Rani tetangga Pak Dhe

Bukan Remais MM

Pelan-pelan pak Dhe membuka pintu pagar halaman rumahnya. Pintu itu sedikit berderit ketika dibuka. Ketika pintu sudah terbuka, pak Dhe masih saja berdiri di depan pagar halaman rumah kecilnya.

Terbayang hari-hari kemarin saat Ajiz masih ada di rumah. Selalu saja Ajiz berlari menjemput kedatangannya. Tidak lupa lompatan khas Ajiz yang tak tahu pak Dhe sedang capai atau tidak, selalu saja melengkapi sambutan Ajiz pada Pak Dhe.

Beda banget sama Santi, yang kalem dan lemah lembut. Selalu saja Santi berjalan dengan cekatan tapi tetap menunjukkan kelembutannya, mencium tangannya dan membawakan apa saja yang dibawa Pak Dhe.

Biasanya istri pak Dhe sudah siap menyambut di pintu. Kadang dalam kondisi yang terlihat kecapekan, atau dalam kondisi yang nanggung, karena sedang mengerjakan sesuatu dan ditinggal untuk menyambut pak Dhe. Indahnya lagi, semua itu dilakukan bu Dhe dengan seulas senyum, seperti yang selalu diajarkan pak Dhe.

Meskipun badan capek, tapi kalau sudah menerima sambutan seperti itu, maka biasanya pak Dhe langsung terkekeh-kekeh dan bercerita apa saja yang dijumpainya hari ini, meskipun sifatnya hanya intro saja.

“Cerita lengkap habis maghrib ya”, begitu selalu akhir dari intro cerita pak Dhe.

Hari ini, bu Dhe masih di Solo, karena mengantar Ajiz ke rumah neneknya, sekalian menengok Santi yang ada di pesantren Gontor. Pak Dhe sendirian di rumah dan kini hanya bisa termangu-mangu di depan pagar rumahnya.

“Salam pak Dhe”, sebuah suara mengagetkan pak Dhe dari lamunannya.

“Wah, Bang Manurung ya. Rupanya tahu juga rumah pak Dhe”, asal tebak saja pak Dhe menjawab.

“Ini pasti orang yang tadi sore menelpon dan bilang kalau mau ke rumahku. Ciri-cirinya sama dengan yang digambarkan pada pembicaraan di telepon tadi”, begitu pikir pak Dhe.

Robert Manurung, lelaki tinggi tegap itu menyalami pak Dhe dan menyodorkan rokok pada pak Dhe.

“Rokok pak Dhe?”

“Wah maaf ya bang manurung. Aku sudah tidak merokok lagi

“Kenapa pak Dhe? Takut cepet tua ya?”

“Ah enggak. Perokok kan nggak ada yang tua, semuanya awet muda”

“Eh, darimana pula kalimat itu?”

“Iya bang, perokok itu belum tua sudah pada meninggal, jadi nggak ada perokok yang sampai berumur tua”

Robert Manurung bergelak tertawa mendengar gurauan pak Dhe. Badannya sampai terguncang-guncang ketika tertawa.

“Ayo masuk Bang”, ajak pak Dhe sambil berjalan menuju ke pintu rumah.

“Eit… tunggu pak Dhe. Aku cuma sebentar saja ini. Nanti malem aku mampir lagilah. Sekarang aku hanya ingin tahu alamat Rani. Aku mau kesana ini”

Rani berHijab

Rani berHijab

Pak Dhe tersenyum dan menunjuk ke rumah yang ada di seberangnya.

“Eh.. Rani jualan pecel lele ya?”, seperti terkaget-kaget Manurung bertanya pada pak Dhe.

“Emang kenapa bang?”

“Ah… aku tadi sudah makan disitu. jangan-jangan Rani pula yang kugodain tadi. Alamak, kacaulah dunia”

Pak Dhe tersenyum melihat tingkah polah Manurung.

