Cerpen : Kehangatan Cintaku (3)

Keindahan alam di film 5 cm

Cerpen : Kehangatan Cintaku (3) ini merupakan kelanjutan dari artikel Kehangatan Cintaku (1) dan Kehangatan Cintaku (2).

+++

Surat menyurat antara aku dan Raini berjalan sangat lancar, apalagi setelah menikmati indahnya malam minggu dalam rangkaian Gadjah Mada Fair di Lapangan Pancasila UGM Jogja. Topik yang dibahas benar-benar tidak penting dan lebih banyak cerita tentang kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur kembali.

Ada juga gambar denah perjalanan dari rumah menuju kampus. Mulai dari jalan kaki ke halte bayangan dekat rumah sampai turun di halte bayangan dekat kampus dan dilanjutkan jalan kaki menuju kampus. Kadang aku bercerita bahwa saat tidak punya uang, aku jalan kaki dari kampus menuju rumah.

Dari cerita yang tertulis dalam surat itu, kubayangkan kalau kehidupan keluarga kita (Aku dan Raini) kurang lebih sama atau setara. Persahabatan melalui surat inipun makin seru dan makin deras surat yang terkirim dari kita berdua. Tidak ada kata cinta di antara kita berdua, karena aku memang tidak menganggap ini sebagai sebuah kisah cinta. Aku hanya menganggap ini sebagai keindahan persahabatan melalui surat. Sampai suatu saat ketika aku akhirnya bertemu dengan Raini di Surabaya. Meski kata cinta tetap tidak terucap, tapi ada debar di hati ketika di suatu waktu tangan ini saling meremas.

Awal pertemuan di Surabaya terjadi ketika Agus, kawan karibku, mengajakku jalan-jalan antar kota antar propinsi. Kebetulan kita berdua memang sering jalan-jalan ke luar kota naik mobilnya yang kuno tetapi penuh semangat.

“Kita naik mobil yang lain ya”, kata Agus.

“Bukan naik Toyota Hijau yang penuh semangat?”, kataku

“Hari ini kita naik Honda”

“Wow … Acord?” Honda Accord adalah jenis mobil yang dipakai orang tua Agus.

“Bukan. Honda Taufik !”, sambil tertawa Agus menunjukkan kunci mobil barunya.

Sebenarnya Honda Civic 78 itu bukan mobil baru, tapi mobil itu memang baru kali ini dipegangnya. Warnanya putih metalic, sehingga nampak sporty dan bergaya muda. Akupun jadi terinspirasi untuk mengajak Agus ke Surabaya. Segera kucari alamat Raini dan kutulis di sebuah sobekan kertas.

“Bagaimana Gus, kalau kesini perjalanan kita hari ini?”, kataku sambil menunjukkan alamat rumah Raini

“Surabaya? Hayuk ! Kayaknya dia tinggal di perumahan mewah ya?”

“Ah enggak tuh. Dia orangnya sederhana kok. Bisa jadi memang berdekatan dengan perumahan mewah”

Sepanjang jalan kuceritakan tentang Raini, seperti apa yang kutafsirkan dari isi suratnya. Betapa Raini sering jalan kaki dari rumahnya menuju ke halte dan kemudian melanjutkan ke kampus naik angkot, bila dia tidak diantar oleh ibunya. Kuceritakan juga kalau Raini adalah aktifis teater yang juga suka kegiatan sosial membantu korban banjir atau semacamnya.

Posko Peduli Banjir

Posko Peduli Banjir (bukan di Surabaya)

“Wah klop deh. Aktifis teater dua kota bertemu hari ini dalam sebuah kisah klasik di Surabaya, hahahaha….”

Aku tersenyum memaknai ucapan dari Agus. Hari ini akan menjadi hari bersejarah ke dua setelah hari pentas di Gadjah Mada Fair. Kubayangkan Raini akan terkejut melihatku mendadak muncul di Surabaya dan tidak naik angkot tetapi naik mobil pribadi.

