ini, semoga tim peduli Banjir Jakarta makin matang bertindak dan para korban makin memahami kendala dari tim peduli banjir dalam menyalurkan bantuan mereka.

Ramalan cuaca Jakarta

Ramalan cuaca Jakarta

Dalam seminggu ke depan, cuaca Jakarta akan banyak dipenuhi mendung dan hujan. Tugas kita adalah menyebarkan sikap penuh semangat dalam menghadapi banjir Jakarta kali ini. Jauhkan masyarakat dari cerita atau gambar-gambar HOAX yang biasanya bertebaran di saat-saat seperti ini.

Semoga banjir tahun 2015 tidak separah tahun-tahun sebelumnya dan semoga kita tetap berbaik sangka terhadap kondisi banjir ini. Di depan rumahku, jalan yang memang sudah biasa macet menjadi lebih heroik macetnya. Sementara di simpang Cawang terlihat tidak seramai hari biasa, mungkin karena sebagian besar lalu lintas tidak melintas lagi akibat tertahan banjir di lokasi lain.

Macet sampai di jalan kampung

Macet sampai di jalan kampung

+++

Tips menghadapi Banjir :

Tips #1:
Jaga keharmonisan keluarga

Saat terkena bencana musibah banjir, maka keluarga butuh suatu keharmonisan agar strees tidak makin bertambah, meskipun kondisi yang nyata adalah kondisi yang penuh keterbatasan dan penderitaan.

Tips #2 :
Pastikan Rumah dalam kondisi aman

Bila terpaksa mengungsi, maka pastikan semua sumber energi telah terisolir [tidak ada peralatan listrik yang masih terhubung ke PLN], matikan semua kran air dan semua barang berharga telah disimpan di tempat yang aman. Pastikan juga tidak ada sisa makanan yang masih tertinggal [saat kita kembali ke rumah, makanan ini sudah busuk dan baunya sudah tidak ketulungan lagi]

Saat kembali masuk ke rumah, maka pastikan tidak ada bahaya yang menanti di rumah, misalnya keutuhan bangunan ataupun adanya binatang di rumah [ular, tikus, dll]

Bersihkan rumah dari segala macam kotoran [lumpur, sampah, dll] dan keringkan rumah [misalnya dengan membuka semua pintu dan jendela rumah, pintu lemari yang ada, hidupkan semua kipas angin yang ada, hidupkan AC dalam posisi dehumidifier, dll].

Lakukan pengepelan semua lantai dengan mempergunakan campuran pembersih yang cukup.

Tips #3 :
Kembalikan semua peralatan listrik dan perabotan di tempatnya

Pastikan semua peralatan listrik sudah dalam kondisi yang kering [radio, tv, stop kontak, dll], sehingga tidak terjadi kerusakan saat dihidupkan. Bila tidak mempunyai keahlian tentang hal ini, lebih baik bertanya pada ahlinya atau memanggil ahlinya.

Hidupkan kran air untuk menyiram tanaman dan jangan gunakan dulu untuk masak. Sebaiknya memakai air galon sebelum yakin tidak ada kontaminasi terhadap air yang keluar dari pipa kita.
Bila memakai sumur pribadi, sebaiknya diberi obat [klorin] dulu sebelum dipakai.

Tips #4 :
Siapkan diri bila anda yakin tahun depan akan tertimpa banjir lagi

Jakarta terancam darurat banjir

Jakarta terancam darurat banjir

Ibuku sayang

Pasutri penuh bahagia

Ibuku sayang, sudah berapa tahun meninggalkan aku. Rasanya masih terbayang dengan jelas semua gerak gerik ibu, senyum ibu atau pijatan ibu di kepalaku. Kerinduan pada sosok ibu sudah tidak mungkin terwujud lagi, yang ada hanya bayangan ibu. Aku tidak bisa lagi pulang ke Jogja untuk bertemu ibu, aku hanya bisa memanjatkan doa agar ibu selalu senang di alam sana. Semoga ibu bertemu dengan bapak tersayang yang sudah lebih dahulu menghadap Tuhan.

Beberapa hari lalu aku membaca kiriman kisah dari temanku, aku juga tidak tahu darimana dia mendapat kisah itu, tapi aku langsung terdiam dalam lelehan air mata. Kisah yang sangat sederhana itu sangat menyentuh dan ketika kubagikan pada teman-temanku melalui socmed, merekapun ikut ingat pada ibu mereka masing-masing.