“Rani masih kerja bang. Nanti abis Isya baru dia pulang. Yang abang godain mungkin kakaknya atau emaknya bang”

“Cem mana kok bisa kakaknya atau emaknya? Memang mereka mirip?”

“Ya begitulah bang. Mereka bertiga memang mirip banget. Aku mau sholat dulu bang. Mau ke rumahku dulu atau langsung ke rumah Rani terserah abang deh””

Pak Dhepun ngeloyor masuk rumah ketika dilihatnya Manurung masih saja terbengong-bengong, tapi terlihat melangkah pelan menuju ke warung pecel lele di depan rumah pak Dhe.

Sehabis sholat Maghrib, pak Dhe berdoa lebih lama dari biasanya.

Terbayang kisah emak Rani, Maisarah, yang ketika baru berumur 11 tahun dan sudah dinikahkan dengan seorang laki-laki yang lebih patut jadi engkongnya. Saat Rani berumur setahun, suami Maisarah meninggal dunia dan meninggalkan banyak warisan pada Maisarah.

Mereka bertiga hidup dengan rukun, meski tanpa sosok ayah dalam kehidupan mereka. Masalah baru muncul ketika saudara-saudara suami Maisarah mendatangi rumah Maisarah dan mengusir mereka bertiga dari rumah itu.

Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, tapi itulah yang terjadi. Untungnya masih ada salah satu dari mereka yang memberikan rumah kecilnya untuk ditempati mereka bertiga. Itulah rumah yang sekarang menjadi warung pecel lele Maisarah.

Kecantikan Maisarah membuatnya menjadi janda “kembang” yang menjadi taksiran para lelaki di kampung pak Dhe, tapi tekad Maisarah untuk hidup berarti buat anak-anaknya membuat Maisrah tidak gelap mata. Disambutnya kedatangan para lelaki itu tetapi tidak ada satupun yang diberinya harapan.

Berapa banyak lelaki yang kecewa dengan sikap Maisarah, tetapi Maisarah tetap pada pendiriannya. Sungguh suatu sikap yang patut diteladani. Dalam kondisi yang sangat terjepit, kekurangan modal dan kebutuhan yang terus meningkat tidak membuat Maisarah berbuat yang dilarang agama.

Kadang pak Dhe dan bu Dhe berbagi cerita dengan Maisarah. Biasanya terjadi saat Maisarah benar-benar seperti terombang ambing di kapal kecil di tengah badai laut yang ganas. Jiwa Maisarah saat itu sering terlihat rapuh, tapi nasihat pak Dhe dan bu Dhe sering membuat kapal itu tetap berlayar dan akhirnya tenang kembali bagai kapal besar di perairan yang tenang dan teduh.

Kadang pak Dhe sangat terkesan dengan cara Maisarah mendidik dua putrinya, yang selintas terlihat seperti adik-adiknya saja. maklum selisih umur mereka tidak sampai 15 tahun.

Di waktu dinihari subuh, sering terdengar suara mereka mengaji. Begitupun di saat malam telah lewat tengah malam. Meski lirih, pak Dhe sering mendengar alunan ayat suci yang keluar dari rumah Maisarah.

Pak Dhe kadang iri pada Maisarah. Jelas-jelas Maisarah sering belajar padanya tentan bagimana mendidik anak, tapi pak Dhe harus mengakui bahwa Maisarah lebih pandai mendidik anak dibanding dirinya.

Santi memang pandai mengaji, tetapi Rani tidak hanya pandai, diapun rajin membaca seara rutin, beda banget dengan Santi yang kadang rajin kadang tidak rajin.

Pak Dhepun bersyukur mempunyai tetangga seperi ibu Maisarah. Berkat dialah Santi mau sekolah di pondok pesantren, padahal tidak kurang-kurangnya pak Dhe mengarahkan Santi untuk sekolah di pesantren, tetapi semuanya gagal total. Santi tetap “kekeh” tidak mau sekolah di pesantren.

