Tag Archives: sepeda

Man behid the PIT

Sepedaan di Alun alun Solo

Kalimat “Man behid the PIT” adalah plesetan dari kalimat “man behind the gun”, yang penting bukan alatnya tapi siapa yang memegang alat itu. Ini istilah umum yang dipakai untuk menunjukkan bahwa manusia itu adalah sumber daya yang berbeda dibanding sumber daya lainnya. BBM adalah sumber daya yang vital banget, tapi tetep saja manusia di belakang BBM itu yang akan menentukan bagaimana BBM itu dikelola. BBM-nya sendiri ikut saja kemana sang pengelola menyuruh, asal sesuai dengan hukum alam.

Air itu adalah sumber daya yang hukum alamnya mengalur ke tempat yang rendah dan manusia tidak bisa menyuruhnya untuk menjadi mengalir ke atas melawan hukum alam. Meski begitu, manusia yang dibekali akal akan bis amelakukan berbagai cara agar sang air mengalir ke atas melawan hukum alam.

Aku tersenyum memaknai kalimat “Man behind the PIT” ketika aku akan meluncur ke Solo (lagi) dan sudah merencanakan mencari waktu luang untuk bersepeda. Pengalaman beberapa bulan lalu saat bersepeda ke Makam Ibu Tien Soeharto di Mangadeg Solo telah menunjukkan dengan gamblang bahwa sepeda sebaguis apapun tetap akan tergantung pada pengendaranya. Tergantung pada manusia yang menggowesnya.

Seorang lelaki tua, mengaku berumur 67 tahun, dengan santai menggowes sepeda di sampingku. Dia sudah menyalip beberapa pesepeda dan kemudian langsung akrab menyalamiku.

“Darimana mas ?”, katanya

“Dari Jogja pak”, jawabku

“Wah saya dulu juga tinggal di Jogja, sekarang tinggal di Solo dan bla…bla…bla…”

Bapak tua itu terus mencerocos “ngalor ngidul” tentang Jogja dan khasnya sebagai kota sepeda. Sampai akhirnya sang bapak merasa kalau kecepatan sepedaku makin melambat sementara dia tetap konstan dan akhirnya mendahuluiku. Sang bapak rupanya melanjutkan ceritanya dengan pesepeda yang ada di depanku. Terlihat mereka tertawa bersama dan akhirnya tidak terlihat lagi karena sepedaku makin melambat dan mereka tetap bersepeda dengan konstan.

Di pos pemberhentian untuk “regrouping” dan mampir ke toilet, kembali kulihat bapak itu ikut bergabung dengan komunitasku. Ikut bersenda gurau, padahal dia baru saja kenalan dengan kita. Beberapa temanku ikut membahas sang bapak tua dengan sepeda tuanya.

“Bapak tua itu hebat lho pak Eko. Dari tadi nyerocos terus sambil sepedaan kok kuat ya?”

“Aku sudah membuktikannya pak. Dia tetap nyerocos tanpa tersengal-sengal napasnya, padahal jalan terus menanjak dari tadi”

Sampai di etape terakhir, aku sudah mengukur diriku tidak akan kuat, sehingga aku naik mobil di kilometer terakhir dan menunggu di makam Mangadeg. Pesepeda pertama yang masuk finish adalah seorang pembalap nasional Fani Gunawan berdua dengan muridnya seorang cewek, Mona namanya. Setelah itu dua orang yang muncul adalah goweser dari pihak Owner (pemilik proyek) yang ikut bergabung dan bapak tua itu yang tetap dengan santai mengayuh sepeda bututnya.

Gowes Makam Astana Giribangun

Gowes Makam Astana Giribangun (minjam sepeda orang lain)

Kutaksir harga sepeda bapak tua itu tidak akan sampai dua juta, karena bodinya semuanya terbuat dari besi dan kondisinya sangat tua. Sepedaku juga bukan sepeda mahal, tapi pasti lebih mentereng dibanding sepeda bapak tua itu. Sedangkan puluhan sepeda yang kemudian satu persatu muncul dengan mode “dituntun” adalah sepeda mahal dengan harga puluhan kali lipat harga sepedaku, apalagi dibanding sepeda bapak tua itu. Tak terbilang berapa puluh kali lipat pastinya.

Selama ini isu yang beredar tentang komunitasku adalah “komunitas sepeda mahal”, bahkan ada yang pernah bilang begini,”kalau harga sepeda masih di bawah 20 juta jangan ikut komunitasnya pak Eko, nanti malu sendiri”

Bapak tua ini telah membuktikan bahwa dia ikut bergabung dengan komunitasku dan kita terima dengan baik, bahkan kita hormati karena dia telah sanggup mengiringi seorang pembalap nasional yang ikut komunitasku.

Mosso sampai juga ke Warung Ijo

Mosso sampai juga ke Warung Ijo

Sepedaku juga harganya jauh di bawah 20 juta tapi aku enjoy saja ikut komunitas ini. Saat rute Borobudur Jogja dengan mengambil medan naik turun di Kalibawang Sendangsono, aku juga naik sepeda murah dan sukses tidak nuntun sepanjang rute. Sementara itu berbagai sepeda mahal yang dinaiki oleh goweser yang jarang latihan sepeda terpaksa nuntun sepeda di beberapa tanjakan.

Benar kata kalimat “Man behind the PIT”, semuanya tergantung latihan rutin dari sang pesepeda. Semuanya tergantung niat dari orang yang naik sepeda, bukan oleh mahalnya harga sepeda.

