Tag Archives: sepeda

Polygon Heist 5

Polygon Heist 5

Rasanya sudah tidak sabar menunggu hari libur di Minggu ini. Padahal sebenarnya tinggal menghitung hari saja. Hari ini Kamis, berarti tinggal nunggu Jumat, Sabtu dan kemudian pasti Minggu menjelang. Akan ada acara fun bike, sepeda ceria, di Jakarta dan aku sudah mempersiapkan sepeda buat istriku yang masih di Jogja, Polygon Heist 5 !:-).

Sepuluh tahun lalu, aku membeli sepeda Polygon Anvill dan kupakai untuk bersepeda di wilayah Surabaya dan sekitarnya termasuk sampai ke Kediri, Blitar dan lain-lain. Bila istriku ikut acara bersepeda santai, maka aku pasti memilih naik sepeda tandem, kalau istriku tidak ikut, baru aku memakai sepeda Polygon Anvill. Beberapa hari lalu, sepeda kenangan Anvill sudah menjadi milik orang lain, meski begitu sepeda itu tetap akan menjadi kenangan tak terlupakan bagi keluargaku.

Sepeda tandemku juga sudah menjadi milik orang lain, meskipun sepeda itu dimiliki tanpa ijin dariku atau dari satpam kompleks. Sepeda tandemku sudah sukses dicuri maling tanpa aku menyadari kalau sepeda itu sudah tercuri. Pukulan yang telak bagiku dan bagi istriku, mengingat sepeda tandem itu benar-benar nyaman dipakai berdua, baik olehku dan istriku maupun dipakai oleh anak-anakku dengan teman mereka. Kadang tetangga kampung suka naik sepeda itu, ketika aku berkunjung ke lapangan dan bertemu dengan mereka.

Polygon Heist 5

Polygon Heist 5

Tahun lalu aku membeli sepeda Polygon Heist 5 dan mulai rutin bersepeda setiap hari Rabu sehabis subuh. Jalan aspal yang tidak mulus tidak menjadi halangan bagi Heist, semua model jalanan di Jakarta dilahap habis oleh Heist dengan penuh kenyamanan. Musuh Heit hanya satu, berebut jalur dengan sepeda motor yang seperti lebah kalau sudah bergerombol.

Saat masih di Cikarang, pernah aku mengadakan fun bike, sepeda santai, start dari rumahku dan finish di Warung Kupat Tahu pak Ato. Harusnya acara itu modelnya bayar sendiri-sendiri, tetapi yang terjadi dan kemudian sering terjadi adalah ada seseorang volunter yang rela membayar semua hidangan karena ada sesuatu yang dia syukuri.

Semangat kekeluargaan dan selalu penuh syukur inilah yang membuat komunitas sepeda selalu nyaman diikuti. Sejak awal mereka sudah menyiapkan biaya untuk “bantingan” (patungan) saat membayar makanan yang mereka santap, tapi sangat sering uang itu hanya ada di kantong saja, karena sudah ada yang menanggulangi semua biaya sarapan.

Gowes blusukan di Sungai

Gowes blusukan di Sungai

Hari libur adalah hari yang paling menggembirakan pagi para pesepeda. Mereka bisa bersepeda kemana saja, santai dan penuh canda tawa. Di komunitasku juga memilih hari libur Minggu untuk bersepeda secara santai, sedangkan untuk hari Sabtu, biasanya rute yang dipilih adalah rute yang minimal setengah hari mengayuh. Bila kecepatan dianggap rata-rata 20 km/jam, dan dilakukan selama 4 jam bersepeda plus 2 jam istirahat, maka jarak yang ditempuh berkisar antara 50 sampai dengan 100 km.

Jarak sejauh ini tentu masih nyaman kalau memakai Polygon Heist 5, bodi ramping dan ban tidak terlalu besar. Tentu paling nyaman memakai model balap (road bike), tapi bila sepedanya beragam, maka kurang nyaman kalau memakai RB (road bike). Sepeda balap baru terasa nyaman kalau semua anggotanya memakai sepeda balap dan rute yang ditempuh dominan jalan aspal halus. Bila sepeda beragam dan rute juga beragam kondisi kemulusannya, maka pilihan paling tepat pasti Polygon Heist.

Namun pilihan Heist 5 itu pasti pilihan yang sangat subyektif. Banyak kawanku dalam memilih sepeda melihat merk bukan melihat kualitas. Memang begitulah pilihan kebanyakan orang Indonesia. Nomor satu merk, baru kemudian kualitas setelah dibandingkan dengan harga, padahal Polygon adalah merk Indonesia yang cukup sukses di pasar internasional berdasar kualitasnya.

Ada gengsi yang terusik bila membeli sepeda merk dalam negeri, masih lebih nyaman membeli sepeda luar negeri, meskipun dari sisi kualitas masih bisa dipertanyakan.

Saat searching di Google, aku nemu “Polygon Blog Competitions – Liburan Seru Dengan Sepeda Impian“, kayaknya bakal seru ajang ini. Liburan sudah dekat dan sepeda impian sudah punya, jadi tinggal menunggu sebentar hari lagi dan liburanku akan penuh kesan bersama istri tersayang. Akupun menuliskannya di blog ini.

