EkoShp dalam kartun

Kejujuran itu mahal harganya

Bulan Syawwal 1409 tahun H atau tahun 1989 M aku ditantang untuk membuktikan bahwa kejujuran itu mahal harganya.Perlu keberanian besar untuk jujur dan perlu pengorbanan besar kalau memang hasil kejujuran itu adalah sebuah biaya yang besar atau mahal.

Peristiwa diawali dari tidak pulangnya aku ke Jogja dan bersama teman-teman pergi ke sebuah pulau dan menghabiskan liburan lebaran di pulau itu. Tentu aku  sebenarnya ingin pulang ke Jogja, tapi duitku tidak mencukupi untuk biaya pulang, sehingga akhirnya aku terima menjadi sopir dan membawa teman-teman baruku yang begitu hangat menemaniku berlibur di sebuah pulau. Menjadi sopir adalah pilihan yang pas kala itu. Disamping aku merupakan orang yang paling mahir membawa mobil, aku juga yang dianggap bisa meminjam mobil dari temanku yang lain yang pulang lebaran ke kota asalnya.

Jadilah aku pinjam mobil temanku dan berangkat bersama beberapa orang teman baruku. Urusan BBM dan akomodasi di pulau itu sudah ditangani oleh teman-temanku, sehingga aku hanya berbekal baju saja ikut acara itu. Pulau yang tadinya hanya ada dalam mimpi akhirnya bisa kuinjak dan yang lebih membuat aku keheranan adalah sepanjang perjalanan banyak yang memberi hormat padaku. Bahkan beberapa kali parkir tidak pernah membayar.

Selidik punya selidik, ternyata mobil yang kupakai persis benar dengan mobil walikota. Yang beda hanya angka pada plat nomor, selain angka maka semuanya sama persis. Hanya ada satu mobil seperti yang kunaiki, karena mobil yang sejenis biasanya warna cat bodinya beda dan begitu juga warna dasar plat nomernya tidak merah. Sementara mobil yang kunaiki benar-benar mirip dengan mobil walikota termasuk plat mobilnya yang berdasar merah.

Selama beberapa hari kita berkeliling di sepanjang sudut pulau. Mandi air hangat dari mata air yang berbau belerang, dan menelusuri semua pantai yang ada. Akhirnya hari libur selesai dan kitapun kembali menyeberang dalam suasana yang ceria meskipun capeknya lumayan juga. Jalanan yang masih sepi membuat aku memacu mobil dengan cukup kencang tanpa memperdulikan cuaca yang makin lama makin mendung. Hujan akhirnya trurun dan semakin lama semakin deras, tetapi aku tetap saja melarikan mobil agar segera sampai ke rumah.

Ketika kota sudah semakin dekat, jalanan yang tetap sepi dan hujan mulai reda, maka kecepatan mobil semakin kencang saja rasanya. Ketika kulihat ada sebuah mobil melaju tidak terlalu cepat tetapi mengambil lajur tengah jalan, maka akupun memberanikan diri menyalip dari sisi kanan sehingga mobilku sudah ada di jalur pengguna jalan yang lain.

Kuinjak pedal gas dan segera menyalip mobil di depanku, setelah melewati mobil di depanku, akupun mulai mengarahkan mobil ke kiri. Ternyata mobil selip dan malah berputar meskipun arahnya tetap ke depan. Akhirnya mobil berhenti berputar dan berjalan mundur.

Mobil baru berhenti ketika masuk parit dan menabrak tiang listrik.

Para pengguna jalan yang tadinya sepi mendadak jadi ramai. Mereka memperlambat laju mobil untuk melihat posisi mobilku yang nyungsep di parit. Gara-gara melihat mobil dan tidak melihat lalu lintas, beberapa kali terjadi tabrakan ringan di lokasi mobil masuk parit. Dasar orang kita memang suka nonton kecelakaan dan membuat jalan jadi macet.

