Sang Pencerah : Wajib Tonton !


Bagi mereka yang ingin mengenal Islam dan bedanya dengan Muhammadiyah, maka film ini sangat pantas untuk ditonton. Bagaimana sekelompok orang Islam bisa bertindak brutal dan bagaimana sekelompok lainnya bisa bertindak penuh budi pekerti, semuanya ada di film ini.

Muhammdiyah bukanlah organisasi Islam, tapi adalah organisasi pendidikan. Bukan tempat untuk mencari hidup tetapi tempat untuk berkumpulnya beberapa orang dalam menyeru kepada kebenaran melalui tindakan nyata yaitu melalui dunia penidikan dan kegiatan sosial.

Hormat Ala Tapak Suci

Hormat Ala Tapak Suci

Bagi para pendekar Tapak Suci tentu sangat memahami hal ini karena setiap mereka memberi salam maka posisi kedua tangannya adalah perlambang dari amar makruf nahi munkar.

Berdirinya beberapa panti asuhan Muhammadiyah adalah berkat pelajaran tentang Surat Al Ma’un oleh KHA Dahlan. Surat dalam AL Quran tidak hanya untuk dibaca tapi untuk dipraktekkan dan praktek nyata untuk surat Al Ma’un adalah dengan menyantuni anak yatim.

Klenik dalam Islam jaman dulu

Klenik dalam Islam jaman dulu

Film ini benar-benar menggambarkan perjuangan KHA Dahlan sejak dia masih menjadi Darwis sampai dia berubah nama menjadi Haji Dahlan. Darwis muda sudah gerah dengan ritual Islam yang sering melenceng dari Quran dan Hadits, sehingga ketika ilmunya makin mencukupi maka mulailah dia bergerak untuk menunjukkan islam yang sesuai ijtihadnya.

Banyak sekali kalimat-kalimat khas Muhammadiyah yang muncul dalam dialog-dialog yang begitu fasih dibawakan oleh para aktor yang semuanya bermain dengan apik. Semua tokoh telah memainkan peran masing-masing dengan benar, sehingga film terasa mengalir begitu cepat dan tahu-tahu sudah hampir dua jam kita terpaku menyaksikan film ini.

Pemunculan suasana kota Jogyakarta di jaman dulu juga lumayan digarap dengan apik, misalnya beberapa adegan di sekitar tugu Jogya maupun di stasiun Lempuyangan. Meskipun terlihat ada rekayasa disitu, tetapi sangat natural sehingga membuat para penonton merasa terbawa ke Jogyakarta beberapa tahun lampau.

Bagi penonton dari Jogyakarta tentu ada yang merasa aneh ketika perjalanan dari rumah Dahlan menuju ke Lempuyangan harus melalui Tugu, tapi secara keseluruhan adegan ini tidak mempengaruhi jalan cerita. Keinginan untuk selalu menampilkan tugu tahun dulu begitu kuat sehingga sutradara selalu mencoba menampilkan tugu dalam beberapa adegannya.

Adegan terakhir terasa sangat halus disampaikan oleh sang sutradara. Itulah saat Dahlan mulai menyadari bahwa bersikap keras saja tidak cukup, perlu adanya win-win solution tetapi dengan tetap menjaga keyakinan yang dipegang teguh. Menghargai pendapat orang lain adalah sesuatu yang harus tetap dipertahankan disamping memegang teguh keyakinan yang ada di dalam hati kita masing-masing.

Sesama muslim adalah bersaudara dan tidak layak untuk saling bermusuhan.

Lukman Sardi bermain sangat apik dalam film ini. Dia bisa menggambarkan betapa rapuhnya Dahlan ketika begitu banyak hujatan menimpa dirinya tetapi dia juga bisa menunjukkan betapa tegarnya hatinya terhadap keyakinan yang dipegangnya.

Nyi Dahlan juga terlihat begitu lugu dan patuh dengan suami.

“Saya tidak tahu lagi siapa yang benar. Apakah suamiku atau orang lain, tapi aku wajib menurut pada suamiku dan itulah yang kuyakini kebenarannya”

Kalimat indah ini meluncur dengan lembut dari mulut Nyi Dahlan. Sungguh luar biasa indah kalimat ini. Kalimat yang sangat sederhana tapi sangat sulit dicari orang yang bisa melakukan hal seperti Nyi Dahlan di jaman ini.

