Ulang Tahun lagu Melati dari Jayagiri

Yeni Rumiyaningtyas

“Buat para sahabatku, inilah hari istimewaku. Hari ulang tahun lagu Melati dari Jayagiri yang kuciptakan 42 tahun yang lalu”, begitu sapa Abah Iwan Abdurahman dengan senyum khasnya.

Penampilan yang apik telah ditunjukkan oleh seorang Abah Iwan yang sudah berumur 63 tahun tetapi tetap dengan energi yang seolah tak kenal habis.

“Bener tuh, saya tahan nyanyi 30 lagu tanpa henti, pendengarnya justru yang tidak tahan, hahahaha….”

Berderailah ketawa kami, para sahabat Iwan, begitu Abah menyebut kami.

Abah memang senang menyanyi dimana saja, di hutan, di pantai atau di tempat-tempat yang bisa mendekatkan Abah dengan kehidupan dan alam. Dalam menyanyi Abah hanya ingin menyampaikan uneg-uneg yang ada dalam hatinya, jadi dia memilih menyanyi di hadapan mereka yang dengan setia mendengarkan nyanyiannya tanpa pernah memberi jeda menyanyi.

Suatu ketika Abah sedang melamun di lepas pantai dan selama beberapa hari Abah melihat sebuah perahu kecil yang terlihat tak berdaya di laut. Pikiran Abahpun berkelana dan akhirnya munculah sebuah lagu yang sangat menginspirasi dan mendapat penghargaan luar biasa dari dunia internasional. Itulah lagu “Burung Camar” yang dibawakan dengan sangat pas oleh Vina Panduwinata.

Malam ini, di ulang tahun lagu Melati dari Jayagiri, Abah Iwan menyanyikan lagu “Burung Camar” dengan cengkok yang sangat berbeda dengan cengkok Vina. Suara Abah memang tidak seindah Vina, tetapi ruh lagu itu jadi terasa sangat dalam di tangan Abah Iwan. Kitapun terhenyak, persis seperti saat Abah Iwan melihat sebuah perahu di tengah-tengah laut, terkatung-katung.

Ada nada sendu yang menyayat di lagu itu.

“Saat kita membuang makanan karena kekenyangan dan tidak bisa menghabiskan makanan yang tersedia di meja, maka di saat yang sama masih banyak jutaan orang yang untuk makan saja tidak ada yang bisa dimakan”

Tiba-tiba ‘ku tertegun lubuk hatiku tersentuh
Perahu kecil terayun nelayan tua di sana
Tiga malam bulan t’lah menghilang
Langit sepi walau tak bermega

Tiba-tiba kusadari lagu burung camar tadi
Cuma kisah sedih nada duka, hati yang terluka
Tiada teman, berbagi derita,
bahkan untuk berbagi cerita

Bagaimana Iwan menggambarkan sepinya hati dari seorang yang tidak bisa berbagi cerita terasa sangat menyentuh. Anak istri kita kadang memerlukan kita ada di sisinya bukan untuk dimintai pendapat atau apapun, tapi mereka sebenarnya hanya butuh didengarkan. Mereka butuh tempat untuk berbagi cerita.

Mari kita lihat hidup kita ini, kepada siapa kita lebih banyak menghabiskan waktu kita. Siapakah yang pernah kita berikan kesempatan untuk berbagi cerita?

“Loh..kok jadi pada serius gini? Abah hanya ingin bernyanyi bergembira bersama-sama, jangan terlalu serius donk”, senyum mengembang di bibir kami setiap Abah Iwan melemparkan gurauan-gurauannya.

Abah Iwan memang fenomenal. Bahkan majalah roling stones merasa wajib memberikan penghargaan khusus pada Abah Iwan.

Ada cerita menarik di tahun 1969, yaitu ketika Trio Bimbo menyodorkan beberapa contoh lagu karya Iwan Abdurahman seperti “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyan” ke Remaco, perusahaan rekaman yang dipimpin Eugene Timothy. Seperti kita tahu, lagu itu ditolak dengan alasan tak memiki nilai komersial. Kenyataan ternyata berbicara lain. Lagu itu sampai sekarang masih terus hidup dan menerangi hati-hati yang perlu pencerahan.

“Lagu flamboyant adalah lagu yang sangat berkesan bagi saya. Itulah saat saya melihat calon istri saya ketika dia masih SMA, eh…masih SMP malah !”

“Saat para cowok kaya raya mendekati sang cewek, saya hanya bermodal sepeda butut dan ternyata sayalah yang akhirnya berhasil menyunting gadis itu dan lagu flamboyan ini selalu mengingatkan saya pada keindahan suasana saat itu”

“Coba lihat fenomena saat daun-daun flamboyant berguguran di tanah, sangat indah sekali. Semuanya memberikan pancaran keagungan Tuhan”

Filosofi daun jatuh adalah filosofi kematian yang tidak bisa dielakkan oleh siapapun. Semua yang hidup di dunia ini pasti akan mati, akan berguguran bagai daun yang turun ke bumi. Tinggal kita bertanya pada diri kita sendiri, siapkah kita saat kematian datang menjemput kita?

Sudah siapkah bekal yang kita akan bawa di hari kita menghadap Sang Pencipta? Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing.

Tak terasa malam makin menjelang dan saat lampu dihidupkan tanda selesainya acara, kita semua baru tahu kalau Dik Doank dengan khidmat ikut menikmati acara ini.

Sungguh pemandangan yang menggambarkan eratnya persahabatan antar para musisi itu. Ternyata banyak sekali sahabat-sahabat Abah Iwan yang berdatangan untuk saling bertegur sapa.

Keinginanku untuk ngobrol dengan Abah Iwan kutunda saja dulu, kulihat mereka asyik bersenda gurau. Kutuangkan saja kesanku pada Abah Iwan di blog ini. Kalau ada waktu dan kesempatan, mungkin suatu waktu aku akan menghadiri lagi saat ada acara ulang tahun lagu Abah Iwan yang lain.

+++

4 komentar

  • duh, lagu2 jaman saya blom ngerti apa2
    kalo melati dari jayagiri udah pernah dengar

    kalo flamboyan…
    yang liriknya “flamboyan berguguran berjatuhan…dst” bukan ?

    Suka

    • bener tuh
      hahaha… itu dia lagunya

      itulah lagu Abah Iwan ketika bertemu dengan pujaan hatinya

      Suka

  • Selamat ulang tahun pak Eko, untung saja nga barengan kemarin sama saya.

    Suka

    • hehehe…..
      yang ulang tahun lagunya Abah Iwan pak Ipung

      salam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s