Sepedaan di Alun alun Solo

Sepedaan di Alun alun Solo

Lilo dan Sepeda

Lilo Gowes Lebaran

Ini kisah Lilo dan Sepeda yang terjadi setahun yang lalu, tepatnya tanggal 5 Nopember 2013. Pada hari itu Lilo terlihat di foto tidak seperti sekarang, jadi aku baru ngeh bahwa Lilo sekarang sudah besar. Foto yang kulihat di tahun itu adalah foto Lilo waktu di Taman Margasatwa Gembira Loka bersama seekor ular.

GL Zoo 07 5 Nopember 2013

GL Zoo 07 5 Nopember 2013

Ceritaku tentang Lilo diawali dengan sebuah diskusi di ruang tamu antara Lilo, Luluk dan aku sendiri. Inilah petikan diskusinya.

Waktu itu aku ngobrol dengan Lilo soal sepeda. Kebetulan mbak Luluk ada di ruang tamu, tempat diskusi itu, dan ikut mendengarkan sambil terheran-heran mendengar cerita Lilo tentang sepeda termahal yang kita punyai.

“Jadi dimana sekarang sepeda itu mas?”, kataku heran, setelah menyadari bahwa ada sepeda yang tidak ada lagi di rumahku.

“Di rumah temanku”, jawab Lilo kalem

“Hmmm… kenapa?”

“Biar kalau aku pas ingin sepedaan dan aku ngajak dia, maka dia tidak perlu repot nyari sepeda”

“Maksudnya saat mas Lilo ingin sepedaan, tinggal ngajak dia dan dia tidak perlu nyari sepeda lagi?”

“Iya, kan dia tidak punya sepeda”

“Tahukah Lilo kalau sepeda itu adalah sepeda termahal yang kita punyai”

“Tapi sepeda itu setiap hari di parkiran dan gak ada yang pakai lagi pak …”

“Ya gimana mau pakai, kan sepedanya di rumah temanmu?”

“Sepeda itu juga sudah rusak kok, sudah ada bunyi-bunyiannya…”

“Ya kalau rusak mari kita perbaiki. Kalau ditaruh di rumah temanmu, apa gak sepeda itu malah makin rusak?”

Diskusi itupun berakhir dengan tanpa keputusan. Rumah kita yang tempat parkirnya sudah penuh dengan sepeda dan sepeda motor memang kurang memadai kalau mau ditambah satu sepeda lagi.

Di rumah yang satunya, ada juga sebuah sepeda lipat yang kulihat juga sudah makin tidak terurus. Sepeda punya mbak Lita dan mbak Luluk juga sudah lama tidak kulihat lagi. Setahuku sepeda itu dulu diperbaiki oleh Omnya tapi terlalu banyak yang harus diperbaiki, akhirnya malah jadi tidak jelas kabarnya.

Mungkin Lilo memotret kondisi parkir sepeda di rumah yang sudah dianggap tidak memadai lagi dan timbul inisiatif untuk meminjamkan sepedanya ke temannya. Aku sendiri setiap bersepeda hanya fokus pada sepeda Specialized yang jadi tungganganku, sehingga sepeda lainnya tidak kuperhatikan lagi.

Semua itu membuat Lilo berinisiatif untuk membersihkan lokasi parkir sepeda di rumah agar tidak menyesakkan pandangan mata yang melihatnya. Lilo yang baik hati memang anak yang cerdas dan suka berbagi dengan siapa saja. Dia tidak berpikir bahwa sepeda itu punya harga tapi melihat dari sisi sepeda itu tidak ada yang memakai.

lilo 2003 05

Setahun telah berlalu dan saat ini Lilo lebih sering memakai sepeda Specializedku. Pasti dia juga melihat aku lebih sering memakai Mosso daripada Specialized, sehingga dia langsung mengklaim sepeda itu sebagai sepeda sehari-harinya. Akupun jadi tidak punya lagi sepeda MTB.

Lilopun saat ini sudah tidak mau lagi ikut sepedaan seperti biasanya. Dia sudah jauh dari sepeda meskipun tiap hari ke sekolah dengan sepeda. Dia lebih suka basket, olah raga yang memerlukan kecepatan terkencang dari kondisi diam. Olah raga yang lebih menguras stamina.

Biarlah Lilo rajin main basket atau renang, itu masih lebih baik daripada keluyuran tanpa arah atau diam di depan komputer berjam-jam membaca komik atau nonton film. Konsekuensinya kaca mata Lilo makin meningkat minusnya. Semoga saja Lilo makin memperhatikan kesehatan mata dan tubuhnya. Aamiin.

Lilo Gowes Lebaran

Lilo Gowes Lebaran

65 Tahun UGM

Poster BluxPit karya MitraBani @MBR

65 Tahun UGM kali ini aku kembali ikut acara Gowes, pemrakarsanya sama dengan tahun lalu, S3GAMA yang dipandegani oleh Mas Mitrabani, alumni Civeng UGM. Kalau tahun lalu kita tempuh jarak 325 km dari Surabaya ke Jogja, maka kali ini dipilih rute yang berbeda, yaitu dari bandung ke Jogja, menempuh jarak sekitar 425 km.

Ketika berita ini kusampaikan pada beberapa toko sepeda di Jakarta, mereka rata-rata menilai gowes ini dilakukan sehari atau maksimal dua hari. Mereka baru tertawa riuh ketika kubilang bahwa gowes ini dilakukan selama 3 (tiga) hari.

