Deklarasi Damai Antimiras di Jogja

Jaga remaja kita dari bahaya MIRAS

“Deklarasi Damai Antimiras di Jogja membuka mata para pengurus GeNAM di Jakarta, bahwa ternyata masyarakat dan aparat pemerintah bisa bersatu, saling bahu membahu dalam kebersamaan yang indah”, begitu kata mas Civic ketika selesai acara deklarasi Damai Antimiras di Kilometer Nol Jogja.

Di kota lain memang deklarasi GeNAM (Gerakan Nasional Antimiras) didukung oleh banyak pihak, tetapi tidak selengkap yang ada di Jogja. Semua pihak ikut berpartisipasi aktif untuk mendukung gerakan kecil ini. Disebut gerakan kecil karena memang gerakan ini hanya dikelola oleh berapa orang saja dan sebagian besar dari mereka bahkan belum pernah melaksanakan event seperti ini, dengan melibatkan banyak orang, banyak instansi dan hampir semua media yang ada di Jopgja.

Baik media audio visual ataupun media cetak, terlihat hadir dalam acara ini. Mungkin press release yang dikeluarkan oleh panitia acara ini mereka anggap menarik untuk diliput, sehingga merekapun berbondong-bondong datang di acara ini.

Yang menarik adalah adanya BAND dari POLRI yang ikut memeriahkan acara Anti Miras (Minuman Keras) ini. Mereka bukan artis yang berpakain polisi, tetapi Polisi yang bisa bernyanyi seperti layaknya artis papan atas. Sound system yang mereka bawa juga cukup memadai untuk membuat penonton yang membanjiri simpang empat Kilometer Nol terpuaskan.

Band Polri di KM Nol 23 Pebr

Band Polri di KM Nol 23 Pebr

Ada juga band lain yang ikut memeriahkan acara ini dan mereka tampil demi memeriahkan acara deklarasi Genam Jogja tanpa melihat apakah mereka mendapat imbalan yang memadai dari panitia. Mereka mengedepankan meriahnya acara dan bukan apa yang mereka dapat dari tampilnya mereka.

Sosialisasi ini juga dihadiri oleh banyak anak-anak remaja, karena memang komunitas Genam ini mempunyai sasaran pada para remaja yang masih berumur di bawah 21 tahun. Saat ini kita baru “ngeh”, bahwa ternyata miras dijual bebas di mini market yang menjamur di negara kita. Tak perlu menunjukkan ID Card (KTP misalnya) dan mereka sudah bisa membawa pulang sebotol atau beberapa botol miras dari mini market.

Jaga remaja kita dari bahaya MIRAS

Jaga remaja kita dari bahaya MIRAS

Hanya dengan membawa uang yang cukup, maka mereka bisa keluar dari mini market dengan miras di tangan. Mereka bebas mengkonsumsi miras, kapanpun, dimanapun dan tak ada sangsi buat mereka. Inilah yang memprihatinkan kita semua dan inilah yang membuat mas Civic, wakil Ketua Umum Genam Jakarta (Pusat) memunculkan istilah 4P. Pemabuk, Pembeli, Penjual dan Pembuat.

“Mari kita persempit ruang gerak 4 P ini, tapi bukan dengan jalan kekerasan. Kita sadarkan masyarakat, bahwa miras itu jelas merusak generasi muda kita. Biarkan masyarakat menjadi bertambah cerdas dan mereka sanggup bersatu untuk melawan miras”

“Kita ini hanya beberapa orang saja, tapi kalau kita mampu menyadarkan masyarakat untuk melihat bahaya dari Miras, maka kekuatan perlawanan terhadap miras akan sangat besar”

“Mari kita contoh pesepak bola yang baru saja menerima penghargaan sebagai pesepak bola terbaik. Dia dengan yakin menolak miras dan dia dengan rutin memberikan darahnya untuk dibagikan ke mereka yang membutuhkan. Bahkan kabarnya dia juga menolak tubuhnya untuk ditato”

“Ada juga contoh lain di dunia bola. Frank Ribery Bayern Munchen dengan tegas menolak memegang miras ketika sesi foto bersama. Memegang saja tidak mau apalagi meminumnya”

Band Polri di KM Nol 23 Pebr

Band Polri di KM Nol 23 Pebr

Acara deklarasi Anti Miras ini nyaris gagal karena, entah karena apa, mendadak acara Car Free Day ditiadakan pada hari Minggu 23 Pebruari 2014. Panggung yang swedianya diletakkan di tengah jalan dio Kilometer Nol akhirnya digeser di pos polisi yang ada di pojok selatan sempang empat KM Nol. Untung yang bermain BAND adalah dari anggota POLRI, sehingga proses pemakaian listrik dan tetek bengeknya tidak ada masalah sedikitpun.

Meski Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak bisa hadir dalam acara ini dan mewakilkan pada wakilnya, tapi kedatangan mantan Walikota Jogja yang paling dicintai masyaraklat Jogja, pak Herry Zudianto, yang sekarang menjadi ketua PMI DIY, membuat suasana acara menjadi meriah. Beliau hanya tampil sebentar, tapi sudah menyampaikan kalimat yang membuat hadirin bertepuk tangan,”Minum Miras itu Katrok…Miras itu ndesoooo….”

Terima kasih pak Herry atas kedatangannya yang membuat suasana “Deklarasi Damai Antimiras di Jogja” jadi meriah, khas Jogja banget.

Terima kasih pak Herry Walikota Jogja terbaik

Terima kasih pak Herry Walikota Jogja terbaik

+++

Deklarasi Genam Jogja di FB

6 komentar

  • Ping-balik: Gowes Antimiras | Es Ha Pe Blogger Jogja

  • Ping-balik: Apel Antimiras Jogja | Es Ha Pe Blogger Jogja

  • nah yang seperti ini yang harus dilakukan… yaitu sosialisasi sebagai ajang informasi dan saling mengingatkan bahayanya miras apalagi lapen bagi generasi kita… nice share mas!

    Creative Artwork selesai posting kumpulan koleksi website design gratis untuk referensi

    Suka

    • tks

      salam sehati

      Suka

  • bagus tuh mas, 🙂

    Suka

    • Yes !:-)
      Terima kasih mas @Indera

      Salam sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s