Jokowi di #Aposho 27 #Philippines

Saat acara Aposho ke 27 digelar di Cebu Pilipina, diskusi tentang pilkada DKI 1 tetap hangat dibahas di delegasi dari Indonesia. Diskusi bisa dilakukan saat break, makan siang atau di sela-sela acara.

Kadang dilakukan juga saat ada pemateri sedang bicara di depan dan tidak ada slide yang ditampilkan. Ini jelas kelemahan dari pemateri yang mungkin belum pernah ikut TOT menjadi pemateri training.

Alat bantu penyampaian materi sangat perlu, apalagi peserta acara ini rata-rata sudah berumur dan sudah kenyang dengan apa yang disampaikan oleh pemateri.

Jadilah pembicaraan tentang Jokowi menjadi lebih mengasyikkan daripada mendengarkan bahasa Inggris yang tidak jelas dan tak ada slide yan tterpampang di dua layar raksasa di samping kanan kiri panggung.

Mungkin ini menjadi pelajaran untuk pelaksanaan tahun depan, kebetulan dilaksanakan di Jakarta. Harus lebih baik dari pelaksanaan saat ini.

Kalau tadi malam kita dijamu oleh Gubernur Cebu Pilipina, maka tahun depan mungkin dijamu oleh Jokowi.

Who knows.

20120920-143511.jpg

Jadilah kita mengikuti kiprah Jokowi di #Aposho 27 #Philippines

foto Joko Wi yang dipasang di Mie Sehati

@Jokowi_do2 ada dimana-mana

“Mas Eko, itu gambar Joko Wi sama ibu ya?”

“Benar mbak”

“Ibu dari Solo kan mas?”

“Hmmm… tepatnya di Sukoharjo, tapi itu tempat nenek moyangnya, kalau lahirnya ya di Jogja”

“Kayaknya Ibu demen banget sama Joko Wi ya mas?”

“Wah kalau itu tanya istriku sendiri saja mbak”

“Kalau mas Eko?”

“Hmm… aku sih netral saja”

“Kenapa kok foto Joko Wi dipasang di warung Mie Sehati? Untuk cari dukungan?”

“Hahahaha…. warung mie sehati di Jogja, pilkada DKI di Jakarta, ya gak ngaruh mbak”

“Kayaknya mas Eko juga penggemar Joko Wi tapi gak mau ngaku ya?”

“Jangan nuduh gitu mbak. Jangan-jangan mbak yang demen sama Joko Wi dan sedang nyari kawan nih?”

“Hahahaha… kayaknya Joko Wi gak usah pusing-pusing mas, soalnya semua media terlihat memihak dia, jadi biarkan air mengalir saja, pasti publikasi tentang Joko Wi akan terus berjalan”

Joko Wi 2 belum pakai kotak-kotak

Joko Wi 2 belum pakai kotak-kotak

Kalau dipikir-pikir benar juga ya. Saat ini semakin kuat usaha kelompok tertentu untuk memojokkan Joko Wi justru makin memperkuat posisi Joko Wi. Masyarakat juga makin muak dengan ulah para partai yang tidak mendukung Joko Wi. Entah benar entah tidak, tapi di lingkunganku simpati terhadap Joko Wi makin kuat dan makin berakar.

Komentar JW (Joko Wi) memang selalu membikin tersenyum yang mendengarnya. Dibilang goblog, JW juga tidak marah malah membenarkan ucapan itu. Benar-benar gaya santai ala Jogja meskipun beliau tinggal di Solo. Mungkin ala Solo juga, karena budaya Solo dan Jogja sangat mirip mengingat letak geografis yang berdekatan.

Bulan depan akan kita saksikan bersama pilkada DKI yang penuh warna ini. Hanya dua yang bertanding tetapi banyak pihak terlibat dan banyak nuansa baru dalam pemilihan kali ini. Akankah Joko Wi keluar sebagai underdog yang memenangkan pemilihan? Ataukah FOKE tetap tegar di kursinya?

Jawabannya masih misteri. Kedua belah pihak masih yakin dengan mesin politik masing-masing. Orang-orang yang tidak tahu politikpun tiba-tiba menjadi ahli politik melihat suasana pemilihan ini.

Kicauan Joko Wi

Begitu banyak partai yang mendukung FOKE dan begitu sedikit yang mendukung Joko Wi, tapi hasil pemilihan yang akan membuktikan apakah dukungan partai masih signifikan di model pemilihan seperti ini atau dukungan partai sudah tidak begitu perlu saat menentukan pemilihan secara langsung ini.

Joko Wi sekarang ada dimana-mana dan kalaupun media menayangkan Foke, selalu ada berita seputar Joko Wi masuk pada berita tentang FOKE, sedangkan berita tentang Joko Wi biasanya lebih ke berita tentang kelebihannya, kesederhanaannya dan kadang tidak menyinggung FOKE sedikitpun.