Saat temanku datang dari kampungnya untuk bekerja lagi, maka akupun menemui temanku dengan menyodorkan tangan penuh harapan maaf karena telah merusakkan mobilnya. Itu mungkin ungkapan halal bi halal yang paling tulus yang pernah kulakukan. Bayangkan saja tidak punya uang untuk memperbaiki mobil masih harus menanggung malu kalau dimarahi.

Aku sudah siap untuk membayar biaya perbaikan mobil itu meskipun mungkin harus dengan cara mengangsur. Aku harus berani jujur, meskipun akibatnya bisa tidak gajian beberapa bulan.

“Pak Eko, mobilnya sekarang dimana>”

“Di mess kantor pak”

“Ya sudah, masukkan saja ke bengkel, nanti biar diurusi sama sopir. Ayuk kita nikmati sisa liburan lebaran ini”

“Ya pak, Nanti saya ganti biaya perbaikannya”

“Ndak usah, Biar nanti diurus semua sama sopir. Nggak papa. Bisa untuk kenangan lebaran tahun 1989″

Alhamdulillah. Ternyata karena kejujuran, aku bisa terbebas dari biaya perbaikan mobil yang pasti mahal melihat kondisi mobilnya seperti itu. Aku sukses membuktikan bahwa Kejujuran itu mahal harganya ternyata salah. Mungkin kejujuran memang ada yang mahal, tetapi bagiku kejujuran ternyata malah gratis. Yang penting selalu berbaik sangka pada siapapun dan apapun yang menimpa kita.

+++

Mantan Sopir off road

Mantan Sopir off road

Posko banjir RW 08 Tanjung Sanyang Cawang

Berprasangka baik pada banjir

“Din, mari kita berprasangka baik pada banjir Jakarta Bekasi ini”,  kata Khalid pada Udin ketika mereka bertemu.

“Lho gak ada angin gak ada hujan, kok tahu-tahu kasih nasehat mas?”

“Yang kemarin cerita di pos ronda tentang banyaknya partai dan politikus yang memanfaatkan kondisi banjir ini siapa Din?”

“Apa sudah tidak seperti itu? Bukannya politikus masih suka memanfaatkan musibah sebagai pencitraan mereka?”

“Kenyataan seperti yang Bang Udin sampaikan betul dan masih ada, tapi daripada cerita tentang hal itu, apa tidak lebih baik kita berprasangka baik pada banjir ini saja bang?”

“Wah, mas Khalid sekarang sudah bijak!”. tiba-tiba terdengar suara pak Dhe nimbrung.

“Hahaha… lagi belajar bijak pak Dhe”

“Bagus itu, kalau kita selalu merasa kurang artinya, ada sesuatu yang bisa kita kerjakan untuk menambal kekurangan itu. Jangan malu merasa kurang, karena meskipun kita diciptakan dalam ujud yang sempurna tetapi masing-masing individu mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yuk kita bahas anjuran bang Khalid tentang berprasangka baik pada banjir ini”

“Hahaha… ceritanya ini ngetest mas Khalid ya pak Dhe”

“Benar Din, dia besok kan jadi salah satu pembicara dalam diskusi banjir di kelurahan, mari kita test dulu soal yang satu ini. Yuk ajak semua kumpul disini Din”

“Siap pak Dhe”, Udinpun keluar dan mengajak masuk beberapa orang yang ngobrol ngalor ngidul menunggu waktu Isya datang.

Pak Dhe mengambil tempat di pinggir dan mempersilahkan Udin memimpin acara test pada Khalid, untuk persiapan acara diskusi di kantor kelurahan besok pagi.

“Pertanyaan pertama untuk mas Khalid silahkan”, kata Udin setelah menjelaskan maksud acara ini pada para peserta acara.

“Saya mas Din”

“Silahkan Jo, langsung to the point ya”

“Bang Khalid, bagaimana kita bisa berprasangka baik pada banjir kalau begitu ada banjir langsung muncul para politikus atas nama partai masing-masing untuk pencitraan?”

