Kehangatan Istri



Apa sih enaknya naik angkot 59? Bukankah lebih enak naik mobil sendiri? Berangkat bisa sesukanya, tidak perlu ngetem dan perjalanan lebih tertentu waktunya.

Naik angkot itu, yang pertama ditinjau dari aspek K3, sangat tidak manusiawi. Sudah duduknyua empet-empetan, gak ada ruang gerak sedikitpun, masih ditambah “aroma” yang berwarna warni (terutama aroma ketika pulang kerja), belum lagi kalau ada insiden. Dalam kondisi normal saja, mau keluar susahnya bukan main. Apalagi kalau kondisi berebutan, gak kebayang deh…

Yang kedua, kalau pas dapet sopir yang “letoy” bin “gokil”, wah rasanya gak nyampe-nyampe ke cawang deh. Udah gitu badan ini seperti masuk mixer, dikocok-kocok sampai mual-mual.

Kalau dapet sopir yang baik sih, enak. Dia pandai memilih jalur yang tidak padat. Minimal memilih lajur yang paling tidak padat dibanding lajur yang padat.

Saat masuk tol, normalnya ambil lajur kanan. Kalau kurang ajar baru ambil lajur kiri di bahu jalan (ini cepat tapi bikin deg-degan). Kalau sempat dihentikan patroli, maka kecepatan yang diinginkan tetapi kelambatan yang didapat.

Masuk Bekasi barat, paling aman ambil lajur paling kiri (bukan bahu jalan). Jadi aman dari polisi dan begitu antri di pembayaran tol, sudah ada di jalur yang paling lancar.

Untuk menghilangkan aroma tubuh orang lain yang biasanya sangat “wangi” sehabis bekerja, maka jalan satu-satunya ya mencoba tidur nyenyak sepanjang perjalanan. Bila memungkinkan setel musik pakai headphone, atau pakai ilmu yoga (tarik nafas, tahan 4 hitungan, keluarkan lagi, dst).

Lalu dimana kelebihan angkot 59 dibanding naik mobil sendiri. Jawabnya, bisa banyak. Soalnya larinya bisa sangat subyektif.

Bagiku, dengan naik angkot 59, maka aku bisa pulang bareng istriku (kalau istriku pas ke kota). Minimal bisa antar jemput, dari rumah ke terminal 59.

Saat diantar ke terminal 59 atau dijemput di seputaran plaza JB, maka itu adalah saat aku bisa merasakan kehangatan cinta seorang istri pada suaminya. Suatu hal yang kadang langka.

Tadi malem, aku dijemput ama istri dan LiLo di depan arena pentas lumba-lumba. Dibelikan kerak telor lagi. Wah nikmat benar punya istri yang begitu setia. Ini mungkin yang disebut baiti janati, rumahku sorgaku.

Semoga keluargaku menjadi keluarga yang sakinah, mawadah wa rohmah.
Amin.

2 komentar

  • amin, semoga senantiasa langgeng ya mas 🙂

    Suka

    • amin
      makasih doanya ya mbak….

      salam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s