Polygon Heist 5

Polygon Heist 5

Sepeda Gunung Polygon kembali beraksi

Liburan itu nyanyi berdua

Setelah selesai acara BluXpit2014 di Jogja, maka sepeda Willier RB (Road Bike) kembali beristirahat dan sepeda Gunung Polygon Heist 5 kembali beraksi setelah lama tersimpan di parkiran. Polygon Heist 5 ini sudah lama tidak kunaiki, setelah aku asyik bermain di sepeda jenis RB, padahal dulunya setiap hari Rabu aku selalu rutin menaiki sepeda ini.

Setiap ada temanku yang bertanya padaku tentang jenis sepeda yang optimal penggunaannya, maka aku selalu mengarahkan untuk memilih sepeda jenis Hybrid ini. Bagaimana tidak, temanku biasanya memintaku mencarikan sepeda yang bisa dipakai di jalan offroad maupun yang juga bisa dipakai di jalan onroad.

Meski demikian aku juga selalu menjelaskan tentang kekurangan sepeda jenis ini, disamping beberapa kelebihannya. Kekurangan yang pertama adalah kecepatan maksimalnya yang tidak bisa secepat RB, padahal sudah memakai gigi depan paling besar dan gigi belakang paling kecil. Apalagi kalau kita lupa tidak mematikan peredam kejut garpu depan, maka kecepatan sepeda ini pasti akan makin jauh dari sepeda RB.

Lucunya, bagi temanku pengguna sepeda gunung MTB (Mountain Bike), malah justru sering memakai sepeda MTB untuk acara sepedaan bersama komunitas RB di Jakarta. Alasan yang disampaikan sangat sederhana dan membuat kita selalu tersenyum mendengarnya.

“Dengan sepeda ini, maka untuk jarak yang sama, aku bisa membakar kalori lebih banyak dan tetap tidak tertinggal terlalu jauh dari rombongan”

Apalagi kalau bertemu dengan situasi jalan yang macet, maka beda kecepatan antara sepeda RB dan MTB jadi tidak signifikan lagi, bahkan Polygon Heist 5 justru lebih lincah di jalanan yang macet. Rem cakramnya juga sangat memadai untuk menghentikan laju sepeda, berbeda dengan rem “V” (V brake) untuk sepeda jenis balap (RB).

Jatuh itu biasa pagi pesepeda

Jatuh itu biasa pagi pesepeda

Pengalamanku jatuh di jalan aspal dengan sepeda balap (RB) membuatku sempat trauma untuk naik sepeda lagi. Untungnya dukungan dari teman-teman sangat membantuku untuk kembali mengayuh sepeda. Dokter begitu teliti merawatku dan hanya dalam hitungan 7 hari, aku kembali turun ke jalan untuk mengikuti acara BluXpit2014 Bandung Jogja 400 km.

Minggu, 21 Desember 2014 adalah acara liburan kantor dan aku yakin liburan kali ini akan menjadi liburan seru dengan sepeda impian. Istriku akan datang ke Jakarta dan dia akan naik sepeda Heist 5, sedangkan aku sendiri akan naik sepeda baruku Wilier. Selama ini, aku memang hanya bercerita sepintas lalu kalau aku mempunyai sepeda Heist 5 di Jakarta, tapi pasti istriku mengira kalau dia akan naik sepeda polygon lainnya, bukan Heist 5. Pasti pikirnya aku sendiri yang akan naik sepeda Heist 5.

Menuju etape terakhir BluXpit2014

Menuju etape terakhir BluXpit2014

Sepedaku yang lain (Giant biru) memang baru saja kujual, sehingga aku harus mengirim sepeda satu lagi untuk kunaiki di acara liburan itu. Aku langsung telpon adikku untuk mengirim sepeda Wilier merah, sehingga aku bisa mempersilahkan istriku naik Polygon Heist 5. Aku yakin beberapa kelebihan sepeda itu pasti akan disukai istriku.

Selama ini setiap berpindah gigi sepeda, istriku biasanya merasa kurang nyaman dan kali ini dia pasti akan merasa nyaman ketika memakai Polygon Heist 5. Inilah seri tertinggi dari Heist. Aku pernah mencoba berbagai macam seri Heist, tapi merasakan kenyamanannya, maka lebih baik memakai Heist 5 dibanding heist 4 atau apalagi Heist 3. Selisih harganya tidak terlalu jauh, tapi kenikmatannya sangat jauh.

Polygon Heist 5 di Monas Jakarta

Polygon Heist 5 di Monas Jakarta

Rabu pagi tadi, aku mencoba rute Cawang-Kampung Melayu-Casablanca-Monas-Senen-Jatinegara-Otista-Cawang. Rasanya berbeda sekali dengan saat aku sering naik sepeda RB di rute mingguan ini. Jalan model apapun tidak terasa menyakitkan di tangan atau di pantat, semuanya dilahap dengan nyaman oleh Heist 5.