Sampai saat ini aku tidak tahu apakah kisah itu benar-benar terjadi atau hanya khayalan penulisnya, tapi yang jelas isi kisah itu sangat membuka mata hati kita tentang sosok ibu. Tanggal 22 Desember adalah hari ibu di Indonesia dan di dunia dirayakan pada tanggal 13 Mei, dan aku ingin merayakannya setiap hari, agar aku makin ingat pada semua yang patut kusyukuri.

Hari ini aku merayakan hari ibu dengan berbagi cerita sederhana yang sangat menggetarkan hati. Semoga menjadi inspirasi buat kita semua.

GL Zoo 07 5 Nopember 2013

Mas Lilo tersayang

Seorang anak muda mendaftar untuk posisi manajer di sebuah perusahaan besar. Dia lulus interview awal, dan sekarang akan bertemu dengan direktur untuk interview terakhir.
Direktur mengetahui bahwa dari CV-nya, si pemuda memiliki nilai akademik yang baik. Kemudian dia bertanya,”apakah kamu mendapatkan beasiswa dari sekolah ?” Kemudian si pemuda menjawab tidak.
“Apakah ayahmu yang membayar uang sekolah ?”
“Ayah saya meninggal ketika saya berumur 1 tahun, ibu saya yang membayarkannya”
“Dimana ibumu bekerja ?”
“Ibuku bekerja sebagai tukang cuci.”
Si direktur meminta si pemuda untuk menunjukkan tangannya. Si pemuda menunjukkan tangannya yg lembut dan halus.
“Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci baju ?”
“Tidak pernah, ibuku selalu ingin aku untuk belajar dan membaca banyak buku. Selain itu, ibuku dapat mencuci baju lebih cepat dariku.”
Si direktur mengatakan “Aku memiliki permintaan. Ketika kamu pulang ke rumah hari ini, pergi dan cuci tangan ibumu. Kemudian temui aku esok hari.”
Si pemuda merasa kemungkinannya mendapatkan pekerjaan ini sangat tinggi. Ketika pulang, dia meminta ibunya untuk membiarkan dirinya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa heran, senang tetapi dengan perasaan campur aduk, dia menunjukkan tangannya ke anaknya.
Si pemuda membersihkan tangan ibunya perlahan. Airmatanya tumpah. Ini pertama kalinya dia menyadari tangan ibunya sangat berkerut dan banyak luka. Beberapa luka cukup menyakitkan ketika ibunya merintih ketika dia menyentuhnya.
Ini pertama kalinya si pemuda menyadari bahwa sepasang tangan inilah yang setiap hari mencuci baju agar dirinya bisa sekolah. Luka di tangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar ibunya untuk pendidikannya, sekolahnya, dan masa depannya.
Setelah membersihkan tangan ibunya, si pemuda diam-diam mencuci semua pakaian tersisa untuk ibunya,
Malam itu, ibu dan anak itu berbicara panjang lebar.
Pagi berikutnya, si pemuda pergi ke kantor direktur.
Si direktur menyadari ada air mata di mata sang pemuda. Kemudian dia bertanya, “Dapatkah kamu ceritakan apa yg kamu lakukan dan kamu pelajari tadi malam di rumahmu ?”
Si pemuda menjawab,” saya membersihkan tangan ibu saya dan juga menyelesaikan cuciannya”
“Saya sekarang mengetahui apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarang. Dengan membantu ibu saya, baru sekarang saya mengetahui betapa sukar dan sulitnya melakukan sesuatu dengan sendirinya. Dan saya mulai mengapresiasi betapa pentingnya dan berharganya bantuan dari keluarga”
Si direktur menjawab,”inilah yg saya cari di dalam diri seorang manajer. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi bantuan dari orang lain, seseorang yang mengetahui penderitaan orang lain ketika mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak menempatkan uang sebagai tujuan utama dari hidupnya”
“Kamu diterima”
Seorang anak yang selalu dilindungi dan dibiasakan diberikan apapun yg mereka inginkan akan mengembangkan ” mental ke’aku’an” dan selalu menempatkan dirinya sebagai prioritas. Dia akan tidak peduli dengan jerih payah orangtuanya. Apabila kita tipe orang tua seperti ini, apakah kita menunjukkan rasa cinta kita atau menghancurkan anak2 kita ?
Kamu dapat membiarkan anak2mu tinggal di rumah besar, makan makanan enak, les piano, menonton dari TV layar besar. Tetapi ketika kamu memotong rumput, biarkan mereka mengalaminya juga. Setelah makan, biarkan mereka mencuci piring mereka dengan saudara-saudara mereka. Ini bukan masalah apakah kamu dapat memperkerjakan pembantu, tetapi ini karena kamu ingin mencintai mereka dengan benar. Kamu ingin mereka mengerti, tidak peduli seberapa kayanya orangtua mereka, suatu hari nanti mereka akan menua, seperti ibu si pemuda. Yang terpenting, anak-anakmu mempelajari bagaimana mengapresiasi usaha dan pengalaman mengalami kesulitan dan belajar kemampuan untuk bekerja dengan orang lain agar segala sesuatu terselesaikan.
Coba untuk melanjutkan cerita ini ke orang-orang yang anda kenal.