Sepulang dari sholat Isya di masjid, pak Dhe melihat Manurung yang sedang asyik ngobrol dengan Rani. Rupanya mereka sudah berkenalan dan terlihat keduanya terlibat dalam pembicaraan yang seru.

Ketika Manurung melihat pak Dhe yang akan membuka pagar rumahnya, langsung saja dia berdiri dan memanggil pak Dhe.

“Pak Dhe, minta waktu sebentar pak Dhe”, serunya

Pak Dhepun berhenti sebenar dan menunggu Manurung yang berjalan menuju ke arahnya.

“Ada apa bang?”

“Tolong pak Dhe jelaskan pada Rani. Kita akan melakukan shooting malam-malam, jadi tidak mengganggu pekerjaannya di siang hari. Bila perlu kita kerjakan sampai subuh pak Dhe”

Sambil tersenyum pak Dhe berbicara panjang lebar pada Manurung tentang ajaran agama yang dianut Rani.

“Malam itu adalah saatnya kita melaksanakan kewajiban kita terhadap tubuh kita, yaitu istirahat. Pagi sampai sore, adalah kewajiban kita bekerja untuk perusahaan tempat kita bekerja, tetapi saat jam kerja selesai, maka itulah waktunya kita menjalankan kewajiban kita terhadap keluarga kita”

“Tapi pak Dhe… dengan membintangi film iklan ini, popularitas Rani akan melejit dan ada kemungkinan dia nanti akan jadi bintang film terkenal. Ini kan jalan mudah menjadi bintang film yang mungkin tidak akan datang lagi. Ini kesempatan langka pak Dhe”

“Memang sulit dipahami bang, tapi Rani memang berbeda dengan remaja seumurnya. Biarpun boss bang Manurung yang datang, tapi kelihatannya Rani akan tetap pada pendiriannya. Yah, seperti yang kubilang di telepon tadi”

Malam ini Rani telah mengambil sikap yang tegas dan tepat. Pak Dhe bersyukur, karena nanti malam masih bisa menikmati alunan ayat-ayat Cinta dari Tuhan melalui suara Rani.

“ah baru sehari ditinggal istri, aku sudah merasa kesepian, padahal nanti tidak hanya sehari, tapi bisa berhari-hari tidak bertemu dengan anak istri, betapa cengengnya menjadi seorang laki-laki seperti aku”, begitu pikir pak Dhe sambil tersenyum kecut.

Bukankah ini suatu sikap yang egois. Dulu pak Dhe sering bepergian sampai berhari-hari meninggalkan anak istrinya, tetapi tak pernah BuDhe mengeluh kesepian ditinggal pak Dhe.

Sekarang ini, pak Dhe mungkin hanya beberapa hari saja ditinggal anak istri, tetapi pak Dhe sudah kelimpungan.

“Maafkan aku bu Dhe. Rasanya sorga memang layak berada di kaki ibu kita”

Rani Hijab

Rani Hijab

5 komentar

  • Cerita ini kembali kubaca dan aku mulai mengingat-ingat darimana ide menulis cerita ini 🙂
    Waktu cepat berlalu, ternyata ini tulisan sudah berumur delapan tahun 🙂

    Semoga tetap menginspirasi pembaca 🙂

    Suka

  • cerita yang menginspirasi, lagi di tinggal istri+putri juga,,,hiks…hiks

    Suka

    • wah matur nuwun sudah berkunjung ke blog ini

      senang juga melihat blognya, ada tulisan seperti ini

      “Free blog contents are available here”

      Nanti aku juga akan belajar dari blog itu.
      Makasih.

      Salam

      Suka

  • ini bukan Rani yg itu ya?
    🙂

    Suka

    • Insya Allah, bukan

      Hehehe… kok ya sama namanya ya

      Mas, kayaknya YM sampeyan ada pirusnya ya?

      Salam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.