Mari kita tunggu dan lihat bersama-sama hasil akhirnya.

foto Joko Wi 1 yang dipasang di Mie Sehati

Joko Wi di koran

Joko Wi menunggu waktu saja : FOkoKE Joko Wi

Agak sulit mengerem euforia massa begitu Joko Wi memenangkan putaran pertama PILKADA DKI. Segala provokasi negatip ke arah Joko Wi justru makin membuat pamor mereka naik. Itu inti pembicaraanku dengan sopir taksi yang membawaku.

“Joko Wi susah dikalahkan pak”, kata sopir taksi yang membawaku dari Bandara Cengkarang.

“Kenapa? Bapak nyoblos Joko Wi jugakah?”, kataku memancing

“Hahaha… tidak pak, saya orang Bekasi, tidak punya hak nyoblos”

“Lalu kenapa anda mendukung Joko Wi?”

“Tadinya saya tidak mendukung Joko Wi”

“Kenapa?”

“Saya kurang sreg dengan partai pendukung Joko Wi, tapi setelah melihat partai yang memusuhi Joko Wi, maka saya langsung mendukung Joko Wi. Sayapun melihat Joko Wi ini cocok untuk mengatur Jakarta”

“Memang ada partai yang memusuhi Joko Wi?”, kataku kembali memancing.

“Bukan begitu maksud saya pak, tapi partai yang tidak kusukai itu mendukung lawan Joko Wi di putaran kedua nanti”

“Berarti ada dua partai yang tidak disukai ya pak?”

“Hahahaha… banyak pak…hahaha….”

Diskusi dengan sopir taksi ini berbeda dengan diskusiku seminggu sebelumnya dengan sopir taksi yang berbeda, meski arah perjalanan tetap sama, dari Airport ke Cawang.

Diskusi seru di taksi ini tidak membangunkan istriku yang terlelap di pangkuanku. Maklum bonus delay naik pesawat telah membuat pertahanan tubuh jadi goyah. Capek dan penuh emosi mungkin memang bisa membuat tidur yang nyaman. Sementara itu, aku malah terlbat pembicaraan dengan sopir taksi yang begitu antusias membahas Joko Wi.

“Joko Wi saat ini diserang dengan berbagai isu negatip pak, tapi itu membuat kubu mereka tambah kuat dan media massa malah sekarang hanya memuat berita Joko Wi dibanding lawannya”

“Jadi Joko wi diuntungkan oleh media massa ya?”

“Ya benar pak. Media massa secara sadar atau tidak sadar sudah terbawa pada euforia kemenangan Joko Wi yang tidak diduga sebelumnya, sehingga mereka berlomba-lomba menunjukkan kenapa Joko Wi bis amenang”

“………………………..”

“Akibatnya Joko Wi tidak usah mengeluarkan biaya sudah bisa promosi programnya kemana-mana, betul tidak pak?”

“Ya betul itu. Tanpa baliho yang besar-besar Joko Wi bisa memenangkan putaran pertama kemarin ya”

“Wah baliho itu kuno pak”

“Kuno?”

“Iya pak. Orang sudah muak melihat baliho berisi wajah ganteng atau cantik. Yang mereka butuhkan adalah program yang menjanjikan bukan tampang yang keren”

“Hahahaha…”

“Percayalah pak Joko Wi nanti pasti menang. Orang Solo, Wonogiri yang ada di Jakarta psati mendukung beliau, meskipun programnya tidak muluk-muluk”

“Lho bukannya orang Solo dan Wonogiri yang disini tidak punya hak pilih karena tidak punya KTP?”

“Wah kalau itu saya kurang tahu pak”

Kamipun tertawa bersama dan tersenyum bersama ketika aku mengulurkan uang taksiku. Istrikupun terbangun dan mulai mengeluakan tas dari mobil.

Perjalanan yang panjang ini menjadi tidak terasa lama, karena membahas calon Gubernur DKI. Diskusi itu akhirnya kutuliskan di blog ini, setelah aku membaca koran pagi ini yang memuat gambar Joko Wi dan tidak ada gambar atau foto Bung FOKE di koran yang kubaca.

Joko Wi di koran

Djoko Wi yang bersih di berita Metro TV

Djoko Wi kalah, kemenangan “rakyat” Jakarta

Setiap naik taxi dari Bandara Cengkareng ke Cawang, aku biasanya menyempatkan untuk ngobrol ngalor ngidul dengan sang driver. Banyak cerita yang jarang kudengar muncul dari pembicaraan ini dan kali ini aku juga sedikit terkejut dengan komentar sang driver tentang Djoko Wi, calon gubernur DKI.

“Kemarin nyoblos apa pak?”, kataku membuka pembicaraan.

“Ah enggak pak. Saya golput”

“Kenapa?”

