Menghijaukan Merapi


Tanggal 9 Desember 2012 lalu, rombongan “pecinta alam” dari berbagai fakultas, berbagai tingkatan umur dan berbagai macam model tingkah lakunya, tumplek bleg di lereng Merapi dengan satu tujuan “menghijaukan Merapi“. Beberapa bis mengangkut rombongan itu dengan didahului oleh pembuka jalan, sehingga perjalanan menjadi sangat lancar. Sayangnya bis nomor 15 yang kunaiki mengalami gangguan pada filter solarnya. Akibatnya kita menyerah dan turun dari bis untuk pindah ke bis lain.

Rupanya nasib masih menguji kesabaran kita. Ketika harus berhenti di tanjakan gara-gara disalip oleh rombongan pejabat dengan didahului raungan klakson khas pejabat negara, maka bis pengganti ternyata tidak sanggup untuk jalan mendaki tanpa ancang-ancang. Daripada ngedumel tanpa arah, akhirnya kitapun semuanya turun dan jalan kaki menuju ke lokasi penanaman bibit pohon.

Alhamdulillah, baru berjalan beberapa meter bis sudah normal kembali dan kitapun melanjutkan menuju lokasi penanaman dengan naik bus. Disini baru terbukti bahwa napas anak muda sangat berbeda dengan nafas anak tua. Saat aku sudah terengah-engah, maka Lilo anak SMP masih tetap kelihatan segar.

“Pak tasnya kubawain gimana?”

“Hahaha… tas ini sebesar kamu, apa kata dunia kalau melihat anak kecil membawa tas sebesar ini dan bapaknya santai membawa camera kecil?”

“Ya bapak nafasnya sudah ngos-ngosan gitu lho”

“Oke deh, kamu bawa saja camera ini”, Lilopun melenggang dengan tambahan beban sebuah camera Canon 60D.

Acara dimulai dengan perkenalan para pecinta alam diwakili dengan diskusi antara eMCe dengan beberapa peserta dan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan tim pemandu yang akan ikut berjalan dengan rombongan. Aku mendapat nomor grup yang pertama dengan ID F20, artinya grup F dengan urutan pohon nomor 20.

gali terus dik dan tanam yang dalam

gali terus dik dan tanam yang dalam

Ternyata rombongan pertama mendapat jatah menanam pohon di lokasi paling jauh. Lilo dengan cekatan menggali tanah dengan tangannya karena aku lupa tidak membawa cethok. Dibantu oleh seorang pecinta alam yang simpatik, Lilopun menanam pohon salam di lereng Merapi. Selesai menanam pohon akupun meluncur turun dengan nikmatnya. Mampir ke mushola dan merasakan segarnya air pegunungan.

Belum sampai ke bawah, suara musik jathilan modern sudah memanggil dengan nuansa trance. Kulihat puluhan orang kampung turun ke dekat lokasi pertunjukan jathilan. Mereka menonton dari tebing-tebing dan juga dari dekat pertunjukkan.

jathilane kok gak main-main ya

jathilane kok gak main-main ya

“Wah penonton terlalu dekat nih, bisa nggak disuruh mundur sedikti?”

“Kalau sudah begini kondisinya sudah tidak mungkin menyuruh penonton mundur”

Mungkin penduduk setempat kekurangan hiburan, sehingga pertunjukan jathilan modern ini sangat menarik minat mereka. Aku sendiri malah agak kesusahan untuk mengambil gambar tontonan ini. Mereka terlalu dekat dengan lokasi permainan jathilan.

Akhirnya kita mengalah dan makan siang saja sambil menanti rombongan jip yang akan membawa kita ke berbagai tempat menarik di lereng Merapi. Inilah rangkaian acara Lava Tour ala Merapi.

Ada puluhan mobil jep yang siap membawa kita berkonvoi menyusuri bekas-bekas amukan “wedhus gembel” beberapa tahun lalu. Pertama kali tentu melihat batu “alien”, sebuah batu besar yang kalau difoto mirip kepala orang dan akhirnya disebut batu alien.

Persinggahan terakhir adalah musium milik penduduk yang terlihat dipelihara dengan baik, meskipun bukan dipelihara oleh negara. Kalau dipelihara oleh negara tidak tahu juga, apakah menjadi lebih baik atau malah menjadi lebih tidak baik.

