Cerpen : Kehangatan Cintaku (1)


Cerpen : Kehangatan Cintaku ini kutulis sebagai bagian dari nostalgia yang harus kusampaikan pada dunia. Mungkin banyak orang yang punya kisah lebih dahsyat dari kisahku di kala masih duduk di bangku kuliah, tapi pasti kisah mereka berbeda dengan kisahku. Ada haru, lucu, nuansa religi dan kehangatan cinta yang tak bisa lepas sampai hari ini. Itulah mungkin salah satu bukti keindahan cinta.

+++

Kisah ini kumulai ketika aku ikut menjemput rombongan teater dari Surabaya di stasiun Tugu. Waktu itu kondisi stasiun kereta api belum seperti saat ini yang sangat teratur dan bersih. Waktu itu semua penjemput bisa masuk bahkan sampai ke pinggir rel kereta api. Kitapun duduk sambil bernyanyi-nyanyi untuk membunuh waktu menunggu. Satu gitar ukulele mengiringi segala lagu kita dan tetabuhan dari segala macam benda yang bisa ditabuh membuat suasana pagi itu menjadi makin hangat.

Ketika akhirnya rombongan teater dari Surabaya tiba, maka berhamburanlah kita menyambutnya. Seperti acara reuni, kita saling bersalaman dan mengobrol tentang apa saja yang terpikirkan, padahal tidak ada satupun personil teater Surabaya yang kita kenal. Semuanya adalah kawan baru yang belum pernah kita temui. Jadi aku sendiri tidak yakin kalau teman-temanku akan ingat nama mereka jika sudah berpisah nanti.

Pada jabat erat yang terakhir kusadari kalau aku sudah menggenggam tangan mungil yang sangat kuat.

“Raini”, sebutnya membuatku terperangah.

Meski wajahku tak banyak berubah, tapi harus kuakui dadaku menjadi penuh genderang perang. Gemuruh bak guruh bersahutan. Aku sampai tidak merasa kalau tangannya sudah lepas dari tanganku. Pikiranku melayang tidak jelas kemana-mana.

“Inikah cinta?”

Sebuah pertanyaan bodoh muncul dalam hatiku dan segera kuusir jauh dari pikiranku. bagaimana mungkin cinta pada pandangan pertama pada seseorang yang sama sekali tidak kita kenal.

“Ah ini sinetron banget kalau aku cinta padanya dan dia ternyata cinta padaku”

Akupun menarik nafas panjang dan menyunggingkan sebuah senyum. Sungguh lucu kalau sampai ada adegan percintaan antara aku dan Raini. kubaurkan diriku dengan teman-temanku dan para tamu dari Surabaya. Kita saling ledek dan saling melucu, meskipun kadang lelucon yang disampaikan sangat garing tetapi suasana akrab membuat semua lelucon selalu menjadi benar-benar lucu.

Dialek Surabaya yang kental membuat suasana makin meriah karena ditimpali dengan dialek khas Jogja yang medhok. Satu demi satu kita naik angkutan dan sebuah kebetulan ala sinetron, karena Raini duduk tepat di depanku. Rayuankupun langsung meluncur.

“Di kendaraan lain panas kenapa disini kok sejuk ya?”, lemparku memasang umpan

“Kenapa ya? Ada apa ya?”, temanku langsung menyambut umpanku.

“Because ada Raini di depanku, mobil ini jadi suejuk banget !”, ucapku mencoba dengan dialek Surabaya yang medhok ala jogja.

Semua penumpang angkutan tertawa bersama, begitu juga Raini yang tepat duduk di depanku. Raini tertawa ngakak, dengan mulut yang sangat lepas terbuka. Sebuah pemandangan yang langka untuk orang Jogja dan biasa bagi orang Surabaya.

“Waduh kok ada yang bau jengkol ya?”

Sastro yang duduk di dekatku nyeletuk dan disambut dengan lemparan topi dari Raini.

