Tag Archives: kehangatan cinta

BELA yang cantik

Senyum si kecil

Di sebuah resto, kulihat seorang Ibu muda sedang menjawab pertanyaan anak balitanya dan kemudian kembali larut dengan ponsel dan laptopnya. Jus jeruk yang ada di samping laptop terlihat baru sekali diminum saat dihidang pelayan dan sampai sekarang terlihat belum disentuh lagi.

Kulihat senyum yang dipaksakan ketika sang Ibu muda harus menjawab pertanyaan anak balitanya yang ditengah asyiknya bermain kadang menarik-narik baju ibunya untuk menjawab pertanyaannya. Matanya menjawab mata anaknya dan mereka terlihat berbincang beberapa saat sebelum kembali mata sang ibu menekuni ponsel dan laptopnya.

Beberapa potong kalimatnya sampai juga ke telingaku yang kebetulan duduk di dekat ibu muda itu.
“Mama lagi ngapain?”
“Mama sedang kerja nak, ini baru komunikasi dengan tante Linda”
“Kalau Papa sedang kerja juga ya Ma?”
“Iya donk”
“Tempat kerja Papa beda ya Ma?”
“Iya nak”
“Bela boleh main di luar Ma?”
“Bela disini saja ya nak, ngawani Mama”
“Kapan Bela boleh main di luar Ma, masih nanti ya?”

Ibu muda itu tersenyum dan kembali larut dalam komunikasi dengan ponsel maupun laptopnya. Sementara Bela mencoba asyik dengan mainannya dan sesekali memperhatikan Mamanya yang tetap asyik dengan ponsel dan laptopnya. Jus jeruk juga masih belum tersentuh.

Akupun jadi ingat anak sulungku yang jago bertanya. Apapun jawabanku selalu ada pertanyaan yang kembali dilontarkan oleh anakku. Kadang pertanyaannya sangat sepele, sehingga menjengkelkan untuk dijawab, tapi kalau tidak dijawab, maka pasti anakku akan kecewa.

Yang paling membuat hati ini sering bertarung dengan sengit adalah saat berangkat kerja dan pamit pada anak-anak. Biasanya anak dengan segala upaya selalu berusaha untuk ikut dengan kita. Disini perlu keteguhan hati untuk bercerita pada anak tentang sebuah kebenaran yang menyakitkan dua belah pihak.

Banyak orang tua yang menyederhanakan masalah pamitan ini dengan membohongi sang anak, atau mencoba pergi ke kantor tanpa pamitan. Hasilnya pasti mengecewakan ke dua belah pihak.
“Bapak pergi sebentar ya, nanti balik lagi”
“Bapak ke warung sebentar ya nak, gak lama kok”

Kebohongan kecil ini terasa mudah diucapkan, tapi akibatnya bagi si anak adalah lunturnya kepercayaan pada orang tua yang sudah begitu gampang membohonginya. Padahal, meskipun terlihat tidak bisa memahami dan tetap menangis, anak akan mengapresiasi orang tuanya bila melakukan pamit dengan cara yang benar.
“Bapak ke kantor nak. Nanti malam bapak pulang dan kita main lagi. Oke?”

Dialog di atas sepertinya berat bagi si anak yang masih balita, tetapi sebenarnya anak itu lebih cerdas dari yang sering kita pikirkan. Mereka sebenarnya bisa memahami apa yang kita sampaikan kalau kita menyampaikannya dengan jujur dan penuh perhatian, bukan sambil lalu.

Anak bisa mengetahui kebohongan dari kita, tanpa perlu memaknai apa yang kita ucapkan, mereka sudah bisa merasakan berdasar kontak mata dan cara kita berkata.

“PRANG !!!”
Kaget aku mendengar suara gelas pecah dan kulihat jus jeruk ibu muda itu sudah tumpah kemana-mana. Entah bagaimana kejadiannya, kulihat Bela terdiam melihat gelas yang pecah di hadapannya dan kulihat cairan jus jeruk yang membasahi laptop di meja.

Dengan sigap ibu muda itu memeluk Bela dan mendekapnya erat-erat, sementara kulihat ada air mata mengalir deras di pipi Bela. Seorang pelayan kuarahkan untuk membersihkan pecahan kaca di lantai dan aku mencoba membersihkan air jeruk yang ada di meja.

Beberapa saat kemudian, ibu muda itu meletakkan Bela di kursi dan sambil membelai rambutnya ibu itu berkata,”Mama bersihin laptop dulu ya, nanti kita langsung ke luar. Kita mainan ayunan di luar. Oke?”
Bela mengangguk pelan dan duduk manis di kursi, sementara itu ibunya merapikan laptopnya, membersihkan dari sisa-sisa air jeruk dan kemudian memasukkannya ke tas laptop. Dengan pandangan berterima kasih ibu muda itu menuju kasir, membayar biaya yang harus dibayar dan kemudian mengajak Bela keluar resto. Bela terlihat sudah tidak menangis lagi dan mengikuti langkah ibunya dengan riang.

Keluar dari resto kulihat Bela dan ibunya terlihat asyik bercengkerama. Mungkin ibunya juga baru sadar bahwa dia hampir saja terlena dengan dunia internet dan melupakan anak cantiknya.

