Tag Archives: sepeda

Gowes Sehat

Koneksi Bluetooth di Garmin Forerunner 920XT

Gowes Sehat adalah tujuan semua goweser. Mereka tentu tidak mau sudah capek-capek gowes kesana kemari tapi yang didapat hanya capek tanpa manfaat. Gowes sehat juga harus menjauhkan diri dari kondisi yang tidak diinginkan, misalnya tiba-tiba tergeletak di tengah jalan ketika sedang asyik mengayuh sepeda. Biasanya hal itu terjadi karena sang goweser memaksakan diri untuk tetap mengayuh sepedanya meskipun kondisi badannya sebenarnya sudah mengharuskan dia berhenti mengayuh sepeda. Jantung memang bisa tiba-tiba berhenti bila terlalu kencang dalam memompa darah.

Batasan umum dalam bersepeda biasanya diambil gampangnya adalah di angka (220-umur) detak jantung per menit. Misalnya umur 50 tahun, maka detak jantung maksimal per menit adalah 220-50 atau sama dengan 170 detak per menit (BPM). Alat pengukur detak jantung (heart beat) bagi pesepeda misalnya adalah Garmin Forerunner 910xt. Dengan adanya alat itu, maka pesepeda akan bisa memantau berapa bpm (beat per minutes) detak jantungnya saat mengayuh sepeda, dengan demikian sepeda bisa dihentikan kayuhannya bila sudah melebihi batasan (220-umur).

Kawan Gowes Sehat Garmin Forerunner 920XT

Kawan Gowes Sehat Garmin Forerunner 920XT

Selama ini aku memang mengandalkan Garmin Forerunner 910xt untuk memantau berapa bpm detak jantungku. Meskipun badan masih terasa sanggup tapi kalau bpm sudah menunjukkan batasan angka maksimal, maka biasanya aku langsung turun dari sepeda. Yang pertama kulakukan adalah berhenti naik sepeda dan kemudian jalan kaki saja sambil menuntun sepeda. Ternyata metodeku ini salah, yang benar katanya berhenti saja dan diam beberapa detik sampai turun jumlah detak jantungnya, kalau detak jantung sudah mulai turun maka kita bisa naik sepeda lagi dan meneruskan olah raga sepeda kita.

Garmin Forerunner 910xt memang sangat ideal untuk membantu mengawasi detak jantung kita. Alat itu selain mencatat kecepatan sepeda, jarak tempuh juga bisa dipakai untuk mencatatat track rute kita bersepeda. Setelah selesai proses pencatatan, maka semua catatan itu akan bisa diunduh melalui Garmin connect melalui PC ke situs Garmin kita. Proses tarnsfer data ini dilakukan melalui USB khusus yang ditancapkan ke port USB di PC dengan catatan piranti garmin tidak terlalu jauh dari USB tersebut.

Garmin 02

Model paling baru dari Garmin Forerunner adalah seri 920xt. Beberapa kelebihan yang menggiurkan dari seri terbaru ini adalah adanya fitur komunikasi melalui Bluetooth. Dengan demikian semua data bisa langsung masuk ke ponsel kita tanpa melalui PC lagi. Cukup install Garmin Connect di ponsel kita dan komunikasi antar ponsel dan garmin akan lancar.

Garmin Forerunner 920XT

Garmin Forerunner 920XT

Kelebihan dari Garmin Forerunner 920xt dibanding seri terdahulu 910xt antara lain adalah sebagai berikut :

1. Memakai fitur komunikasi tanpa kabel (wireless) dengan bluetooth.

2. Lebih tipis dan lebih ringan.

3. Kualitas layar yang lebih bagus

4. Ada fitur GPS yang lebih sempurna

5. Estimasi VO2 maksimal

6. Tampilan lebih keren

Jam tangan forerunner 920xt memang punya dimensi dan bobot yang lebih kecil, sehingga lebih nyaman dipakai saat melakukan oleh raga lari, renang maupun bersepeda. Hal ini sesuai dengan fungsi jam ini yang bisa dipakai untuk atlit triathlon, baik yang profesional maupun yang masih pemula.

Layarnya juga mempunyai peningkatan yang cukup signifikan dibanding pendahulunya. Lebih carah dan tajam, sehingga lebih mudah terlihat meskipun di tempat yang tidak begitu terang. Bandingkan dengan seri terdahulu yang harus dilihat dibawah cahaya lampu.

VO Max di Garmin Forerunner 920XT

VO Max di Garmin Forerunner 920XT

Di Garmin Forerunner 920xt juga diberi fitur yang akan mengukur estimasi VO2 maksimal, sehingga bisa diketahui tingkat kebugaran sang atlit. Dari segala kelebihan di atas, maka tidak bisa dipungkiri bahwa forerunner 920xt memang terlihat lebih keren dan memang lebih canggih.

Koneksi Bluetooth di Garmin Forerunner 920XT

Koneksi Bluetooth di Garmin Forerunner 920XT

+++
Info harga Garmin Forerunner 910xt baru sekitar 5 juta, sedangkan untuk seri yang lebih baru adalah sebagai berikut :

Forerunner® 920XT

Part Number: 010-01174-00
$449.99 USD
Processing time is 3–5 weeks.

Kalau lihat harga rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika sampai 12.000 per dolar, maka harga jam ini menjadi lumayan mahal. Belum termasuk macam-macam pajak harganya sudah hampir 6 juta rupiah. Jadi kalau mau beli tunggu dulu sampai rupiah menguat lagi.
Salam sehati

Gowes Jakarta

CFD Jakarta melalui Stasiun Kota

Tidak ada yang membuat Gowes Jakarta menjadi mudah, semua yang ada di Jakarta membuat gowes menjadi tidak menarik. Anehnya atau jamaknya, semakin sedikit fasilitas untuk melakukan sesuatu, maka akan membuat sesuatu itu makin menarik. Semakin hari semakin padat acara CFD (Car Free Day) di Jakarta dan juga di kota-kota lain. Animo untuk mengikuti acara CFD semakin lama semakin besar, padahal usaha untuk mengadakan CFD kadang malah tidak mengurangi nuansa GREEN.

