Monolog Yeni Eshape di Pesta Wirausaha 2013


Setelah acara Pesta Wirausaha 2013 pada sesi pagi hari dibuka dengan paparan gambaran Indonesia di mata dunia (global) dan di mata regional (lokal), maka selepas istirahat penonton dimanjakan dengan penampilan monolog dari Yeni Eshape, instruktur pelatihan Mie Sehati. Monolog dari Yeni Eshape di Pesta Wirausaha 2013 ini membuat pesta kali ini menjadi kian berwarna-warni.

Yeni Eshape Monolog di Pesta Wirausaha 2013

Yeni Eshape Monolog di Pesta Wirausaha 2013

Peserta pesta tidak hanya di”cekoki” (dijejali) dengan ilmu bisnis, tetapi diberi sentuhan pada kalbu masing-masing peserta dengan sebuah penampilan monolog dari teater We-eN (Wanito Ngunandiko) Yogyakarta.  Selama ini, aktor monolog dari Jogja di panggung selalu lekat dengan sosok Butet, karena memang hanya dialah satu-satunya aktor monolog dari Jogja yang sampai saat ini masih layak diacungi jempol.

Pada perkembangan selanjutnya monolog dari Butet, terasa lebih dekat dengan nuansa Stand up Comedy. Lucu menghibur, segar dan interaktif dengan penonton.

Kali ini panitia menyuguhkan monolog lain dari aktor Jogja juga, tetapi bukan seorang laki-laki melainkan seorang wanita, yang kebetulan adalah bendahara TDA Jogja. Itu sebabnya ketika sosok Yeni Eshape muncul di pentas, maka yang pertama kali bertepuk tangan adalah TDA Jogja dan TDA Bekasi, maklum Yeni Eshape memang sangat dekat dengan dua komunitas TDA Wilayah Bekasi dan Jogja.

Naskah monolog ini bercerita tentang kisah seorang wanita yang terpaksa menjadi TKI karena kesulitan keuangan dan sangat ingin membantu orang tuanya yang jatuh pailit dalam bisnisnya. Dunia batik yang tadinya merupakan bisnis keluarga sudah musnah, sehingga terpaksa banting stir ke dunia bisnis yang lain.

Bisnis nasi Megono menjadi pilihan keluarga, sebelum akhirnya sang anak merelakan nasibnya di perantauan. Menjadi TKI sungguh sebuah pilihan yang menyakitkan baginya. Dia harus rela dihajar oleh majikannya dan rela diperlakukan seperti apa saja demi dinar yang diharapkan dapat menolong kebangkrutan bisnis orang tuanya.

Semua isi rumah sudah habis dipakai untuk membayar hutang dan bisnis kuliner Nasi Megono ternyata juga tidak sukses pada akhirnya. Pilihan menjadi TKI akhirnya yang dicoba sebagai penolong keluarga.

Apakah akhirnya sang TKI sukses menjalankan misinya?

Kisah TKI ini sebenarnya hanya sebagian kecil dari pementasan teater We-eN dalam judul “Kolase dan Tujuh Jendela Kaca” yang beberapa waktu lalu dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Kecocokan tema naskah “Ketika Awan Menangkap Rembulan” yang merupakan kisah hidup seorang TKI dari Pekalongan terasa pas dengan tema acara Pesta Wirausaha 2013, sehingga akhirnya dipilih untuk dilepaskan dari keseluruhan pementasan Kolase dan Tujuh Jendela kaca dan menjadi naskah monolog khusus cerita “Ketika Awan menangkap Rembulan”

Penghargaan untuk Yuswohady

Penghargaan untuk Yuswohady

Kisah ini seperti sebuah lanjutan dari cerita Yuswohady pada pembukaan acara yang menyatakan betapa Indonesia sebenarnya siap untuk menjadi gadis cantik yang sangat menarik. Kesiapan dari para entrepreneur Indonesia sangat dibutuhkan untuk menyongsong abad keemasan Indonesia.

Jika tidak siap, maka cerita bisa berubah. Monolog di Pesta Wirausaha 2013 bisa menjadi cerita yang menyedihkan dan menjadi nyata kalau para pebisnis Indonesia tidak siap menangkap momentum ini.

“Banyak OKB di Indonesia”, kata Yuswohady.

“………..”

“Ciri OKB adalah mereka yang belum kaya tetapi sudah merasa kaya!”, tandas Yuswohady.

Memang di lapangan banyak terjadi para pebisnis pemula yang begitu cepat meroket omzetnya langsung lupa diri. Melesatnya omzet belum tentu sebuah hasil yang mencenggangkan. Kita harus yakin kenapa omzet melesat. Penyebab harus jelas, sehingga bisa di”maintenance” agar tetap berada pada kondisi yang menguntungkan bisnis.

Kalau kita tidak melakukan “maintenance” penyebab bisnis meledak, maka bisa jadi bisnis tiba-tiba mati tanpa sebab.

Pelajaran hari ke dua Pesta Wirausaha 2013 ini sangat banyak dan berjubel. Bisa jadi banyaknya masukan terhadap kita tersebut justru membuat kita bingung melangkah. Pelajaran yang menarik dari acara ini adalah sebuah nasehat yang membuat para peserta pesta menjadi tertawa kecut.

“Jangan terlalu sering ikut seminar , nanti kalian akan bingung sendiri!”

Yuswohady dan Yeni Eshape

Yuswohady dan Yeni Eshape

+++

Catatan :  Monolog di Pesta Wirausaha 2013 ini sumbangan dari Pusat Pelatihan Mie Sehati Jogja dan Yeni Eshape adalah salah satu instruktur pelatihan selain Master Mie Sehati Perto Group Pak Syamsu Irman.

2 komentar

  • mendukung jogja sebagai kota pengusaha muda hotel murah di jogja

    Suka

    • Hidup Jogja 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s