Semua peserta diskusi jadi tertawa lebar, karena masalah ini sudah dibahas panjang lebar tadi malam di pos ronda. Khalid sambil tersenyum tetap menjawab dengan serius pada Arjo sang penanya.

“Mas Arjo, sayang tadi malam saya tidak ikut diskusi tentang politikus ini. Menurut saya, kita tetap berprasangka baik saja. Siapa tahu setelah mereka datang ke lokasi banjir dan melihat betapa parahnya akibat banjir itu, mereka jadi sadar dan bisa berjuang dengan hati nurani yang lebih bersih. Mereka bisa menyuarakan dan memberi contoh hidup yang ramah lingkungan. Tidak membuang sampah sembarangan dan ikut protes terhadap rumah-rumah yang didirikan di atas lahan penyerapan air”

“…………………”

“Mereka punya kuasa yang lebih besar dari kita, jadi kalau mereka tersentuh, maka akibatnya akan lebih baik dibanding jika kita yang tersentuh”

“Oke mas Khalid. Ada lagi pertanyaan?”, Udin menyela agar waktu diskusi bisa termanfaatkan dengan baik.

“Saya mas Din. Banjir selalu memunculkan para pengemis cilik di beberapa lokasi. Para pengemis dadakan ini bukankah akan menyebabkan salah satu generasi kita hancur, karena bermental pengemis?”

“Oke, silahkan mas Khalid jawab pertanyaan mas Rudy”

“Begini mas Rudy. Tidak kita pungkiri, bahwa musibah ini ataupun musibah lain yang cukup dahsyat, biasanya memunculkan para pengemis dadakan. Gempa di Padang beberapa tahun lalu juga memunculkan para pengemis dadakan dan mereka kebanyakan masih berusia SD atau maksimal SMP”

“………………….”

“Mari kita berbaik sangka lagi. Siapa tahu pemerintah menjadi lebih tanggap akan hal ini dan berpikir keras untuk menciptakan kondisi kota yang aman dari mujsibah banjir. Munculnya pengemis dadakan ini kita harapkan juga membuat para pemakai jalan yang mungkin tadinya kurang peduli pada musibah banjir menjadi lebih peduli. Para dermawan bisa makin banyak memberi sedekah untuk menghilangkan para pengemis kecil dadakan ini”

“Mas Khalid, kenapa ya orang tua mereka tega berbuat seperti itu, menyuruh anaknya mengemis sementara mereka juga hanya diam terpaku, bahkan maunya mereka hanya menerima makanan siap saji saja. Kenapa mereka tidak mau mengolah sembako yang dikirim ke mereka?”

“Orang tua mereka sedang pada puncak emosinya dan kadang jadi kurang berpikir panjang. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, sementara itu untuk mendapat jatah makanan mereka juga harus antri. Semua itu tentu beban berat bagi korban”

“Mas Khalid bukannya itu karena ulah mereka sendiri tinggal di kawasan langganan banjir?”

“Tetaplah berprasangka baik pada banjir mas Rudy. Mereka yang tinggal di kawasan banjir sedang diingatkan untuk berpikir agar tahun depan tidak kena banjir lagi, atau minimal kalau terkena lagi sudah lebih siap menerimanya. Idealnya memang kampung di sekitar sungai dikelola dengan lebih baik, sehingga sungai bisa bernafas lebih lega dan penduduk juga bisa akrab dengan sungai tanpa mencemarinya”

“Mas Khalid, rasanya acara besok kurang menggigit kalau yang bercerita adalah mas Khalid atau para ahli banjir”

“Maksudnya apa mas Rudy?”

“Ya mas Khalid kan bukan korban banjir, jadi kurang pas kalau cerita mewakili diri sendiri dan tidak ada korban banjir yang bercerita tentang dirinya dengan penuh senyum”

“Maksudnya?”

“Harus ada korban banjir yang tetap berprasangka baik pada banjir dan hadir pada acara besok”

Khalid terdiam dan yang lainnya juga jadi terdiam. Benarkah ada korban banjir yang tetap berprasangka baik pada banjir?