“Iya pak, calonnya gak ada yang bener. Kalau nanti tahun 2014 pak Dahlan Iskan nyalon Presiden, saya baru mau libur dan ikut nyoblos”

“Wah gitu ya? Memang pak Dahlan tokoh favorit ya?”

“Ya benar pak. Dia adalah tokoh yang diperlukan di Indonesia ini”

“Bukannya Djoko Wi mirip pak Dahlan Iskan?”

“Beda pak. Ngapain dia pergi dari Solo ke Jakarta? Pasti ada maunya itu”

Pembicaraan terhenti karena lalu lintas tiba-tiba macet dan sang driver seperti bersungut-sungut dengan kondisi ini. Akhirnya diputuskan lewat Ancol saja dan tidak lewat Slipi, karena terlihat antrian begitu padat dan ada mobil polisi dengan tulisan “arah Priok lancar”.

Pembicaraan berlanjut lagi ketika suasana sudah normal kembali. Dengan piawai sang Driver bercerita betapa para cagub itu benar-benar tidak bisa mengukur diri. Terutama mereka yang perolehan suaranya sedikit.

Saat ini “mitra tanding” menuju Gubernur DKI hanya menyisakan dua kandidat kuat Foke dan Djoko Wi. Dua-duanya mendapat amanat dari rakyat Jakarta untuk dilaksanakan saat mereka menjadi pemimpin DKI. “Rakyat” versi Foke pasti beda dengan “Rakyat” versi Djoko Wi. Banyak pengamat yang bisa membedakan “rakyat” Foke dan Djoko Wi, aku sendiri tidak bisa membedakannya.

Orang yang kutemui sering memberikan penilaian yang berbeda dengan penilaian para pakar itu.

“PKS pasti tidak memilih Djoko Wi pak”, kata salah satu orang yang kutemui dan begitu berapi-api membahas siapa pemenang PILKADA DKI ini.

“Kenapa PKS tidak memilih Djoko Wi, tuh di TV ada gambar pak Djoko Wi dan pak Hidayat berjabat tangan”, kataku ketika kebetulan di layar TV terpampang gambar dua tokoh yang kita bahas.

“Jangan percaya TV pak. Seperti juga kita jangan terlalu percaya pada lembaga survei”, ujar temanku itu masih berapi-api.

Aku mencoba mencerna pendapat temanku itu. Kenapa sampai PKS tidak memilih Djoko Wi, padahal kalau PKS memilih Djoko Wi, pasti pengikut setia PKS akan menambah perolehan suara Djoko Wi dan itu sangat berarti bagi Djoko Wi.

Bicara politik memang susah-susah gampang. Pasti gampang bagi mereka yang berkecimpung dengan dunia politik, tapi bagi orang awam pasti sulit menebak arah angin politik. Apalagi saat ini banyak ahli politik yang tiba-tiba muncul dengan segudang argumentasinya.

Djakarta ingin perubahan metro 1

Metro TV, Selasa 17 Juli 2012,  selepas Maghrib menayangkan berita seputar Djoko Wi. Beberapa topik sempat kuikuti meskipun tidak dengan perhatian penuh. Topik yang dibahas antara lain tentang Jakarta yang saat ini menginginkan perubahan, pemanggilan tim sukses Djoko Wi karena dugaan money politics, atau pujian dari JK tentang bersihnya Djoko Wi.

Tidak ada berita tentang FOKE yang menonjol. Paling-paling yang muncul adalah komentar kubu FOKE terhadap politik uang yang ditengarai dilakukan oleh kubu Djoko Wi. Sementara itu dari kubu Djoko Wi membantah dengan beberapa bukti yang mereka sampaikan. Yang benar yang mana aku tidak tahu, tetapi isi pemberitaan ini pasti justru akan mengangkat nama Djoko Wi bukan nama FOKE.

Saat ini kubu FOKE pasti sedang giat-giatnya membahas strategi memenangkan kursi DKI-1 dan “rakyat” di belakang FOKE pasti ikut tegang menanti akhir dari PILKADA ini. Sebagai pengikut setia FOKE, maka “rakyat” di belakang FOKE pasti akan bermain all out agar tidak lagi dikalahkan oleh Djoko Wi.

Mampukah FOKE menciptakan kondisi yang membuat sebagian besar “rakyat” Jakarta memilihnya kembali menjadi Gubernur DKI? Sedangkan di masyarakat sedang muncul istilah “FOKokE Djoko Wi yang menang !:-)”

Siapapun yang jadi Gubernur DKI, maka rakyat jugalah yang menang. Tentunya kita akan sangat gembira kalau yang menang adalah RAKYAT yang tidak DIBELI oleh politik uang.

Djoko Wi kalah adalah kemenangan “rakyat” Jakarta, tapi Djoko Wi menang juga adalah kemenangan “rakyat” Jakarta.

Djoko Wi yang bersih di berita Metro TV

Djoko Wi yang bersih di berita Metro TV