Beberapa hal yang membuat minat bersepeda di Jakarta menjadi turun antara lain adalah sebagai berikut :

1. Ada beberapa ruas jalan yang menyediakan ruang untuk pesepeda, tapi ruang itu justru dipakai oleh bukan pesepeda.

2. Polusi di Jakarta yang tetap tinggi, sehingga bersepeda di Jakarta seperti menghirup pencemaran udara ke dalam paru-paru kita.

3. Ruas jalan yang terus meningkat kemacetannya.

4. Perilaku pengguna jalan yang sangat mengabaikan pesepeda di jalan.

5. dan masih banyak hal lain yang membuat pesepeda menjadi nomor sekian dari daftar prioritas pengguna jalan.

Gowes blusukan di Sungai

Gowes blusukan di Sungai

Di Jakarta kita tidak bisa menikmati keindahan gowes blusukan seperti di Jogja atau di kota-kota lain yang masih menyisakan udara jernih tanpa polusi, bahkan di sudut kota Surabaya masih ada tersisa beberapa lokasi yang hijau dan udaranya masih bersih. Bila ingin suasana hijau dan udaranya jernih, maka pesepeda harus keluar dari Jakarta dulu, misalnya ke kilo meter Nol di Sentul ataupun ke Delta Mas di timur Jakarta, bukan Jakarta Timur.

Sorga bagi pesepeda yang gemar RB (Road Bike) bagiku adalah bersepeda ke Belitung. Alamnya sangat ramah dan jalannya sangat mulus. Membelah pulau Belitung dari Timur ke Barat jaraknya sekitar 80-90 km, sebuah jarak yang cukup membuat adrenalin tertantang untuk melahapnya dengan sepeda balap (RB). Tantangan di Belitung hanyalah cuaca yang sangat panas, jadi kalau bisa memilih cuaca yang mendung tentu sangat indah sekali sepedaan di Belitung.

Kabarnya bersepeda di Lombok juga tidak kalah asyiknya, karena lokasinya cukup sepi dan jalannya naik turun seperti di Belitung. Saat ini para pesepeda malah sedang keranjingan untuk memakai sepeda MTB (Mountain Bike) di Bali, karena lokasinya yang artistik dan medannya sangat menantang.

Bagi yang gemar Borobudur, lokasi MTB juga banyak bertebaran, mulai dari sepedaan ke Borobudur melalui rute khusus atau memang sepedaan di PUNTHUK seputaran Magelang. Aku sendiri belum pernah gowes ke Borobudur, padahal aku tinggal di Jogja dan sering ke Borobudur. Aku malah ikutan gowes Surabaya Jogja, dalam rangka Dies UGM.

Sepedaan Jakarta CFD harus lewat MONAS

Sepedaan Jakarta CFD harus lewat MONAS

Yang membuat heran, pesepeda di Jakarta tetap setia mengikuti CFD yang suasananya sudah semakin “crowded” (krodit), berjubel dan para pemakai jalannya sudah tidak melihat rambu yang dipasang oleh pemerintah. Pada setiap tempat, terutama di ujung-ujung jalan selalu dipasang rambu untuk membedakan lokasi pejalan kaki, pesepeda anak-anak dan pesepeda orang tua atau pembalap profesional.

Yang terjadi adalah para pejalan kaki seenaknya sendiri menggunakan jalur jalan. Mereka merasa bebas berjalan di sebelah kanan ataupun kiri. Akhirnya para pesepeda menjadi kesulitan mencari jalur jalan untuk mengarahkan sepedanya dan jalan keluarnya lebih parah lagi. Para pesepeda itu kemudian menggunakan jalur busway untuk melancarkan gowesnya.

Para pejalan kaki yang melawan arus juga tidak sedikit, sehingga suasana CFD di sepanjang jalur CFD Jakarta menjadi tidak nyaman untuk para pesepeda. Kelihatannya ada euforia tersendiri bagi para pejalan kaki. Kalau biasanya mereka tersingkir dari trotoar di sepanjang rute mereka jalan kaki, maka kini saatnya mereka bisa berjalan dimana mereka suka.

CFD Jakarta melalui Stasiun Kota

CFD Jakarta melalui Stasiun Kota

Hari ini aku kembali melahap jalur CFD seperti yang telah pernah kulakukan, hanya saja aku selalu memperpanjang jalur dengan menambahkan tujuan sepeda adalah Kota Tua. Aku pernah juga meperpanjang jalur ini sampai ke Pantai Indah Kapuk (PIK), tapi yang kudapat justru suasana yang makin ruwet, sehingga kuputuskan jalur terjauh hanyalah sampai Kota Tua saja.

Suasana Kota Tua masih menarik minat para pelancong, domestik maupun luar begeri. Meskipun pagi itu tidak banyak aktor dadakan yang berperan sebagai noni-noni atau sinyo-sinyo menyewakan segala macam lagak gaya mereka. Yang masih tetap ada hanya persewaan sepeda warna warni.

Persewaan sepeda di Kota Tua

Persewaan sepeda di Kota Tua

Bersepeda di Jakarta memang tidak pernah mati. Meskipun saat ini komunitas B2W sudah tidak seramai dulu lagi, tapi penggemar gowes jakarta masih tetap tinggi dan mereka akan bermunculan di hari libur atau di hari diadakannya CFD Jakarta. Bila pagi-pagi sehabis subuh aku giowes di seputaran Jakarta, maka selalu masih kujumpai komunitas B2W yang masih rajin bersepeda menuju tempat kerjanya.