Itu juga yang mungkin membuat kumpulan Ibu-Ibu Aisyiah terlihat sangat bangga kala mendampingi para anggota Muhammadiyah melakukan kegiatan apa saja. Mereka merasa apa yang mereka lakukan adalah demi beribadah padaNya.

Jika penasaran dengan film ini dan ingin melihat potongan filmnya silakan lihat di bawah ini.

Melalui film ini kita bisa melihat betapa sulitnya Dahlan ketika mencoba merubah arah kiblat Masjid Agung Kauman, bahkan Dahlan harus rela suraunya dirobohkan oleh mereka yang tidak setuju dengan pendapatnya.

Dahlan memang seorang yang sanghat kontroversial di jamannya. Dia adalah Kiai Kafir yang jika didekati bisa menjadi ketularan gila. bagaimana tidak, ketika dia ditanya tentang agama, maka Dahlan menajwabnya dengan bermain musik.

“Agama adalah sesuatu yang menyenangkan menentramkan bagi yang memeluknya. Akan tetapi bila kita tidak menguasai ilmu agama, maka agama bisa menjadi suatu hal yang menyakitkan bagi kita dan bagi orang lain di sekitar kita”

Sebuah kalimat yang kembali membuat kita terangguk-angguk. Bahkan Ketua Muhammadiyah saat ini (Din S) telah menonton film ini sampai 6 kali.

“Oleh karena itu siapa nanti pejabat, tokoh lain yang ingin nonton dan memerlukan keikutsertaan ketua umum Muhammadiyah, saya menyediakan waktu. Apalagi nontonnya gratis. Dan walaupun sudah enam kali nonton, saya tidak merasa bosan. Makin lama nonton, makin asyik. Kalau tidak percaya, tontonlah beberapa kali lagi,” kata Din seperti dimuat dalam tribun news.

+++

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung”

+++

Gambar diambil dari sini dan dari sini

dibalik layar

dibalik layar

13 komentar

  • muhammad allif nurron akhlaq

    yg punya hati yg suci pingin lihat film ini sampai selesai

    Disukai oleh 1 orang

    • ini memang film yang sangat bagus
      mendidik dan menghibur

      salam sehati

      Suka

  • saya nonton dua kali mas, adegan yang berkesan menurut saya pas di kereta ketika dahlan mau minggat, setelah itu walidah memberikan perhiasannya untuk jalan dakwah.

    Disukai oleh 1 orang

    • Yes….
      Yang punya hati biasanya akan tersentuh

      Suka

  • salam kenal pak, saya masih baru nih di dunia blogging

    Suka

    • salam kenal kembali
      makasih komentarnya ya

      salam sehati

      Suka

  • Ping-balik: Darah Garuda 2 : Heroisme ala Rambo « Kehangatan Blog Eshape

  • Ping-balik: Sudah nonton Sang Pencerah? Harus itu… | Komunitas Blogger Bekasi

  • suasana konfliknya tinggi. tapi sayang hanya disebabkan masalah sepele (salah dengar : resident dan president). alangkah baiknya jika masalahnya dibuat berat jga spt film Perempuan Berkalung Sorban.

    Tapi jangan2 memang benar seprti analisa mas ekho, “keras saja tidak cukup, harus ada win2 solution.” Jika masalahnya dibuat berat bakal bersinggungan dengan organisasi selevel.

    Disukai oleh 1 orang

    • hehehe….
      mas Novi sudah mafhum ya

      makasih komentarnya mas

      salam sehati

      Suka

  • Betul… ini film bagus. Saya sudah nonton dan menulisnya. Tapi tak mampu menulis banyak seperti Pak Eko…. karena bagi saya keindahan film ini tak terkatakan.

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=424987235059

    Disukai oleh 1 orang

    • link note saya tentang film ini. Tapi dari versi bukunya.
      http://www.facebook.com/notes.php?id=1351477252&notes_tab=app_2347471856#!/note.php?note_id=424987235059

      Disukai oleh 1 orang

    • langsung ke TKP mas

      Salam Sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s