Bangkai sapi wedhus gembel

Bangkai sapi wedhus gembel

Banyak sekali barang-barang di musium ini yang menjadi saksi keperkasaan sang wedhus gembel saat melewati rumah ini. Dalam sambutan di acara pagi hari, pak Menteri menyebutkan prestasi para pecintga alam di Merapi ini. Lokasi yang beberapa bulan lalu habis diterjang amukan letusan gunung Merapi sudah menjadi sangat hijau. Kalau melihat apa yang ada di musium ini, maka pidato pak Menteri mungkin memang perlu digaris bawahi.

Pak Menteri, Gubernur DIT, Rektor UGM dan Alumni UGM Mas Ganjar

Pak Menteri, Gubernur DIY, Rektor UGM dan Alumni UGM Mas Ganjar

“Para pecinta alam sudah sukses menghijaukan Merapi tanpa banyak berkoar-koar. Para pecinta alam sudah berhasil melakukan aksi tanpa memerlukan pujian dari siapapun”

Salut buat para aktifis Kagama Virtual yang sudah melakukan kegiatan nyata mengkampanyekan gerakan ”Satu Pohon, Satu Alumni” dan memperkenalkan pentingnya pendidikan lingkungan hidup kepada orang tua dan anak-anak. Kegiatan ini diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang betapa pentingnya mengubah gaya hidup yang lebih pro lingkungan dalam upaya mengurangi carbon footprint (jejak karbon).

Dalam kaitan acara ini pak Menhut mengatakan, peran aktif semua pihak yang ikut melakukan penanaman dan penghijauan sangat signifikan memulihkan kembali kondisi hutan Indonesia. Sebab, dari 180 juta hektare (ha) kawasan hutan, hanya sekitar 64 juta ha kawasan hutan alam primer yang kondisinya baik.

“Dari pendapat ahli, paling tidak butuh waktu sekitar 165 tahun untuk memulihkan kerusakan hutan kita, tapi jika penanaman dilakukan bersama-sama secara besar-besaran, mudah-mudahan dalam waktu 30 tahun bisa hijau kembali,”ucap pak Menhut.

Menurut Menhut, penanaman di lereng Merapi sangat penting untuk mengurangi kerusakan lingkungan akibat erupsi merapi dan untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat sekitar. Seperti yang diucapkan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono XI beberapa wilayah di sekitar Merapi memang sangat mengandalkan sumber air dari lereng Merapi.

Selamat dan sukses buat Kagama Virtual yang sudah sukses menghijaukan Merapi.

Merapiku

Merapiku

7 komentar

  • Ping-balik: Napak tilas Kagama Goes Green menghijaukan Merapi | Es Ha Pe Blogger Jogja

  • Ping-balik: Lava Tour Subuh | Kupoto Dunia

  • Reblogged this on KAGAMA VIRTUAL and commented:

    Salut buat para aktifis Kagama Virtual yang sudah melakukan kegiatan nyata mengkampanyekan gerakan ”Satu Pohon, Satu Alumni” dan memperkenalkan pentingnya pendidikan lingkungan hidup kepada orang tua dan anak-anak. Kegiatan ini diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang betapa pentingnya mengubah gaya hidup yang lebih pro lingkungan dalam upaya mengurangi carbon footprint (jejak karbon).

    Suka

  • Feature yg menarik, humanis, dengan bahasa yg mengalir.
    Sukses untuk Kagama Virtual

    Suka

    • Salam Lestari (salam pecinta rimba)

      Semoga sukses dan mulia para pemerhati dan anggota Kagama Virtual.
      Amin.

      Salam sehati

      Suka

  • Suatu acara yang memiliki nilai edukasi akan sebuah konservasi alam. Tentunya hal ini akan membawa damapak positif bagi kehidupan masyarakat setempat. Salut dan sukses deh Kang untuk semua team dan rekan-rekan dalam acara ini.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    Suka

    • Salam.

      Salut buat panitia yang telah bekerja keras untuk membuat acara ini bisa terlaksana dengan baik.

      Salam sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s