Sampai di rumah aku mencoba masuk ke situs bebelac yang baru saja kutemukan. Isi situs ini tentang dunia anak, mulai dari masa kehamilan sampai masa pasca kelahiran. Aku ingin mengecek apakah hal-hal yang baru kujumpai tadi ada dalam situs ini. Yang pertama kulakukan adalah bertanya pada pengasuh situs bebelac ini.

Tanya bebeclub careline

Tanya bebeclub careline

Sambil menunggu, akupun mencoba searching tentang dunia anak di situs bebelac itu dan tanpa terasa aku malah ikut berbagi cerita tentang keluargaku dari sisi pandang seorang ayah. Ini situs yang menarik untuk dikunjungi.

Di situs bebelac itu aku bercerita tentang kehamilan anak pertama sampai anak ke tiga. Mulai dari kelahiran yang sangat lancar sampai yang sangat tidak lancar, semuany akuceritakan secara singkat di situs Bebelac itu.

Ternyata situs itu banyak dilihat oleh pembaca cerita seputar kehamilan sampai balita, sehingga baru selesai kutulis langsung sudah dibaca oleh banyak orang.

Yang pernah mengkonsumsi susu Bebelac mungkin pernah juga lihat iklan bebelac versi Youtube, pasti masih ingat adegannya yang sangat natural. Setiap iklan ini tayang di TV aku suka menonton dan mengikuti lagunya.

Hari ini kembali aku mendapat pelajaran berharga.
1. Dunia balita adalah dunia anak bersenang-senang, semua harus disampaikan dengan cara bermain yang menyenangkan si anak.
2. Kemarahan pada anak atau pada siapapun tidak akan membuat kondisi menjadi lebih baik, bahkan kondisi bisa menjadi lebih buruk kalau salah bertindak.
3. Risiko mempunyai anak cerdas adalah si anak lebih banyak dan lebih sering bertanya, harus ada energi ekstra untuk memberikan jawaban yang memuaskan anak tanpa perlu berbohong.
4. Pelukan orang tua akan sanggup mewakili berjuta ungkapan kasih sayang yang tulus.
Salam sehati

Senyum si kecil

Senyum si kecil

Cerpen : Kehangatan Cintaku (3)

Keindahan alam di film 5 cm

Cerpen : Kehangatan Cintaku (3) ini merupakan kelanjutan dari artikel Kehangatan Cintaku (1) dan Kehangatan Cintaku (2).

+++

Surat menyurat antara aku dan Raini berjalan sangat lancar, apalagi setelah menikmati indahnya malam minggu dalam rangkaian Gadjah Mada Fair di Lapangan Pancasila UGM Jogja. Topik yang dibahas benar-benar tidak penting dan lebih banyak cerita tentang kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur kembali.

Ada juga gambar denah perjalanan dari rumah menuju kampus. Mulai dari jalan kaki ke halte bayangan dekat rumah sampai turun di halte bayangan dekat kampus dan dilanjutkan jalan kaki menuju kampus. Kadang aku bercerita bahwa saat tidak punya uang, aku jalan kaki dari kampus menuju rumah.

Dari cerita yang tertulis dalam surat itu, kubayangkan kalau kehidupan keluarga kita (Aku dan Raini) kurang lebih sama atau setara. Persahabatan melalui surat inipun makin seru dan makin deras surat yang terkirim dari kita berdua. Tidak ada kata cinta di antara kita berdua, karena aku memang tidak menganggap ini sebagai sebuah kisah cinta. Aku hanya menganggap ini sebagai keindahan persahabatan melalui surat. Sampai suatu saat ketika aku akhirnya bertemu dengan Raini di Surabaya. Meski kata cinta tetap tidak terucap, tapi ada debar di hati ketika di suatu waktu tangan ini saling meremas.

Awal pertemuan di Surabaya terjadi ketika Agus, kawan karibku, mengajakku jalan-jalan antar kota antar propinsi. Kebetulan kita berdua memang sering jalan-jalan ke luar kota naik mobilnya yang kuno tetapi penuh semangat.

“Kita naik mobil yang lain ya”, kata Agus.

“Bukan naik Toyota Hijau yang penuh semangat?”, kataku

“Hari ini kita naik Honda”

“Wow … Acord?” Honda Accord adalah jenis mobil yang dipakai orang tua Agus.

“Bukan. Honda Taufik !”, sambil tertawa Agus menunjukkan kunci mobil barunya.

Sebenarnya Honda Civic 78 itu bukan mobil baru, tapi mobil itu memang baru kali ini dipegangnya. Warnanya putih metalic, sehingga nampak sporty dan bergaya muda. Akupun jadi terinspirasi untuk mengajak Agus ke Surabaya. Segera kucari alamat Raini dan kutulis di sebuah sobekan kertas.

“Bagaimana Gus, kalau kesini perjalanan kita hari ini?”, kataku sambil menunjukkan alamat rumah Raini

“Surabaya? Hayuk ! Kayaknya dia tinggal di perumahan mewah ya?”