Pak Dhe akhirnya yang memecah keheningan.

“Coba hubungi ketua RW 08 Tanjung Sanyang Cawang. Dia adalah contoh baik untuk korban banjir yang langsung mengungsi dan kemudian menghabiskan hari-harinya dengan memikirkan yang terbaik buat warganya. Dia hadapi semua dengan senyumnya dan dia selesaikan semua masalah warga dengan kepala dingin. Dia yang paling duluan mati lampu dan terakhir dihidupkan lampu PLN-nya. Dia adalah contoh korban banjir yang tetap tersenyum dan berprasangka baik pada banjir”

Adzan Isya akhirnya mengakhiri perbincangan itu. Tidak mudah memang berprasangka baik, tapi itu akan lebih baik akibatnya daripada hati kita dipenuhi prasangka buruk.

Posko banjir RW 08 Tanjung Sanyang Cawang

Posko banjir RW 08 Tanjung Sanyang Cawang

+++

Tulisan terkait :

Banjir berkah, Waskita Peduli Banjir, Deru UGM tiba di Jakarta, Peduli Banjir Jakarta.

Hujan itu berkah

“Hujan itu berkah mas”, kata seorang kawan karibku ketika melihat aku seperti memandang air hujan dengan perasaan yang tidak jelas.

“Saat ini kita mungkin sedang merasa tidak nyaman karena adanya hujan ini, tapi coba lihat hikmah dibalik adanya hujan ini. Akan banyak hikmah terkumpul kalau kita mau melihatnya dengan lebih jernih. Jadi mari kita mulai melihat hikmah hujan dengan tersenyum dulu mas”

Akupun akhirnya tersenyum dan menghilangkan galau di hati karena membayangkan rumahku yang bocor disana-sini.

“Bila rumah kita bocor, apa yang bisa diambil hikmah dari hujan yang begitu deras dari kemarin ini?”

Akupun makin lebar tersenyum, rupanya kawan karibku ini tahu banyak tentang kondisi rumahku.

“Ya hikmahnya aku bisa nginap di hotel bersama anak dan istri”

“Nah, iya kan. Pasti ada hikmahnya”

“Benar juga”, kataku dalam hati.

“Tapi kan tidak semua yang rumahnya bocor bisa nginap di hotel kayak aku mas?”, aku mencoba melihat dari sisi yang lain.

“Nah, kita lihat saja para pengungsi yang rumahnya terendam air gara-gara hujan ini. Mereka sekampung akan menjadi lebih dekat rasa persaudaraannya. Merekapun menyadarkan pada mereka yang lain yang biasanya hidup serba berkecukupan, bahwa di dunia ini ada juga masyarakat yang sedang kesusahan dan perlu uluran tangan mereka. Kondisi ini akan membuat yang tadinya pintu sedekahnya sering buka tutup, kadang buka kadang tutup akan menjadi terbuka. Bukankah ini jalan yang ditunjukkan untuk membuka hati mereka?”

“Itu hikmah bagi mereka yang tidak kena akibat hujan mas. Kalau yang kena banjir apa ya cukup hikmahnya berupa eratnya rasa persaudaraan saja ?”

“Ya! Rasa persaudaraan di antara mereka sangat mahal harganya, tapi mereka juga harus sadar bahwa mereka telah menjadi contoh akibat rusaknya alam. Bisa jadi memang semua itu karena ulah segala kegiatan manusia yang tidak peduli alam, bisa jadi juga mereka menjadi salah satu anggota kelompok yang tak pernah peduli keseimbangan alam. Bisa jadi mereka ikut berkontribusi merusak alam dengan membuang sampah seenaknya sendiri, bisa jadi kan?”

