Tugu Jogja macet total


Jam 00:45 Tugu Jogja macet total. Pergerakan hanya terjadi kalau ada yang mau mundur dan memberi jalan bagi pengendara dari jurusan lain. Sayangnya beberapa motor yangh kuberi jalan akhirnya dikunci oleh beberapa motor di belakangku yang emosi ingin segera melewati Tugu. Ada beberapa klakson motor yang kudengar dan sungguh aku jadi ingat kalimat “Jogja berhenti Nyaman”.

Ini mungkin memang tahun termacet di Jogja.

Benarkah kesimpulanku ini? Aku tidak tahu pasti, yang jelas karena aku orang Jogja asli dan tahu jalan tikus akhirnya berhasil berbalik arah dan memilih beberapa jalan tikus untuk menghindari simpul-simpul kemacetan di sekitar Tugu.

“Mas arah jalan parangtritis lewat mana ya?”

Seseorang berplat polisi “H” Semarang bertanya padaku di tengah suasana riuh deru motor di simpang jalan Magelang dan Diponegoro. Kalau aku jawab belok kiri ke arah tugu, maka berarti aku menjerumuskan dia ke lalu lintas macet di tugu Jogja. Jadi aku terpaksa menjelaskan pada sang penanya kondisi di tugu Jogja.

“Mas, seharusnya belok kiri tapi tugu Jogja macet total, saya baru saja dari sana. Jadi sebaiknya belok kanan. Dua kali ketemu lampu merah dan kemudian belok kiri. Lurus terus dan nanti belok kiri lagi”

Sang penanya menirukan ucapanku, namun sebelum aku sempat melanjutkan lampu lalu lintas sudah hijau dan kitapun berebutan belok ke kanan arah Godean.

Di jalan, Lilo bertanya padaku. “Arah parang tritis kemana sih pak?”

Aku kembali menjelaskan dengan lebih detil pada Lilo. Mungkin dia heran kenapa aku mengarahkan sang penanya ke arah yang menjauhi jalan parangtritis. Perjalanan dari Taman Kuliner Condongcatur ini memang penuh cerita.

Jalan yang sepi di wilayah Sleman berubah drastis begitu kita memasuki Jetis. Rupanya seputaran Tugu sedang dilanda kemacetan total. Kecepatan motor yang tadinya ada di angka sekitar 60 km/jam turun drastis karena beberapa kali terhenti oleh padatnya lalu lintas.

Perjalanan yang biasanya ditempuh tidak sampai 1/2 jam akhirnya ditempuh lebih dari satu jam. Padahal hanya macet di tugu saja. Yang bikin para pengendara motor maupun mobil keki adalah adanya acara poto memoto di tugu. Bukannya merelakan jalan dipakai oleh para pengendara kendaraan, tapi para aktor dadakan itu justru membuat kondisi Tugu menjadi semakin parah macetnya.

Satu polisi yang akhirnya kulihat di Tugu rupanya sudah tidak sanggup mengendalikan situasi yang sudah terlanjur semrawut. Dia hanya menggerak-gerakkan lampu tongkat warna merah dengan harapan yang diberi jalan segera memakai jalan dan yang tidak diberi jalan jangan nyelonong. Sayangnya banyak sekali yang tetap nekad menyerobot antrian.

Alhamdulillah, akhirnya bisa sampai di rumah Cungkuk dengan selamat.

“Pak ditulis di blog menarik nih”, kata Lilo.

“Apa yang mau ditulis?”, kataku tersenyum.

“Bapak yang menulis”

“Terus apa yang ditulis?”

“Ya perjalanan kita ini pak”

Akupun mengikuti perintah Lilo dan menuliskan peristiwa menjelang dan sesudah tahun baru di blog ini.

Taman kuliner hari ini memang larut dalam suasana nostalgia. Para penggemar Koes Plus tampil memukau di sepanjang acara. Penonton memang tidak sebanyak orang yang memacetkan Tugu, tapi justru terasa pertemanan yang lebih hidup di Taman Kuliner. Para penjual saling bercengerama dan para anak muda yang datang di Taman Kuliner saling asyik dengan permainan mereka sendiri sambil menunggu waktu pergantian tahun.

MC di Taman Kuliner Condongcatur

MC di Taman Kuliner Condongcatur

Duo pembawa acara malam ini dengan sangat piawai membawakan acara demi acara dengan lancar. Kadang penonton diajak berdiskusi ataupun para penari dadakan yang memeriahkan acara ini diwawancarai. Ada dua kelompok penari yang kulihat. Gaya mereka mirip tapi komunitasnya berbeda. Mereka memang selalu hadir di acara nostalgia Koes Plus. Mereka menari poco-poco yang sudah dimodifikasi, disesuaikan dengan lagu yang dimainkan.

Tari POCO-POCO

Tari POCO-POCO

Bila lagu sedih, maka gerakan mereka berbeda dengan kalau sang penyanyi menyanyikan lagu ceria. Gerakan tari ini ternyata membuat sang penyanyi ikut terpancing gairahnya. Merekapun menyanyi dengan makin bersemangat. Gairah kehangatan malam ini membuat semua larut dalam suasana yang padu, meskipun tidak banyak penonton yang hadir malam ini.

Peristiwa pergantian tahun ini sebenarnya adalah hari-hari yang biasa saja, Bukan hari yang istimewa. Hanya saja, keluargaku yang biasanya menikmarti acara ini di rumah saja, hari ini mencoba mencari suasana lain. Kebetulan pegawai di warung mie sehati sedang libur semua, maka kitapun membuka warung dan menjaganya sendiri.

Kembang Api Tahun baru 2014

Kembang Api Tahun baru 2014

Tepat jam 00:00 kita menyaksikan acara pembakaran uang dalam bentuk kembang api. Indah memang , tapi kadang terasa mubadzir uang sebanyak itu hanya dibakar dan dinikmati dalam waktu yang sangat singkat. Semoga kemacetan hanya ada di tugu saja.

Selamat tahun baru 2014. Semoga tahun ini tidak diawali dengan sholat subuh yang terlambat. Amin.

Koes Plus Mania Taman Kuliner Condomngcatur

Koes Plus Mania Taman Kuliner Condongcatur

3 komentar

  • Kok Cari Vidio Nya Susah Buanget

    Suka

    • wah susah ya?
      Aku jarang nyari video sih…:-)

      Suka

  • Ping-balik: Wisata Jogja 2014 | Eshape Blogger Jogja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s