“Wah itu sambil merem mas, kebanyakan berhentinya”, kata mereka.

Akupun menjelaskan pada mereka bahwa acara gowes ini menganut prinsip seperti Audax, “Start together, ride together and finish together”. Berangkat bersama-sama, gowes bersama-sama dan sampai di etape akhir bareng-bareng. Jadi harus diusahakan agar Rektor UGM, Menteri dan jajaran tamu yang lain bisa menerima kita di pagi hari pada etape terakhir, sehingga suasana terlihat ceria tidak dalam suasana capek dan semua larut dalam kegembiraan bersama.

Dengan aturan ini, maka rute hari terakhir seperti sekedar gowes saja. Tidak akan banyak keringat yang bertetesan, sehingga peserta etape ke tiga atau etape terakhir dibagi menjadi beberapa kelompok.

S3GAMA Gowes Guyub Geyub

S3GAMA Gowes Guyub Geyub

Kelompok pertama, adalah goweser yang sudah sarat pengalaman dan terbiasa rute jarak jauh, sehingga mereka akan mulai ikut acara ini sejak dari Bandung. Hari pertama, Jumat tanggal 12 Desember 2014, akan mereka tempuh jarak sekitar 140-150 km, setelah dilepas oleh pengurus KAGAMA Bandung dengan beberapa upacara pelepasan. Mempertimbangkan waktu pelepasan yang lama dan waktu sholat Jumat, maka diperkirakan sore hari sudah memasuki wilayah Banjar. Hari ke dua, Sabtu 13 Desember 2014, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Purworejo, sekitar 190 km.

Audax Surabaya Jogja 325 km

Audax Surabaya Jogja 325 km

Kelompok kedua adalah mereka yang sudah cukup berpengalaman atau mereka yang tidak punya waktu cuti yang mencukupi, sehingga mereka akan berangkat dari Jogja dan menjemput peserta goweser kelompok pertama di Purworejo. Berangkat dari Jogja hari Sabtu tanggal 13 Desember 2014.

Kelompok ketiga adalah penggembira acara yang akan melakukan gowes pendek dari Jogja dan menjemput kelompok pertama dan kedua di kota Wates. Ketiga kelompok ini akan bertemu di Wates pada hari Minggu, tanggal 14 Desember 2014, untuk melakukan koordinasi dengan panitia penyambut di Kampus UGM, sehingga tidak bentrok dengan acara niti laku dari Kraton Jogja menuju Balairung UGM.

Tahun lalu saat peserta niti laku ini belum sampai Balairung, kelompok goweser Surabaya-Jogja justru sudah memasuki kampus UGM, sehingga terjadi pecahnya fokus panitia penyambut di UGM.

Tahun 2014 ini diharapkan semua peserta niti laku sudah selesai berjalan kaki dari Kraton Jogja dan sudah duduk semua di lokasi Balairung UGM, baru beberapa saat kemudian kelompok goweser gantian yang akan memasuki lokasi penerimaan peserta di Balairung.

Belum dipastikan siapa pejabat dari Jakarta yang akan menyambut rombongan di Balairung, karena sampai saat ini rakyat Indonesia belum tahu siapa Menpora di bawah kepemimpinan Presiden JokoWi. Tahun 2013 lalu yang menyambut memang Menpora yang kebetulan juga alumni UGM. Pihak panitia Dies UGM ke 65 juga belum memastikan siapa yang akan menjemput para peserta, baik peserta jalan kaki maupun peserta gowes Bandung-Jogja.

Seminggu lagi pendaftaran sudah akan ditutup karena peserta gowes kali ini jauh di atas perkiraan panitia. Saat pertama kali diumumkan, peserta dibatasi hanya 65 orang saja, ternyata sampai hari ini kuota itu sudah terpenuhi, sehingga panitia sepakat untuk menaikkan peserta menjadi 100 orang. Konsekuensinya, seksi akomodasi akan mempunyai kesulitan tambahan dalam mencari hotel untuk istirahat malam para peserta.

Bersama para Goweser Senior

Bersama para Goweser Senior

Tahun lalu ada 3 (tiga) marshal yang mengawal perjalanan Surabaya-Jogja, mas Bagus Gowes, Mas Rofi dan Mas Fauzan. Kali ini jumlah peserta bertambah signifikan, sehingga marshal kelihatannya harus ditambah jumlahnya.

Semoga acara gowes Bandung-Jogja yang disebut dengan “BluXPit” berlangsung aman dan selamat sampai di akhir acara. Tak ada yang terkendala dan semua riang gembira selama dan sesudah perjalanan jauh ini.

Poster BluxPit karya MitraBani @MBR

Poster BluxPit karya MitraBani @MBR

+++

BluXPit adalah hasil diskusi dari beberapa goweser yang ingin ada kata Kampus Biru, diwakili dengan kata Blu, dan ada kata sepeda yang diwakili dengan kata PIT.

Info pendaftaran : silahkan kirim email ke bluxpit.65ugm@yahoo.com dan nanti akan dibalas oleh panitia dengan persyaratan mengikuti acara ini serta formulir pendaftaran untuk diisi dan dikirimkan kembali ke panitia.