“Ah enggak tuh. Dia orangnya sederhana kok. Bisa jadi memang berdekatan dengan perumahan mewah”

Sepanjang jalan kuceritakan tentang Raini, seperti apa yang kutafsirkan dari isi suratnya. Betapa Raini sering jalan kaki dari rumahnya menuju ke halte dan kemudian melanjutkan ke kampus naik angkot, bila dia tidak diantar oleh ibunya. Kuceritakan juga kalau Raini adalah aktifis teater yang juga suka kegiatan sosial membantu korban banjir atau semacamnya.

Posko Peduli Banjir

Posko Peduli Banjir (bukan di Surabaya)

“Wah klop deh. Aktifis teater dua kota bertemu hari ini dalam sebuah kisah klasik di Surabaya, hahahaha….”

Aku tersenyum memaknai ucapan dari Agus. Hari ini akan menjadi hari bersejarah ke dua setelah hari pentas di Gadjah Mada Fair. Kubayangkan Raini akan terkejut melihatku mendadak muncul di Surabaya dan tidak naik angkot tetapi naik mobil pribadi.

Kuingat di surat terakhirku aku sedikit menyinggung keinginanku untuk main ke Surabaya tetapi terkendala banyak hal. Mulai dari waktu, jarak yang jauh dan kesibukanku di acara lain. Tak akan pernah terpikir, tiba-tiba aku bisa meluncur ke Surabaya bersama Agus menemui Raini.

+++

Kuperhatikan alamat Raini yang kutulis di sobekan kertas. Berulang-ulang kubaca dan tetap saja tulisan itu sesuai dengan alamat rumah besar yang ada di hadapanku. Ada seorang laki-laki yang sedang membersihkan halaman rumah. Lelaki itu sesekali berhenti untuk melihat ke arah mobil Agus dan kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.

“Bener ini rumah Raini?”, tanya Agus sekali lagi, karena melihatku ragu-ragu

“Kalau alamatnya sih benar”, jawabku ragu

“Kalau mendengar ceritamu sepanjang jalan, ya tidak cocok dengan kondisi rumahnya. Atau dia hanya kost disini?”

“Ini kan jelas bukan rumah kost”, ucapku tanpa ekspresi lagi

Akhirnya mobil berjalan pelan dan menjauhi rumah mewah Raini. Tak tentu arah mobilpun meluncur di berbagai ruas jalan Surabaya, sampai akhirnya kita tersadar bahwa kita belum melakukan klarifikasi dengan pemilik rumah, kenapa sudah langsung ngacir?.

“Yuk mampir lagi ke rumah Raini. Kalau salah rumah ya sudah, tapi jelas faktanya”, ajakku pada Agus yang kelihatannya tidak percaya dengan rumah Raini. Kucoba yakinkan bahwa Raini bukan type pembohong, meski dalam hati aku juga ragu apakah aku sedang dipermainkan Raini atau aku yang belum bisa memahami gaya bahasa Raini.

Sesampai di rumah Raini kembali, kulihat rumah besar itu tambah sepi karena laki-laki yang tadi membersihkan halaman sudah tidak terlihat lagi. Akupun turun dari mobil dan mencari bel yang ada di pagar halaman. Tidak ada tanda-tanda bel itu sudah terdengar di dalam rumah ketika kupencet, sehingga akupun mencoba memencet bel itu lagi.

Belum sempat kupencet, kulihat pintu rumah seperti akan dibuka oleh seseorang. Benar saja, pintu rumah terbuka dan munculah seorang wanita yang langsung menghampiriku.

“Mau nanya mbak, apa benar ini rumah mbak Raini?”

“………………….”

“Yang kuliah di Hukum Unair”

“Ya benar”

“Ada mbaknya?”

“Hmm nama mas siapa, darimana?”

Kusebut namaku dan berlalulah mbak yang kutak tahu namanya itu menuju ke pintu depan rumah. Sejenak kuperhatikan rumah mewah di depanku. Ada sebuah mobil Jeep tanpa atap di car port yang penuh dengan asesoris off roader, terlihat kontras dengan suasana rumah mewah yang akan lebih cocok kalau dihuni oleh mobil Mercy, BMW atau semacamnya.

Keindahan alam di film 5 cm

Keindahan alam di film 5 cm

Agus keluar dari mobil dan menanyakan kebenaran rumah Raini. Ketika aku menganggukkan kepala, nampak Agus garuk-garuk kepala. Dia sama sekali tidak berpikir kalau aku akan bertamu di rumah semewah ini.

Beberapa saat kemudian, keluar kembali mbak-mbak yang aku belum kenal dan membuka pintu pagar. Dia mempersilahkan aku dan mobil Agus memasuki halaman rumah itu. Sementara itu dia kembali menutup pintu pagar dan kembali masuk dalam rumah mewah itu. Kita berdua ditinggal di teras depan untuk menikmati suasana sejuk rumah itu.

“Eh… mas Eko, ayu masuk mas. Ini siapa ya?”, tiba-tiba terdengar suarta Raini memecah kesunyian ruangan teras. Kulihat Raini yang beda dengan penampilannya ketika di Jogja. Sangat feminim, jauh dari penampilan anak teater dan juga jauh dari penampailannya ketika nonton band di Gadjah Mada fair beberapa bulan lalu.

