ManTenaN (lagi)


 

Ada yang bilang, arti mantenan adalah “ngenteni mati” (menunggu datangnya kematian). Jadi begitu kita selesai menjadi pengantin (berarti kita sudah dewasa), kita harus lebih siap untuk bertemu Tuhan, artinya kita harus lebih fokus dalam mencari bekal, arti yang lain lagi, akan makin banyak rintangan untuk mencari bekal, jadi jadikanlah “mati” sebagai pengingat akan fokus hidup dan kehidupanmu.

Di dunia ini, kita diajarkan untuk mengingat 3 tujuan kita, yaitu jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Jangka pendek, kita harus mulai hari ini, saat ini juga, berbuat yang baik-baik, karena ada sepasang malaikat yang menyertai kita yang akan selalu mencatat apapun yang kita perbuat secara rinci tanpa pernah salah mencatat.

Jangka menengah, kita ajak orang lain berbuat baik. Mulai dari keluarga terdekat atau lingkungan terdekat kita, dan kita pesankan agar mereka juga melakukan hal yang sama dengan yang telah kita lakukan padanya, sehingga efek gerakan ini akan memunculkan terwujudnya Indonesia Emas 2020.

Jangka panjang, tentu kita ingin bertemu dengan Allah swt dalam kondisi bekal yang cukup. Padahal kita tahu, bekal kita sampai saat ini masih sangat minim, bahkan kalau melihat perjalanan hidup kita, kayaknya bekal kita tidak juga cukup memadai untuk menghadap Allah swt di hari kita dipanggil menghadap.

Perlu usaha yang lebih fokus dan kemauan yang sangat keras untuk mulai terus memikirkan tujuan jangka panjang kita. Jadikan tujuan jangka panjang kita sebagai tujuan yang paling utama, semoga tujuan yang lain akan mudah kita capai. (Amin)

Pulang dari Yogya, ternyata dapet kabar kalau Ayah Mertua meninggal dunia. Ini memang kuasa Allah, Dia tidak mau melihat kita menyaksikan kepergian ayah mertua, Dia ingin memberi pelajaran, bahwa maut bisa datang kapan-kapan.

Maut tidak mengenal usia, tidak mengenal waktu, tidak mengenal tempat dan tidak pernah beruluk salam. Dia hanya memberi pertanda bagi mereka yang mau membaca tanda-tandanya.

Jadilah kami “go show” hari itu juga. Rudi bersama istri, Tety, Dafin dan Fitri yang kami ajak dari Yogya ke Jakarta kemarin serta aku dan istri tercintaku. Lion Air, jam 11.30, menerbangkan kami ke Yogya.

Alhamdulillah, masih sempat melakukan sholat jenazah. Tadinya mau jadi imam, sehingga nanya kawan cara sholat jenazah yang benar agar tidak “mubadzir”.

Takbir I, baca fatihah, takbir II, sholawat Nabi, takbir III, doa untuk orang yang meninggal, takbir IV, doa dan salam.

Ternyata imamnya sudah ada, jadinya cukup berdiri di baris depan, jadi makmum. Jam 15.00 acara dimulai, sekitar jam 16.00 acara selesai dan aku langsung ke RS PKU Condong Catur. Rupanya sepeninggalku dari Yogya kemarin, ibu jadi sakit dan terpaksa harus dilarikan ke RS.

Banyak sekali yang menengok ibu sore itu, mulai dari kawan ibu, kawanku maupun saudara-saudara lain yang kebetulan tadi ikut melayat ke rumah ayah mertua.

Ibu selalu ceria saat bersama kita, apalagi ketika dipijat oleh temenku (pijat gratis ‘kali!:-), dan semoga sampai nanti terus ceria, agar penyakitnya segera pergi dan ibu kembali ke rumah untuk kumpul anak cucu lagi.

Ini benar-benar liburan desember yang penuh acara tak terduga, ketemu orang tak terduga dan jalan-jalan lewat jalan yang tak pernah kuduga untuk kulewati. Pasti nanti akan jadi manis kala dia udah jadi nostalgia, kalau sekarang sih yang terasa ya capeknya doank.

Allah telah menunjukkan kekuasanNya, dan kita sebagai hambanya hanya bisa menerima dan mencari hikmah dari semua kejadian ini. Insya Allah, kami sanggup mencarinya.

Amin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s