Gowes Sehat

Koneksi Bluetooth di Garmin Forerunner 920XT

Gowes Sehat adalah tujuan semua goweser. Mereka tentu tidak mau sudah capek-capek gowes kesana kemari tapi yang didapat hanya capek tanpa manfaat. Gowes sehat juga harus menjauhkan diri dari kondisi yang tidak diinginkan, misalnya tiba-tiba tergeletak di tengah jalan ketika sedang asyik mengayuh sepeda. Biasanya hal itu terjadi karena sang goweser memaksakan diri untuk tetap mengayuh sepedanya meskipun kondisi badannya sebenarnya sudah mengharuskan dia berhenti mengayuh sepeda. Jantung memang bisa tiba-tiba berhenti bila terlalu kencang dalam memompa darah.

Batasan umum dalam bersepeda biasanya diambil gampangnya adalah di angka (220-umur) detak jantung per menit. Misalnya umur 50 tahun, maka detak jantung maksimal per menit adalah 220-50 atau sama dengan 170 detak per menit (BPM). Alat pengukur detak jantung (heart beat) bagi pesepeda misalnya adalah Garmin Forerunner 910xt. Dengan adanya alat itu, maka pesepeda akan bisa memantau berapa bpm (beat per minutes) detak jantungnya saat mengayuh sepeda, dengan demikian sepeda bisa dihentikan kayuhannya bila sudah melebihi batasan (220-umur).

Kawan Gowes Sehat Garmin Forerunner 920XT

Kawan Gowes Sehat Garmin Forerunner 920XT

Selama ini aku memang mengandalkan Garmin Forerunner 910xt untuk memantau berapa bpm detak jantungku. Meskipun badan masih terasa sanggup tapi kalau bpm sudah menunjukkan batasan angka maksimal, maka biasanya aku langsung turun dari sepeda. Yang pertama kulakukan adalah berhenti naik sepeda dan kemudian jalan kaki saja sambil menuntun sepeda. Ternyata metodeku ini salah, yang benar katanya berhenti saja dan diam beberapa detik sampai turun jumlah detak jantungnya, kalau detak jantung sudah mulai turun maka kita bisa naik sepeda lagi dan meneruskan olah raga sepeda kita.

Garmin Forerunner 910xt memang sangat ideal untuk membantu mengawasi detak jantung kita. Alat itu selain mencatat kecepatan sepeda, jarak tempuh juga bisa dipakai untuk mencatatat track rute kita bersepeda. Setelah selesai proses pencatatan, maka semua catatan itu akan bisa diunduh melalui Garmin connect melalui PC ke situs Garmin kita. Proses tarnsfer data ini dilakukan melalui USB khusus yang ditancapkan ke port USB di PC dengan catatan piranti garmin tidak terlalu jauh dari USB tersebut.

Garmin 02

Model paling baru dari Garmin Forerunner adalah seri 920xt. Beberapa kelebihan yang menggiurkan dari seri terbaru ini adalah adanya fitur komunikasi melalui Bluetooth. Dengan demikian semua data bisa langsung masuk ke ponsel kita tanpa melalui PC lagi. Cukup install Garmin Connect di ponsel kita dan komunikasi antar ponsel dan garmin akan lancar.

Garmin Forerunner 920XT

Garmin Forerunner 920XT

Kelebihan dari Garmin Forerunner 920xt dibanding seri terdahulu 910xt antara lain adalah sebagai berikut :

1. Memakai fitur komunikasi tanpa kabel (wireless) dengan bluetooth.

2. Lebih tipis dan lebih ringan.

3. Kualitas layar yang lebih bagus

4. Ada fitur GPS yang lebih sempurna

5. Estimasi VO2 maksimal

6. Tampilan lebih keren

Jam tangan forerunner 920xt memang punya dimensi dan bobot yang lebih kecil, sehingga lebih nyaman dipakai saat melakukan oleh raga lari, renang maupun bersepeda. Hal ini sesuai dengan fungsi jam ini yang bisa dipakai untuk atlit triathlon, baik yang profesional maupun yang masih pemula.

Layarnya juga mempunyai peningkatan yang cukup signifikan dibanding pendahulunya. Lebih carah dan tajam, sehingga lebih mudah terlihat meskipun di tempat yang tidak begitu terang. Bandingkan dengan seri terdahulu yang harus dilihat dibawah cahaya lampu.

VO Max di Garmin Forerunner 920XT

VO Max di Garmin Forerunner 920XT

Di Garmin Forerunner 920xt juga diberi fitur yang akan mengukur estimasi VO2 maksimal, sehingga bisa diketahui tingkat kebugaran sang atlit. Dari segala kelebihan di atas, maka tidak bisa dipungkiri bahwa forerunner 920xt memang terlihat lebih keren dan memang lebih canggih.

Koneksi Bluetooth di Garmin Forerunner 920XT

Koneksi Bluetooth di Garmin Forerunner 920XT

+++
Info harga Garmin Forerunner 910xt baru sekitar 5 juta, sedangkan untuk seri yang lebih baru adalah sebagai berikut :

Forerunner® 920XT

Part Number: 010-01174-00
$449.99 USD
Processing time is 3–5 weeks.