Kuingat di surat terakhirku aku sedikit menyinggung keinginanku untuk main ke Surabaya tetapi terkendala banyak hal. Mulai dari waktu, jarak yang jauh dan kesibukanku di acara lain. Tak akan pernah terpikir, tiba-tiba aku bisa meluncur ke Surabaya bersama Agus menemui Raini.

+++

Kuperhatikan alamat Raini yang kutulis di sobekan kertas. Berulang-ulang kubaca dan tetap saja tulisan itu sesuai dengan alamat rumah besar yang ada di hadapanku. Ada seorang laki-laki yang sedang membersihkan halaman rumah. Lelaki itu sesekali berhenti untuk melihat ke arah mobil Agus dan kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.

“Bener ini rumah Raini?”, tanya Agus sekali lagi, karena melihatku ragu-ragu

“Kalau alamatnya sih benar”, jawabku ragu

“Kalau mendengar ceritamu sepanjang jalan, ya tidak cocok dengan kondisi rumahnya. Atau dia hanya kost disini?”

“Ini kan jelas bukan rumah kost”, ucapku tanpa ekspresi lagi

Akhirnya mobil berjalan pelan dan menjauhi rumah mewah Raini. Tak tentu arah mobilpun meluncur di berbagai ruas jalan Surabaya, sampai akhirnya kita tersadar bahwa kita belum melakukan klarifikasi dengan pemilik rumah, kenapa sudah langsung ngacir?.

“Yuk mampir lagi ke rumah Raini. Kalau salah rumah ya sudah, tapi jelas faktanya”, ajakku pada Agus yang kelihatannya tidak percaya dengan rumah Raini. Kucoba yakinkan bahwa Raini bukan type pembohong, meski dalam hati aku juga ragu apakah aku sedang dipermainkan Raini atau aku yang belum bisa memahami gaya bahasa Raini.

Sesampai di rumah Raini kembali, kulihat rumah besar itu tambah sepi karena laki-laki yang tadi membersihkan halaman sudah tidak terlihat lagi. Akupun turun dari mobil dan mencari bel yang ada di pagar halaman. Tidak ada tanda-tanda bel itu sudah terdengar di dalam rumah ketika kupencet, sehingga akupun mencoba memencet bel itu lagi.

Belum sempat kupencet, kulihat pintu rumah seperti akan dibuka oleh seseorang. Benar saja, pintu rumah terbuka dan munculah seorang wanita yang langsung menghampiriku.

“Mau nanya mbak, apa benar ini rumah mbak Raini?”

“………………….”

“Yang kuliah di Hukum Unair”

“Ya benar”

“Ada mbaknya?”

“Hmm nama mas siapa, darimana?”

Kusebut namaku dan berlalulah mbak yang kutak tahu namanya itu menuju ke pintu depan rumah. Sejenak kuperhatikan rumah mewah di depanku. Ada sebuah mobil Jeep tanpa atap di car port yang penuh dengan asesoris off roader, terlihat kontras dengan suasana rumah mewah yang akan lebih cocok kalau dihuni oleh mobil Mercy, BMW atau semacamnya.

Keindahan alam di film 5 cm

Keindahan alam di film 5 cm

Agus keluar dari mobil dan menanyakan kebenaran rumah Raini. Ketika aku menganggukkan kepala, nampak Agus garuk-garuk kepala. Dia sama sekali tidak berpikir kalau aku akan bertamu di rumah semewah ini.

Beberapa saat kemudian, keluar kembali mbak-mbak yang aku belum kenal dan membuka pintu pagar. Dia mempersilahkan aku dan mobil Agus memasuki halaman rumah itu. Sementara itu dia kembali menutup pintu pagar dan kembali masuk dalam rumah mewah itu. Kita berdua ditinggal di teras depan untuk menikmati suasana sejuk rumah itu.

“Eh… mas Eko, ayu masuk mas. Ini siapa ya?”, tiba-tiba terdengar suarta Raini memecah kesunyian ruangan teras. Kulihat Raini yang beda dengan penampilannya ketika di Jogja. Sangat feminim, jauh dari penampilan anak teater dan juga jauh dari penampailannya ketika nonton band di Gadjah Mada fair beberapa bulan lalu.

