Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu


25 tahun lalu aku sering nonton Dadang menyanyikan lagu-lagu Queen, seperti penonton lain, akupun ikut jingkrak-jingkrak. Tak nyana hari ini aku ikut acara Kagama Night dan melihat Dadang masih seperti dulu. Vocal yang penuh dan stamina yang masih belum banyak berubah, meskipun nafas mungkin sudah tidak sepanjang dulu.

Beberapa lagu dilantunkan dan harus diakui Dadang menyanyi dengan hati. Banyak teman lamanya muncul malam ini dan itu membuat nyanyiannya menjadi lebih bermakna. Ada nuansa rindu pada suaranya, rindu akan gegap gempitanya panggung di jaman 25 tahun lalu.

Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu

Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu

Tembang-tembang lawaspun memenuhi Gelanggang Mahasiswa dan panitia Kagama Goes Green seperti mendapat pelampiasan akan capeknya menjadi panitia dan capeknya melakukan perjalanan tanpa banyak istirahat. Sejak sore mereka sudah bekerja keras mengatur peserta yang naik kereta api Taksaka dan kini ketika kelelahan itu bertemu dengan vocal Dadang, maka lupalah mereka akan lelahnya badan.

Hampir seluruh panitia dan beberapa peserta larut dalam pesona Dadang membawakan lagu-lagu lama. Penyanyi tambahan juga membawakan lagu-lagu lama, sehingga suasana seperti kembali ke tahun 80an.

Tembang manis Scorpion, Rolling Stones, Billy Joel, Deep Purple dan beberapa penyanyi lawas membuat penonton tak kuasa menahan langkah kaki untuk turun ke lantai di depan panggung. Mereka berteriak, menari menyanyi dan melakukan gerakan apa saja sesuai komando dari Dadang.

Nukman Luthfie ikut bergoyang bersama Dadang (Kagama Night)

Nukman Luthfie ikut bergoyang bersama Dadang (Kagama Night)

Awal acara yang terkesan seret dan lambat seperti sontak berubah menjadi milik para pecinta musik “slow rock”. Waktu seperti berjalan lebh cepat. Lagu dmei lagu terus mengalir dan membuat badan basah oleh keringat karena pikiran sudah tak mampu mengontrol langkah kaki. Suara serak sudah tidak diperdulikan lagi, yang ada hanya keinginan untuk menuntaskan apa yang ada di dalam dada.

Kemasan acara sebenarnya biasa-biasa saja, pemutaran film, pembukaan, Hymne Gadjah Mada, sambutan-sambutan basa-basi dan setelah menertawai diri sendiri dalam stand up comedy, maka pertunjukan musik menggoyang Gelanggang Mahasiswa. Itu kemasan acara yang sesuai pakem. MC juga bertugas sesuai pakem untuk memastikan semua acara berjalan sesuai rencana.

Kesederhanaan menjadi kekuatan acara malam ini. Makan malam juga sangat sederhana dan dikemas dengan tata letak yang sesuai dengan karakter hidangan yang disediakan. Di tempat remang-reman disediakan dua angkringan rakyat yang membuat kita serasa berada di lokasi angkringan itu mangkal.

Dua stand mie juga dibuat mirip dengan suasana aslinya. Satu stand mie terlihat sangat laris, sementara itu stand satunya terlihat tidak selaris stand mie lainnya.

Lama menanti datangnya pesanan mie goreng, akhirnya kuputuskan untuk mencoba mie yang tidak laris. Ternyata rasanya boleh juga, mungkin tidak kalah dengan mie yang laris. Lezatnya di atas rata-rata. Salut buat panitia kagamagoes green Jogja yang bisa menampilkan wajah Jogja di Gelanggang Mahasiswa.

Ini mungkin prototype Kagama Days yang direncanakan akan digelar tahun depan.

Di luar ruangan, di tempat parkir dan sekitarnya, beberapa hadirin terlihat merokok sendirian, bergurau dalam kelompok kecil atau mondar mandir di beberapa ruangan yang ada di Gelanggang Mahasiswa. Mungkin mereka terbawa nostalgia manis di Gelanggang Mahasiswa ini. Kebanyakan dari panitia memang pernah sangat dekat dengan lokasi Kagama Night ini.

Gelanggang Mahasiswa adalah tempat kita nongkrong, bahkan sering terpaksa tidur karena urusan belum kelar. Malam ini semua kenangan itu tumpah ruah. Suasana malam ini memang lain dari pada yang lain. Tidak rugi bercapek ria naik kereta api Taksaka untuk menikmati aroma nostalgia yang sangat menyengat ini.

Penampilan Dadang sebagai tagline Kagama Night “We are the champion” masih sangat memukau. Penggemar berat Queen ini memang telah bertemu penggemar lamanya. Tidak salah kalau merekapun berujar Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu.

Sampai ketemu besok dalam acara penanaman pohon di lereng Merapi.

Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu

Kagama Night : Dadang masih seperti yang dulu

9 komentar

  • Tak kenal usia dan beda generasi….OK

    Suka

    • Yes
      Begitulah suasana malam itu
      Kita semua juaranya
      We are the champion !:-)

      Salam sehati

      Suka

  • Reblogged this on KAGAMA VIRTUAL and commented:

    Tembang-tembang lawaspun memenuhi Gelanggang Mahasiswa dan panitia Kagama Goes Green seperti mendapat pelampiasan akan capeknya menjadi panitia dan capeknya melakukan perjalanan tanpa banyak istirahat. Sejak sore mereka sudah bekerja keras mengatur peserta yang naik kereta api Taksaka dan kini ketika kelelahan itu bertemu dengan vocal Dadang, maka lupalah mereka akan lelahnya badan.

    Suka

  • jiwa (seni)..takkan pernah mati…

    Suka

    • yes

      dulu :
      bunuhlah aku dan jiwaku akan tetap hidup

      sekarang :
      bunuh aku?
      wani piro?

      salam sehati

      Suka

  • Penampilan Dadang sebagai tagline Kagama Night “We are the champion” masih memukau.

    Suka

    • Yes !

      Suka

  • Dadang siapa sich…? ko ga pernah dengar penyanyi dadang..

    Suka

    • kita beda generasi dan beda selera musik mungkin

      salam sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s