Hari ini lebih terasa nyaman, karena semua sepeda motor tidak diperbolehkan melewati jalan protokol. Kitapun melaju dengan tenang di jalan yang tidak seramai biasanya. Tidak salah rasanya kalau temanku ingin beli sepeda dan kusarankan memakai jenis sepeda Heist 5. Untuk jalan beraspal, maka peredam kejutnya bisa dimatikan dulu dan dihidupkan lagi bila melewati jalan offtoad.

Rasanya sudah tidak sabar menunggu hari libur Minggu ini, sudah ingin segera naik sepeda berdua dengan istri tercinta, mengarungi sepanjang jalan Jakarta yang baisanya riuh oleh deru kendaraan bermotor. Ini akan jadi liburan seru dengan sepeda impian bagiku dan bagi istriku.

Liburan itu nyanyi berdua

Liburan itu nyanyi berdua

Selamat Tinggal BluXpit2014 selamat datang BluXpit2015

BluXpit2014 memasuki UGM

“Selamat Tinggal BluXpit2014 selamat datang BluXpit2015

Pada Jumat 12 Desember 2014, tidak sampai seratus orang pesepeda yang berangkat dari Bandung dan akhirnya ratusan pesepeda memenuhi start etape terakhir di Wates menuju Balairung UGM Yogyakarta pada hari Minggu, 14 Desember 2014. Bupati Kulonprogo melepas rombongan dalam jamuan pagi yang singkat dan berkesan di rumah dinasnya di pinggir alun-alun Wates kulonprogo.

Acara bluXpit2014 hari terakhir ini lebih dipercepat mengingat adanya beberapa pejabat yang harus segera meninggalkan UGM untuk menunjukkan kepedulian terhadap bencana banjir di Banjar. Rombongan yang pada etape 1 dan 2 dipimpin oleh kapten regu masing-masing, pada hari ini sudah diubah formatnya. Semua kapten regu menempati posisi di paling depan, tepat di belakang mobil pembuka jalan dari Polisi dan semua peserta dari berbagai usia dan kelas sepeda berbaris rapi di belakang. Bagi pesepeda yang sudah di puncak kelelahan, panitia sudah menyiapkan angkutan untuk loading peserta, sehingga dapat mengikuti semua acara sampai tuntas.

Menuju etape terakhir BluXpit2014

Menuju etape terakhir BluXpit2014

Dibariskan di depan gelanggang Mahasiswa UGM, akhirnya seluruh rombongan sudah bisa menuju Balairung UGM dan disambut oleh Rektor UGM bersama jajaran wakil rektor beberapa bidang. Acarapun dimulai dengan penyerahan Bendera BluXpit2014 dari ketua Umum Panitia, Mitrabani, pada rektor UGM dan dilanjutkan dengan pemberian piagam penghargaan dari wakil pesepeda.

Prosesi pengalungan medali, semua peserta dipersilahkan untuk menuju anak tangga Balairung dan semua peserta diberi medali tanpa kecuali, meski dibedakan dalam kelas masing-masing. Sekitar 80 orang peserta yang telah mengikuti acara gowes Bandung Jogja secara utuh mendapat kesempatan pertama untuk menerima kalungan medali, disusul dengan rombongan kapten regu dan ditutup dengan pengalungan medali bagi peserta yang tidak mengikuti acara secara utuh.

Euforia Panitia BluXpit2014 bersama medali masing-masing

Euforia Panitia BluXpit2014 bersama medali masing-masing

Euforia kegembiraan dari peserta tumpah ruah dalam acara puncak ini. Saling melepas penat, saling berselfie-ria maupun bergrup selfie mewarnai area di seputaran Balairung UGM. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan udara panas yang terasa menyengat kota Yogya pada pagi hari sampai siang ini. Setelah euforia mulai mereda barulah para pesepeda ini mulai mencari konsumsi terdekat dan berbagi kontak untuk menjemput BluXpit2015 yang sudah mulai diwacanakan di antara mereka.

“BluXpit2015 akan berkonsep menyatukan goweser nusantara dalam sebuah kegiatan yang diawali dari masing-masing daerah dan semuanya menuju kota Yogyakarta”.

BluXpit2014 memasuki UGM

BluXpit2014 memasuki UGM (foto MBR)

Konsep Green yang diusung panitia memang mengajak masyarakat umum untuk makin mencintai kendaraan tanpa BBM yang semakin langka dan semakin mahal. Alumni berbagai PT, dari manapun, akan ikut bergabung dalam acara bluXpit2015 untuk bersama-sama mengajak masyarakat yang dilewati maupun yang melihat dari berbagai mas media untuk menyadari bahwa bersepeda adalah olah raga yang murah meriah dan menyehatkan.

Gubernur Jawa Barat telah melepas acara bluXpit2014 di Bandung bersama dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan di ujung acara rombongan goweser bluXpit2014 diterima oleh Rektor UGM Prof Ir Dwikorita Karnawati, MSc, PhD didampingi berbagai pejabat di lingkungan UGM.

