SPT kenapa harus dibuat?


Ini dialog yang kurekam dari suatu milis, ketika mereka membahas SPT.

TM :
Kenapa mesti bikin SPT lagi? Bukankah mestinya saya yang menerima tanda terima dan laporan penggunaaan pajak yang saya bayarkan?

AP :
Lagian kalo salah ngisi SPTnya malah nambah denda.
Hehehehe….

“Lunasi pajaknya, awasi penggunaannya”: gitu katanya 🙂

DL :
carane ngawasi kepie?
[bagaimana caranya mengawasi?]

AP :
Mungkin Mas Aditya van Kebumen bisa membantu kasih saran… 🙂

AN :
Saya sih nggak berminat mengawasi, serahkan aja ma LSM, DPR, KPK, Press (media), Inspektorat, BPKP, BPK.

Saya hanya minta pelayanan publik yang lebih baik buat para pembayar pajak. Jadi besok2 aparat negara itu cara pikirnya meraka adalah pelayan masyarakat (karena gajinya dibayar pembayar pajak), bukan lagi majikan masyarakat (karena dikasih wewenang mengatur).

DL :
wah..berarti iklan pajak yg di tivi tsb sangat menyesatkan
kalo memang tugas pengawasan hanya bs dilaksanakan oleh institusi
tertentu, ndak perlu lah ditayangkan di media massa dan menjadi
konsumsi publik.
Jak..jak wong pajak, pie ki iklanmu menyesatkan masyarakat. Mengko tak
laporke MUI lho ben atas laporan penyebaran ajaran sesat lewat media
massa 🙂

AA :

Saya jugak bingung kenapa harus bikin SPT.
Selain cuma menambah banyaknya pohon yg terbakar (seperti yg disinyalir Albert), itu cuma bikin double job aja.
Lha waktu mbayar emang nggak dicatat sama petugas?

Lagipula, jaman komputerisasi gini khan mustinya banyak data sudah bisa dikomputerisasikan.
Jika sudah bayar pajak lewat bank, biar bank saja yg melapor lewat sistim komputernya.
Ngapain tiap orang harus bikin laporan sendiri?

Ah, negara sudah merdeka 60 tahun lebih kok masih pakai sistim administrasi majapahit.

salam,

LD :
pembayaran pajak di bank langsung online dengan kantor pajak kok.
jadi mestinya kantor pajak sudah punya data pembayar pajak.
saya juga ndak ngerti kenapa harus bikin SPT lagi.
mana kalo telat kena denda lagi.
kalo telat mbayar pajak trus kena denda okelah.
tapi kalo sudah mbayar, trus telat ngelapor, dan kena denda, kayaknya aneh.
atau saya yang ndak ngerti masalah perpajakan.


salam,

IKD :
ini memang negri yang aneh .. 😦

ES :
aku ngisi SPT aja mumet
sudah selesai masih saja ada yang salah
akhirnya, salah benar yang penting dikirim saja
kalau bermasalah nantinya
yowis risiko

podho2 mumete
lebih baik mumet suk-suk aja
syukur dianggap bener sama kantor pajak.

salam

==== EOF

He..he..he.. untung aku sudah selesai membuat dan mengirimkannya.

Tadinya mau antri di kantor pajak, tetapi ternyata ramainya bukan main [pada sadar pajak atau takut denda ya?].

Akhirnya jalan-jalan di JB Plaza dan ada tempat untuk menerima SPT disitu. Ya sudah lunas sudah tugas tentang SPT ini.

Mari kita awasi penggunaannya.

Ada yang tahu cara ngawasinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s