Mengejar penjambret

Amankan sekarang atau anda akan menyesal

Dalam hidup ini aku dua kali mengejar penjambret. Satu kali saat tahun 70an dan sekali lagi hari ini, tepatnya pagi hari sekitar jam 05.30 pagi. Dua peristiwa pengejaran jambret yang akan sangat berkesan dalam hidupku.

Waktu itu tahun 70an, jalan KHA Dahlan Jogja sudah ramai seperti saat ini. Aku dari Kantor Pos besar menuju arah stasiun Ngabean untuk menjemput ibuku yang mengajar di MIN Ngabean. Pas di depan toko ROMA (?), kulihat seorang ibu-ibu menyeberang jalan dan berteriak-teriak “MALING..MALING” sambil menunjuk seorang pengendara sepeda motor yang melaju ke arah Ngabean.

Secara reflek akupun mengejarnya dengan kecepatan penuh. Aku tidak tahu apakah reflek ini karena aku sedang demam nonton film silat atau karena sering latihan silat, atau karena naluri pembalapku yang masih hangat-hangatnya.

Menjelang simpang empat ngabean, sepeda motor penjambret yang kukejar melambat, sehingga aku akan dengan mudah menyalipnya, meskipun aku juga tetap harus melambatkan sepeda motorku karena padatnya lalu lintas.

Tiba-tiba sebuah sepeda motor menyalipku dan langsung mengerem ketika mendekati sang penjambret.

“Ups… ada orang lain yang ikut mengejar rupanya”, begitu pikirku dengan penuh semangat.

“Kena deh kamu”, teriakku dalam hati.

Tiba-tiba sang penjambret menoleh ke arah sepeda motor yang memepetnya dan merekapun tertawa bersama.

“Ya ampun.. rupanya mereka sekawanan penjambret !”

Akupun secara reflek lebih memperlambat laju motorku. Akan riskan menghadapi kawanan penjambret. Bukan tidak mungkin justru aku yang akan dituduh sebagai penjambret (hmmm… pengaruh sinetron *).

Peristiwa itu akhirnya berlalu begitu saja. Aksiku mengejar penjambret selesai dengan tidak jelas. Mereka berdua makin menjauh dari kejaranku (apakah aku masih mengejar?) dan akhirnya aku memutar arah sepeda motorku menuju ke arah MIN Ngabean untuk menjemput ibuku.

Melewati tempat penjambretan, kulihat suasana disitu seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Peristiwa penjambretan itu hanya sebuah noktah di hari itu. Ada tapi tiada. Mungkin bagi si Ibu yang kejambretan akan menjadi sebuah peristiwa yang menjengkelkan dan selalu diingatnya, tapi bagi orang lain mungkin peristiwa itu hanya lewat begitu saja.

Pagi ini, aku kembali mengejar penjambret. Kali ini aku sedang santai nak sepeda Heist 5.0 di seputaran Cipinang Cempedak, ketika tiba-tiba seorang gadis berteriak-teriak “MALING..MALING”

Kulihat sebuah sepeda motor mendahuluiku dan langsung masuk ke gang. Secara reflek akupun langsung menggenjot sepeda Hybridku untuk mengejarnya, meskipun aku tidak tahu apakah aku bisa mengayuh sepedaku sekencang sepeda motor. tapi aku tetap berusaha mengejar penjambret itu.

Rupanya sang penjambret sangat hafal dengan jalan-jalan kecil di kampung itu, sehingga dengan sangat cepat dia terus menembus jalan kampung yang hanya muat dua sepeda motor saja.

Akhirnya sang sepeda motor sampai di jalan besar dan akupun sudah tidak sanggup lagi mengejarnya. Orang kampung yang melihatku hanya merasa heran saja, mereka mungkin bertanya kenapa aku ngebut sepagi ini di jalan kampung.

“Yang naik sepeda motor tadi maling pak”, kataku mencoba menjelaskan

Akhirnya korban penjambretan yang ikut mengejar sampai di lokasi aku berhenti mengejar dan hanya bisa pasrah melihat jalan besar yang ada di depan kita.

“Apa saja isinya mbak?”

“Ponsel dua buah dan kunci kamar kost”, jawab sang gadis dengan nada ikhlas.

Aku malah yang merasa tidak ikhlas dengan kejadian ini, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Pingin membantu sang gadis, tapi aku juga tidak tahu harus berbuat apa. Aku  tidak sempat mencatat nomor polisi sepeda motor itu, jadi memang aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mau lapor juga tidak ada yang bisa dilaporkan.

Aku kagum dengan keikhlasan sang gadis menerima kehilangan sebuah ponsel Nokia dan Samsung SII. Ponselnya menurutku cukup mahal, meski bisa dibeli lagi, tapi aku percaya datanya pasti jauh lebih berharga.

Semoga penjambret itu mendapat hidayah dariNya dan bisa berbuat yang lebih baik di kemudian hari. Amin.

Samsung Galaxy SII

Samsung Galaxy SII

11 komentar

  • Thanks for any other excellent arlitce.Where else may anybody get that kind of info in such an idealmanner of writing? I’ve a presentation next week, and I’m on the search for suchinfo.

    Suka

  • / ahahaha. benar selaki sar. ketakutan itu buat ditaklukkan dan hasilnya adalah keberanian, bukan jaminan keamanan 100%. yup, saya berdoa semoga alat setrum itu makin lama makin gak dibutuhkan karena Jakarta jadi makin aman dan damai

    Suka

  • Ngeri juga kalo menghadapi penjambret yang rame-rame. Cari aman saja ya Pak.

    Suka

    • ya kita berpikir yang rasional saja
      bukan sifat seorang jagoan memang, tapi itulah diriku
      hehehe…
      biar jagoan menjadi milik spiderman saja

      salam sehati

      Suka

    • indah / 2 hal yang saya pelajari keikta di Jakarta:1. letakkan tas di depan keikta jalan-jalan atau naik angkot.2. tak perlu takut tempat tujuan terlewati keikta tidur di angkot, karena kita bisa saja tetap di titik yang sama setelah tertidur selama 15 menit.

      Suka

    • Wow! Talk about a posting knocking my socks off!

      Suka

  • Reblogged this on Kisah Hikmah and commented:

    Pagi ini, aku kembali mengejar penjambret. Kali ini aku sedang santai naik sepeda Heist 5.0 di seputaran Cipinang Cempedak, ketika tiba-tiba seorang gadis berteriak-teriak “MALING..MALING”

    Suka

  • waw, ada acara kejar maling ya??

    ckckck . . .
    berapa kalori yang hilang pak?

    Suka

    • dari catatan Endomondo hari itu aku membakar sekitar 350 kalori
      atau setara dengan menu ini :
      Nasi Putih (1 piring) 242 Kalori
      Soto Kudus 100 gr 38 kalori
      Teh Manis (1 gelas) 70 Kalori

      impas deh !:-)

      salam sehati
      *) sumber data kalori
      http://dewi.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=10&Itemid=12

      Suka

  • Padahal pak Dhe ini selalu tampil energik dimanapun dan kapanpun itu, tapi kenapa bisa gagal yaa….? Ayo Pak Dhe, buktikan walau umur sudah tua, tapi semangat tetep masih muda 😀 heehe

    biasanya kalo di ikhlaskan akan mendapatkan pengganti yang hilang tersebut jadi jauh lebih baik kok 😀

    Suka

    • hahaha…
      motor lawan sepeda memang beda ya
      nasi versus bensin tuh…!:-)

      salam sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s