Harus kuakui bahwa aku dan mungkin juga Agus agak gugup menerima kondisi perkenalan seperti ini. Pembicaraan agak tersendat di awal, tapi akhirnya mengalir deras ketika Agus juga sudah menemukan karakter Raini yang ceplas ceplos.

Tanpa terasa pembicaraanpun sampai pada keraguan kita memasuki rumah ini.

“Ini memang sudah menjadi nasib mas Eko yang baik. Coba kalau tadi langsung masuk saat ada Parmin, pasti dia bilang aku tidak ada”

“Memang kenapa?”

Raini terdiam sebentar, seperti ada keraguan, tapi kemudian dia melanjutkan lagi kalimatnya.

“Aku tadi pesan ke Parmin, hari ini sedang tidak mau terima tamu, tapi aku lupa tidak bilang ke Siti, sehingga dia mempersilahkan mas Eko dan Mas Agus masuk ke rumah”

“Memang kenapa kok tidak mau terima tamu?”

“Maklum mas, sebulan ini banyak kejadian banjir di Surabaya dan aku sibuk ikut ngurusin bantuan masyarakat untuk mereka, jadi tidak sempat belajar, padahal besok mau ujian”

“Waduh, kalau gitu kita pamitan donk, takut ngganggu belajarnya”

“Wah jangan pulang donk, kan baru sampai. Harus dirayakan nih. Cari bebek kayu tangan yuk”

Belum sempat menanggapi permintaan Raini, tiba-tiba muncul sesosok wanita anggun dari balik pintu. Padangannya sejuk dan  menyejukan hati. Terlihat dia sangat mirip dengan Raini, sehingga bisa dipastikan dia pasti kakaknya.

“Ma, ke kayu tangan yuk. Mumpung ada tamu dari Jogja nih. Yang sering kuceritakan itu lho ma. Yang dari teater Gadjah Mada”

“Ini yang namanya nak Eko dari Jogja? Raini sering cerita tentang kegiatan teaternya dan selalu menyebut nak Eko dalam ceritanya. Kapan datang?”

Baru kusadari kalau wanita ini adalah ibu dari Raini. Terlihat masih sangat muda, bak adik dan kakak dengan Raini. Tersipu kami berdua menyalami ibu Raini dan menjawab pertanyaannya dengan gugup.

Makin gugup ketika ibu Raini dengan tegas mengusir kami berdua, meski dengan cara yang sangat halus.

“Bukankah tadi sudah pesan Parmin untuk tidak terima tamu?”, ucap ibu Raini dibalik senyumnya yang teduh.

Akhirnya kitapun pamit beneran dan langsung menuju warung di arah perjalanan ke Jogja. Pengusiran yang sharusnya menyakitkan itu ternyata tidak banyak mempengaruhiku. Aku lebih terkesan dengan kalimat yang lain.

“Ini yang namanya nak Eko dari Jogja? Raini sering cerita tentang kegiatan teaternya dan selalu menyebut nak Eko dalam ceritanya”

Benarkah Raini sering membicarakan aku di depan orang tuanya? Benarkah Raini yang cantik dan kaya raya itu tertarik padaku? Inikah cinta tanpa kenal kasta?

“Putus lagi cintaku… putus lagi cintaku”, gurau Agus sepanjang jalan sementara aku tenggelam dalam lautan lamunan tanpa batas.

“Aku cinta padamu Raini”

+++

Bersambung ke artikel Kahangatan Cintaku ke (4). illustrasi Foto jeep diambil dari film 5 cm

Cerpen : Kehangatan Cintaku 2

Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu

Cerpen ini sebagai lanjutan dari cerpen : Kehangatan Cintaku 1 Sebaiknya baca yang seri 1 baru baca yang ini.

+++

Suara riuh rendah dari luar wisma membuat aku dan Raini menghentikan pembicaraan. Seperti yang kuterka, mereka adalah rombongan dari Surabaya yang baru pulang dari jalan-jalan. Mereka langsung memenuhi ruangan di depan resepsionis, sehingga ruangan itu jadi riuh rendah.

“Raini sudah jadi ke Malioboro kan?”, kata Alam sambil mendekati Raini dan menyerahkan sebungkus gorengan. Raini menerima bungkusan itu sambil memasang wajah merengut. Aku jadi geli melihat wajah Raini yang berubah total. tadinya ceria penuh pesona sekarang tiba-tiba jadi lucu dan bikin tertawa yang melihatnya. Mulutnya yang cemberut benar-benar membuatku tertawa tertahan.

“Asrul sama Dewi tuh bikin masalah, jadi semua berantakan deh. Bilangin Dewi dong mas Alam, jangan kolokan gitu”

“Waduh bidadari ngambeg nih. Oke deh, nanti aku bilangin dia. Jangan lupa jam 20.00 kita harus sudah di Gelanggang Mahasiswa UGM. Aku tak mandi dulu”, sambil menjawab Alam berlalu menuju kamarnya, meninggalkan kita berdua lagi di lobby wisma ini.

“Mas Eko mau gorengan?”

Aku sebenarnya sedang tidak suka gorengan, lebih suka yang rebus-rebus, tapi apa salahnya makan berdua dengan cewek cantik, biarpun yang dimakan adalah makanan yang bukan favoritku.

