Laskar Pelangi


Laskar Pelangi

Aku mbaca laskar Pelangi ketika novel ini sudah masuk edisi cetak yang ke enam belas (Januari 2008). Padahal edisi pertamanya September 2005, jadi sudah ketinggalan cukup lama. 

Aku sama sekali tidak tertarik melihat begitu banyak orang menenteng buku ini, paling-paling “sok” pingin “ngintelek” aja, beli buku yang sedang trendy, begitu pikirku.

Akhirnya, ketika “iklan’ buku ini bertubi-tubi masuk ke telingaku, aku jadi nggak tahan lagi, dan kubeli buku ini di Mall Lippo Cikarang. Langsung tak “racunkan” ke anakku yang paling gedhe. Aku masih menganggap buku Karl May yang terbaik di jagad ini, jadi biar anakku sajalah yang mbaca dan nanti dia pasti bisa memberikan “iklan” yang paling dapat kupercaya.

Komentar anakku, “cara penuturan buku ini mirip  Karl May pak”

“Isinya, gimana? Mana lebih bagus dengan  Karl May?”

“Isinya bagus kok, baca sendiri aja ya pak..!”

Begitu mbaca selembar (saja), aku langsung terpana. Tak kusangka bisa sehebat ini tulisan  Andrea Hirata. Aku seperti tersihir untuk membaca dan terus membaca. Perlu perjuangan yang sangat berat untuk mencoba bernafas sebentar dan meletakkan buku ini.

Sungguh buku ini bernar-benar ajaib. Dia (Andrea Hirata) bisa membuat orang terharu biru dengan rangkaian kalimatnya yang meski sederhana tapi penuh makna. Betapa luas cakrawala berpikir AH (Andrea Hirata), sehingga dia mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang.

Kadang dia bisa bicara bagaikan ustadz, namun bisa juga bicara bagaikan penyair, dan kadang malah seperti  Nicolai Gogol. Kita bisa dibuat tersenyum kecut ketika membaca pelajaran moral yang dapat ditarik dari cerita banjir Nabi Nuh.

“..jika tak rajin sholat, pandai-pandailah berenang..”

Tidak salah bila  Syafi’i Maarif memberikan pujian terhadap buku ini:

“… sekiranya novel ini difilmkan, akan dapat membangkitkan ruh bangsa yang sedang mati suri…”

AH memang telah berhasil membuat cerita yang sangat indah dan cerdas tentang hidup dan kehidupan manusia-manusia sederhana, jujur, tulus, sabar, tawakal, ulet, gigih, penuh dedikasi, serta penuh takwa. Ah telah menunjukkan bahwa kemiskinan tidak berkorelasi dengan kebodohan maupun kejeniusan, begitu komentar  Korrie Layun Rampan.

Begitu piawai  AH merangkai kalimat sederhana menjadi suatu kalimat magis, sehingga pantat yang panaspun bisa menjadi adem. Benar kata orang-orang kalau sebenarnya tidak hanya AH saja yang sedang trance ketika menulis buku ini, tapi pembacanya ikut trance dan mungkin dalam kadar yang lebih.

Rugi bener kalau kita tidak mbaca salah satu keindahan sastra Indonesia ini. Bagi penggemar Karl May, bener kata anak saya, gaya bertuturnya mirip  Karl May tetapi dengan pokok bahasan yang sama sekali berbeda.

Selamat Membaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.