Berkesenian itu nikmat (banget)

Landung Simatupang : "Saya pengusaha sekaligus penguasa!"

Sebuah poencerahan kudapat ketika mengikuti acara wisuda SMAN 1 Teladan. Itulah ucapan sejuk dari sang Kepala Sekolah.

“Baru saja kita dengar banyak sekali prestasi akademis dari sekolah kita tercinta ini dan juga dari para siswa kita. Namun perlu diingatkan bahwa ada yang lebih penting dari prestasi akademik, itulah prestasi yang bersumber dari hati dan jiwa kita”

Sepulang dari acara wisuda itu aku kembali mendapat pencerahan dari teman alumni UGM yang bercerita tentang beberapa lulusan SMAN 1 Teladan Yogyakarta.

“Mereka dipaksa oleh keadaan untuk selalu menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing. Bila hal yang terbaik dapat mereka raih, maka tidak akan timbul masalah, tetapi kalau mereka tidak sanggup meraihnya, maka bisa jadi mereka malah jadi tidak bersemangat dalam menekuni bidang mereka”

“Maksudnya, seperti serigala yang bilang bahwa anggur itu tidak enak, gitu ya?”

“Ya benar mas. Seperti serigala yang bilang anggur itu tidak enak karena mereka tidak sanggup memakan anggur itu”

Malamnya pencerahan itu kembali berlanjut.

Bersama Anis aku nonton pertunjukan baca puisi dan monolog dari beberapa seniman Yogya angkatan “tuwek” (banget). Saat aku masih muda, mereka sudah tua, apalagi saat aku sudah tua, pasti mereka menjadi lebih tua.

Landung baca puisi

Ternyata penampilan para seniman gaek ini masih memukau bahkan makin matang. Makin nyaman dinikmati. Mas Landung Simatupang begitu santai membaca puisi dalam hening Taman Budaya Yogyakarta. Tanpa mic yang memadai, vocal mas Landung sudah sangat memadai, apalagi teknologi sekarang sudah makin canggih.

Wireless mic saat ini menjadi andalan para seniman Yogya untuk menyampaikan misinya di atas panggung. Beda jauh dengan era ketoprak tahun 70an. Saat itu mic dari speaker bergantungan di atas panggung untuk membantu suara pemain ketoprak yang tidak sanggup menjangkau sampai ke penonton di baris belakang.

Mas Joko Kamto juga tampil meski tidak dominan. Mas Harno yang tampil sangat dominan, karena memang dia membawakan sebuah monolog khas teater dinasti (jaman dulu rasa baru).

Di usia senja, mereka terlihat tetap nyaman dalam beraksi di panggung. Suatu kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka. Rambut putih, badan yang semakin rapuh tidak membuat mereka jadi berkurang kegarangannya. Sayang penonton malam ini tidak menunjukkan wajah Yogya yang penuh dengan energi muda.

Fajar Suharno melepas sepatu

Meskipun banyak anak SMA yang terlihat di acara ini, tetapi anak-anak tua terlihat tetap dominan. Kadang aku termenung melihat hal ini. Persis seperti yang diucapkan oleh seorang kawan di Jakarta.

“Yogya itu kuburan para seniman!”

Mereka yang tetap setia di Yogya akan mati sendiri seiring dengan umur yang terus merangkak, sementara itu seniman Yogya yang mau hijrah ke Jakarta akan menemukan gairah untuk lebih berkesenian. Sayangnya kadang gairah itu membuat nilai seni pentas menjadi terlihat lebih bernuansa bisnis dibanding nuansa seninya.

Ah… mungkin ucapan temanku itu salah. Aku merasakan bahwa malam di Taman Budaya Yogya ini sangat dalam membongkar memori lamaku dan akupun jadi bisa tersenyum dengan lebih santai, lebih nikmat.

Berkesenian rupanya memang mebuat hidup menjadi lebih hidup, menjadi lebih nikmat.

Salam sehati.

Landung Simatupang : "Saya pengusaha sekaligus penguasa!"

Landung Simatupang : “Saya pengusaha sekaligus penguasa!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s