SBY Presidenku, Bekasi Kotaku


“Assalamu’alaikum warochmatullohiwabarokatuh…”

“Wa’alaikum salaaaaaam……..”

“Salam sejahtera dan selamat PAGI!”

“PAGIIIII..!!!”

“Pesta pemilu sudah usai. Sebagian besar dari kita telah menjaganya dengan baik, sebagian lagi ikut sebagai pemain dan sebagian lagi sebagai penggembira. Semua dari kita telah berpartisipasi dalam pemilu ini, sesuai peran masing-masing”

“Ada yang menang dan ada yang kalah. Ada juga yang tidak merasa menang ataupun kalah. Ada senyum dan ada airmata. Ada juga sedih dan gembira. Semuanya sesuai peran masing-masing”

“…..”

“Saat ini, kita sudah berada di tempat yang sama. Kita sudah mendapat komposisi wakil rakyat yang syah dan juga telah mendapat pimpinan negara yang syah”

“Cukuplah kemacetan-kemacetan yang sudah kita perbuat, karena kalau ada kemacetan lagi, maka itu artinya kita masih belum bisa menerima keadaan ini”

“Saatnya sekarang untuk menyamakan langkah menuju satu tujuan. Kita bangun serpihan-serpihan luka yang ada dengan tekad yang sama dan arah langkah yang sama. Silahkan berlari cepat atupun berjalan tegap, tetapi arah harus tetap sama”

“Mulailah dengan yang ada di sekeliling kita. Kadang ada gesekan ketika pesta rakyat berlangusng, tapi itu sudah bukan masanya lagi untuk digesekkan terus. Kita perbaiki gesekan yang pernah ada dan kita saling jalin tali persaudaraan sebagai sebuah bangsa yang besar. Bangsa yang bisa menghargai pahlawannya”

“………”

“Sudirman sudah meninggal, tapi gambarnya masih sering kita lihat. Semoga gambar-gambar para pahlawan itu tidak membuat kita mata duitan tetapi mampu membuat mata hati kita melihat betapa bernilainya perjuangan mereka untuk Bangsa yang merdeka ini”

“……..”

“Kita lihat contoh terdekat saat ini. Bapak mantan wakil presiden begitu ikhlas menerima posisinya saat ini. Dia ikhlas mendukung siapapun yang jadi presiden kita. Jadi tidak ada salahnya kita juga ikut mendukung siapapun presiden kita, sepanjang dia sesuai dengan amanah kita. Kalau sekarang SBY yang jadi presiden, maka marilah kita dukung SBY. Kalau nanti saya yang jadi presiden, maka itu hanya mimpiku di siang hari bolong!”

Tertawa dan tepuk tangan membahana di ruang kecil itu. Hadirin tidak henti-hentinya memberi aplaus pada setiap penggal kalimat yang disampaikan Khalid di atas panggung.

Di pojok ruangan Pak Dhe tersenyum melihat tingkah laku Khalid di panggung yang seperti orator kawakan. Di sampingnya terlihat Udin juga ikut tersenyum-senyum. Ada binar mata bahagia di sepasang matanya.

“Kelihatannya Khalid sudah ikut pelatihan emce minggu lalu ya Din

“Dia lulus cum laude pak Dhe. Dia ternyata bisa melucu juga pak Dhe”

“Kamu yang buat naskahnya ya Din?”, ucap pak Dhe lirih, sambil matanya tetap mengarah ke panggung.

“Nggak pak Dhe, kita berdua yang mengerjakan”

Pak Dhe mengangguk-angguk, dia sangat paham bahwa jawaban Udin itu adalah untuk memberi porsi pada Khalid dalam pembuatan naskah pidatonya. Pasti Udin yang menulis dan Khalid yang mencetak dan membacakannya.

“Di antara para hadirin ini, saya tahu, pasti ada yang suka menulis tentang lingkungan kita. Tulislah dengan mata hati kalian. Kalau kota Bekasi ini indah, tulislah keindahannya. Kalau ada pelayanan jalan di kota Bekasi yang buruk, jangan segan menulis dan kalau ada perbaikan terhadap prasarana yang ada jangan lupa juga ditulis”

“Buatlah berita yang seimbang. Jangan pernah menulis karena permintaan orang lain, menulislah karena permintaan dari hati kalian masing-masing”

Tiba-tiba Udin menyenggol pak Dhe, “itu diluar naskah pak Dhe…”

Pak Dhepun melihat bahwa naskah di tangan Khalid mulai ditinggalkan. Terlihat Khalid sudah makin bersemangat dan mulai tidak membaca naskah lagi.

