Memilih Sepeda

Sepeda bekas yang kubeli dari komunitas sepeda

Memilih Sepeda itu gampang-gampang susah, artinya gampangnya dua kali dan susahnya sekali. Gampang karena langsung bisa dilihat dan dirasakan kemudian dibeli. Susah karena kadang harga yang mahal tidak menjamin sepeda yang kita pakai jadi nyaman. Contohnya sepeda Cervelo yang kunaiki di Bali saat S3Gama tour ke Bali bulan lalu. Sepeda itu sangat mahal bagiku, nilainya sampai puluhan juta, tetapi punya kelemahan (bagiku), yaitu harus dikendarai dengan kencang dan tidak pas kalau dipakai untuk sepeda santai (fun bike).

Kalau tidak hati-hati, sepeda jalanan aspal (road bike) juga bahaya saat dipakai untuk berbelok. Roda depan bisa terkena kaki sendiri, beda dengan sepeda MTB atau Hybrid yang roda depannya tidak akan mengenai kaki ketika berbelok.

Untuk memilih sepeda, maka ada beberapa kriteria yang harus ditetapkan dulu. Kecuali kalau kita kaya raya dan bisa membeli sepeda lebih dari satu, dengan harga mahal, maka kriteria jadi tidak begitu menjadi prioritas.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih sepeda, sebenarnya bisa disingkat menjadi sebuah pertanyaan; “Paling sering kita sepedaan kemana atau dimana?”

1. Sering bersepedaan di gunung.

2. Sering bersepedaan di perkotaan, selalu memilih jalan aspal (jalan rata)

3. Sering bersepedaan ke desa-desa, tapi juga sering ke kota-kota.

4. Kadang dalam satu rute sepedaan, lengkap melahap jalanan desa dan jalanan kota.

Komunitas Sepeda by DL S3Gama

Komunitas Sepeda by DL S3Gama

Sepeda gunung.

Para pesepeda yang punya hobi bersepeda di gunung, biasanya sudah sampai tingkat mahir dan tidak perlu diajari lagi cara memilih sepeda. Mereka sudah sangat paham bahwa sepeda gunung perlu sepeda khusus yang disesuaikan dengan kondisi alam (tanjakan, turunan, berbatu-batu, berpasir atau melompati rintangan). Pabrik sepeda sudah mengantisipasi keinginan para pesepeda jenis ini dan merekapun saling berlomba menciptakan sepeda yang paling aman untuk bersepeda di gunung.

Jangan lupa selain memakai sepeda khusus DH (Down hill), peersiapkan juga mental pengendaranya, karena penggemar DH akan mengalami kecepatan penurunan yang ekstrem dan tikungan-tikungan yang juga ekstrem. Biasanya penggemar sepeda DH membawa sepeda mereka ke tempat tinggi dan kemudian baru menaikinya untuk menuruni medan yang dipilih. Ciri sepeda ini berat, kokoh dan tidak nyaman untuk jalan jauh.

Sepeda yang mirip dengan DH adalah FR (Free Ride). Sepeda ini dirancang untuk melakukan lompatan tinggi (drop off) dan tentu tidak cocok dipakai untuk perjalanan dari desa ke desa (cross country). Didisain memakai bahan yang kokoh dan suspensi khusus untuk meredam hentakan sepda yang bisa jadi sangat kuat.

Sepeda gunung yang lazim adalah AM (all mountain). Sepeda ini didisain untuk jalur dari desa ke desa atau Cross Country (XC) dan juga sanggup mengatasi medan Down Hill ringan (light DH). Disain sepeda AM sanggup melintasi alam yang relatif berat (naik/turun, jalanan hutan, jalan berbatu, jalan offroad jarak jauh). Sepeda ini dilengkapi dengan double suspension (depan dan belakang). Biasanya garpu depan (fork) memakai ukuran 140mm-160mm) dan suspensi belakang (rear suspension) sekitar 150mm. Merk Polygon Indonesia biasanya memakai ROCKSHOX MONARCH di belakang dan di depan memakai ROCKSHOX DOMAIN.

Sepeda jenis ini cukup nyaman dikendarai untuk jarak yang jauh.

Komunitas Sepeda by DL S3Gama di Bali

Komunitas Sepeda by DL S3Gama di Bali

Sepeda Kota

Sepeda jenis ini biasanya jarang dijumpai di komunitas sepeda. Biasanya sepeda jenis ini banyak dipakai untuk keperluan sekolah, ke pasar, ke warung atau ke tempat-tempat yang dekat. Cirinya ada keranjang dan ada tempat untuk gonceng di belakang.

Beda dengan sepeda balap yang mempunyai body khusus, meskipun sama-sama dipakai di atas jalan rata/aspal atau rigid pavement. Sepeda balap mempunyai bobot yang ultra ringan, biasanya tidak sampai 10 kg berat  totalnya. Kelemahan sepeda ini, kalau sudah dinaiki biasanya ingin selalu dipacu kencang dan kurang nyaman untuk dipakai bersantai ria.

Sepeda dari desa ke desa

Penggemar Cross Country (XC), biasanya memilih sepeda yang nyaman dipakai untuk jalanan off road sederhana dan tetap nyaman ketika dipakai di jalanan aspal. Sepeda ini tidak didisain untuk melahap turunan ekstrem ala DH atau FR, tetapi mampu melahap turunan atau tanjakan di bukit, seperti juga sepeda AM. Biasanya dikenal dengan nama sepeda Hybrid. Cirinya tetap ada suspensi tetapi ukuran ban lebih kecil dibanding sepeda AM. Karena ukurannya lebih kecil, maka daya cengkeramannya jadi berkurang, tetapi unggul di jalan aspal karena suspensinya lebih keras dibanding AM dan ban juga lebih tipis. Fork (garpu depan) biasanya bisa juga disetel suspensinya, jadi bisa dikunci dan bisa di”release”.

Nah, ternyata memang gampang memilih sepeda.

Sepeda bekas yang kubeli dari komunitas sepeda

Sepeda bekas yang kubeli dari komunitas sepeda

+++

Sumber cerita dari berbagai sumber maupun pengalaman pribadi dan beberapa gambar diambil dari kegiatan S3Gama yang diabadikan oleh Pak Djoko Luknanto. Artike terkait : Tren 2013 Sepeda, Camera dan Ponsel.

3 komentar

  • Ping-balik: Hati-hati Gowes di Jakarta | Eshape Blogger Jogja

  • Gan ! kalau melihat kekompakan yg terlihat di foto-fotonya nich komunitas bisa jadi salah satu pahlawan penghemat BBM ya gan..setuju kan gan hehehe salam kenal ya..

    Suka

    • Amin.
      Makasih doanya ya gan !:-)

      Salam sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s