Hari ini aku memenuhi keinginan sang penulis cerita, untuk membagikan cerita menggetarkan kalbu ini. Kalau anda merasa ada air mata di pipi anda, bersyukurlah, karena itu artinya sang penulis sudah sanggup mengetuk pintu hati anda untuk mengingat ibu tersayang.

Pasutri penuh bahagia

Pasutri penuh bahagia

Kepastian yang tidak pasti

Ucapan Duka Cita

Pagi ini aku ke Bandung dan menulis statis di FB tentang perjalananku ke Bandung. Seorang teman setia, juga membuat status tentang perjalananku itu, dengan menulis kalimat tentang sebuah “Kepastian yang tidak pasti”. Kalimat dari temanku itu terus menempel di kepalaku sampai aku pulang dari Bandung dan sampai aku menuliskannya di artikel ini.

Merujuk pada kejadian kepergianku ke Bandung, maka aku merasa kalimat Kepastian yang tidak pasti itu adalah sebuah kalimat yang pasti benar, tapi jarang orang yang mau menuliskannya di status FB mereka. Paling mereka hanya memberi jempol, sebagai tanda suka, atau malah menulis status yang lain, meskipun masih berhubungan dengan “kepastian” itu.

Aku jadi ingat beberapa puluh tahun lampau ketika sering menghadiri acara di mushola kampung. Secara rutin ada pembicara yang selalu bercerita tentang “kepastian” dalam hidup ini. Kalau sang pembicara adalah bapak itu, maka pasti ceritanya tentang “kepastian hidup” dan beliau tidak pernah mengambil topik yang lain.

Pada kehidupan sehari-harinya, bapak itu bekerja sebagai sopir di rumah sakit yang sering membawa mayat orang dalam mobilnya. Selalu saja ada cerita lucu tentang kejadian di kamar mayat, di mobil jenazah atau dimana saja tentang sang mayat. Satu hal yang paling kuingat ketika dia harus menjadi driver sendirian dan penumpangnya adalah seorang yang sudah menjadi mayat.

Dalam perjalanan malam berkilo-kilo meter jauhnya, tiba-tiba jantungnya hampir copot karena ada yang menepuk pundaknya sambil berkata.”sudah sampai dimana ini?”

Kita semua ikut kaget dan kemudian disambung riuhnya kita menertawakan teman di samping kita yang ikut kaget seperti sang driver. Rupanya ada penumpang gelap yang tertidur di dalam mobil jenazah dan begitu terbangun menyapa sang driver, padahal sang driver merasa yakin bahwa penumpangnya hanya seorang yang sudah menjadi mayat.

Almarhum bapak juga sering bercerita yang lucu-lucu tentang kejadian di rumah duka. Banyak sekali cerita tentang hal itu yang didongengkan bapak di masa hidup beliau. Ceritanya sudah sangat umum dan mirip-mirip tetapi tetap saja aku suka mendengarkan cerita dari bapak. Mungkin sama kejadiannya dengan anak-anakku yang sangat suka didongengkan cerita apa saja ketika mereka masih kecil.