Bersepeda di Jakarta tidak sesehat bersepeda di kota lain, tetapi kalau itu sebuah keharusan, maka tidak ada salahnya bersepeda di Jakarta. Kita hanya harus tahu kebiasaan bersepeda di Jakarta dan bahayanya bersepeda di Jakarta. Jangan samakan Jakarta dengan Jogja.

Selamat Gowes Jakarta !:-)

Pusat Sepedaan di Jogja

Bersepeda blusukan

Penggemar sepeda MTB (Mountain Bike) pasti kenal dengan istilah Bersepeda Blusukan atau Gowes Blusukan. Medan apapun ditempuh demi memuaskan dahaga mereka terhadap rute jalan yang berbeda dari rute biasanya dan memberikan tantangan baru dalam memilih rute. Harus diawali dengan niat bulat untuk tidak mengeluh apapun selama jalan bisa dilewati.

Gowes di sawah tanpa jalan sepeda

Gowes di sawah tanpa jalan sepeda

Pagi habis subuh aku langsung mengeluarkan sepeda MTB, memastikan semua lampu berfungsi dengan baik sebelum kakiku mulai mengayuh pedal. Bagaimanapun aku harus yakin bahwa bersepeda di kegelapan pagi memerlukan cahaya petunjuk bagi pengendara sepeda atau sepeda motor yang lain, agar mereka minimal bisa melihat keberadaanku.

Aku memilih lampu depan dan belakang merk “KNOG”, harganya memang sedikit lebih mahal dibanding merk lainnya, misalnya Cat Eye atau sejenisnya. Cahaya yang terang membuatku memilih model lampu merk “KNOG”, disamping awet dan bisa diisi ulang, lampu ini juga membuat pemakainya menjadi percaya diri (PD). Lampu depan kupilih yang memakai batere biasa, tidak bisa diisi ulang dan lampu belakang kupilih yang bisa diisi ulang.

Gowes sepanjang Sungai

Gowes sepanjang Sungai

Sekitar satu jam di jalan aspal, akupun sampai di depan Stadion Maguwoharjo, stadionnya PSS Sleman. Di situ sudah menunggu dua orang kawanku, mas Joko Sumiyanto dan Rama Condro. Mereka berdua juga sudah siap dengan sepeda masing-masing. Tentu tidak ada jenis RB (Road Bike) di sesi sepeda pagi ini, judul gowes hari ini adalah “Bersepeda blusukan” alias gowes blusukan, jadi diharamkan sepeda model RB.

Belum puas kita bercengkerama, tepat jam 06:00 sebuah sepeda motor dengan kencang meluncur menuju kita. Sang pengendara sepeda motor itu terus saja meluncur ke arah kita dan akhirnya menabrak ban sepedaku. Tentu sepedaku berpindah tempat alias bergeser mengalami benturan itu, sedangkan sang pengendara sepeda motor tetap saja melaju dengan sepedanya, meskipun beberapa orang meneriaki agar sepeda motor itu berhenti.

Ruji Sepeda Specialized MTB yang lepas

Ruji Sepeda Specialized MTB yang lepas

Kuperhatikan selintas, ternyata kondisi sepedaku tidak terlihat ada perbedaan. Akupun kembali menaiki sepeda itu menuju Stadion Maguwoharjo dan baru kala itu kurasakan bahwa rodaku bermasalah setelah tertabrak sepeda motor. Meskipun kelihatannya wujud sepedaku masih normal, tetapi ternyata salah satu ruji sepeda terlepas dan sepedaku kalau dinaiki seperti bergoyang ke kanan dan ke kiri sendiri.

Kita akhirnya tetap bersepeda blusukan meskipun kondisi sepedaku tidak normal. Inilah pertama kalinya aku ikut blusukan dengan pak Djoko Luknanto yang barusan ikut bergabung bersama dua kawanku yang terdahulu.

Tidak ada tujuan yang dituju, yang penting hindari jalan beraspal dan perbanyak jalan tanah atau jalan tanpa jalan. Kitapun muter-muter ke segala arah yang telah mereka survey sebelumnya. Aku tahu itu karena mereka sering berkata kalau rute yang sedang kita lalui ini adalah rute tanggal sekian, ketika pindah ke jalan lain, mereka kembali berkata bahwa ini rute tanggal sekian.

“Pak Djoko Luknanto ini rute tanggal sekian ya …”

“Pak Joko Sumiyanto, ini kalau ke kiri rute yang tanggal sekian lho..”

Kalimat semacam itu terjadi di beberapa rute, sehingga akhirnya aku tertantang untuk mencoba rute baru. Aku turun ke sungai dan melihat kondisi sungai yang masih perawan. Kulihat ada bekas jalan yang dilalui orang di ke dua sisi sungai, akupun memutuskan untuk melalui jalan itu. Ternyata teman-teman sependapat dengan usulku, bahkan mereka terlihat sangat antusias.

Gowes blusukan di Sungai

Gowes blusukan di Sungai

Kitapun bersepeda di sepanjang sungai itu dan naik di sisi sungai yang lain. Alhamdulillah, benar yang kami duga. Ada bekas jejak orang di jalan yang kita tuju dan itulah yang ada yaitu sebuah jalan untuk jalan kaki. Tidak ada jalan untuk jalan sepeda, sehingga kitapun berjalan di sawah yang kering tanpa ada jalan sepedanya. Semua sawah adalah jalan kita, karena sawah itu baru saja di panen.

Gowes blusukan di Sungai

Gowes blusukan di Sungai

Setelah selesai menapak di sawah, maka selanjutnya kita harus menyeberangi parit untuk menuju jalan yang ada jalan sepedanya. Dengan penuh canda tawa akhirnya kita sampai juga di warung Pecel Madiun. Itulah titik finish kita hari ini. Perjalanan ini ternyata memakan waktu 4 (empat) jam, dengan beberapa pemberhentian dan kecepatan yang sangat rendah.