“Suka, aku suka “, jawabku sambil mencomot sepotong pisang goreng.

Kamipun tenggelam dalam pembicaraan yang hangat. Aku ikuti semua arah pembicaraannya dan sesekali menyelanya kalau aku merasa ada yang perlu kuluruskan. Tidak sia-sia aku mampir ke wisma ini. Aku merasa cocok mendengarkan apa yang dia sampaikan. Kitapun tertawa bersama dan kadang sama-sama berpikir keras ketika membahas sesuatu yang pelik.

“Wah gorengannya habis mas. Cari di depan wisma ada enggak?”

“Oh ada tuh, Aku yang nraktir ya?”, kataku sok punya banyak duit. Kuhitung uangku memang cukup kalau hanya sekedar minum susu segar dan roti bakar di seberang wisma.

“Hehehehe… bener mau nraktir? Yang enak dan yang mahal ya? Hahahaha….”

Kami tergelak bersama dan segera keluar dari wisma. Menyeberang jalan yang tidak begitu ramai, kita memasuki warung tenda dengan tulisan besar-besar di penutupnya “SUSU SEGAR BOYOLALI“. Inilah warung langgananku sejak SMA. Murah meriah dan sudah memadai untuk pengganti makan malam.

Obrolan berlanjut kesana kemari tanpa arah tujuan yang jelas, tahu-tahu muncul Alam bersama rombongannya. Kulihat Sastro ada di antara mereka dan segera kuserahkan camera padanya. Merekapun berlalu menuju kendaraan yang sudah menunggu dan meluncur ke Gelanggang Mahasiswa UGM.

Pelan kukayuh sepedaku menuju Gelanggang Mahasiswa dan bergabung bersama mereka berdiskusi dengan teman-teman dari teater Jogja. Selama diskusi, aku lebih sering memakai Camera Sastro dengan menggunakan film Raini. Maklum Sastro gagal mendapat film, atau bisa jadi itu alasan saja, karena aku tahu ini bukan camera Sastro tapi camera inventaris kantor. Tanpa sungkan kuhabiskan film Raini dan sebagian besar isinya foto Raini yang kuambil dengan memanfaatkan lensa tele yang cukup lumayan panjang.

Gelanggang Mahasiswa UGM

Gelanggang Mahasiswa UGM

+++

Sebulan berlalu dan malam ini kuhabiskan waktuku di kamar gelap untuk mencetak pas foto dari beberapa pelanggan, sampai akhirnya aku menemukan kembali rol film Raini yang rupanya tersembunyi di tas pinggangku.

“Masih muda kok pikun gini aku ya?”

Selesai mencetak semua foto akupun pergi ke jalan Solo untuk mencetak film yang telah lama hilang ini. Beberapa hari kemudian foto-foto itupun jadilah, kebetulan aku pas banyak uang sehingga semua foto kucetak ukuran postcard. Beberapa foto teman-teman di Gelanggang kusimpan dan foto Raini akhirnya kukirimkan saja ke Raini daripada membuat hatiku serasa mengawang-awang memikirkan dia.

Selembar puisi kuikutkan dalam surat pada Raini. Kubacakan dulu puisi itu di depan Sastro sebelum kukirim.

“Gendeng kamu Ko”, komentar Sastro membaca puisiku yang terlalu penuh dengan ungkapan cinta tak terbalas.

Tak dinyana, beberapa hari kemudian aku menerima surat balasan dari raini. Halah!

Maksudku membuang semua kenangan tentang Raini yang terjadi justru kenangan itu makin membakarku. Seperti dituntun sebuah kekuatan (cinta?), akupun membalas semua surat Raini dan karena begitu bersemangat dalam menulis, kadang kita saling bingung dengan isi surat masing-masing. Jaman itu kantor pos kadang nakal karena surat yang dibuat kemudian ternyata justru datang duluan.

“Mas Eko, mulai sekarang surat kita beri nomor yuk, biar urut mbacanya”, usul Raini di salah satu suratnya. Akupun menyetujuinya dan sejak itu surat-surat kita selalu ada nomornya. Salah satu surat yang membuat aku tertawa ngakak adalah ketika Raini bercerita tentang susu segar di depan wisma.

“Mas, Aku itu tidak pernah minum susu lho tiap malam. Aku selalu menghindari minum susu karena tidak suka, baik dengan aromanya maupun dengan rasanya, tapi kenapa dulu aku nurut saja ya diajak minum susu segar?”

+++

Gadjah Mada Fair adalah ajang para mahasiswa kumpul-kumpul, kebetulan acaranya berdekatan dengan acara Dies Teknik Sipil tempatku kuliah. Akupun ikut mengisi acara di kedua event besar itu. Tak diduga tak dinyana, tiba-tiba kuterima sebuah surat dari Raini bahwa di tanggal itu dia ada di Jogja dan akan nonton Gadjah Mada Fair. Kebetulan salah satu kamar di tempat kost saudaranya ada yang kosong sehingga dia tidak perlu sewa wisma atau hotel.