“Jangan menuduh begitu mas”

“Lho aku bilang bisa jadi, bisa juga tidak”

“Ada lho mas, di antara mereka yang sudah membuang sampah baik-baik, tinggal di lokasi itu juga karena tidak ada lagi lokasi yang bisa ditempati. Banyak kendala dari mereka”

“Nah itu akan menjadi PR para penguasa. Mereka harus berpikir sebagai pejabat yang kita beri amanah untuk memimpin kita. Cari solusi terbaik untuk semua golongan dan bukan untuk kepentingan politik ataupun pencitraan semata”

“Setuju mas. Semoga para partai tidak langsung menancapkan bendera partai di posko-posko banjir”

“Lho itu hikmah banjir bagai para partai gurem mas!”

“Hahahaha…..”

Dari time line memang sudah muncul beberapa gerakan moral dari berbagai komunitas untuk membantu korban banjir ini. Semoga mereka tidak menancapkan bendera komunitasnya, cukup niat tulus untuk membantu dan bukan niatan politis di balik bantuan. Hujan itu berkah, tapi jangan jadi berkah untuk partai politik dalam menggaungkan partainya.

Langit Jakarta masih penuh awan mendung. Berita seputar banjir juga masih ada yang menintipkan hoax seputar banjir. Masihat diri dariku : “Cermati berita yang ada seputar banjir dan cari berita alternatif sebelum melakukan broadcast. Pastikan beritanya benar sebelum kita broadcast”

Nasihat terakhir memang untuk diriku sendiri, karena tangan ini kadang begitu cepat melakukan RT (rituit) melihat ada berita di twitter yang memerlukan bantuan RT. Semoga hujan itu berkah dan bukan teguran, semoga hanya sampai ujian saja.

Awan mendung menyelimuti jakarta

Awan mendung menyelimuti jakarta

lilo ultah

Belajar pada anakku Lilo

“Pak, aku tidak bisa membayangkan bapak dimarahi bos bapak je”, kata Lilo tiba-tiba ketika kita sedang ngobrol bersama

“Maksudnya?”

“Ya.. aku tidak bisa membayangkan bapak dimarahi bos bapak”

“Kenapa kamu bisa punya pikiran seperti itu?”

“Soalnya kayaknya kawan-kawan bapak baik-baik semua sama bapak…”

Lilo memang selalu ikut sepedaan setiap minggu pagi dari Kampus UGM ke beberapa rute yang ditetapkan oleh mas Joko, panitia gowes Gelanggang Mahasiswa. Rupanya keakraban saat ngobrol bersama, sebelum gowes, atau saat bayar iuran makan bersama saat sarapan bareng sangat membekas di rekaman otak Lilo.

Apalagi saat Lilo ulang tahun, kawan-kawanku banyak yang datang menyambangi Lilo dan memberikan hadiah ulang tahun yang luar biasa, mereka bantingan dan uangnya diserahkan mas Mitrabani pada Lilo, sebagai hadiah ulang tahunnya.

Di antara para penggowes yang hadir, nampak juga Timberlake, seorang bule yang ikut merayakan ulang tahun Lilo di warung mie sehati. Selama ini yang punya kawan orang bule hanya anak tertuaku, sekarang anak ragilku juga jadi bisa mejeng bersama Timberlake.

“Sebenarnya, bapak pernah enggak dimarahi sama bos bapak?”, rupanya Lilo masih penasaran dengan pertanyaan pertamanya tadi dan ingin berdiskusi lebih lanjut.

“Pernah donk”

“Gimana pak?”

“Ya gitu saja. Bapak salah dan dimarahi. Selesai”

“Bapak dimarahi?”, kata Lilo sambil memperagakan orang marah-marah yang emosional. Aku sampai ketawa dalam hati membayangkan ada orang marah sampai emosional seperti itu.

“Hahaha…. kalau dimarahi seperti itu ya langsung hajar saja Lo!”, akupun meperagakan gaya Jet Li sehingga Lilo jadi tersenyum.

Duh senangnya melihat anak kita tersenyum. Semua kesedihan, kecapekan atau apapun stress yang menimpa kita langsung sirna begitu melihat buah hati tersenyum. Indahnya sebuah senyum, paling indah tetap senyum kekasih hati kita.