Tiga hari dalam kebersamaan membuat beberapa peserta yang tadinya tidak saling kenal satu sama lain mulai saling kenal dan ditutup dengan saling berbagi kontak. Media InfoWisata yang ikut meliput langsung acara ini terlihat sangat terkesan dengan cerita dari masing-masing peserta. Media lokal sendiri sudah langsung menayangkan acara ini di halaman online mereka.

Mitrabani selaku ketua S3Gama sekaligus ketua penyelenggara BluXpit2014, saat makan siang selepas acara menyampaikan berita seputar rencana BluXpit2015 dan berbagi info ringan pada para wartawan yang selalu menempel padanya.

“Acara sudah berakhir, semua peserta akan kembali ke rumah masing-masing. Ada yang dari Semarang, Surabaya, Jakarta, Bangka, Singapura dan berbagai kota lainnya, semuanya kembali dengan transportasi masing-masing. Hanya dua orang yang akan kembali ke Jakarta dan tetap dengan alat transportasi mereka yang utama yaitu SEPEDA!”

“Selamat Tinggal BluXpit2014 selamat datang BluXpit2015″

Senyum dan tawa itu akan terus berkembang

Senyum dan tawa itu akan terus berkembang

+++

Pelepasan BluXpit2014 di Bandung dapat dinikmati di Youtube.

TV Jogja sendiri menyiarkan acara ini melalui liputan gowes S3Gama, komunitas sepeda UGM yang diserahi untuk menangani acara BluXpit2014 tahun ini.

Salut dengan mas @Bagus Gowes yang selama mengikuti berbagai event sepeda tetap setia dengan sepeda produk Indonesia Polygon Heist, sepeda Indonesia yang bersaing di LN karena kualitas. Ironisnya di negeri sendiri kalah bersaing dengan merk terkenal, karena orang Indonesia membeli sepeda karena merk bukan karena kualitas.

Press Release BluXpit 2014

Ketua BluXpit 2014 dan Menteri PU

Press Release BluXpit 2014

Agenda bluXpit 2014 tahun ini diisi dengan acara Gowes Bandung-Yogya sejauh 400 km. S3Gama selaku EO resmi dari Panitia 65 tahun UGM telah melakukan berbagai acara untuk menyongsong suksesnya acara ini. Hal ini dilakukan mengingat membludaknya peserta akibat kesuksesan acara BluXpit tahun lalu yang disebut Audax Surabaya Jogja 325 km.

Tahun lalu peserta lengkap hanya sekitar 48 orang, sehingga BluXpit 2014 direncanakan dengan peserta maksimal 60 orang, tapi akhirnya dibatasi sampai maksimal 100 orang saja. Namun besarnya minat peserta dan masukan dari para sponsor, maka sampai saat technical meeting peserta sudah mencapai 130 orang. Dengan biaya pendaftaran sebesar 1,5 juta per orang, maka pembengkakan biaya subsidi terpaksa ikut naik dan sebagian besar ditanggung oleh sponsor.

Ketua Umum Kagama Ganjar Pranowo

Ketua Umum Kagama Ganjar Pranowo

Peserta akan berkumpul di Bandung pada hari Kamis, 11 Desember 2014, kebetulan acara hari Kamis ini bersamaan dengan acara peresmian Pengda Kagama Jabar yang dihadiri oleh Ketua Umum Kagama, Ganjar Pranowo didampingi oleh Budi selaku ketua harian Kagama.

Jumat pagi rombongan akan start dari gedung Sate Bandung, dilepas oleh Gubernur Jawa Barat dan juga masyarakat penggiat olah raga sepeda bandung, baik dari masyarakat umum, dari komunitas mahasiswa ITB, IPB, Unpar dll. Panitia pelepasan sedianya juga menyiapkan berbagai acara untuk memeriahkan Start ini, namun peserta BluXpit harus sudah berangkat pada jam 6:00, sehingga acara kesenian justru diadakan setelah peserta berangkat menuju Banjar, sebagai tempat pemberhentian pertama.

BluXpit 2014 Bandung Jogja 400 km

BluXpit 2014 Bandung Jogja 400 km

Peserta bluXpit dibagi dalam 3 kelompok besar berdasarkan kecepatan jelajah:

  1. Katagori kecepatan tinggi rata-rata 30 km/jam
  2. Katagori kecepatan sedang rata-rata 25 km/jam
  3. Katagori kecepatan normal 20 km/jam

Tim Evakuasi : 08994177033 atau 08122953412.

Perjalanan Bandung Jogja ini akan dibagi menjadi 3 pemberhentian, yaitu :

  1. Hari Jum’at, 12 Desember 2014 : Bandung-Banjar dengan jarak 140 km
  2. Hari Sabtu, 13 Desember 2014 : Banjar – Purworejo dengan jarak 190 km
  3. Hari Minggu, 14 Desember 2014: Purworejo – Yogya dengan jarak 70 km.

 

Seluruh kegiatan akan diliput oleh tim dokumentasi dengan memanfaatkan camera DRONE, sejak dari Start Gedung Sate bandung sampai Finish di Balairung UGM. Pengalungan medali pada para peserta akan dilakukan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono didampingi oleh Rektor UGM Dwikorita Karnawati.