Akupun terpaksa memakai sepeda motor ayahku untuk menjemputnya. Ini sepeda motor yang unik, karena bodinya adalah Honda Bebek 90cc tetapi mesinnya memakai Honda S90. Rem kanan kujadikan kopling, sehingga hanya keluargaku saja yang bisa memakai sepeda motor ini tanpa masalah.

Malam itupun aku sukses membawa seorang gadis cantik dalam acara Gadjah Mada Fair. Celakanya saking senengnya menggandeng cewek cantik, ketika di panggung memegang gitar listrik aku lupa memasang colokan kabel suara gitarku ke amplifier. Untungnya penonton mengira adegan itu adalah adegan yang disengaja, sehingga justru mereka bertepuk tangan untuk adegan kecelakaan tak disengaja itu. Kebetulan band saat aku manggung, yang merupakan gabungan dari Fakultas Hukum, Kedokteran dan Teknik membawakan lagu-lagu rock Indonesia, sehingga sambutan untuk band ecek-ecek ini benar-benar meriah. Inilah satu-satunya penampil yang ketika Band lainnya membawakan lagu rock barat, memilih membawakan lagu rock Indonesia.

Malam itupun menjadi malam yang paling manis dalam hidupku.

Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu

Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu

+++

Bersambung ke Cerpen : Kehangatan Cintaku 3

Cerpen : Kehangatan Cintaku (1)

yogya malam (2)

Cerpen : Kehangatan Cintaku ini kutulis sebagai bagian dari nostalgia yang harus kusampaikan pada dunia. Mungkin banyak orang yang punya kisah lebih dahsyat dari kisahku di kala masih duduk di bangku kuliah, tapi pasti kisah mereka berbeda dengan kisahku. Ada haru, lucu, nuansa religi dan kehangatan cinta yang tak bisa lepas sampai hari ini. Itulah mungkin salah satu bukti keindahan cinta.

+++

Kisah ini kumulai ketika aku ikut menjemput rombongan teater dari Surabaya di stasiun Tugu. Waktu itu kondisi stasiun kereta api belum seperti saat ini yang sangat teratur dan bersih. Waktu itu semua penjemput bisa masuk bahkan sampai ke pinggir rel kereta api. Kitapun duduk sambil bernyanyi-nyanyi untuk membunuh waktu menunggu. Satu gitar ukulele mengiringi segala lagu kita dan tetabuhan dari segala macam benda yang bisa ditabuh membuat suasana pagi itu menjadi makin hangat.

Ketika akhirnya rombongan teater dari Surabaya tiba, maka berhamburanlah kita menyambutnya. Seperti acara reuni, kita saling bersalaman dan mengobrol tentang apa saja yang terpikirkan, padahal tidak ada satupun personil teater Surabaya yang kita kenal. Semuanya adalah kawan baru yang belum pernah kita temui. Jadi aku sendiri tidak yakin kalau teman-temanku akan ingat nama mereka jika sudah berpisah nanti.

Pada jabat erat yang terakhir kusadari kalau aku sudah menggenggam tangan mungil yang sangat kuat.

“Raini”, sebutnya membuatku terperangah.

Meski wajahku tak banyak berubah, tapi harus kuakui dadaku menjadi penuh genderang perang. Gemuruh bak guruh bersahutan. Aku sampai tidak merasa kalau tangannya sudah lepas dari tanganku. Pikiranku melayang tidak jelas kemana-mana.

“Inikah cinta?”

Sebuah pertanyaan bodoh muncul dalam hatiku dan segera kuusir jauh dari pikiranku. bagaimana mungkin cinta pada pandangan pertama pada seseorang yang sama sekali tidak kita kenal.

“Ah ini sinetron banget kalau aku cinta padanya dan dia ternyata cinta padaku”

Akupun menarik nafas panjang dan menyunggingkan sebuah senyum. Sungguh lucu kalau sampai ada adegan percintaan antara aku dan Raini. kubaurkan diriku dengan teman-temanku dan para tamu dari Surabaya. Kita saling ledek dan saling melucu, meskipun kadang lelucon yang disampaikan sangat garing tetapi suasana akrab membuat semua lelucon selalu menjadi benar-benar lucu.

Dialek Surabaya yang kental membuat suasana makin meriah karena ditimpali dengan dialek khas Jogja yang medhok. Satu demi satu kita naik angkutan dan sebuah kebetulan ala sinetron, karena Raini duduk tepat di depanku. Rayuankupun langsung meluncur.

“Di kendaraan lain panas kenapa disini kok sejuk ya?”, lemparku memasang umpan

“Kenapa ya? Ada apa ya?”, temanku langsung menyambut umpanku.

“Because ada Raini di depanku, mobil ini jadi suejuk banget !”, ucapku mencoba dengan dialek Surabaya yang medhok ala jogja.

Semua penumpang angkutan tertawa bersama, begitu juga Raini yang tepat duduk di depanku. Raini tertawa ngakak, dengan mulut yang sangat lepas terbuka. Sebuah pemandangan yang langka untuk orang Jogja dan biasa bagi orang Surabaya.

“Waduh kok ada yang bau jengkol ya?”

Sastro yang duduk di dekatku nyeletuk dan disambut dengan lemparan topi dari Raini.