“Jangan sampai kita masih melihat pengemis di jalan-jalan. Anak-anak yang harusnya sekolah masih tidur di kolong jembatan saat jam sekolah. Jangan sampai kita lihat pemandangan itu lagi”

Tidur di Jam Sekolah

Tidur di Jam Sekolah

“Negara harus bebaskan biaya pendidikan
Negara harus bebaskan biaya kesehatan
Negara harus ciptakan pekerjaan
Negara harus adil tidak memihak”

Udin makin garuk-garuk kepala mendengarkan pidato Khalid.

“Itu lagunya Iwan Fals pak Dhe”, ucapnya sambil garuk-garuk kepala.

Di panggung, Khalid tetap semangat dan kertas pidatonya sudah benar-benar tidak dilihatnya.

“Negara harus berikan rasa aman
Negara harus hormati setiap keyakinan
Negara harus bersahabat dengan alam
Negara harus menghargai kebebasan
Itulah tugas negara
Itulah gunanya negara
Itulah artinya negara
Tempat kita bersandar dan berharap
Selain Tuhan”

Hadirin makin bertepuk tangan mendengar pidato Khalid yang menyentuh dan membakar semangat. Inilah satu-satunya peserta lomba Pidato “Aku Cinta Bekasi” yang benar-benar membuat penonton menjadi terbakar semangatnya.

“Hidup Bekasi!”

“Hiduuup!!!”

“Kalau kalian benar-benar warga Bekasi yang baik, mulai sekarang perhatikan lingkunganmu. Mulai dari keluargamu, rumahmu dan halaman rumahmu. Itu saja dulu!”

“Buatlah keluargamu menjadi keluarga yang baik, saling menyayang di antara sesama anggota keluarga. Bersihkan rumahmu agar nyaman ditinggali, biarpun mungkin tetap terasa sempit, tapi lapangkanlah terus hatimu. Semoga rumahmu terasa lebih lapang”

“Tanam pohon sekecil apapun di halaman sempit rumahmu, karena itu akan membuat alam mencintai dan menyayangimu”

“Setelah itu, jangan lupa bergaulah dengan orang-orang yang baik

Kembali Udin garuk-garuk kepala, “Itu mah ceramah ustadz di masjid kemarin malem pak Dhe”. Pak Dhepun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil mendengar bisikan Udin.

“Aku Cinta Bekasi!”

“Aku Cinta Bekasi!”

Tepuk tangan membahana ketika Khalid turun dari panggung. Beberapa orang yang dilewatinya mengulurkan tangan mengajak berjabat tangan dan Khalid dengan mantap menerima semua uluran tangan itu sambil memasang senyum khasnya.

Orang paling akhir yang diajak berjabat tangan adalah Pak Dhe.

“Maaf pak Dhe aku gagal lagi”, bisiknya lirih.

“Darimana kamu tahu kalau gagal?”, pak Dhe seperti biasa tidak mau mengikuti energi negatip yang dikeluarkan oleh Khalid. Tidak ada kegagalan dalam memompa energi positip.

“Aku sudah diluar kendali. Aku bahkan sudah tidak membaca naskah pidatoku lagi”

“Jadi tujuanmu kesini membaca pidato atau memberi pencerahan pada penonton?”

Khalid terdiam mendengar pertanyaan pak Dhe. Diapun jadi bingung sendiri. Tujuan awalnya mengikuti lomba pidato adalah ingin menunjukkan bahwa dia bisa berpidato di depan umum dan bisa menjadi juara pidato, meskipun dia tidak pandai merangkai kata. Dia cukup membacakan naskah pidato yang dibuat Udin dan dia yakin bsia membawakannya dengan baik.

Naskah itu sudah diserahkannya ke dewan Juri, tapi saat dia di panggung, tiba-tiba ada yang lebih penting daripada apa yang ada dalam naskah itu dan akhirnya diapun berpidato tanpa naskah.

Jelas dewan Juri akan melihat perbedaan yang sangat mencolok antara naskah pidato dan apa yang diucapkan Khalid di panggung.

“Tadinya aku hanya ingin membawakan naskah pidato ini pak Dhe, tetapi sambutan gegap gempita penonton membuat aku tiba-tiba ingat lagunya Iwan Fals dan ingat ceramah ustadz tadi malam. Itulah yang akhirnya kukeluarkan di atas panggung”

“Menurutku itu sudah benar. Lomba ini hanyalah lomba biasa, tapi yang penting adalah bagaimana kita bisa menunjukkan apa yang ada dalam hati kita pada orang lain dan bagaimana orang lain merespon suara hati kita. Itu lebih penting dari kejuaraan pidato ini”

Kalimat pak Dhe begitu meresap di hati Khalid. Kalimat itu terus melintas, meskipun Khalid sudah berbaring di kasurnya.

Di atas meja, di samping ranjangnya, Khalid terlihat sebuah piala juara pidato antar kecamatan di Bekasi berdiri tegak seolah-olah memberi ucapan selamat tidur buat Khalid.

“Alhamdulillah”

7 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s