Ketua BluXpit  2014 dan Menteri PU

Ketua BluXpit 2014 dan Menteri PU

Humas BluXpit :

Eko Sutrisno HP – eko.eshape@gmail.com http://about.me/Eshape

Risiko bersepeda

Sebelum jatuh dari sepeda masih narsis

Risiko bersepeda ada banyak, yang paling sering terjadi kecelakaan bersepeda adalah saat terjatuh dari sepeda. Bagi penggemar sepeda gunung, maka jatuh dari sepeda seperti sudah menjadi makanan sehari-hari. Medan ekstrem yang berat dan ketrampilan yang kadang hilang karena kurang fokus membuat bahaya jatuh di acara bersepeda di gunung seperti sebuah hal yang kemungkinannya besar terjadi. Kostum pesepeda gunung juga terlihat sangat beda dibanding pesepeda jenis lainnya.

Pelindung wajah, tangan, dan kaki mewarnai penampilan seorang pesepeda gunung. Anehnya para pesepeda gunung ini tidak pernah kapok (jera) untuk mengulang kegiatannya. Apapun bahayanya, mereka tetap rajin gowes di gunung-gunung, di jalan offroad, di tanjakan maupun di turunan yang ekstreem. Sepeda Downhill (DH) bagiku adalah sebuah sepeda yang mengerikan, terlihat wajah teman yang jatuh setiap aku melihat sepeda jenis ini, tapi bagi penggiat sepeda Downhill, maka yang muncul adalah gambaran adrenalin yang terpacu dan kegembiraan yang tersembur dari setiap menuruni jalan beraroma gunung.

Yang juga bikin heran adalah komentar para pesepeda gunung terhadap para pesepeda jalan raya. Mereka heran dengan para pesepeda jalan raya yang begitu berani melahap berpuluh kilo meter jalan aspal untuk memenuhi adrenalin dan kegembiraan mereka. Bukankah bahaya jatuh di jalan aspal sangat mengerikan, apalagi kalau saat jatuh disambar kendaraan lain. Akibatnya tentu lebih mengerikan.

Aku sendiri mempunyai beberapa jenis sepeda di rumah, mulai dari sepeda lipat Dahon, sepeda gunung Polygon maupun Specialized, sepeda kota Polygon maupun sepeda “on road” Mosso dan Wilier, namun semuanya itu tidak pernah memberikan bahaya bagi diriku. Semuanya aman-aman saja, sampai sesuatu hal terjadi pada beberapa minggu belakangan ini, ketika aku mengikuti acara simulasi panitia Gowes BluXpit 65 tahun UGM.

Sebelum jatuh dari sepeda masih narsis

Sebelum jatuh dari sepeda masih narsis

Sepeda Wilierku menabrak pohon di pinggir jalan dan menerbangkan pengendaranya ke bahu jalan. Alhamdulilllah, terjatuh di bahu jalan, tidak bisa kubayangkan kalau jatuhnya di jalan beraspal. Pasti akibatnya akan jauh lebih parah.

Saat terduduk di bahu jalan dan teman-teman menolongku, kulihat temanku mulai mengambil lampu sepeda yang terlepas dari sepedaku dan terbang jauh, mendirikan sepedaku yang terkapar dan kemudian membimbingku menuju daerah yang lebih nyaman di bahu jalan.

Kutaksir kecepatan sepedaku saat jatuh sudah melebihi 30 km/jam, mungkin sudah mencapai 40 km/jam, mengingat jalan yang kuturuni cukup terjal dan rem sudah mulai kurang berfungsi untuk menahan laju sepeda. Bahaya jalan menurun yang kulalui adalah kondisi aspalnya yang licin karena baru saja terkena guyuran air hujan, berpasir dan menikung.

Sesama pesepeda yang pernah nyungsep

Sesama pesepeda yang pernah nyungsep

Secara reflek otakku bekerja, antara bertabrakan dengan kendaraan lain yang berlawanan arah karena aku mengambil jalan kering di tengah jalan atau aku minggir dan ada kemungkinan terjatuh karena aku mengambil pinggiran jalan yang berpasir.

Bertabrakan dengan kendaraan berlawanan arah jelas adalah sebuah hal yang bodoh dan menyalahi aturan lalu lintas, karena aku tidak di lintasan bersepeda tapi di lintasan sepeda motor/mobil. Akupun menepi menghindari kendaraan dari arah berlawanan. Rem tetap rutin kutekan untuk menahan laju sepeda, tetapi ternyata sepeda sudah terlalu laju, sehingga saat itu hanya da beberapa pilihan pasti yaitu tercebur di kali Progo, terpeleset di jalan aspal atau berhenti mendadak di bahu jalan.

Pengalaman beberapa bulan lalu saat naik MTB, rem sudah tidak berfungsi lagi ketika turun di tebing sungai. Sepeda tetap turun menuju sungai meskipun ban sudah posisi berhenti berputar. Jadi pilihan tinggal satu, berhenti mendadak di bahu jalan daripada berhenti setelah berguling-guling di jalan aspal yang keras.

