Komunitas Sepeda

Sepedaan sendirian

“Saya ndak suka ikut komunitas sepeda mas, lebih enak sepedaan sendirian. Mau kemana saja bebas dan pakai sepeda apa saja juga bebas”, ucap seorang bapak-bapak ketika ngobrol denganku di depan gelanggang mahasiswa UGM Jogja. Ini menjadi menggelitik karena saat itu sedang ada acara sepeda santai di UGM dan bapak itu memakai kaos acara sepeda santai itu.

“Memangnya kalau ikut komunitas sepeda, kita dipaksa ganti sepeda gitu pak?”, tanyaku mencoba memancing alasan kenapa dia tidak suka ikut komunitas sepeda.

“Bukan begitu mas. Dulu saya juga aktip ikut komunitas sepeda di Jogja. Saya ikut menikmati acara sepedaan kemana-mana, tapi itu hanya setahun saja mas. Saya mulai melihat kalau kebebasan saya mulai ditelikung. Saya tidak bisa lagi berhenti setiap saat, ketika melihat sesuatu yang menurut saya menarik hati dan pantas dilihat lebih dekat”

“…………”

“Bila saya berhenti, maka akan ada yang ikut berhenti dan bertanya pada saya, apakah saya mengalami kerusakan sepeda atau ada sesuatu yang bisa dibantu, Sayapun gowes lagi sambil bilang kalau sepeda saya baik-baik saja”

“Padahal bapak sebenarnya ingin melihat sesuatu yang menarik tapi bagi teman-teman bapak tidak menarik? Begitu pak?”

“Ya begitu mas. Misalnya saya lihat Vespa tua yang parkir di pinggir jalan dan ingin saya perhatikan lebih teliti, sementara itu teman-teman saya tidak tertarik dengan yang namanya Vespa. Jadi saya hanya bisa berangan-angan, siapa tahu besok bisa lihat Vespa itu lagi”

“Terus besok bapak lihat Vespa itu?”

“Nggak mas, besoknya saya kerja dan minggu depannya saya malah ikut sepedaan lagi di tempat lain”

“Terus masalah ganti sepeda, bapak belum cerita”

“Saat mulai awal ikut komunitas sepeda, maka saya pakai sepeda onthel yang sudah lama menemani saya”

“Kemudian?”

“Teman-teman saya juga memakai berbagai macam sepeda. Namun selang beberapa bulan kemudian, satu persatu mulai ganti sepeda jenis lain”

“……………..”

“Bahkan beberapa mulai memakai sepeda luar negeri yang harganya lumayan mahal”

“Bukankah tidak salah membeli sepeda luar negeri karena kecintaannya dengan model sepeda luar negeri?”

“Tidak salah memang. Sepeda luar negeri memang bagus, tapi saya masih lebih suka sepeda onthel saya yang tua dan masih berfungsi dengan baik sampai sekarang”

Kuperhatikan sepeda bapak itu memang sepeda onthel yang sederhana tapi terlihat terawat dengan baik. Merk sepedanya bukan Gazzele yang harganya lebih dari sepuluh juta, tapi sepeda merk tidak jelas, karena merknya sudah hilang demikian juga catnya sudah mengelupas karena tua. Yang terlihat adalah rangka besi yang sudah terkelupas catnya di beberapa tempat.

Komunitas Sepeda by DL S3Gama

Komunitas Sepeda by DL S3Gama

“Saya akhirnya tergoda untuk ganti sepeda MTB, tapi tidak sampai sebulan saya merasa sepeda ternyaman ya sepeda onthel ini. Sayapun akhirnya keluar dari komunitas sepeda itu dan mulai aktif sepedaan sendirian”

“Hmmm… gimana ceritanya kok bapak sekarang ikut sepedaan di funbike ini?”

Bapak itu dengan senyum di kulum mengeluarkan kupon undian fun bike.

“Istri saya kerja disini dan menyuruh saya ikut. Lumayan mas, dapat kaos bagus, gratis dan siapa tahu nanti dapat undian”

“Hahahaha…..”

Kamipun tertawa bersama dan berjalan menuju lokasi START acara funbike.

Sepedaan sendirian

Sepedaan sendirian

Pagi ini di Jatinegara, Jakarta Timur, akupun merasakan nikmatnya sepedaan sendirian. Sepanjang jalan bebas mengayuh sepeda. Boleh lambat dan boleh kencang tanpa takut terpisah dari rombongan. Ketika melihat ada jajan Jadah bakar, akupun langsung parkir sepeda di dekat penjualnya.

“Harga sepotong berapa?”

