Selamat Malam Yogyakarta


Kehidupan malam selalu identik dengan Malioboro. Jaman presiden malioboro masih merajai jalanan yang membentang dari Tugu sampai alun-alun utara, maka malioboro seperti kamar tidur yang nyaman bagi para seniman Yogya.

Apa yang ada pada hari itu dibagi bersama dan kalaulah habis pada hari itu juga, maka tak pernah ada sesal jika besoknya harus hidup tanpa rejeki materi.

“Hari ini adalah hari ini dan besok itu adalah rahasia Tuhan!”

Para seniman, dimanapun mereka berada, memang adalah sosok yang lebih dekat dengan hati dibanding pikiran.

Itu membuat seniman menjadi sosok yang tidak populer di tahun-tahun 70an.

Kalau dibandingkan tahun ini, maka kehidupan pekerja seni zaman ini seperti langit dan bumi dibandingkan dengan kehidupan pekerja seni dua tiga puluh tahun lampau.

Meski begitu, pekerja seni di Yogya yang masih setia akan keistimewaan kota Yogyakarta, pasti tidak berbeda terlalu jauh dengan para pekerja seni di Yogya 20 tahun lampau.

“Seniman Yogya yang masih setia berkiprah di Yogya seperti sedang bernostalgia dengan masa lalu”

“Yogya sebenarnya adalah kuburan seniman”

“Lihatlah, betapa berbedanya seniman Yogya yang sudah go nasional dibandingkan dengan seniman Yogya yang setia sampai mati tinggal di Yogya”

Lalu apakah para seniman itu menyesal karena hanya jadi saksi sejarah tanpa kekayaan materi yang berlimpah?

“Kita masih punya hati dan kekayaan hati sulit diukur dengan alat ukur secanggih apapun”

Selamat malam Yogya, dirimu masih tetap istimewa di hatiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s