“Ngawur ae kon. Ambumu sing apeg mas…” (Ngawur saja kamu, Baumu yang apak mas)

Suasana riuh rendah terus berjalan sepanjang perjalanan ke wisma tempat rombongan Surabaya menginap. Pendeknya hari itu benar-benar kita diliputi suasana suka cita yang tak pernah kita bayangkan. Mendapat teman baru seperti bertemu teman lama dalam sebuah reuni. Sungguh hari yang fantastis!

toegoe jogja

toegoe jogja

+++

Sehabis maghrib kusempatkan mendatangi wisma tempat rombongan Surabaya menginap. Tidak ada tugasku disini, karena semua urusan penyambutan tamu sudah diurusi oleh teman-temanku. Aku hanya kebagian memesan tempat penginapan dan membayarnya jika acara sudah selesai.

“Dab, titip tustel ya”, kata Sastro sambil menyerahkan sebuah camera padaku.

“Ono filme ora? (Ada filmnya tidak?)”, kataku sambil menerima camera Canon dari Sastro.

“Hehehehe… tak tuku film ndisik (aku beli film dulu)”, jawab Sastro sambil ngeloyor pergi.

“Asem iki, Gur dinggo titipan tustel to? (Aku hanya dijadikan tempat titipan camera rupanya?)”

Akupun masuk wisma sambil menenteng camera Canon dengan tele lens yang lumayan panjang. Pas duduk di lobby kulihat Raini melintas sambil membawa kotak film. Hadeh, apalagi ini. Masak kebetulan banget ada acara ketemuan seperti ini?

“Mas Eko bawa tustel ya?”

“Bawa nih, tapi ini punya Sastro bukan punyaku”

“Tustelku ketinggalan mas. Film ini jadi nganggur deh”

Dalam hati aku berkata,”Kasihkan saja film itu ke aku, nanti kupotret wajah Raini deh”

“Mas Eko mau pakai film ini? Daripada gak kepakai. Lumayan mas, isi 36”

“Wah terima kasih mbak Raini. Nanti biar tak sampaikan ke Sastro”

“Mas Eko tidak punya tustel sendiri?”

“Ndak punya mbak”

Sambil memberikan satu kotak film fuji isi 36exp, Raini duduk di kursi di depanku. Sebuah posisi duduk yang sangat kusenangi, karena aku bisa memandang wajah ayu Raini secara utuh. Kulihat wajah Raini sedikit tidak tenang, seperti akan melakukan sesuatu tetapi ada yang menahannya untuk melakukan sesuatu. Puji Tuhan yang telah menciptakan cewek secantik ini.

“Sudah jalan kemana saja mbak?”, ucapku memecah kebuntuan situasi.

“Mau ke Malioboro tapi belum sempat mas, sibuk ngurusi teman-teman yang bandel-bandel. Eh mas Eko bawa motor? Anter aku yuk?”

“Ha????”, hatiku langsung meloncat. Untung suara itu hanya ada dalam hatiku saja.

“Wah aku tidak punya motor mbak. Aku hanya bawa sepeda onthel kesini tadi. Kalau mau boncengan sepeda onthel ayuk mbak”, jawabku sekenanya. Maklum sepedaku tidak ada goncengannya, jadi iseng saja kutawarkan. Paling juga Raini menolak dengan halus.

“Bener mas?”

“Iya bener. Kenapa?”

“Malam-malam sepedaan gak apa-apa di Jogja?”

“Ya ndak apa-apa mbak”

“Kuat nggoncengin aku?”

“Kuat donk”

Dalam hati aku meringis. Mau ditaruh dimana Raini ini. Sepedaku tidak ada goncengannya dan hanya sepeda “jengki” yang sedikit gembos bannya, karena aku lupa dimana menaruh pompa.

…..>>> bersambung ke Cerpen : Kehangatan Cintaku (2)

Naik motor pinjaman

Naik motor pinjaman

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s