Sholat Jenazah

Sholat Jenazah

Kalau dari bapak, cerita yang paling kuingat adalah ketika sedang di kampung menungguin jenazah sambil main kartu. Setelah lewat tengah malam dan menjelang subuh, para pemain kartu mulai ngantuk dan merasa kedinginan, sehingga merekapun berpamitan pulang. Ternyata ada salah satu orang yang merasa bertanggung jawab dan tidak ikut pulang, tapi tetap menungguin jenazah di ruangan itu. Paginya orang ribut berlarian karena mayat yang ada di keranda ternyata masih hidup. Itulah sang penunggu mayat yang karena kedinginan ikut tidur disamping sang mayat.

Kisahku sendiri di seputaran mayat adalah ketika aku menjadi MC (pembawa acara) saat ada upacara pemberangkatan jenazah. Sebagian besar penduduk kampungku mengenalku sebagai pembawa acara di berbagai acara, baik di kampung maupun di luar kampung, maka merekapun menyerahkan tugas pembawa acara pada aku.

Akupun jadi mati kutu, karena banyak menemukan bahan humor selama menjadi MC, tetapi aku tidak bisa menyampaikan pada para hadirin. Waktu itu rasanya benar-benar tidak nyaman. Serba salah tapi tidak boleh salah.

Ucapan Duka Cita

Ucapan Duka Cita

Di sepanjang perjalanan dari Bandung Jakarta, di mobil, aku ikut terhanyut dalam pembahasan tentang sebuah “kepastian yang tidak pasti” ini. Kuceritakan saat adik kandungku Dwi Suharno meninggal. Dirapikannya semua peralatan pancingnya dan ditemuinya istrinya sebelum meninggal, setelah sebelumnya dia pamit meninggal pada ibuku. Adikku itu akhirnya meninggal dalam dekapan istrinya.

Bulan lalu, kakak dari istriku juga meninggal dalam pelukan anaknya. Sekarang kawanku yang sangat periang, penyabar dan selalu rajin bercanda ria, meninggal malam tadi. Semuanya seperti sudah tahu bahwa “kepastian meninggal” itu sudah pasti datang dan mereka sangat tahu kapan kejadiannya. Sementara kita yang ditinggal sampai saat ini tahu tentang “kepastian” itu tetapi tidak pernah tahu dengan pasti kapan “kepastian” itu datang.

Semua orang juga baru menyadari semua perlambang kepastian itu ketika kepastian itu sudah datang. Benar kata panutan kita,”nasehat yang paling baik adalah melihat kematian berlangsung di depan kita”.

Keranda

Keranda

+++

Copas BC dari BBM teman :

Kalimat indah dari Dr. ‘Aidh Al-Qarni:
Kita tidak bisa merubah yang telah terjadi
Juga tidak bisa menggariskan masa depan
Lalu mengapa kita bunuh diri kita dengan penyesalan, atas apa yang sudah tidak bisa kita rubah?
Hidup itu singkat sementara targetnya banyak
Maka, tataplah awan dan jangan lihat ke tanah
Kalau merasa jalan sudah makin sempit, kembalilah kepada Allah yang Maha Mengetahui hal yang gaib
Dan ucapkan alhamdulillah atas apa saja.
Kapal titanic dibuat oleh ratusan orang
Sedang kapal nabi Nuh dibuat hanya oleh satu orang
Tetapi, Titanic tenggelam. Sedang kapal Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia
Taufik hanya dari Allah swt
Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga
Tempat, dimana orang tua kita, Adam, tinggal pertama kali.
Kita tinggal di sini hanya untuk sementara,
Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali.
Maka berusahalah semampumu,
Untuk mengejar kafilah orang-orang salih, Yang akan kembali ke tanah air yg sgt luas, di akhirat sana…
Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini..!!
Perpisahan itu bukanlah karena perjalanan yg jauh, Atau karena ditinggal orang tercinta,
Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan, sebab kita akan bertemu lagi di akhirat
Perpisahan adalah ketika satu diantara kita masuk surga,
sedang yang lainnya terjerembab ke neraka.
Semoga Allah menjadikan aku dan kalian semua menjadi penghuni surgaNya.