“Ngawur ae kon. Ambumu sing apeg mas…” (Ngawur saja kamu, Baumu yang apak mas)

Suasana riuh rendah terus berjalan sepanjang perjalanan ke wisma tempat rombongan Surabaya menginap. Pendeknya hari itu benar-benar kita diliputi suasana suka cita yang tak pernah kita bayangkan. Mendapat teman baru seperti bertemu teman lama dalam sebuah reuni. Sungguh hari yang fantastis!

toegoe jogja

toegoe jogja

+++

Sehabis maghrib kusempatkan mendatangi wisma tempat rombongan Surabaya menginap. Tidak ada tugasku disini, karena semua urusan penyambutan tamu sudah diurusi oleh teman-temanku. Aku hanya kebagian memesan tempat penginapan dan membayarnya jika acara sudah selesai.

“Dab, titip tustel ya”, kata Sastro sambil menyerahkan sebuah camera padaku.

“Ono filme ora? (Ada filmnya tidak?)”, kataku sambil menerima camera Canon dari Sastro.

“Hehehehe… tak tuku film ndisik (aku beli film dulu)”, jawab Sastro sambil ngeloyor pergi.

“Asem iki, Gur dinggo titipan tustel to? (Aku hanya dijadikan tempat titipan camera rupanya?)”

Akupun masuk wisma sambil menenteng camera Canon dengan tele lens yang lumayan panjang. Pas duduk di lobby kulihat Raini melintas sambil membawa kotak film. Hadeh, apalagi ini. Masak kebetulan banget ada acara ketemuan seperti ini?

“Mas Eko bawa tustel ya?”

“Bawa nih, tapi ini punya Sastro bukan punyaku”

“Tustelku ketinggalan mas. Film ini jadi nganggur deh”

Dalam hati aku berkata,”Kasihkan saja film itu ke aku, nanti kupotret wajah Raini deh”

“Mas Eko mau pakai film ini? Daripada gak kepakai. Lumayan mas, isi 36″

“Wah terima kasih mbak Raini. Nanti biar tak sampaikan ke Sastro”

“Mas Eko tidak punya tustel sendiri?”

“Ndak punya mbak”

Sambil memberikan satu kotak film fuji isi 36exp, Raini duduk di kursi di depanku. Sebuah posisi duduk yang sangat kusenangi, karena aku bisa memandang wajah ayu Raini secara utuh. Kulihat wajah Raini sedikit tidak tenang, seperti akan melakukan sesuatu tetapi ada yang menahannya untuk melakukan sesuatu. Puji Tuhan yang telah menciptakan cewek secantik ini.

“Sudah jalan kemana saja mbak?”, ucapku memecah kebuntuan situasi.

“Mau ke Malioboro tapi belum sempat mas, sibuk ngurusi teman-teman yang bandel-bandel. Eh mas Eko bawa motor? Anter aku yuk?”

“Ha????”, hatiku langsung meloncat. Untung suara itu hanya ada dalam hatiku saja.

“Wah aku tidak punya motor mbak. Aku hanya bawa sepeda onthel kesini tadi. Kalau mau boncengan sepeda onthel ayuk mbak”, jawabku sekenanya. Maklum sepedaku tidak ada goncengannya, jadi iseng saja kutawarkan. Paling juga Raini menolak dengan halus.

“Bener mas?”

“Iya bener. Kenapa?”

“Malam-malam sepedaan gak apa-apa di Jogja?”

“Ya ndak apa-apa mbak”

“Kuat nggoncengin aku?”

“Kuat donk”

Dalam hati aku meringis. Mau ditaruh dimana Raini ini. Sepedaku tidak ada goncengannya dan hanya sepeda “jengki” yang sedikit gembos bannya, karena aku lupa dimana menaruh pompa.

…..>>> bersambung ke Cerpen : Kehangatan Cintaku (2)

Naik motor pinjaman

Naik motor pinjaman

Kehangatan Cinta : Pak Dhe Pacaran

Pasutri Bahagia Dunia akhirat

“Pak Dhe cepetan cerita donk, gimana dulu pacaran sama Bu Dhe”, kata Antok pada pak Dhe yang tetap senyum-senyum dikursi depan didampingi Bu Dhe. Sementara anak-anak lain ikut menyokong permintaan Antok dengan gegap gempita.

“Ayo pak Dhe, kamu bisa..!”, terdengar suara serak di antara suara para ABG yang mengelilingi pak Dhe membuat semua jadi tertawa lebar.

“Thole gak usah bersuara, bisa sakit panu kita semua nanti”, timpal Anton membuat semua jadi tambah riuh rendah. Maklum suara Thole memang khas banget, sember, serak dan beda banget dengan suara orang normal.

Bu Dhe yang duduk di samping pak Dhe ikut-ikutan senyum dan menepuk pundak pak Dhe sambil berbicara lirih, “Ayo cerita tapi jangan semuanya ya..”

“Oke..oke.. aku mau memulai cerita. Bukan untuk kalian tapi untuk anak-anakku yang sedang jauh di sana”, akhirnya pak Dhe berdiri dan memulai ceritanya.

