Film Asing dilarang ?Alhamdulillah (?)


Nonton film sekarang jadi mudah dan murah. Cukup berbekal uang 6 ribu rupiah sudah bisa nonton film apa saja. Gedung bioskop juga sudah bisa dikurangi jumlahnya dan bisa dipakai untuk acara pentas musik atau pentas apa saja.

Penggemar film pocong sexy juga bisa terlampiaskan keinginannya, karena nanti tidak ada lagi saingan film asing. Film mistik yang penuh dengan adegan cewek berbusana minim juga bisa menjadi mat apencaharian sendiri yang super laris karena memang hanya peran seperti itu yang sedang atau yang akan ngetren di masa-masa yang akan datang.

Begitulah komentar miring dari mereka yang gemar film asing dan kurang suka film pocong sexy.

Lalu sudahkah kita mencoba bertanya pada para penggemar film Indonesia sekelas film pocong sexy? Jangan-jangan mereka punya pendapat yang tidak diperhitungkan tetapi justru memberikan pencerahan.

Selama ini di masyarakat kita sudah muncul anggapan bahwa film asing bagus dan film Indonesia jelek. Padahal tidak semua film asing baik dan tidak semua film Indonesia jelek.

Masyarakat telah jenuh dengan berbagai sinetron, mulai POLRi vs KPK sampai kasus Bank Century yang tak juga kunjung selesai. Kayaknya kasus pelarangan film asing ini akan hilang sendiri dan masyarakat akan kembali disibukkan dengan kehidupan mereka yang masih terus berat dari waktu ke waktu.

Kereta tanpa masinis (Unstoppable)

Kereta tanpa masinis (Unstoppable)

Kita ambil hikmahnya saja, daripada sibuk memikirkan pelarangan film asing, masih lebih baik ikut mencarikan solusi bagai para pekerja bioskop yang mungkin sebentar lagi akan mulai gulung tikar. Kecuali ada win-win solution.

Keputusan yang terasa mendadak ini memang menyentak, tapi kalau cineas Indonesia tertantang adrenalinnya untuk membuat film yang bagus, maka pelarangan ini menjadi suatu hal yang positip.

Yang jelas kegiatanku melakukan review terhadap film yang kutonton akan mengalami penurunan.

+++

updated :

mau tahu cerita sebenarnya tentang carut marut import film ini silahkan baca disini, cuplikannya silahkan baca di bawah ini :

Karena di TV, Radio, koran, dan di twitter ramai tentang Hollywood akan berhenti mengirim film ke Indonesia, dengan alasan ada peraturan/regulasi baru, mereka akan dikenakan pajak yang tinggi (tanpa menerangkan nomer dan tanggal peraturan yang dimaksud), maka perlu diluruskan hal-hal sebagai berikut:

I. Tidak ada peraturan/regulasi baru yang akan mengenakan pajak yang tinggi dan merugikan usaha mereka, tapi SURAT EDARAN (SE) Dirjen Pajak No. 3 tanggal 10 Januari 2011 hanya menegaskan agar mereka (importir dan Hollywood) harus bayar pajak impor yang benar dan wajar sesuai ketentuan peraturan perundangan (UU pajak dan UU Kepabeanan) yang ada dan berlaku.

Dengan demikian :

  • tidak merugikan negara dan bangsa Indonesia.
  • keberadaan film asing tidak menekan perkembangan film nasional.
  • tidak ada yang menjadi korban karena dianggap menyalahgunakan wewenang membantu penghindaran/penggelapan pajak impor film.

II. Pernyataan Noorca Massardi bahwa importir bayar 23,75% itu menyesatkan,seolah-olah telah kena beban yang tinggi, karena tidak diterangkan 23,75% itu terdiri dari pajak apa saja dan dari nilai berapa?

23,75% terdiri atas:

  • BM (Bea Masuk): 10% dari Nilai Pabean.
  • PPN (Pajak Pertambahan Nilai): 10 % dari (Nilai Pabean + BM) = 11% dari Nilai Pabean,
  • PPH (Pajak Penghasilan): 2,5 % dari (Nilai Pabean + BM) = 2,75 % dari Nilai Pabean,

12 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.