Selamat buat loyalis PRABOWO

Stasiun Senen foto by Dedien Yudha Pratama

“Selamat buat loyalis PRABOWO. Saudara-saudara telah mengawal pilpres ini dengan baik dan dengan penuh perjuangan, baik materi maupun moril. Saudara-saudara telah menunjukkan kecintaan yang luar biasa pada negeri Indonesia tercinta ini. Salut!”

“Tugas kita sekarang adalah mengawal presiden terpilih agar bisa bekerja dengan baik dan benar, mengkritisinya bila dia lari dari amanah rakyat. Kita doakan, dia diberi kemudahan dalam menjalankan negeri yang sudah terlanjur carut marut ini, agar kembali ke kejayaannya”

Beberapa temanku menulis kalimat yang lain, karena sangat menghargai peran para loyalis dalam meningkatkan semangat rakyat Indonesia untuk melaksanakan pilpres yang berbeda dengan pilpres sebelumnya. Beberapa tokoh yang kukagumi juga memperlihatkan sikap yang ksatria.

Aku memang selalu berbaik sangka pada pak Mahfud MD, pak Herry Zudianto maupun mas Hanafi Rais. Banyak kegiatan mereka yang memberi inspirasi pada para generasi muda kita, utamanya di Jogja, tempat mereka pernah berbagi ilmu.

Terima kasih pak Herry Walikota Jogja terbaik

Terima kasih pak Herry Walikota Jogja terbaik

Tanggal 22 Juli 2014, salah satu tanggal bersejarah bangsa Indonesia, membuat suasana kota Jakarta terasa nyaman karena semua jalan tidak ada yang macet parah. Sebagian besar justru cukup lengang, sementara itu di bundaran HI meskipun dilaporkan adanya kerumunan masa, tetapi ternyata mereka tidak melakukan hal-hal yang anarkis. Aparat terpantau sangat siap menghadapi situasi Jakarta yang seperti apapun. Agak berlebihan sebenarnya, tetapi cukup memberi ketentraman pada para pengguna jalan yang tetap harus keluar dari rumah masing-masing.

Stasiun Senen foto by Dedien Yudha Pratama

Stasiun Senen Jakarta (foto by Dedien Yudha Pratama)

Beberapa pemudik juga lebih asyik berebut tempat di stasiun Senen dibanding berkumpul di tempat lain. Mereka cukup memantau proses pilpres ini dari televisi ataupun dari socmed yang mereka ikuti. Bahwa ada loyalis yang tetap ingin melanjutkan proses pilpres ini ke jalur hukum, masyarakat sudah maklum, bahwa itu sudah menjadi tugas bagian lain dan bukan tugas mereka lagi.

Kalau diklasifikasikan, maka ada beberapa kelompok masyarakat yang berbeda dalam menyikapi proses pemilihan presiden kali ini :

1. Kelompok yang menganggap proses pilpres ini penuh kecurangan, sehingga harus dilanjutkan dengan proses selanjutnya yang melibatkan para ahli hukum.

2. Kelompok yang menganggap proses pilpres sudah jauh lebih transparant dibanding pilpres sebelumnya dan mereka mulai asyik bekerja kembali seperti sebelum pilpres berlangsung.

3. Kelompok yang tetap tidak peduli dengan proses pilpres ini.

4. Kelompok lain yang tidak masuk di kelompok 1, 2 ataupun 3.

Aku tidak bisa memprediksi prosentase dari 4 (empat) kelompok itu secara nasional, karena aku memang tidak punya lembaga survei yang menanganinya. Yang jelas, sebagian besar teman-temanku sudah mulai mengurangi pembicaraan tentang proses pilpres dan sudah kembali aktif bekerja lagi.

Mas Nukman Luthfie sendiri menulis di wall-nya seperti ini :

“Pilpres sudah usai. Alhamdullilah lancar. Sempat khawatir karena inilah Pilpres paling terbuka yang pernah saya saksikan, sebagian besar secara terbuka menyebut capres idolanya dan berusaha keras ikut memenangkannya, sehingga media sosial terlihat begitu panas.
Tapi malam ini KPU sudah mengetok palu. Selamat buat pak Jokowi-JK, semoga amanah dan berusaha keras mewujudkan janji-janji kampanye.
Kepada pak Prabowo dan Hatta, selamat berjuang di bidang lain, negeri ini masih membutuhkan anak-anak bangsa yang hebat.”