Lilo adalah anak paling kecilku dan kami saling berqadu argumen tentang apa saja. Tadi malam sempat beradu argumen juga tentang mencari sekolah SMP yang paling pas buat Lilo dan kesimpulannya masih belum klir benar. Kadang pemikiran kita tentang masa depan anak, sering dimentahkan oleh sebuah pernyataan sederhana dari seorang anak.

“Dulu aku pingin ke SMP “A” kemudian ke SMP “B” terus sekarang mau ke SMP “A” lagi apa salah itu pak?”

Logika berpikir sederhana dari seorang anak harus dijawab dengan logika sederhana yang mudah dipahami oleh sang anak dan hal seperti inilah yang menjadi kenikmatan saat berdiskusi dengan anak-anak. Banyak hal sederhana yang kadang terluput dari pemikiran dewasa kita.

Selamat ulang tahun ya mas Lilo, bapak banyak belajar dari pernyataan-pernyatanmu. Semoga menjadi sinergi yang baik di antara kita.

Salam sehati.

lilo ultah

Kisah Hikmah : Kecewa Berat

“Terus terang aku kecewa berat dengan sistem pembagian bonus kali ini”

“Memang kenapa? Bukannya kita harus bersyukur dengan adanya pembagian bonus ini?”

“Mengapa harus bersyukur kalau kita didholimi seperti ini?”

“Astaghfirullah, darimana ketemu cerita seperti itu?”

“Lihat saja apa yang sudah kita kerjakan untuk pabrik ini. Semua berjalan lebih hebat dari yang direncanakan. Semua target terlampaui dan permintaan pasar terus meningkat. Coba apa artinya semua kesuksesan kita itu?”

“Artinya ya kita hari ini dapat bonus yang tidak kusangka-sangka”

“Kamu puas Din?”

“Iya jelas mas. Hari-hari ini benar-benar hidupku berlimpah bonus. Semua datang dari berbagai penjuru dan semuanya tidak pernah kusangka-sangka datang di hari-hari belakangan ini. Sungguh aku malu dengan diriku yang sering kurang mensyukuri nikmat Tuhan”

“Din, kamu tidak lihat betapa kita dikerjai oleh bos kita?”

“Dikerjai apanya mas? Dapat bonus kok dibilang dikerjain”

“Ah..kamu susah diajak ngomong Din. Berapa milyard keuntungan yang bisa didapatkan pabrik ini dan berapa yang kita terima? Bukankah itu sangat tidak imbang?”

“Ah..menurutku imbang kok. Dua kali gaji sudah lebih dari cukup mas, belum lagi rejeki dari warung nasiku yang tiba-tiba kelarisan tanpa sebab yang jelas. Anak-anakku yang mendapat bea siswa di sekolah, istriku yang mendapat arisan dan bingkisan dari Koh Bing gara-gara aku menolong proses persalinan istrinya. Semuanya itu terlalu banyak buatku dan alhamdulillah aku telah mensucikan semua itu dengan zakat yang kulebihkan sedikit”

“Dasar kamu Din, susah diajak ngomong…”

Udin masih tertawa-tawa ketika Samidi meninggalkannya. Rasanya hari ini Udin merasa masih akan menerima rejeki lagi yang lebih hebat dibanding rejeki yang dia terima akhir-akhir ini. Seharian ini dia aktif sholat sunah dan tadarus sampai mulutnya berbusa.

doa

“Assalamu’alaikum Din..”

“Wa’alaikum salam pak Dhe. Dicari Samidi tadi pak Dhe”

“Hahahaha…pasti masalah ketidak puasan akan bonus yang diterima”

“Benar pak Dhe. Dia tampak gusar dan kecewa berat dengan bonus yang diterimanya. Padahal sebagai seorang pejabat keuangan di pabrik ini pastinya dia menerima lebih besar dari kita. Iya kan Pak Dhe?”