Puas ?

Ya aku puas dengan rute yang dipilih oleh pak Djoko Luknanto atau pak Joko Sumiyanto. Merekapun terlihat senang, tapi kalau bicara soal puas, kayaknya mereka masih belum puas. Pak Djoko Luknanto sudah membuat rute baru yang belum banyak dikenal oleh orang umum. Mengelilingi Gunung Merapi !!!

Gowes keliling Merapi dari pak Djoko Luknanto

Gowes keliling Merapi dari pak Djoko Luknanto

Edyan tenan …

Manfaat Gowes

Gowes ceria membuat pikiran menjadi tenang

“Apa sih manfaat gowes mas Eko? Kok sekarang sepertinya semua orang jadi demam gowes?”

Pertanyaan itu jawabannya bisa beragam. Bisa dijawab dengan panjang lebar tentang manfaat gowes, tetapi bisa juga dijawab bahwa demam gowes itu tidak ada. Tidak semua orang sedang demam gowes, karena memang begitulah kenyataannya. Hanya orang-orang tertentu yang merasa perlu gowes sebagai kegiatan rutinnya.

Ada yang sudah mulai tertarik gowes tetapi kemudian mundur teratur ketika mengetahui harga sepeda yang dipakai teman-temannya melebihi harga sepeda motor, bahkan ada yang seharga mobil. Ada juga yang tetap gowes meskipun memakai sepeda dengan merk biasa-biasa saja.

“Tujuan gowes itu adalah mencari kesehatan, bukan mencari gengsi. Tidak perlu gengsi memakai sepeda Polygon. Kita tunjukkan nasionalisme kita dengan membeli merk sepeda dalam negeri. Memang semua sepeda Polygon itu murah? Ada juga yang harganya mahal dan pertanyaan dasarnya adalah mau sepedaan atau mau cari gengsi?”

Jalan aspal gunakan saja Road Bike

Jalan aspal gunakan saja Road Bike

Memilih sepeda memang menjadi salah satu topik yang perlu dipahami oleh mereka yang ingin bersepeda gembira, apalagi yang ingin bersepeda profesional. Beda satu kilogram saja untuk sepeda profesional harganya bisa beda jauh.

Lokasi bersepeda juga menjadi dasar pemilihan model sepeda. Apakah medan bersepeda datar, naik turun, jalan aspal, jalan pedesaan atau bukit terjal, semuanya akan menghasilkan pilihan sepeda yang berbeda. Hampir semua pesepeda selalu berawal dari sepeda MTB ketika membeli sepeda pertama mereka. Hanya pesepeda serius yang dari awal sudah tahu model sepeda apa yang akan dia beli.

Jadi sebelum bercerita tentang manfaat gowes, harus tahu dulu medan gowes yang dipilih. Soal manfaat gowes, apapun yang dipilih sebenarnya ujungnya adalah masalah kesehatan, tetapi model sepeda ekstrim bukan hanya kesehatan yang dikejar.

Seorang teman pernah menasehatiku soal sepeda downhill. begini dia bilang.”Mas Eko, jangan sampai nyoba sepeda downhill ya. Tidak enak di depan dan akan ketagihan di belakang”.

Seorang teman yang lain menambahkan,”Sepeda downhill sangat menantang dan membuat adrenalin jadi meningkat. Risiko cedera hampir pasti, sehingga perlengkapan safety harus lengkap dan dipakai, bukan sebagai hiasan bersepeda”

“Mas Eko, jangan lupa ya, sepeda dowbhill dirancang untuk menuruni bukit, bukan menaiki bukit, jadi jangan heran kalau jadi tidak nikmat ketika dipakai untuk menaiki bukit”

Sampai saat ini aku belum pernah mencoba sepeda downhill di medan yang sesungguhnya. Aku hanya mencobanya di jalan datar dan aku merasakan betapa tidak nyamannya sepeda ini. Benar kata temanku, sepeda ini memang tidak nyaman untuk dinaiki di medan yang bukan medannya. Risiko cedera memakai sepeda ini juga besar, tapi kenikmatannya ternyata juga sangat besar, sehingga mereka rela tetap memakai sepeda ini meskipun sudah berkali-kali jatuh atau terpeleset.

Bersepeda tandem itu mengasyikan

Bersepeda tandem itu mengasyikan

Sepeda gunung memang harus dipilih yang cocok dengan medan yang akan disasar, meskipun saat ini sudah banyak model sepeda gunung yang mempunyai peredam kejut yang bisa dimatikan atau dihidupkan. Saat peredam kejut ini dihidupkan, maka naik sepeda gunung terasa empuk dan nyaman, tetapi tenaga yang diperlukan menjadi besar. Ibaratnya kita berjalan di atas pasir, lembut medannya tetapi perlu tenaga ekstra untuk melangkah di tanah berpasir.

Untuk jalan aspal, maka sepeda gunung biasanya dimatikan peredam kejutnya. Bagi mereka yang suka gowes di medan offroad ringan dan on road, maka mereka biasanya memilih sepeda dengan ban kecil halus dan memasang peredam kejut yang bisa dimati-hidupkan. Sepeda jenis ini sering disebut sepeda Hybrid.

Untuk yang lebih sering bersepeda di jalan aspal, maka pilihan pasti jatuh pada road bike (sepeda balap). Ban yang jauh lebih kecil dan bobot yang sangat ringan. Bahkan ada sepeda jenis road bike yang bobotnya hanya sekitar 4 kg saja.

Kembali ke masalah MANFAAT GOWES, maka hanya inilah sebenarnya manfaat gowes.