Jokowi-Web-Header Merdeka(dot)com web

Jokowi-Web-Header Merdeka(dot)com web

Hanafi Rais juga menunjukkan sikap yang ksatria ketika diwawancarai oleh Kompas, sehingga memberikan suasana adem bagi para pengikut PAN maupun loyalis Prabowo yang lain.

+++

“Ini inisiatif pribadi, atas nama sendiri, meski saya kader PAN yang masuk dalam koalisi. Kalau hasilnya demikian (memenangkan Jokowi), ya kita, saya, yang selama ini dukung Pak Prabowo, sikap saya menerima hasil itu dengan legowo dan seikhlas mungkin, itu lebih menyejukkan,” papar Hanafi.

Meski mengucapkan selamat kepada Jokowi, Hanafi memberi catatan juga dalam pernyataannya. Ia menilai masih ada kecurangan yang terjadi di daerah-daerah. Ia meminta KPU menindaklanjutinya sebagai bukti KPU profesional.

“Kecurangan-kecurangan itu harus dibereskan, KPU harus profesional,” ujar Hanafi.

+++

Mas Hanafi Rais yang banyak berbagi pada masyarakat Jogja

Mas Hanafi Rais yang banyak berbagi pada masyarakat Jogja

Siapapun presiden kita, maka tugas kita adalah memberi bantuan padanya agar dapat menjalankan pemerintahan dengan lebih baik dan lebih transparant. Kita dukung program kerjanya yang bermanfaat dan berpihak pada rakyat dan kita kritisi program pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.

Selamat berjuang teman-teman dan terutama selamat berjuang pada diriku sendiri untuk Indonesia yang lebih baik.

+++

Status Mas Adriano Rusfi :

“….Ketika segala ikhtiar telah dibuat… ketika sebuah keputusan telah diambil… maka tak ada yang lebih indah daripada tawakkal. Percayalah, nasib bangsa ini bukan di tangan presiden terpilih, tapi di tangan Allah.

Jika yang terpilih adalah presiden hebat, toh ia tetap akan memimpin di bawah sebuah sistem yang bermasalah. Dan jika yang terpilih adalah presiden yang buruk, toh ia akan dibantu oleh sejumlah staf ahli kompeten.

Pada akhirnya, Allah tak akan merubah nasib suatu bangsa melalui tangan para penguasa, tapi melalui perubahan yang dilakukan oleh tiap-tiap jiwa. Maka, mari kita bangkit berbuat bagi nasib-nasib kita…..”

Apa yang membuatmu Senang ?

Senyum Pagi menyambut keindahan dunia

“Apa yang membuatmu senang ? Ayo, silahkan ditulis di selembar kertas dan cermati bener-bener apa yang membuatmu senang”, begitu kata sang instruktur ketika mengajak audiens menuliskan apa yang menjadi sebab mereka menjadi senang.

Ternyata penyebab senang itu bermacam ragam. Ada yang senang kalau gajinya naik, ada yang senang kalau anaknya lulus ujian dan berbagai macam kesenangan lainnya. Umumnya mereka menuliskan apa yang membuat mereka senang dalam beberapa item.

Setelah selesai, maka ternyata jumlah kesenangan yang mereka harapkan tidak lebih banyak dari 7 item. Hanya beberapa orang yang bisa membuat 10 macam hal yang membuat mereka senang, itupun setelah sang instruktur memberi contoh dan menambah waktu untuk menulis.

“Kenapa sulit sekali menulis tentang apa yang membuatmu senang?”, tanya sang instruktur.

Semua audiens terlihat saling pandang dan tersenyum sendiri-sendiri.

“Ternyata mencari penyebab kita senang itu tidak terlalu gampang ya?”

“……………………..”

“Kalau hati kita senang, maka sebenarnya akan banyak sekali kesenangan susulan yang akan kita terima. Coba kita bayangkan kita sudah merasa senang ketika bangun dari tidur, apa yang terjadi setelah kita bangun dari tidur?”

“Mandi…”

“Membersihkan kamar tidur”

“Makan …”

“Memeluk istri”

Banyak sekali komentar saling bersahutan dan semua komentar disampakan dengan raut wajah yang sumringah, senang dan penuh semangat. Beberapa komentar memang ada yang lebay dan ada juga yang memancing senyum di kulum.