Harus kuakui bahwa aku dan mungkin juga Agus agak gugup menerima kondisi perkenalan seperti ini. Pembicaraan agak tersendat di awal, tapi akhirnya mengalir deras ketika Agus juga sudah menemukan karakter Raini yang ceplas ceplos.

Tanpa terasa pembicaraanpun sampai pada keraguan kita memasuki rumah ini.

“Ini memang sudah menjadi nasib mas Eko yang baik. Coba kalau tadi langsung masuk saat ada Parmin, pasti dia bilang aku tidak ada”

“Memang kenapa?”

Raini terdiam sebentar, seperti ada keraguan, tapi kemudian dia melanjutkan lagi kalimatnya.

“Aku tadi pesan ke Parmin, hari ini sedang tidak mau terima tamu, tapi aku lupa tidak bilang ke Siti, sehingga dia mempersilahkan mas Eko dan Mas Agus masuk ke rumah”

“Memang kenapa kok tidak mau terima tamu?”

“Maklum mas, sebulan ini banyak kejadian banjir di Surabaya dan aku sibuk ikut ngurusin bantuan masyarakat untuk mereka, jadi tidak sempat belajar, padahal besok mau ujian”

“Waduh, kalau gitu kita pamitan donk, takut ngganggu belajarnya”

“Wah jangan pulang donk, kan baru sampai. Harus dirayakan nih. Cari bebek kayu tangan yuk”

Belum sempat menanggapi permintaan Raini, tiba-tiba muncul sesosok wanita anggun dari balik pintu. Padangannya sejuk dan  menyejukan hati. Terlihat dia sangat mirip dengan Raini, sehingga bisa dipastikan dia pasti kakaknya.

“Ma, ke kayu tangan yuk. Mumpung ada tamu dari Jogja nih. Yang sering kuceritakan itu lho ma. Yang dari teater Gadjah Mada”

“Ini yang namanya nak Eko dari Jogja? Raini sering cerita tentang kegiatan teaternya dan selalu menyebut nak Eko dalam ceritanya. Kapan datang?”

Baru kusadari kalau wanita ini adalah ibu dari Raini. Terlihat masih sangat muda, bak adik dan kakak dengan Raini. Tersipu kami berdua menyalami ibu Raini dan menjawab pertanyaannya dengan gugup.

Makin gugup ketika ibu Raini dengan tegas mengusir kami berdua, meski dengan cara yang sangat halus.

“Bukankah tadi sudah pesan Parmin untuk tidak terima tamu?”, ucap ibu Raini dibalik senyumnya yang teduh.

Akhirnya kitapun pamit beneran dan langsung menuju warung di arah perjalanan ke Jogja. Pengusiran yang sharusnya menyakitkan itu ternyata tidak banyak mempengaruhiku. Aku lebih terkesan dengan kalimat yang lain.

“Ini yang namanya nak Eko dari Jogja? Raini sering cerita tentang kegiatan teaternya dan selalu menyebut nak Eko dalam ceritanya”

Benarkah Raini sering membicarakan aku di depan orang tuanya? Benarkah Raini yang cantik dan kaya raya itu tertarik padaku? Inikah cinta tanpa kenal kasta?

“Putus lagi cintaku… putus lagi cintaku”, gurau Agus sepanjang jalan sementara aku tenggelam dalam lautan lamunan tanpa batas.

“Aku cinta padamu Raini”

+++

Bersambung ke artikel Kahangatan Cintaku ke (4). illustrasi Foto jeep diambil dari film 5 cm

3 komentar

  • kehangatan cintaku ke (4) kok tidak ada ya

    Suka

    • Wah belum ditulis mas @Bambang Sumaryono
      Tunggu ya…

      Salam sehati

      Suka

  • Ping-balik: Cerpen : Kehangatan Cintaku 2 | Eshape Blogger Jogja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s