TAXI Bandara Soeta (yang mahal)


Ternyata pengalaman naik taksi dari beberapa teman cukup menarik untuk ditulis di blog ini. Beberapa pengalaman ini masuk ke kotak suratku setelah aku mengirimkan tulisan tentang adanya sopir taxi “resmi” berargo yang menawarkan paket perjalanan dari airport Cengkareng tanpa memakai argo.

Ketika aku menolak permintaan ini, maka aku dibuat terkejut dengan angka yang tertera di argo taxi.

“Kayaknya kok cepet banget nih jalannya sang argo?”, kataku dalam hati.

Akupun menulis di milis yang kuikuti dan juga di grup BBM. Kurang lebih begini tulisanku :

Dari Cengkareng seperti biasa aku naik taxi ke Cawang.
Baru sampai pintu tol kapuk kok udah >50 ribu ya argonya.
Biasanya sampai Cawang cuma 100 ribu.
Apakah ada perubahan tarip taxi ya?
Sopirnya tadi nawarin bayar borongan saja tanpa argo, tapi kutolak.
Kita tunggu saja berapa biayanya kalau udah sampai Cawang.

Tak lama aku menulis, banyak masukan dari teman-teman tentang suka duka naik taksi di Jakarta. Ada dua tulsian yang menurutku cukup menarik untuk kita ketahui bersama.

Yang pertama adalah tentang semangat ngeyel kalau merasa benar.

Temanku itu ngeyel karena biasanya dia harus membayar 100 ribu untuk rute yang biasa dijalaninya ternyata argonya menunjukkan angka dua kali lipat. Dengan nekad dia tetap membayar sesuai biasanya dia bayar dan akhirnya terjadilah “eyel-eyelan” dan berakhir dengan saling menggerutu.

Yang kedua adalah tentang masih adanya hati di jakarta yangh tak kenal hati ini.

Saya punya pengalaman menarik naik taxi exp**s.

Awal bulan lalu saya hendak naik bis dari jakarta ke semarang via rawamangun. Dikarenakan menjelang long week end,saya kesulitan mencari taxi di cawang. Hampir 1jam saya menunggu, tidak ada yang lewat sama sekali. Tiba-tiba saya lihat taxi putih dengan lampu atas mati berhenti di depan hotel patria park. Saya coba dekati, si supir bilang dia tidak narik karena argonya mati dan dia tidak berani angkut penumpang.

Setelah saya paksa (karena kepepet waktu), dia mau juga dengan kesepakatan harga Rp. 40.000.

Sesampainya di rawamangun, saya ulurkan uang saya Rp. 50.000 dan tiba-tiba dia bilang, “mas, 30.000 aja deh,saya kembalikan 20.000”.

Saya tanya, “emang kenapa mas? Kan tadi dah sepakat 40.000”.

Supirnya bilang, “gak macet,mas. Harga itu kan asumsi saya macet”.

Saya bilang lagi, “‎​Ɣª udah, kita kan udah deal 40.000, mas kasih kembalian saya 10.000 aja. Anggap aja yang 10.000 bonus dari saya karena dah carikan saya jalan yang gak macet jadi bisa sampe terminal dalam waktu 20mnt”.

Masih ada juga ‎​Ɣª supir taxi di Jakarta yang begini.

Maklum, saya gak pernah hidup lama di jakarta (paling cuma 1-2 hari setiap bulannya) jadi di otak saya cuma ada asumsi bahwa di Jakarta itu “gak licik gak dapet duit”. Hehehe..

Saat sampai Tebet, kulihat jam menunjukkan pukul 21.25 wib, kulihat argonya sudah di atas 100 ribu, padahal biasanya masih di bawah angka 100 ribu. Mbak Tyaz, salah satu temanku,  juga mengatakan untuk jalur yang kulalaui biasanya di bawah 100 ribu.

Hari ini dapat pelajaran berharga untuk berlatih ilmu ikhlas. Aku tidak punya bukti apa-apa untuk menuntut sopir taksi, salah-salah malah ikut masuk penjara kayak kasus Prita.

Semoga aku yang salah lihat dan buat sang driver, aku mohon maaf kalau aku yang salah. Kalau aku yang benar, semoga Allah swt membimbing anda. Amin.

14 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.