Kalau lihat harga rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika sampai 12.000 per dolar, maka harga jam ini menjadi lumayan mahal. Belum termasuk macam-macam pajak harganya sudah hampir 6 juta rupiah. Jadi kalau mau beli tunggu dulu sampai rupiah menguat lagi.
Salam sehati

Gowes Jakarta

CFD Jakarta melalui Stasiun Kota

Tidak ada yang membuat Gowes Jakarta menjadi mudah, semua yang ada di Jakarta membuat gowes menjadi tidak menarik. Anehnya atau jamaknya, semakin sedikit fasilitas untuk melakukan sesuatu, maka akan membuat sesuatu itu makin menarik. Semakin hari semakin padat acara CFD (Car Free Day) di Jakarta dan juga di kota-kota lain. Animo untuk mengikuti acara CFD semakin lama semakin besar, padahal usaha untuk mengadakan CFD kadang malah tidak mengurangi nuansa GREEN.

Beberapa hal yang membuat minat bersepeda di Jakarta menjadi turun antara lain adalah sebagai berikut :

1. Ada beberapa ruas jalan yang menyediakan ruang untuk pesepeda, tapi ruang itu justru dipakai oleh bukan pesepeda.

2. Polusi di Jakarta yang tetap tinggi, sehingga bersepeda di Jakarta seperti menghirup pencemaran udara ke dalam paru-paru kita.

3. Ruas jalan yang terus meningkat kemacetannya.

4. Perilaku pengguna jalan yang sangat mengabaikan pesepeda di jalan.

5. dan masih banyak hal lain yang membuat pesepeda menjadi nomor sekian dari daftar prioritas pengguna jalan.

Gowes blusukan di Sungai

Gowes blusukan di Sungai

Di Jakarta kita tidak bisa menikmati keindahan gowes blusukan seperti di Jogja atau di kota-kota lain yang masih menyisakan udara jernih tanpa polusi, bahkan di sudut kota Surabaya masih ada tersisa beberapa lokasi yang hijau dan udaranya masih bersih. Bila ingin suasana hijau dan udaranya jernih, maka pesepeda harus keluar dari Jakarta dulu, misalnya ke kilo meter Nol di Sentul ataupun ke Delta Mas di timur Jakarta, bukan Jakarta Timur.

Sorga bagi pesepeda yang gemar RB (Road Bike) bagiku adalah bersepeda ke Belitung. Alamnya sangat ramah dan jalannya sangat mulus. Membelah pulau Belitung dari Timur ke Barat jaraknya sekitar 80-90 km, sebuah jarak yang cukup membuat adrenalin tertantang untuk melahapnya dengan sepeda balap (RB). Tantangan di Belitung hanyalah cuaca yang sangat panas, jadi kalau bisa memilih cuaca yang mendung tentu sangat indah sekali sepedaan di Belitung.

Kabarnya bersepeda di Lombok juga tidak kalah asyiknya, karena lokasinya cukup sepi dan jalannya naik turun seperti di Belitung. Saat ini para pesepeda malah sedang keranjingan untuk memakai sepeda MTB (Mountain Bike) di Bali, karena lokasinya yang artistik dan medannya sangat menantang.

Bagi yang gemar Borobudur, lokasi MTB juga banyak bertebaran, mulai dari sepedaan ke Borobudur melalui rute khusus atau memang sepedaan di PUNTHUK seputaran Magelang. Aku sendiri belum pernah gowes ke Borobudur, padahal aku tinggal di Jogja dan sering ke Borobudur. Aku malah ikutan gowes Surabaya Jogja, dalam rangka Dies UGM.

Sepedaan Jakarta CFD harus lewat MONAS

Sepedaan Jakarta CFD harus lewat MONAS

Yang membuat heran, pesepeda di Jakarta tetap setia mengikuti CFD yang suasananya sudah semakin “crowded” (krodit), berjubel dan para pemakai jalannya sudah tidak melihat rambu yang dipasang oleh pemerintah. Pada setiap tempat, terutama di ujung-ujung jalan selalu dipasang rambu untuk membedakan lokasi pejalan kaki, pesepeda anak-anak dan pesepeda orang tua atau pembalap profesional.

Yang terjadi adalah para pejalan kaki seenaknya sendiri menggunakan jalur jalan. Mereka merasa bebas berjalan di sebelah kanan ataupun kiri. Akhirnya para pesepeda menjadi kesulitan mencari jalur jalan untuk mengarahkan sepedanya dan jalan keluarnya lebih parah lagi. Para pesepeda itu kemudian menggunakan jalur busway untuk melancarkan gowesnya.

Para pejalan kaki yang melawan arus juga tidak sedikit, sehingga suasana CFD di sepanjang jalur CFD Jakarta menjadi tidak nyaman untuk para pesepeda. Kelihatannya ada euforia tersendiri bagi para pejalan kaki. Kalau biasanya mereka tersingkir dari trotoar di sepanjang rute mereka jalan kaki, maka kini saatnya mereka bisa berjalan dimana mereka suka.

CFD Jakarta melalui Stasiun Kota

CFD Jakarta melalui Stasiun Kota

Hari ini aku kembali melahap jalur CFD seperti yang telah pernah kulakukan, hanya saja aku selalu memperpanjang jalur dengan menambahkan tujuan sepeda adalah Kota Tua. Aku pernah juga meperpanjang jalur ini sampai ke Pantai Indah Kapuk (PIK), tapi yang kudapat justru suasana yang makin ruwet, sehingga kuputuskan jalur terjauh hanyalah sampai Kota Tua saja.

Suasana Kota Tua masih menarik minat para pelancong, domestik maupun luar begeri. Meskipun pagi itu tidak banyak aktor dadakan yang berperan sebagai noni-noni atau sinyo-sinyo menyewakan segala macam lagak gaya mereka. Yang masih tetap ada hanya persewaan sepeda warna warni.