Sepedaku terjatuh menabrak pohon tumbang di pinggir jalan dan melemparkan aku menuju lokasi yang lebih aman dibanding lokasi lainnya. Untung aku pas memakai sarung tangan baru yang kondisinya masih bagus, kaos baru yang tahan sobek dan helm baru yang menjagaku dari cedera kepala.

Pelipisku tergores tanah berpasir, tangan kiriku menahan berat badanku dan kemudian yang terakhir punggungku menahan hempasan badanku di tanah. Akupun terduduk di bahu jalan mensyukuri peringatan dari Allah swt ini. Alhamdulillah, pagi ini aku mendapat pencerahan yang mencerahkan dari Tuhanku.

“Sepandai-pandai tupai berkhotbah, dia tetap tupai juga”

Sesaat setelah jatuh tetap narsis

Sesaat setelah jatuh tetap narsis

Selama bersepeda, aku selalu sangat hati-hati saat melahap jalan turun, aku lebih sering menekan rem dibanding teman-temanku, tapi hari ini kubuktikan sendiri bahwa aku bisa saja tergoda untuk lebih longgar memakai rem dan akibatnya cukup fatal.

Pak Sarbini, Road Captain bagian belakang langsung membawaku ke dokter terdekat dan menungguiku menyelesaikan proses pengobatan. Seusai pengobatan kulanjutkan perjalanan sepedaan ini dengan loading di atas pick-up. Aku masih sempat narsis di depan warung sarapan sebelum akhirnya hanya bisa “pringisan” ketika istriku mulai memberikan obat dokter padaku.

Semakin malam reaksi jatuh semakin terlihat. Mataku hampir tertutup oleh lebam di pelipisku, begitu juga rasa perih terus menyertai sepanjang malam, meskipun obat dokter sudah kuminum dengan benar.

Inilah salah satu risiko bersepeda dan insya Allah aku tidak kapok, tetap semangat bersepeda dengan cara yang lebih hati-hati.

Rambo terluka jatuh dari sepeda di Nanggulan

Rambo terluka jatuh dari sepeda di Nanggulan

+++

Risiko bersepeda : Pengalaman jatuh mas Wilier.

Poto diambil dari koleksi mas @Yuda kotajogja.com dan koleksi pribadi.

 

BluXpit Gowes Bandung Jogja 400 km

BluxPit Bandung Jogja 12-14 Desember 2014

Acara BluXpit Gowes Bandung Jogja 400 km tak lama lagi akan dimulai, tepatnya dimulai pada hari Kamis 11 Desember 2014 dan berakhir pada tanggal 14 Desember 2014, pas hari Minggu di Balairung UGM.

Acara rutin tahunan ini diikuti oleh lebih seratus goweser dan sekitar 40 anggota tim pendukung, belum termasuk simpatisan yang tidak terdaftar tapi ikut memeriahkan acara gowes ini.

Hari Jumat, 5 Desember 2014 akan diadakan technical meeting untuk seluruh peserta, acara tersebut dipimpin oleh tim teknis BluXpit 2014 yang dipimpin oleh Bapak Mustofa didampingi pak Bambang selaku komandan Road Captain. Pada hari itu juga direncanakan untuk dibagikan kaos peserta (jersey) dan tiket KA bagi peserta yang berangkat dari Jogja via jalan besi (kereta api).

Bagi peserta dari luar kota atau peserta yang memanfaatkan transportasi model lain, sehingga tidak bisa hadir dalam acara technical meeting, maka info tentang penjelasan teknis ini akan dikirimkan melalui email ke masing-masing peserta. Dengan demikian semua hal-hal yang perlu diketahui oleh peserta dapat disampaikan secara jelas dan rinci.

Peserta yang tidak bisa datang dalam acara itu, bisa memanfaatkan socmed WA (Whatsapp) untuk mendiskusikan informasi yang dianggap masih perlu penjelasan lebih rinci. Panitia, terutama tim teknis akan menjawab pertanyaan dari semua peserta yang memerlukan jawaban, kecuali sudah dijawab oleh peserta lain dan jawaban dianggap cocok dengan pertanyaan.

BluxPit Bandung Jogja 12-14 Desember 2014

BluxPit Bandung Jogja 12-14 Desember 2014

Sepeda peserta yang dititipkan ke panitia diharapkan sudah dalam kondisi siap angkut, sehingga panitia tinggal memberi label sesuai identifikasi peserta dan membawanya ke Bandung via jalan darat. Namun demikian, apabila peserta mempunyai kendala dalam memasukkan sepeda dalam box, maka panitia akan menyiapkan tim mekanik yang membantu proses tersebut, dengan semua beban biaya pengepakan menjadi tanggungan peserta. Untuk proses perakitan kembali di Bandung, semua sepeda harus dirakit sendiri oleh pemilik/peserta, kecuali apabila peserta mempunyai keterbatasan dalam melakukan proses rakit sepeda. Dalam hal ini tim mekanik akan kembali membantu proses perakitan dengan biaya rakit yang ditentukan kemudian dalam technical meeting.