1. Kesehatan jasmani, menjaga kebugaran tubuh selama bersepeda, dengan lama bersepeda di atas 30 menit dan dilakukan secara rutin. Olah raga sepeda akan membantu melancarkan sirkulasi darah yang kaya akan oksigen dan nutrisi ke semua sel yang ada di seluruh tubuh.

2. Kesehatan rohani, bila bersepeda dilakukan secara berkelompok dan membuat suasana menjadi ceria saat bersepeda. Stress akan menurun dan membuat pikiran menjadi lebih jernih.

Gowes ceria membuat pikiran menjadi tenang

Gowes ceria membuat pikiran menjadi tenang

+++

Dari Wikipedia, sepeda gunung ditulis sebagai berikut :

Secara umum sepeda gunung dibagi menjadi 5 jenis menurut fungsinya, diantaranya yaitu:

Sepeda gunung tipe Cross Country (XC).

  • Cross Country (XC)

Dirancang untuk medan yang tidak terlalu ekstrem (ringan), sepeda jenis ini hanya mempunyai suspensi depan atau tanpa suspensi sama sekali. Karena hanya memiliki suspensi depan biasanya sepeda gunung jenis ini dikategorikan sebagairigid frame. Didesain agar efisien dan optimal pada saat mengayuh ditanjakan, di jalan aspal hingga jalan tanah pedesaan. Sepeda jenis ini sangatlah disarankan bagi pemula yang ingin memulai bermain sepeda MTB.

  • All Mountain (AM)

Biasa dipakai untuk jalur perpaduan antara Cross Country (XC) dan Down Hill ringan (light DH). Didesain untuk melintasi alam yang berat seperti naik dan turun bukit, masuk hutan, melintasi medan berbatu, dan menjelajah medan offroad jarak jauh. Memiliki 2 suspensi depan dan belakang (double suspension). Panjang suspensi belakang (rear suspension) sekitar 6 inchi dan panjang suspensi depan (fork) mulai dari 140mm s/d 160mm. Pemakai dapat melakukan pendakian gunung dengan baik (tidak berat), sekaligus juga dapat menuruni gunung dengan cepat (tidak berguncang-guncang), karena panjang suspensi yang optimal. Keunggulan sepeda jenis ini ada pada ketahanan dan kenyamanannya untuk dikendarai.

  • Free Ride (FR)

Dirancang untuk mampu bertahan melakukan lompatan tinggi (drop off) dan kondisi ekstrim sejenisnya. Rangkanya kuat namun tidak secepat dan selincah sepeda jenis All Mountain, karena bobotnya yang lebih berat, maka kurang cocok untuk digunakan dalam perjalanan jarak jauh dan sangat tidak cocok untuk tanjakan.

  • Down Hill (DH)

Untuk medan yang sangat ekstrem, sepeda gunung jenis ini mempunyai suspensi ganda (double suspension) untuk meredam benturan yang kerap terjadi ketika menuruni lereng dan dapat menikung dengan stabil pada kecepatan tinggi. Dirancang agar dapat melaju cepat, aman dan nyaman dalam menuruni bukit dan gunung. Sepeda jenis ini tidak mengutamakan kenyaman dalam mengayuh, karena sepeda jenis ini hanya dipakai hanya untuk menuruni lereng bukit atau gunung. Sepeda ini juga dipakai untuk perlombaan, sehingga yang menjadi titik utama dalam perancangannya adalah bagaimana agar kuat namun dapat melaju dengan cepat. Untuk menuju ke lokasi, para down hiller tidak mengayuh sepeda mereka, namun sepeda mereka diangkut dengan mobil. Sangat tidak efisien jika sepeda ini digunakan di dalam kota maupun di jalur cross country.

  • Dirt Jump (DJ)

Sepeda jenis ini awalnya dirancang untuk anak muda perkotaan, selain sebagai alat transportasi, untuk kebut-kebutan di jalan raya kota, juga digunakan untuk melakukan atraksi lompatan tinggi dan atraksi-atraksi ekstrim lainnya. Fungsi dari sepeda jenis ini sangat mirip dengan BMX, namun dengan bentuk yang diperbesar. Nama lain dari sepeda jenis ini adalah trial atau urban MTB.

Gowes dalam debu

Debu di Kampus Biru

Karena tidak ingin “Gowes dalam debu”, maka mas Joko Sumiyanto mengumumkan bahwa acara gowes ke Turgo Kaliurang pada hari Sabtu, 15 Pebruari 2014 dibatalkan. Pada FB beliau tertulis sebagai berikut :

“Dear goweser, karena hujan debu dan untuk antisipasi kondisi maka gowes Tour D Turgo sabtu 15 Februari, ditunda sampai kondisi bersih. Tim”

Ternyata respon teman beragam, beberapa orang tetap gowes, beberapa lainnya hanya “LIKE” status itu dan ada yang mengabaikan status itu dengan melakukan kegiatan lainnya.

Condroyono Hardjaningrat Lho kepiye to ? Tiwas wis siap siap je , debune dikon alihan arep nggo gowes”

Kang YAyan mas joksum masa kalah sama debu sih… hehehe”

Kang Tri Lakone Wooke masih banyak waktu…”

Prijoewo Guntoro Goowess ya gak apa2 koq mas Eko, pake masker …cuma ganti ban yang cocok u abu gunung …”

Hendro Wartatmo Turun dari pakem pk 7.30

Foto Hendro Wartatmo.
Pake mtb fulsus ban uk 250. Jalan diatas tumpukan abu ternys empuk-penak. Tdk akan ( mudah2an) terulang lagi
Pas naik ban dipompa keras ( 60 psi ), shock depan blkg di off kan. Pas turun shock di on kan, kalo perlu ban digembodi dikit . Pasti sip….. Manula sj kuat koq 😀😀🚴🚵”
Joko Sumiyanto Saya baru sampai rumah jam 12:00 juga gari Pakem, gowes heroik …. Sulit terulang… Gowes kali ini tidak tambah hitam tapi tambah putih hehehehe”
Eko Eshape Aku gowes kota-kota pakai masker, mulih rambut wis dadi gimbal tur putih.
Jiaaan debune ualus tenan, masuk tanpa permisi ….”
Pagi itu aku memang sepedaan berdua dengan istri meskipun ada pertanyaan dari istri,”Gowes di kondisi ini?”
Mosso sarapan di Kraton