Persewaan sepeda di Kota Tua

Persewaan sepeda di Kota Tua

Bersepeda di Jakarta memang tidak pernah mati. Meskipun saat ini komunitas B2W sudah tidak seramai dulu lagi, tapi penggemar gowes jakarta masih tetap tinggi dan mereka akan bermunculan di hari libur atau di hari diadakannya CFD Jakarta. Bila pagi-pagi sehabis subuh aku giowes di seputaran Jakarta, maka selalu masih kujumpai komunitas B2W yang masih rajin bersepeda menuju tempat kerjanya.

Bersepeda di Jakarta tidak sesehat bersepeda di kota lain, tetapi kalau itu sebuah keharusan, maka tidak ada salahnya bersepeda di Jakarta. Kita hanya harus tahu kebiasaan bersepeda di Jakarta dan bahayanya bersepeda di Jakarta. Jangan samakan Jakarta dengan Jogja.

Selamat Gowes Jakarta !:-)

Pusat Sepedaan di Jogja

Bersepeda blusukan

Penggemar sepeda MTB (Mountain Bike) pasti kenal dengan istilah Bersepeda Blusukan atau Gowes Blusukan. Medan apapun ditempuh demi memuaskan dahaga mereka terhadap rute jalan yang berbeda dari rute biasanya dan memberikan tantangan baru dalam memilih rute. Harus diawali dengan niat bulat untuk tidak mengeluh apapun selama jalan bisa dilewati.

Gowes di sawah tanpa jalan sepeda

Gowes di sawah tanpa jalan sepeda

Pagi habis subuh aku langsung mengeluarkan sepeda MTB, memastikan semua lampu berfungsi dengan baik sebelum kakiku mulai mengayuh pedal. Bagaimanapun aku harus yakin bahwa bersepeda di kegelapan pagi memerlukan cahaya petunjuk bagi pengendara sepeda atau sepeda motor yang lain, agar mereka minimal bisa melihat keberadaanku.

Aku memilih lampu depan dan belakang merk “KNOG”, harganya memang sedikit lebih mahal dibanding merk lainnya, misalnya Cat Eye atau sejenisnya. Cahaya yang terang membuatku memilih model lampu merk “KNOG”, disamping awet dan bisa diisi ulang, lampu ini juga membuat pemakainya menjadi percaya diri (PD). Lampu depan kupilih yang memakai batere biasa, tidak bisa diisi ulang dan lampu belakang kupilih yang bisa diisi ulang.

Gowes sepanjang Sungai

Gowes sepanjang Sungai

Sekitar satu jam di jalan aspal, akupun sampai di depan Stadion Maguwoharjo, stadionnya PSS Sleman. Di situ sudah menunggu dua orang kawanku, mas Joko Sumiyanto dan Rama Condro. Mereka berdua juga sudah siap dengan sepeda masing-masing. Tentu tidak ada jenis RB (Road Bike) di sesi sepeda pagi ini, judul gowes hari ini adalah “Bersepeda blusukan” alias gowes blusukan, jadi diharamkan sepeda model RB.

Belum puas kita bercengkerama, tepat jam 06:00 sebuah sepeda motor dengan kencang meluncur menuju kita. Sang pengendara sepeda motor itu terus saja meluncur ke arah kita dan akhirnya menabrak ban sepedaku. Tentu sepedaku berpindah tempat alias bergeser mengalami benturan itu, sedangkan sang pengendara sepeda motor tetap saja melaju dengan sepedanya, meskipun beberapa orang meneriaki agar sepeda motor itu berhenti.

Ruji Sepeda Specialized MTB yang lepas

Ruji Sepeda Specialized MTB yang lepas

Kuperhatikan selintas, ternyata kondisi sepedaku tidak terlihat ada perbedaan. Akupun kembali menaiki sepeda itu menuju Stadion Maguwoharjo dan baru kala itu kurasakan bahwa rodaku bermasalah setelah tertabrak sepeda motor. Meskipun kelihatannya wujud sepedaku masih normal, tetapi ternyata salah satu ruji sepeda terlepas dan sepedaku kalau dinaiki seperti bergoyang ke kanan dan ke kiri sendiri.

Kita akhirnya tetap bersepeda blusukan meskipun kondisi sepedaku tidak normal. Inilah pertama kalinya aku ikut blusukan dengan pak Djoko Luknanto yang barusan ikut bergabung bersama dua kawanku yang terdahulu.

Tidak ada tujuan yang dituju, yang penting hindari jalan beraspal dan perbanyak jalan tanah atau jalan tanpa jalan. Kitapun muter-muter ke segala arah yang telah mereka survey sebelumnya. Aku tahu itu karena mereka sering berkata kalau rute yang sedang kita lalui ini adalah rute tanggal sekian, ketika pindah ke jalan lain, mereka kembali berkata bahwa ini rute tanggal sekian.

“Pak Djoko Luknanto ini rute tanggal sekian ya …”

“Pak Joko Sumiyanto, ini kalau ke kiri rute yang tanggal sekian lho..”

Kalimat semacam itu terjadi di beberapa rute, sehingga akhirnya aku tertantang untuk mencoba rute baru. Aku turun ke sungai dan melihat kondisi sungai yang masih perawan. Kulihat ada bekas jalan yang dilalui orang di ke dua sisi sungai, akupun memutuskan untuk melalui jalan itu. Ternyata teman-teman sependapat dengan usulku, bahkan mereka terlihat sangat antusias.