Malam hari, Kamis 11 Desember 2014, peserta akan diundang dalam jamuan makan malam sekaligus pelantikan Kagama Jabar. Di dalam acara jamuan ini, diselipkan sekali lagi, briefing singkat tentang penjelasan teknis perjalanan Bandung Jogja 400 km. Disarankan semua peserta gowes sudah istirahat dan tidur malam sebelum jam 22:00, agar Jumat pagi sudah berangkat dari Bandung pada jam 06:00.

Apabila pemberangkatan tertunda satu jam, maka diperkirakan peserta akan sampai Banjar paling cepat sekitar pukul 18:30. Apabila berangkat jam 8:00 dari Bandung, maka acara sholat jumat akan bergeser, demikian juga lokasi makan siang/makan malam. Diperkirakan akan sampai di Banjar sekitar jam 21:00 baru finish jika berangkatnya geser sejam lagi. Lalu lintas akan semakin macet pada siang hari dan perjalanan malam tidak bisa sekencang perjalanan siang.

Disinilah diperlukan keseriusan peserta dalam hal bangun pagi dan start pagi. Terlambat berangkat satu jam akan menyebabkan molor waktu lebih dari satu setengah jam.

BluxPit Bandung Jogja 12-14 Desember 2014

BluxPit Bandung Jogja 12-14 Desember 2014

Acara start dan finsih gowes BluXpit Bandung Jogja 400 km ini akan diliput oleh tim dokumentasi DRONE maupun konvensional, baik berupa audio visual maupun berupa foto biasa. Pesawat yang membawa camera akan mengikuti acara start dari Bandung sampai tanjakan Malangbong dan kemudian pesawat akan menunggu di Wates, 30 km dari Jogja, untuk liputan menjelang finish.

Selepas Wates, tim DRONE akan menunggu di seputaran jembatan Kali Progo untuk kembali mengambil gambar peserta gowes ketika melewati jembatan Kali Progo. Begitu juga ketika peserta menikung di Tugu Jogja, DRONE akan membidik peserta gowes dari arah timur, sehingga peserta gowes dan TUGU terlihat sebagai kombinasi keindahan dan kebersamaan dari semua peserta.

Setiap malam tim dokumentasi juga akan mengirim hasil edit video maupun foto untuk ditampilkan di FB (Facebook), sehingga peserta yang ingin melihat aksinya bisa melihatnya dulu di gadget masing-masing atau di gadget panitia. Hasil resmi edit panitia sendiri paling cepat 2-3 minggu baru bisa ditayangkan untuk umum.

Akhir perjalanan BluXpit akan disambut oleh rombongan pejabat yang berkenan hadir, misalnya menteri PU, rektor UGM, ketua umum Kagama maupun pembina keluarga alumni UGM, Sri Sultan HB X. Rombongan goweser akan membawa bendera BluXpit dan diserahkan ke bapak Mentri dan disusul pengalungan medali, mulai dari Ketua BluXpit, Road Captain, peserta Gowes Bandung Jogja yang lengkap menempuh 400 km dan kemudian disusul peserta lain yang bergabung di Banjar maupun Purwokerto.

Jam 12:00 diperkirakan acara Gowes BluXpit selesai dan ditutup dengan makan siang. Dengan demikian selesailah sudah acara BluXpit Bandung Jogja secara resmi dan akan kembali lagi hadir di tahun depan dengan rute yang berbeda lagi.

+++

Info hotel yang akan dipakai untuk menginap sebagai berikut :

1. HOTEL MITRA BANDUNG
Address: Jl. Wr. Supratman No.98, Jawa Barat 40122, Indonesia Phone:+62 22 7207245

2. KENDARSIH GUEST HOUSE
Address: Jl. Muararajeun 24 Phone: (022) 87245839 HP: 082219065679 (Yayar)

3. HOTEL MANDIRI BANJAR
Address: Jl RE kosasih, Banjar, West Java, Indonesia Phone: +62 265 2732896

4. HOTEL BANJAR INDAH
Address: Jl Cimenyan I 1, Mekarsari, Banjar Phone: 0265 742309 – 0265 744237

5. HOTEL GALUH BANJAR
Address: Jl. Raya Banjar Ciamis, Banjar, West Java, Indonesia Phone:

6. HOTEL PLAZA PURWOREJO
Address: JL. Tentara Pelajar No. 21, Purworejo, Jawa Tengah 54114, Indonesia Phone:+62 275 3219046

7. HOTEL SANJAYA PURWOREJO
Address: Jalan Tentara Pelajar, Purworejo, 54171, Indonesia Phone:+62 812-2716-6600

8. HOTEL SURONEGARAN PURWOREJO
Address: Jl. Urip Sumoharjo No. 47 Purworejo Phone/Fax: 0275 – 322076

Man behid the PIT

Sepedaan di Alun alun Solo

Kalimat “Man behid the PIT” adalah plesetan dari kalimat “man behind the gun”, yang penting bukan alatnya tapi siapa yang memegang alat itu. Ini istilah umum yang dipakai untuk menunjukkan bahwa manusia itu adalah sumber daya yang berbeda dibanding sumber daya lainnya. BBM adalah sumber daya yang vital banget, tapi tetep saja manusia di belakang BBM itu yang akan menentukan bagaimana BBM itu dikelola. BBM-nya sendiri ikut saja kemana sang pengelola menyuruh, asal sesuai dengan hukum alam.