Mosso sarapan di Kraton

Menikmati suasana Jogja yang berdebu memang membuat kita jadi makin yakin akan kebesaranNYA. DIA Maha mengatur semua ini. Hanya debu yang dia berikan di Jogja, tapi sudah cukup mengingatkan kita betapa di dekat Gunung Kelud, saudara, teman, sahabat kita sedang kesusahan menerima akibat letusan Gunung Kelud.

Menit demi menit beberapa stasiun TV menceritakan kondisi mereka yang ada di pengungsian. Meski bantuan terus mengalir, tetapi beberapa lokasi terlihat masih belum terjangkau oleh bantuan dari instansi resmi. Aku jadi ingat mas Kika dan mas Saptuari yang selalu langsung terjun ke lokasi bencana, menyisir lokasi-lokasi yang belum tersentuh oleh instansi resmi pemerintah.

Sampai saat ini mas Saptuari masih mengalokasikan sebagian waktunya untuk melakukan kegiatan kemanusiaan yang menguras tenaga dan pikiran. Salut untuk mas Saptuari dan kelompoknya yang tak kenal lelah melakukan berbagai usaha kemanusiaan.

Aku sendiri hanya bisa menyaksikan betapa rukunnya masyarakat Jogja dalam membersihkan kampung masing-masing. Beberapa gang ditutup sementara untuk lalu lintas, karena sedang dilakukan pembersihan dengan berbagai cara mereka masing-masing.

Jalan Wijilan yang tertutup debu tebal sudah terlihat bersih, karena semua warung gudeg di sepanjang jalan itu mengerahkan pegawainya untuk melakukan pembersihan di depan warung masing-masing. Merekapun sudah mulai berjualan gudeg khas Jogja ini. Masih banyak tempat yang belum berjualan dan masih banyak teman yang masih belum makan sejak kemarin karena pekatnya debu di Jogja.

Suasana di Kampus Jogja juga terlihat penuh dengan kegiatan bersih-bersih. Beberapa kampus mengerahkan tenaga kebersihan plus mahasiswa masing-masing, sementara di UGM hari ini hanya mengerahkan pasukan kebersihan masing-masing dan baru pada hari Senin akan mulai mengajak para mahasiswanya untuk bersih-bersih kampus.

Debu di Kampus Biru

Debu di Kampus Biru (Foto Pak BWS)

Debu dikumpulkan dalam kantong-kantong dan kemudian dibuang pada tempat yang semestinya. Dijaga supaya debu jangan masuk dalam saluran air/gorong-gorong/parit agar saluran air tetap berfungsi dengan baik saat hujan datang.

Ketika siang hari hujan datang (sebentar), kicauan di akun twitter saling bersahutan mengomentari turunnya hujan yang cukup mendebarkan. Maklum hujan di siang itu diselingi dengan angin berputar dan jarak pandang di dekat tugu hanya 5-10 m saja. Saat menerobos hujan, aku seperti masuk di dimensi lain, seolah-olah dari dimensi terang benderang masuk ke dimensi gelap gulita.

Banyak status teman-teman di FB yang bersyukur ada hujan di siang hari. Sedikit mengurangi mereka untuk membasahi debu yang ada di pekarangan masing-masing.

Gowes dalam debu ini semoga tidak terjadi lagi. Rambut jadi seperti sapu ijuk karena tersaput debu yang sangat halus. Meskipun pagi tadi sudah kramas, pakai peralatan sepeda lengkap, tetap saja badan jadi putih termasuk rambut yang dilindungi helm.

Pembersihan Debu di Kampus

Pembersihan Debu di Kampus (Foto pak BWS)

Gowes Ceria PARIS

Pos I : Gowes Ceria Paris

Gowes Ceria PARIS (Parang tritis) didahului dengan rembugan di beberapa group FB, BBM maupun WA (Whatsapp). Begitu antusias peserta yang mendaftar acara ini sehingga panitia jadi ketar ketir, karena cuaca sedang tidak bersahabat dan ramalan cuaca semakin hari semakin memberikan prediksi yang mengkhawatirkan.

Acara Gowes Ceria PARIS semakin mengkhawatirkan ketika beberapa peserta inti, para penggagas acara, mendadak mendapat penugasan lain, sehingga tidak bisa mengikuti acara ini. Bayang-bayang kegagalan acara sudah berada di pelupuk mata. Bersamaan dengan itu makin membludaknya pendaftar membuat panitia harus berpikir panjang. Stop peserta secepatnya, sehingga dapat diketahui jumlah pasti yang akan berangkat.

Gowes bareng dengan berbagai komunitas memang membuat panitia tidak bisa menentukan dengan pasti berapa yang pasti hadir dan berapa yang akan “loading” setelah sampai di PARIS.

“Aku masih khawatir sepedaku akan lecet jika ditumpuk dengan sepeda lain di dalam truk, jadi kuputuskan untuk pulang pergi Jogja PARIS gowes terus”, kata salah satu temanku. Pada kenyataannya, dia tidak membawa sepeda yang ditakutkan akan lecet jika bersenggolan dalam sebuah truk. Dia datang membawa sepeda yang lain.

Ada juga peserta yang terlihat ragu-ragu antara ikut dan tidak, apalagi dia datang dari jauh dan tidak membawa sepeda. Meski begitu aku tetap harus menyediakan sebuah sepeda untuk beliau, siapa tahu dia datang betulan dan perlu sepeda untuk dipakai gowes Jogja PARIS. Pada kenyataannya dia datang betulan dan sukses gowes sampai PARIS.