“Tadi pada saat saya suruh menuliskan apa yang membuatmu senang, nampaknya teman-teman kesulitan menulis, tapi begitu sudah terpancing menulis dan membayangkan suasana pagi yang cerah, komentar langsung ramai bersahutan. Kenapa?”

Audiens terdiam sambil tersenyum. Mereka baru sadar kalau aroma pagi telah membuat suasana hati mereka menjadi cerah dan membuat mereka mudah menautkan senyum di bibir.

“Oke, kita lanjutkan dengan memeriksa apa yang telah ditulis. Ada yang bersedia menjadi relawan membacakan apa yang membuat kita senang?”

Ternyata audiens kembali ragu-ragu dan akhirnya muncul relawan yang bersedia membacakan tulsiannya setelah dia yakin bahwa apa yang akan dia sampaikan tidak menjadi buah tertawaan audiens.

Sang instrukturpun bertepuk tangan dengan semangat ketika sang relawan selesai membacakan catatan tentang apa yang membuatnya senang.

“Nah kita dengarkan tadi, ada sepuluh kriteria yang membuat teman kita ini senang”

“Ada beberapa catatannya yang sama dengan aku pak”, salah satu peserta terusik untuk berkata karena ikut terbawa semangat sang instruktur.

“Bisa memberi contoh catatan yang sama?”

“Catatan nomor dua pak, saya senang bisa bangun pagi dan bisa gowes bareng teman-teman”

“Emm … kayaknya sama dengan catatan mas relawan tadi ya? Tapi ada bedanya sedikit, bener nggak mbak?”

“Iya pak, ada bedanya, karena saya tambahkan kata gowes”

“Yessss ! Itu bedanya”, sahut sang Instruktur dengan wajah penuh kepuasan.

Rupanya beda yang sedikit itu menjadi besar pengaruhnya ketika diulas. Dengan gaya yang penuh canda ria tanpa membuat tertohok yang mendengar, sang instruktur menceritakan arti perbedaan kalimat hanya karena ada kata gowes.

Kalimat pertama yang disampaikan oleh sang relawan adalah “saya senang bisa bangun pagi”, sedangkan kalimat kedua yang mirip adalah “saya senang bisa bangun pagi dan bisa gowes bareng teman-teman”

Rupanya perbedaan kalimat itu menyebabkan kalimat ke dua lebih sulit membuat hati kita senang. Pada kalimat ke dua ada persyaratan yang lebih sulit diwujudkan dibanding kalimat pertama. Ada dua hal yang harus dilakukan pada kalimat ke dua agar kita bisa senang, yaitu :

1. Harus ada acara gowes, artinya harus ada sepeda untuk gowes agar kita bisa senang.

2. Harus ada teman untuk gowes agar kita senang. Apalagi ada pengulangan kata teman pada kalimat ke dua, artinya temannya harus lebih dari satu.

Bandingkan dengan kalimat pertama yang syaratnya hanya bertumpu pada diri sendiri. “Saya senang bisa bangun pagi”, kalimat ini tidak tergantung orang lain dan hanya bergantung pada diri kita sendiri. Selama kita punya tekad kuat untuk bangun pagi, maka kita akan senang.

Pada kalimat ke dua, tidak hanya bisa bangun pagi yang membuat kita bisa senang, tapi harus ada sepeda dan harus ada teman bersepeda untuk membuat kita senang, artinya ada ketergantungan pada orang lain atau hal-hal lain selain kita.

Jadi, marilah kita tulis lagi apa yang membuat kita senang, tapi jangan sertakan orang lain atau kondisi di luar diri kita sebagai kriteria senang”. Misalnya sebagai berikut :

1. Saya senang bisa bangun pagi.

2. Saya senang bisa sholat subah sebelum subuh.

3. Saya senang bisa menghirup oksigen pagi

4. Saya senang bisa jalan pagi

5. Saya senang bisa bernyanyi kecil

6. Saya senang bisa minum di pagi hari

7. Saya senang bisa melihat langit

8. Saya senang bisa tersenyum

9. Saya senang bisa membaca

10. Saya senang bisa tidur nyenyak

Salam sehati

Senyum Pagi menyambut keindahan dunia

Senyum Pagi menyambut keindahan dunia

 

 

« Older Entries