“Dua ribu pak”

“Oke, minta lima potong”

Akupun ayik menunggu acara bakar jadah di pinggir jalan. Beberapa kali sang penjual harus pindah tempat karena ada petugas kebersihan yang membersihkan lokasi penjual jadah bakar itu. Lengkaplah sudah jadah bakar ini. Bumbunya disempurnakan dengan serbuk debu jalanan.

Selesai jajan jadah bakar, sepeda kukayuh lagi dan kusempatkan mampir di Pasar Klithikan Jatinegara. Aku hanya mengamati para penjual dan pembeli saling bertukar pendapat masalah harga dan kualitas barang yang dijual. Kadang ada canda di antara mereka dan ada yang berapi-api menawarkan dagangannya, bertolak belakang dengan gaya para pembeli yang lebih banyak diam atau menjawab seperlunya saja.

Sepeda memang sarana yang nyaman untuk mencari teman maupun untuk menikmati keceriaan pagi sendirian. Mau ikut komunitas silahkan, mau sendirian juga silahkan, semuanya mempunyai kenikmatan sendiri-sendiri. Yang penting adalah bersepeda itu untuk menjaga stamina dan kebugaran mingguan.

Yuk naik sepeda minimal 2@3 hari per minggu dan dicukupkan setengah jam tanpa istirahat.

Sepedaan sendirian

Sepedaan sendirian

11 komentar

  • Ada tau komunitas sepeda jogja yang suka sepedaan jauh gak? 😀

    Suka

    • Coba saja masuk ke grup FB Jogja Gowes
      Tanggal 6-7 Juni mereka menuju ke Cilacap dan gowes di Nusakambangan
      Tanggal 6 Juni sebagian naik sepeda dan sebagian naik kendaraan (bus), tanggal 7 Juni menyeberang ke pulau Nusa Kambangan

      Salam Gowes

      Suka

  • sing penting awet ngepitnya dari pada pitnya

    Suka

    • Yes !!!

      Suka

  • Ping-balik: Jogja Kota Sepeda | Es Ha Pe Blogger Jogja

  • Mlaku berbeda arti dengan mlaku-mlaku. Kalau pedagang pasar yg setiap hari ngepit gimana rasanya? apakah bosan, suntuk? meskipun bareng-bareng pedagang lain ya tetap saja disebut ngepit, bukan pit-pitan bareng seperti ilustrasi diatas, apalagi disebut sepeda gembira.Hehe!

    Suka

    • Salam Kang Deny

      Benar tuh, ngepit beda dengan pit-pitan. Sama saja ketika aku ditanya bedanya antara senang SEPEDA atau senang BERSEPEDA. Jawabannya bisa sangat berbeda.
      Cuma kalau aku bersepeda memang sebisanya saja, ada yang malas bersepeda ke kantor yang jauuuh, tentu tidak bisa kita salahkan. Bersepeda bagiku lebih banyak untuk melemaskan otot kita saja, supaya tidak kaku karena seharian keseringan duduk tanpa gerak.

      Salam sehati dan terima kasih kang Deny

      Suka

  • Salam gowes…
    Saya febri di jogja,di daerah saya rata” goweser nya banyak yg ga gabung komunitas,tapi kalau di undang baru gowes bareng.saya merasakan hal positif dg ini,kami gowes dg sepeda yg tak terlalu mahal,dan rata” pakai produk lokal 2jtaan.tak ada caci maki,semua rata dan asik…

    Suka

    • Salam @Febri

      Saya sering menjumpai beberapa goweser Jogja di beberapa bengkel yang kutemui. Mereka cerita betapa enaknya menjadi goweser tanpa komunitas. Bisa bebas memilih hari maupun rute gowes, tanpa ikut acara wajib komunitas.
      Mereka tinggal pancal sepeda dari rumah dan mengikuti rombongan goweser yang searah rutenya, bila kemudian terasa berat rutenya, maka dia dengan santai bisa keluar dari rute.
      Memang goweser sendirian dan ikut komunitas pasti ada plus minusnya, tinggal kita cocok ikut yang mana.
      Waktu kita gowes ke Mangadeg Solo, ada pesepeda sendirian yang ikut gowes kita. Setelah ngobrol baru ketahuan kalau dia orang Jogja, umurnya katanya 67 tahun, sepedanya juga gak sampai sejuta harganya. Begitu sampai TKP dia yang nomor tiga setelah 2 (dua) pembalap asli masuk fibnish.

      Salam sehati…

      Suka

  • Minta kontaknya,,, ada event sepeda bareng Tribun Jogja..

    Suka

    • Salam.

      Silahkan hubungi pimpinan kami, mas Mitrabani dari S3GAMA
      No Hape 081227511000
      atau 081804111100

      Salam sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s