Air itu adalah sumber daya yang hukum alamnya mengalur ke tempat yang rendah dan manusia tidak bisa menyuruhnya untuk menjadi mengalir ke atas melawan hukum alam. Meski begitu, manusia yang dibekali akal akan bis amelakukan berbagai cara agar sang air mengalir ke atas melawan hukum alam.

Aku tersenyum memaknai kalimat “Man behind the PIT” ketika aku akan meluncur ke Solo (lagi) dan sudah merencanakan mencari waktu luang untuk bersepeda. Pengalaman beberapa bulan lalu saat bersepeda ke Makam Ibu Tien Soeharto di Mangadeg Solo telah menunjukkan dengan gamblang bahwa sepeda sebaguis apapun tetap akan tergantung pada pengendaranya. Tergantung pada manusia yang menggowesnya.

Seorang lelaki tua, mengaku berumur 67 tahun, dengan santai menggowes sepeda di sampingku. Dia sudah menyalip beberapa pesepeda dan kemudian langsung akrab menyalamiku.

“Darimana mas ?”, katanya

“Dari Jogja pak”, jawabku

“Wah saya dulu juga tinggal di Jogja, sekarang tinggal di Solo dan bla…bla…bla…”

Bapak tua itu terus mencerocos “ngalor ngidul” tentang Jogja dan khasnya sebagai kota sepeda. Sampai akhirnya sang bapak merasa kalau kecepatan sepedaku makin melambat sementara dia tetap konstan dan akhirnya mendahuluiku. Sang bapak rupanya melanjutkan ceritanya dengan pesepeda yang ada di depanku. Terlihat mereka tertawa bersama dan akhirnya tidak terlihat lagi karena sepedaku makin melambat dan mereka tetap bersepeda dengan konstan.

Di pos pemberhentian untuk “regrouping” dan mampir ke toilet, kembali kulihat bapak itu ikut bergabung dengan komunitasku. Ikut bersenda gurau, padahal dia baru saja kenalan dengan kita. Beberapa temanku ikut membahas sang bapak tua dengan sepeda tuanya.

“Bapak tua itu hebat lho pak Eko. Dari tadi nyerocos terus sambil sepedaan kok kuat ya?”

“Aku sudah membuktikannya pak. Dia tetap nyerocos tanpa tersengal-sengal napasnya, padahal jalan terus menanjak dari tadi”

Sampai di etape terakhir, aku sudah mengukur diriku tidak akan kuat, sehingga aku naik mobil di kilometer terakhir dan menunggu di makam Mangadeg. Pesepeda pertama yang masuk finish adalah seorang pembalap nasional Fani Gunawan berdua dengan muridnya seorang cewek, Mona namanya. Setelah itu dua orang yang muncul adalah goweser dari pihak Owner (pemilik proyek) yang ikut bergabung dan bapak tua itu yang tetap dengan santai mengayuh sepeda bututnya.

Gowes Makam Astana Giribangun

Gowes Makam Astana Giribangun (minjam sepeda orang lain)

Kutaksir harga sepeda bapak tua itu tidak akan sampai dua juta, karena bodinya semuanya terbuat dari besi dan kondisinya sangat tua. Sepedaku juga bukan sepeda mahal, tapi pasti lebih mentereng dibanding sepeda bapak tua itu. Sedangkan puluhan sepeda yang kemudian satu persatu muncul dengan mode “dituntun” adalah sepeda mahal dengan harga puluhan kali lipat harga sepedaku, apalagi dibanding sepeda bapak tua itu. Tak terbilang berapa puluh kali lipat pastinya.

Selama ini isu yang beredar tentang komunitasku adalah “komunitas sepeda mahal”, bahkan ada yang pernah bilang begini,”kalau harga sepeda masih di bawah 20 juta jangan ikut komunitasnya pak Eko, nanti malu sendiri”

Bapak tua ini telah membuktikan bahwa dia ikut bergabung dengan komunitasku dan kita terima dengan baik, bahkan kita hormati karena dia telah sanggup mengiringi seorang pembalap nasional yang ikut komunitasku.

Mosso sampai juga ke Warung Ijo

Mosso sampai juga ke Warung Ijo

Sepedaku juga harganya jauh di bawah 20 juta tapi aku enjoy saja ikut komunitas ini. Saat rute Borobudur Jogja dengan mengambil medan naik turun di Kalibawang Sendangsono, aku juga naik sepeda murah dan sukses tidak nuntun sepanjang rute. Sementara itu berbagai sepeda mahal yang dinaiki oleh goweser yang jarang latihan sepeda terpaksa nuntun sepeda di beberapa tanjakan.

Benar kata kalimat “Man behind the PIT”, semuanya tergantung latihan rutin dari sang pesepeda. Semuanya tergantung niat dari orang yang naik sepeda, bukan oleh mahalnya harga sepeda.

Sepedaan di Alun alun Solo

Sepedaan di Alun alun Solo

« Older Entries