Anak-anak ABG itupun duduk diam ketika melihat pak Dhe sudah siap untuk bercerita.

Pasutri Bahagia Dunia akhirat

“Dulu, Bu Dhe yang cantik ini adalah bunga di kampungku dan tentu saja bunga di Masjid yang sering kupakai untuk berdiskusi tentang hidup dan kehidupan”

“Banyak kumbang yang mengitarinya dan aku sering dirujuk oleh para kumbang untuk mendekati Bu Dhe ini”

“…….”

“Foto Bu Dhe laris beredar di kalangan teman-temanku dan merekapun bergantian main ke rumah Bu Dhe dengan segala alasan dan segala cara. Maklum primadona sih…”

Suasana makin riuh rendah ketika pak Dhe makin dalam menceritakan tentang kisah cintanya lengkap dengan cara pacarannya. Memang tak ada pertemuan penuh gelora nafsu di antara mereka tapi liku-liku cerita pacaran ala pak Dhe ini benar-benar beda dengan kisah cinta yang umum terjadi di masyarakat saat ini.

“Bener pak Dhe gak pernah berduaan sama Bu Dhe ketika pacaran?”, tanya Antok penasaran.

“Hahahaha… kalau bukan dengan bu Dhe sih sering, hahahaha….”, Bu Dhe langsung mencubit pak Dhe ketika mendengar jawaban pak Dhe.

“Bu Dhe pernah berduaan sama pak Dhe dalam sebuah mobil”, ucap Bu Dhe sambil berdiri di samping pak Dhe.

“Waktu itu Bu Dhe jalan sendirian pulang dari kuliah terus pak Dhe klakson dari belakang, nah hari itulah kita berduaan dalam satu mobil selama kira-kira lima menit saja”

“Kok cuma lima menit?”

“Lha rumahnya sudah dekat kok, sepuluh menit jalan kaki juga sampai”

“Memang waktu itu pak Dhe punya mobil?”

“Hahaha… pak Dhe ini waktu mudanya jadi tukang ojek mobil alias sopir serabutan”

Tertawapun langsung berderai di antara mereka. Suasana diskusi di ruang aula kelas XI-X itu makin seru ketika pak Dhe mulai menceritakan proses menuju pernikahan mereka.

“Waktu itu aku main ke rumah bu Dhe dan kita lebih banyak berdiam seribu bahasa. Bahkan Ayah bu Dhe yang banyak bertanya dan berdiskusi soal kemasyarakatan, sehingga aku makin tidak punya kesempatan untuk bercerita soal ketertarikanku pada Bu Dhe. Akhirnya aku nulis surat saja biar gak diganggu oleh obrolan orang lain”

“Surat-surat kita berduapun jadi seperti novel kalau disambung-sambung. Bai de wei, tidak ada ucapan I LOve U di antara ratusan surat itu”

“Bu Dhe bahkan selalu menawarkan untuk berkenalan dengan kawannya yang dianggap cocok untuk mendampingi hidupku. Sampai akhirnya aku menulis begini; daripada menikah dengan mereka, kawan-kawanmu itu yang aku tidak tahu sifat dan kecantikannya, lebih baik aku menikah dengan dikau dinda!”

Pak Dhe mengucapkan kalimat terakhir ini dengan penuh perasaan dan pandangannya menuju ke sepasang mata Bu Dhe, sehingga bu Dhe tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Sepertinya ada air mata bahagia yang menggantung di sepasang mata indah Bu Dhe.

“Wuuuu…..!” Antok dan kawan-kawannyapun bersorak-sorai melihat kemesraan pak Dhe dan Bu Dhe. Suasanapun jadi cair lagi ketika kemudian terdengar suara langkah kaki bu Murwani memasuki ruang kelas.

“Selamat siang!”, salam Bu Murwani

“Selamat siaaang….”, serempak Antok dan kawan-kawannya menjawab

“Bagaimana sudah dapat cerita dari pak Dhe?”

“Sudah bu…”

“Bagus. Silahkan buat tulisan tentang acara kita hari ini, boleh dari sisi pelaksanaan acaranya, isi cerita dari pak Dhe atau apapun yang bisa diceritakan berdasar kejadian hari ini. kumpulkan minggu depan. Siap?”

“Siaaaaap!”

“Sudah tahu kan bahwa pacaran itu bisa perlu bisa juga tidak perlu?”

“Sudaaah…”

Ruang kelas itupun langsung sepi, tinggal pak Dhe, bu Dhe dan bu Murwani saja yang asyik mengobrol.

“Pak Dhe makasih sudah mau datang ke sekolah ini untuk berbagi. Mohon lain kali bersedia datang lagi kalau kita undang. Maaf kalau kita tidak bisa memberikan uang transportasi untuk pak Dhe yang sudah datang jauh-jauh ke sekolah ini. Nanti biar diantar sama Amir, sopir antar jemput sekolah ini, sekalian ngantar ke komplek dekat kompleks pak Dhe”

Merekapun saling berjabat erat mengakhiri acara diskusi di siang hari ini. Di papan tulis tertera dengan Spidol besar judul acara ini. “Kehangatan Cinta : Pak Dhe Pacaran”.

Salam sehati

Dua Pasutri

« Older Entries