“Benar. Pak Samidi pasti menerima dua atau tiga kali lipat dibanding kita”.

“Nah, kalau kita merasa sudah berlebih menerimanya, maka mestinya pak Samidi lebih bersyukur dibanding kita. Iya kan Pak Dhe? Tapi kok kulihat pak Samidi malah kecewa ya?”

“Memang aneh kalau dipikir Din. Rejeki sebesar ini lebih baik memang kita syukuri, langsung kita bersihkan dengan zakat. Kita harus berterima kasih pada para panitia zakat yang mau membantu menyakurkan rejeki kita”

“Kalau sehabis menerima rejeki terus kita jadi rajin beribadah, apa diperbolehkan?”

“Yah sebaiknya memang meningkatkan ibadah, tapi jangan sampai terjerumus dalam kesenangan dunia. Ibadah jadi tidak khusyuk karena mengharapkan rejeki materi dan bukan mengharapkan kasih Tuhan”

“………………….”

“Jangan sampai mulut kita berbuih membaca Kitab Allah, tapi pikirannya ke rejeki materi dan bukan ke arti kalam Illahi yang kita baca”

“Astaghfirullah…”, dalam hati Udin merasa ditelanjangi oleh Pak Dhe. Semua ucapan pak Dhe sanagt cocok dengan kondisi dirinya saat ini. Bukankah dia jadi rajin membaca kitab Allah karen amengharap  rejeki materi dan bukan karena ingin mendekatkan diri pada Tuhan.

“Aku pernah cerita tentang menanam padi hasilny apadi dan rumput kan?”

“Iya pak Dhe. Menanam rumput hasilnya rumput saja dan tidak ada padi yang bisa kita panen.”

“Itulah Din. Kadang kita mementingkan materi tapi berharap akhirat”

Udin termenung meresapi dialognya dengan pak Dhe. Untung ada pak Dhe yang mengingatkan dia secara tidak langsung. Padahal semua yang dikatakan pak Dhe, Udin sudah paham benar, tapi karena situasinya cocok, maka ucapan pak Dhe membuat Udin kembali terpekur. Dipegangnya tangan pak Dhe erat-erat, tapi tak ada kata yangkeluar dari mulutnya.

Belum sempat Udin menyampaikan ucapannya, ponselnya berbunyi dan dilihatnya nama pemanggil di layar ponselnya.

“Dari pak Samidi pak Dhe”, kata Udin sambil menekan tombol hijau di ponselnya.

“Salam lekum pak Samidi. Ada apa?”

“……………………”

“Gak ada ponsel ketinggalan disini pak”, berkerut dahi Udin ketika menjawab telepon dahi Udin. Sesekali terlihat udin menghela nafas, di lain saat terlihat Udin seperti ingin marah, tapi pada akhir pembicaraan telepon, terlihat Udin malah tersenyum meski agak kecut.

“Lalu nikmat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan?”, ucap Udin begitu selesai bertelpon dengan Pak Samidi.

Kembali Udin menggenggam erat tangan Pak Dhe, sambil berkata, “benar kata pak Dhe. Aku kurang bersyukur dan demikian juga pak Samidi. Baru saja dia telepon kalau ponsel barunya hilang, padahal itu adalah ponsel termahal saat ini dan dibelinya dengan uang bonus yang tidak disyukurinya”

“Maha benar Allah dalam segala firmanNya”, lirih pak Dhe berucap sambil membalas jabat erat Udin.

“Pak Dhe aku jadi ingat nasehat pak Anton”

“Apa itu?”

“Jangan pernah kecewa dengan sebuah pemberian Allah karena kita tidak pernah tahu mana yang paling baik bagi kita. Yang kita anggap baik belum tentu baik untuk kita, jadi jangan pernah kecewa, apalagi sampai Kecewa berat !”

“Hahahaha……”, berdua mereka menuju mushola. Suara adzan memanggil mereka untuk berdiskusi dengan Tuhan mereka.

masjid+++

Gambar dimodifikasi dari Clipart Microsoft