Hitung-hitungan di atas kertas, peserta sekitar 40 orang saja. Akupun menaikkan anggaran nasi bungkus, dari pesanan 50 bungkus kunaikkan menjadi 75 bungkus, meskipun pada hari “H” kuturunkan lagi menjadi tidak sebanyak itu, tapi aku tetap pasang angka aman di atas 40 bungkus.

JLFR (Jogja Last Friday Ride) pada 31 Januari 2014, sehari sebelum acara gowes Ceria Jogja PARIS, begitu ramai meskipun hujan turun sepanjang acara. Malam itu kota jogja jadi kota sepeda betulan. Pesepeda begitu dominan menguasai semua sudut kota Jogja, meskipun diiringi dengan hujan yang kadang deras dan kadang gerimis.

“Pak Eko, besok jadi sepedaan ke PARIS gak nih? Hujannya ngeri”, kata salah satu peserta.

“Pesepeda tidak pernah takut hujan mas. Pakai jaket hujan kalau perlu”, jawabku tegas, meskipun dalam hati aku merasa ketar-ketir juga. Kalau sampai banyak yang tidak hadir, maka semua persiapan ini akan musnah.

Konsumsi pagi berupa snack dan sarapan nasi bungkus akan begitu banyak tersisa kalau acara gowes CERIA ini tidak terlaksana dengan baik. Belum lagi sewa truk, minibus, pick up dan biaya mekanik serta sarana dan prasarana pendukung acara ini akan hilang percuma.

Jam 05:00 mas Anto, panitia gowes Ceria Jogja PARIS sudah menelponku,”Pak Eko, bu Yeni sudah siap?”

Menunggu goweser di ALTAR Jogja

Menunggu goweser di ALTAR Jogja

Akupun langsung meluncur ke ALTAR (Alun-alun Utara) tempat start acara ini. Beberapa teman goweser sudah menunggu sejak jam 5:00 di lokasi. Mereka rupanya sudah tidak sabar untuk segera berangkat ke PARIS. Namun aku menunggu para tamu jauh yang ternyata kesiangan bangun karena tadi malam memang hujan turun di seluruh daerah kota Jogja.

Setelah sejenak foto bersama, para goweser klotter pertamapun berangkat menuju pos regrouping pertama yaitu kampus ISI Jogja. Panitia inti tetap menunggu di ALTAR sampai peserta terakhir muncul dan langsung menyusul rombongan awal.

Suasana kampus ISI Jogja pada pagi hari itu menjadi meriah dengan munculnya rombongan narsis dari berbagai tingkat usia dan berbagai macam profesi. Semuanya bercanda ria menikmati suguhan Arem-arem Sehati, spesialis snack untuk para goweser S3Gama maupun komunitas Gowes Ceria Waskita.

Dalam hati panitia bersyukur dengan cerahnya cuaca pagi hari ini. Mirip dengan acara Gowes Ceria di PIK bulan lalu. Saat Jakarta diserang banjir dan diberi hujan setiap hari, justru pas acara Gowes Ceria di PIK cuaca sangat bersahabat. Mendung menggantung sepanjang acara, sehingga pantai yang panas menjadi terasa sejuk. Pantai Parang Tritis juga tidak mau kalah dengan memberikan kecerahan sepanjang acara berlangsung.

Semua peserta dengan selamat masuk ke pantai PARIS dan langsung menuju bibir pantai untuk bernarsis ria. Rombongan demi rombongan berdatangan dan mereka membuat group-group kecil untuk menuntaskan narsis masing-masing. Hampir tidak ada peserta yang langsung merasa lapar dan makan sarapan di lokasi yang sudah disediakan panitia. Mereka memilih segera berlari ke pantai dan saling memotret untuk mengabadikan Gowes Ceria PARIS ini.

Salah satu grup Narsis Gowes Ceria PARIS

Salah satu grup Narsis Gowes Ceria PARIS

Setelah puas berfoto baru mereka ingat belum makan pagi dan merekapun menyerbu lokasi parkir kendaraan dan orang yang sudah disiapkan. Panitia memang memilih tempat parkir yang bersebelahan dengan sebuah warung dan memagarinya, sehingga orang umum tidak bisa masuk ke lokasi panitia.

Beberapa peserta terlihat sangat menikmati suguhan dari panitia, tetapi ada juga beberapa orang yang rupanya ingin menikmati suguhan khas PARIS, angkringan murah meriah di pinggir PARIS. Meskipun setelah itu mereka merasa perlu menambah isi perut mereka dengan suguhan nasi gurih WIJILAN khas Jogja.

Perjalanan terberat justru ada pada etape terakhir, yaitu ketika matagari begitu teruik dan mereka harus gowes sepeda ke arah Jogja yang sedikit menanjak. Ada peserta yang hilang dari tim penjaring karena berbelok arah untuk menikmati cendol di sudut jalan Jogja PARIS.

Sekitar jam 14:00 semua peserta sudah termonitor melalui ponsel ataupun status FB masing-masing. Mereka sudah menikmati acara Gowes Ceria PARIS secara lengkap. Sampai bertemu di Gowes Ceria BELITONG dan CFD Monas Jakarta dalam waktu dekat ini.

Pos I : Gowes Ceria Paris

Pos I : Gowes Ceria Paris

Salam sehati.

Menulis buku sepeda

S3GAMA di Gelanggang Mahasiswa UGM

Baru kemarin aku bercerita tentang permintaan beberapa teman untuk menulis buku sepeda, pagi ini aku dikejutkan dengan lalu lintas di blogku yang melonjak tajam. Akupun jadi makin antusias untuk segera menulis buku sepeda. Ini momen yang tepat untuk menulis tentang kegiatanku bersepeda. Beberapa tahun ini memang aku sukses mengadakan gowes guyub di Jogja dan di Jakarta. Yang tadinya hanya angan-angan akhirnya menjadi kenyataan.