Gowes blusukan di Sungai

Gowes blusukan di Sungai

Kitapun bersepeda di sepanjang sungai itu dan naik di sisi sungai yang lain. Alhamdulillah, benar yang kami duga. Ada bekas jejak orang di jalan yang kita tuju dan itulah yang ada yaitu sebuah jalan untuk jalan kaki. Tidak ada jalan untuk jalan sepeda, sehingga kitapun berjalan di sawah yang kering tanpa ada jalan sepedanya. Semua sawah adalah jalan kita, karena sawah itu baru saja di panen.

Gowes blusukan di Sungai

Gowes blusukan di Sungai

Setelah selesai menapak di sawah, maka selanjutnya kita harus menyeberangi parit untuk menuju jalan yang ada jalan sepedanya. Dengan penuh canda tawa akhirnya kita sampai juga di warung Pecel Madiun. Itulah titik finish kita hari ini. Perjalanan ini ternyata memakan waktu 4 (empat) jam, dengan beberapa pemberhentian dan kecepatan yang sangat rendah.

Puas ?

Ya aku puas dengan rute yang dipilih oleh pak Djoko Luknanto atau pak Joko Sumiyanto. Merekapun terlihat senang, tapi kalau bicara soal puas, kayaknya mereka masih belum puas. Pak Djoko Luknanto sudah membuat rute baru yang belum banyak dikenal oleh orang umum. Mengelilingi Gunung Merapi !!!

Gowes keliling Merapi dari pak Djoko Luknanto

Gowes keliling Merapi dari pak Djoko Luknanto

Edyan tenan …

Manfaat Gowes

Gowes ceria membuat pikiran menjadi tenang

“Apa sih manfaat gowes mas Eko? Kok sekarang sepertinya semua orang jadi demam gowes?”

Pertanyaan itu jawabannya bisa beragam. Bisa dijawab dengan panjang lebar tentang manfaat gowes, tetapi bisa juga dijawab bahwa demam gowes itu tidak ada. Tidak semua orang sedang demam gowes, karena memang begitulah kenyataannya. Hanya orang-orang tertentu yang merasa perlu gowes sebagai kegiatan rutinnya.

Ada yang sudah mulai tertarik gowes tetapi kemudian mundur teratur ketika mengetahui harga sepeda yang dipakai teman-temannya melebihi harga sepeda motor, bahkan ada yang seharga mobil. Ada juga yang tetap gowes meskipun memakai sepeda dengan merk biasa-biasa saja.

“Tujuan gowes itu adalah mencari kesehatan, bukan mencari gengsi. Tidak perlu gengsi memakai sepeda Polygon. Kita tunjukkan nasionalisme kita dengan membeli merk sepeda dalam negeri. Memang semua sepeda Polygon itu murah? Ada juga yang harganya mahal dan pertanyaan dasarnya adalah mau sepedaan atau mau cari gengsi?”

Jalan aspal gunakan saja Road Bike

Jalan aspal gunakan saja Road Bike

Memilih sepeda memang menjadi salah satu topik yang perlu dipahami oleh mereka yang ingin bersepeda gembira, apalagi yang ingin bersepeda profesional. Beda satu kilogram saja untuk sepeda profesional harganya bisa beda jauh.

Lokasi bersepeda juga menjadi dasar pemilihan model sepeda. Apakah medan bersepeda datar, naik turun, jalan aspal, jalan pedesaan atau bukit terjal, semuanya akan menghasilkan pilihan sepeda yang berbeda. Hampir semua pesepeda selalu berawal dari sepeda MTB ketika membeli sepeda pertama mereka. Hanya pesepeda serius yang dari awal sudah tahu model sepeda apa yang akan dia beli.

Jadi sebelum bercerita tentang manfaat gowes, harus tahu dulu medan gowes yang dipilih. Soal manfaat gowes, apapun yang dipilih sebenarnya ujungnya adalah masalah kesehatan, tetapi model sepeda ekstrim bukan hanya kesehatan yang dikejar.

Seorang teman pernah menasehatiku soal sepeda downhill. begini dia bilang.”Mas Eko, jangan sampai nyoba sepeda downhill ya. Tidak enak di depan dan akan ketagihan di belakang”.

Seorang teman yang lain menambahkan,”Sepeda downhill sangat menantang dan membuat adrenalin jadi meningkat. Risiko cedera hampir pasti, sehingga perlengkapan safety harus lengkap dan dipakai, bukan sebagai hiasan bersepeda”

“Mas Eko, jangan lupa ya, sepeda dowbhill dirancang untuk menuruni bukit, bukan menaiki bukit, jadi jangan heran kalau jadi tidak nikmat ketika dipakai untuk menaiki bukit”

Sampai saat ini aku belum pernah mencoba sepeda downhill di medan yang sesungguhnya. Aku hanya mencobanya di jalan datar dan aku merasakan betapa tidak nyamannya sepeda ini. Benar kata temanku, sepeda ini memang tidak nyaman untuk dinaiki di medan yang bukan medannya. Risiko cedera memakai sepeda ini juga besar, tapi kenikmatannya ternyata juga sangat besar, sehingga mereka rela tetap memakai sepeda ini meskipun sudah berkali-kali jatuh atau terpeleset.

