Banjir : Langganan yang setia menyapa


Logo Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Logo Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Dalam acara sosialisasi Sertifikasi Relawan Indonesia yang diadakan oleh BNPB (Badan Nasional Penanganan Bencana) sang pembicara bertanya, “Kenapa para penduduk di sekitar sungai tidak pernah jera dengan banjir yang setiap tahun bertamu ke rumah mereka, menghancurkan segala isi rumah mereka?”

Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh sang pembicara.

“Banyak hal-hal yang luput dari pengamatan kita semua, termasuk pemerintah, tentang fenomena ini. Padahal ini adalah suatu hal yang lumrah saja”

“Mereka, para penduduk di sekitar sungai itu, lebih suka tetap tinggal di rumahnya meskipun selalu didatangi banjir karena itulah lokasi yang menurut mereka paling menguntungkan”

“Dari kaca mata mereka yang sangat sederhana, mereka melihat keuntungan dan kerugian kalau mereka pindah dari lokasinya saat ini”

“Dari kaca mata kita, seharusnya mereka pindah agar kawasan di sekitar sungai bisa dikelola dengan baik dan banjir tidak harus banyak merugikan masyarakat”.

Seperti kita tahu, banjir adalah adanya aliran air yg melimpas melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yg ada, baik itu berupa berupa genangan ataupun sudah berupa Banjir bandang.

Beberapa penyebab banjir adalah sebagai berikut :

  1. Curah hujan yg tinggi
  2. Daya tampung sistem pengaliran air menurun akibat pendangkalan, penyempitan dan penyumbatan sampah
  3. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan (catchment area) menimbulkan debit air yg tinggi
  4. Berkurangnya daerah resapan air akibat berkembangnya area pemukiman

Lalu apa saja dampak dari banjir?

  1. Korban manusia : meninggal, hilang, luka-luka
  2. Pengungsian dan penduduk terisolir
  3. Berjangkitnya wabah penyakit (diare, penyakit kulit, leptospirosis dll)
  4. Rusaknya permukiman dan hilangnya harta benda penduduk
  5. Rusaknya lahan pertanian dan peternakan
  6. Rusaknya infrastruktur (pasar, sekolah, rumah ibadah, jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, gedung kantor, dll)
  7. Rusaknya sarana penunjang (jaringan listrik dan air bersih, dll)
Dari sebab dan dampak dari banjir ini, kita sebenarnya bisa berpikir lebih jernih. Kadang-kadang kita suka langsung menunjuk alam sebagai penyebab semua ini, padahal banyak sekali ulah manusia yang membuat terjadinya banjir.

Bukankah salah satu penyebab banjir adalah pengundulan hutan di daerah tangkapan pasir? Artinya ada ulah tangan manusia di situ yang menyebabkan banjir menjadi muncul.

Demikian juga pengembangan pemukiman yang tidak terkontrol membuat daerah resapan air menjadi berkurang.

Semua penyebab itu begitu jelas ada di depan kita dan semua itu begitu gampang dilakukan kalau kita mau, tetapi apa yang terjadi?

Kita lebih suka melakukan perbuatan yang aman-aman saja, misalnya :

  1. Pemetaan wilayah rawan
  2. Pengembangan sistem peringatan dini
  3. Penyiapan peralatan (perahu, dll) dan jalur evakuasi
  4. Penyiapan SOP
  5. Penyiapan tempat pengungsian sementara
  6. Perbaikan sistem pengaliran air (pengerukan, pembuatan sudetan, pembuatan tanggul, pembuatan waduk)
  7. Reboisasi dan pengembangan sistem resapan air di permukiman
  8. Tdk membuang limbah padat/sampah ke sistem pengaliran air

Kita kurang suka Menghentikan penggundulan hutan di daerah tangkapan air atau menertibkan ijin membangun bangunan di atas daerah resapan air.

BNPB yang didirikan berdasar UU PB no 24 tahun 2007 bekerja atas nama pemerintah tetapi mencoba merangkul komunitas untuk ikut bekerja sama menanggulangi bencana yang ada di Indonesia. Ini sesuai dengan salah satu isi pasal dalam UU PB no.24 tahun 2007, yaitu :

“Penanggulangan bencana bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama, termasuk KOMUNITAS”

Kalau kita lihat di lapangan, maka sering terjadi pemerintah lambat bergerak dan k0munitas sudah bergerak cepat, langsung ke korban bencana. Apalagi kalau menjelang Pemilu ataupun Pilkada, pasti akan bermunculan organisasi non pemerintah yang langsung terjun ke lokasi.

“Stop bendera partai! ”

Masyarakat saat ini memang tidak butuh partai, mereka butuh pertolongan dan partai yang langsung memasang bendera di lokasi bencana, justru akan dipandang sinis oleh para korban. Tingkah laku para wakil rakyat akhir-akhir ini pasti juga membuat mereka semakin muak dengan bendera partai.

Apapun bencananya, mari kita berkaca pada diri kita sendiri. Sudah sejauh manakah kita memelihara bumi tercinta ini. Apakah hanya mereka yang merusak bumi ini, ataukah kita ikut dalam proses perusakan bumi ini?

Hati kita yang bisa menjawabnya dengan benar. Salam sehati.

Upaya mengarahkan Banjir Lahar Dingin Merapi

Upaya mengarahkan Banjir Lahar Dingin Merapi

5 komentar

  • bagaimana dengan membuat daerah hijau atau daerah khusus resapan air di Jakata??
    jangan hanya untuk pembangunan saja…

    Suka

    • Salam.

      Yang terjadi justru daerah resapan air dibangun menjadi mall-mall atau perumahan penduduk.

      Salam sehati

      Suka

  • perlu ada penanggulangan khusus ni

    Suka

    • ini memang tanggung jawab kita bersama
      mari kita cintai ibu pertiwi dengan lebih baik lagi agar ibu pertiwi tidak terus menerus menangis

      salam sehati

      Suka

  • perlu ada penanggulangan khusus ni.

    http://www.igjepara.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s