Lonjakan pengunjung blog

Lonjakan pengunjung blog (177 hourly views)

Pagi tadi aku juga mention kawan pesepeda dari S3GAMA Civeng dan mengajaknya untuk bersama-sama menulis tentang kegiatan sepeda. Namanya mas Pambuka Adi, seorang goweser yang juga suka menulis. Sementara itu mas Joko Suniyanto, seorang aktifis goweser dari S3 Gama juga, sudha menyediakan diri untuk membantu menyiapkan dokumentasinya.

“Apa fokus tulisan pada buku tentang sepeda itu mas Eko? Apa tentang spesifikasi sepeda, seri-seri sepeda atau tentang cara membuat komunitas sepeda?”, tanya kawanku

“Hahahaha…. fokus tulisan pada buku tentang sepeda itu adalah pengalaman bersepeda bagi para pemula. Misalnya bagaimana seorang yang divonis harus berolahraga tetapi sekaligus dilarang olah raga jalan kaki, atau cerita tentang seorang pesepeda pemula yang ikut rombongan goweser menaklukan gowes pertamanya. Jadi lebih fokus ke masalah yang biasa muncul pada goweser pemula atau mereka yang belum lama ikut komunitas sepeda”

“Itu cerita tentang mas Eko atau tentang goweser lainnya?”

“Tentu cerita tentang goweser pemula mas, cerita di buku ini tentang apa saja yang dialami oleh goweser pemula. Jadi bisa siapa saja. Bisa aku dan bisa tentang temanku mas”

“Itu sebabnya mas Eko ngajak mas Pambuka Adi ya?”

“Aku juga mengajak semua goweser yang ingin berbagi cerita. Akan lebih baik kalau mereka berbagi cerita plus mengirimkan fotonya”

“Wah di Cikarang banyak tuh mas yang punya cerita tentang goweser sejati dan goweser pemula”

“Hahahaha…. benar. Ada penulis hebat juga di Cikarang yang juga hobi gowes. Mas Amril namanya. Dia tidak hanya blogger nusantara seperti aku, tapi sudah mendunia. Mas Amril sudah kelasnya blogger internasional

“Yang jelas mas Amril memang blogger kelas berat, sama dengan Om Jay dan mbak Ajeng

Komunitas Gowes UGM (foto : Djoko Luknanto)

Komunitas Gowes UGM (foto : Djoko Luknanto)

Dalam berbagai kesempatan aku memang sudah dihubungi oleh penerbit buku maupun teman-teman alumni yang ingin Indonesia bertambah khasanah bukunya tentang sepeda, tapi dari sudut pandang yang lain. Mungkin memang sudah banyak buku tentang sepeda, majalah juga ada, tapi mereka beranggapan tulisan tentang sepeda dari seorang blogger mungkin akan berbeda ceritanya.

“Mas Eko pernah naik sepeda bambu?”

“Wah itu pasti sangat menyenangkan. Kapan ya bisa naik sepeda bambu?”

“Kabarnya mas Singgih Susilo Kartono yang membuat sepeda pagi-pagi (Spedagi) jadi terkenal sudah punya banyak sepeda bambu”

“Aku sudah daftar tuh acara SPEDAGI tahun 2014, tapi belum resmi”

“Maksudnya?”

“Baru daftar di FB, belum daftar ke Mas Singgih atau panitia”

Sepeda bambu memang salah satu jenis sepeda yang menarik hatiku. Beberapa foto tentang sepeda bambu dan cerita tentang sepeda bambu membuatku ingin meluncur ke Krajan Kandangan Temanggung Jawa Tengah, daerah dimana mas Singgih tinggal. Mungkin aku memang tidak akan beli sepeda bambu, karena rumahku yang sudah sesak oleh sepeda keluarga, tapi mencoba menaiki sepeda bambu pasti akan membuat sebuah pengalaman yang menarik.

Mas Singgih, alumni ITB, memang ingin mengembalikan desa pada fitrahnya. Jangan sampai kita dibutakan dengan kehidupan kota yang melenakan, tapi mas Singgih ingin mengajak kita untuk melihat desa dengan kearifan yang lebih. Melihat bahwa sumber kehidupan yang indah itu sebenarnya ada di desa. Keindahan pagi akan makin nyaman ketika dinikmati sambil naik sepeda. SPEDAGI, sepeda pagi-pagi, ditemani sebuah camera, apapun jenisnya, pasti akan membuat berkah pagi semakin lancar mengalir. Abadikan keindahan alam dan pajang dia di tempat kita bisa menikmatinya.

Sabtu, 1 Pebruari 2014, sehari setelah imlek, aku juga punya gawe untuk bersama-sama naik sepeda ke PARIS (Parang Tritis), pantai indah yang ada di Jogja. Tidak semua temanku mengikuti acara ini pada awalnya. Menurut mereka rute ke PARIS sangat menantang tapi bagi Goweser pemula atau mereka yang punya acara lain di pagi itu merasa akan pulang sampai sore, sehingga mereka berniat untuk melewatkan acara ini.

Setelah tahu bahwa akan ada angkutan balik dari PARIS ke Jogja, ternyata peserta jadi berlipat. Alhamdulillah. Gowes kali ini akan meriah, menyenangkan dan sesuai dengan falsafah gowes ceria.

“Berangkat barengan, sepeda barengan dan sampai barengan!”

Kalau dalam versi AUDAX, semangatnya adalah “Start Together, Ride Together, Finish Together!”

Audax Surabaya Jogja 325 km

Audax Surabaya Jogja 325 km

« Older Entries