Bersepeda tandem itu mengasyikan

Bersepeda tandem itu mengasyikan

Sepeda gunung memang harus dipilih yang cocok dengan medan yang akan disasar, meskipun saat ini sudah banyak model sepeda gunung yang mempunyai peredam kejut yang bisa dimatikan atau dihidupkan. Saat peredam kejut ini dihidupkan, maka naik sepeda gunung terasa empuk dan nyaman, tetapi tenaga yang diperlukan menjadi besar. Ibaratnya kita berjalan di atas pasir, lembut medannya tetapi perlu tenaga ekstra untuk melangkah di tanah berpasir.

Untuk jalan aspal, maka sepeda gunung biasanya dimatikan peredam kejutnya. Bagi mereka yang suka gowes di medan offroad ringan dan on road, maka mereka biasanya memilih sepeda dengan ban kecil halus dan memasang peredam kejut yang bisa dimati-hidupkan. Sepeda jenis ini sering disebut sepeda Hybrid.

Untuk yang lebih sering bersepeda di jalan aspal, maka pilihan pasti jatuh pada road bike (sepeda balap). Ban yang jauh lebih kecil dan bobot yang sangat ringan. Bahkan ada sepeda jenis road bike yang bobotnya hanya sekitar 4 kg saja.

Kembali ke masalah MANFAAT GOWES, maka hanya inilah sebenarnya manfaat gowes.

1. Kesehatan jasmani, menjaga kebugaran tubuh selama bersepeda, dengan lama bersepeda di atas 30 menit dan dilakukan secara rutin. Olah raga sepeda akan membantu melancarkan sirkulasi darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi ke semua sel yang ada di seluruh tubuh.

2. Kesehatan rohani, bila bersepeda dilakukan secara berkelompok dan membuat suasana menjadi ceria saat bersepeda. Stress akan menurun dan membuat pikiran menjadi lebih jernih.

Gowes ceria membuat pikiran menjadi tenang

Gowes ceria membuat pikiran menjadi tenang

+++

Dari Wikipedia, sepeda gunung ditulis sebagai berikut :

Secara umum sepeda gunung dibagi menjadi 5 jenis menurut fungsinya, diantaranya yaitu:

Sepeda gunung tipe Cross Country (XC).

  • Cross Country (XC)

Dirancang untuk medan yang tidak terlalu ekstrem (ringan), sepeda jenis ini hanya mempunyai suspensi depan atau tanpa suspensi sama sekali. Karena hanya memiliki suspensi depan biasanya sepeda gunung jenis ini dikategorikan sebagairigid frame. Didesain agar efisien dan optimal pada saat mengayuh ditanjakan, di jalan aspal hingga jalan tanah pedesaan. Sepeda jenis ini sangatlah disarankan bagi pemula yang ingin memulai bermain sepeda MTB.

  • All Mountain (AM)

Biasa dipakai untuk jalur perpaduan antara Cross Country (XC) dan Down Hill ringan (light DH). Didesain untuk melintasi alam yang berat seperti naik dan turun bukit, masuk hutan, melintasi medan berbatu, dan menjelajah medan offroad jarak jauh. Memiliki 2 suspensi depan dan belakang (double suspension). Panjang suspensi belakang (rear suspension) sekitar 6 inchi dan panjang suspensi depan (fork) mulai dari 140mm s/d 160mm. Pemakai dapat melakukan pendakian gunung dengan baik (tidak berat), sekaligus juga dapat menuruni gunung dengan cepat (tidak berguncang-guncang), karena panjang suspensi yang optimal. Keunggulan sepeda jenis ini ada pada ketahanan dan kenyamanannya untuk dikendarai.

  • Free Ride (FR)

Dirancang untuk mampu bertahan melakukan lompatan tinggi (drop off) dan kondisi ekstrim sejenisnya. Rangkanya kuat namun tidak secepat dan selincah sepeda jenis All Mountain, karena bobotnya yang lebih berat, maka kurang cocok untuk digunakan dalam perjalanan jarak jauh dan sangat tidak cocok untuk tanjakan.

  • Down Hill (DH)

Untuk medan yang sangat ekstrem, sepeda gunung jenis ini mempunyai suspensi ganda (double suspension) untuk meredam benturan yang kerap terjadi ketika menuruni lereng dan dapat menikung dengan stabil pada kecepatan tinggi. Dirancang agar dapat melaju cepat, aman dan nyaman dalam menuruni bukit dan gunung. Sepeda jenis ini tidak mengutamakan kenyaman dalam mengayuh, karena sepeda jenis ini hanya dipakai hanya untuk menuruni lereng bukit atau gunung. Sepeda ini juga dipakai untuk perlombaan, sehingga yang menjadi titik utama dalam perancangannya adalah bagaimana agar kuat namun dapat melaju dengan cepat. Untuk menuju ke lokasi, para down hiller tidak mengayuh sepeda mereka, namun sepeda mereka diangkut dengan mobil. Sangat tidak efisien jika sepeda ini digunakan di dalam kota maupun di jalur cross country.

  • Dirt Jump (DJ)

Sepeda jenis ini awalnya dirancang untuk anak muda perkotaan, selain sebagai alat transportasi, untuk kebut-kebutan di jalan raya kota, juga digunakan untuk melakukan atraksi lompatan tinggi dan atraksi-atraksi ekstrim lainnya. Fungsi dari sepeda jenis ini sangat mirip dengan BMX, namun dengan bentuk yang diperbesar. Nama lain dari sepeda jenis ini adalah trial atau urban MTB.

« Older Entries