Gowes Belitung

Gowes Belitung Timur

Akhirnya mimpiku tahun lalu untuk Gowes Belitung terlaksana pada tanggal 29-30 Maret 2014 lalu. Rasanya waktu punya mimpi itu gak terbayang bahwa mimpi itu akan tercapai hanya dalam waktu satu tahun. Tadinya kupikir akan tercapai beberapa tahun ke depan atau bahkan mungkin tidak tercapai.

Membawa sepeda sendiri bersama puluhan teman-teman yang juga membawa sepeda sendiri rasanya seperti mimpi beneran. Bahkan ketika hari itu datang, rasanya masih belum percaya bahwa yang terjadi ini bukan dalam mimpi tapi sudah ada dalam kenyataan.

Temanku mas MJ, yang begitu antusias mewujudkan mimpi ini, ternyata memilih hari yang sulit. Aku langsung bereaksi dengan menyatakan bahwa aku tidak bisa ikut di hari itu, maklum kubayangkan akan lebih nyaman memilih hari biasa bukan hari libur panjang. Baru beberapa saat diumumkan harinya, aku langsung cek penerbangan Citilink ke Belitung dan dugaanku benar, tiket pesawat ke Belitung di hari-hari itu sudah habis, istilahnya ludes !

Garuda juga hanya menyisakan beberapa seat untuk penerbangan ke Belitung. Yang masih ada tinggal Sriwijaya, maklum jadwal penerbangan Sriwijaya memang paling banyak untuk rute Jakarta Belitung. Akhirnya akupun memilih Sriwijaya dengan memakai jasa Travel Lovina Jogja. Aku sengaja paling dulu memesan agar peserta gowes yang lain segera memesan tiket.

Ada yang tergerak dengan usulku dan ada yang tetep santai, sampai akhirnya mereka tahu bahwa memesan tiket di hari libur panjang itu tidak mudah. Alhamdulillah, meskipun berangkat tidak bisa barengan tapi hari pertamaku sampai di Hotel Aston Belitung sangat memuaskan. Lobby hotel disulap jadi parkir koper sepeda dan akhirnya berubah menjadi lokasi bengkel sepeda, karena semua koper dibuka di sore itu juga dan langsung semua sepeda dirakit kembali.

Hotel Aston Belitung

Hotel Aston Belitung

Suasana lobby Hotel Aston berubah menjadi penuh canda tawa, maklum tidak semua pesepeda ahli merakit sepeda. Di sesi merakit sepeda juga ada beberapa sepeda yang baru ketahuan kalau melepasnya salah, apalagi merakitnya.

Selesai merakit sepeda, semua peserta langsung masuk kamar masing-masing untuk berganti kaos atau sekedar membasahi badan yang lengket oleh keringat, padahal hujan baru saja turun.

“Sudah berhari-hari tidak turun hujan dan hari ini turun hujan cukup deras di Belitung, tapi setelah hujan, rasanya udara kembali panas”, komentar seorang peserta goweser.

Hari pertama gowes pemanasan diarahkan ke Pantai Laskar Pelangi dengan jarak sekitar 27 km. Sayang adegan menonton matahari tenggelam tidak dapat disaksikan dengan baik karena awan menghalangi pandangan ke arah matahari tenggelam. Yang bisa dilakukan hanay narsis bersama di pinggir pantai.

Tongkrongan kita yang seragam dan penuh canda tawa rupanya membuat para pengunjung pantai Laskar Pelangi tertarik untuk ikut bergabung dan berfoto bersama kita. Mungkin merek amengira kita ini roimbongan pembalap dari Jakarta yang sudah kondang, sehingga mereka merasa senang bisa mengabadikan liburan mereka di pantai Laskar Pelangi bersama pembalap Jakarta. Padahal hanya ada satu pembalap beneran yang ikut rombongan kita.

Mas Fanny Gunawan, pembalap aslinya malah sering jadi penasihat teknis masalah sepeda, padahal dia bukan mekanik sepeda. Dengan riang, mas Fanny Gunawan ikut memegang kunci L atau kunci pas untuk memperbaiki setelan sepeda yang masih dianggap kurang pas.

Seusai makan malam yang didahului dengan minum kelapa muda, maka perjalanan dilanjutkan menuju hotel Aston lagi untuk istirahat malam. Suasana perjalanan malam lebih sepi dibanding bersdepeda di siang hari, tapi para goweser tetap semangat dalam gelap malam menempuh perjalanan pantai Laskar Pelangi Hotel Aston Belitung.

Gowes Malam

Gowes Malam

Sampai di hotel baru sadar bahwa tidak ada tempat parkir sepeda di hotel Aston. Pihak hotel mengijinkan di parkir di lobby, tetapi masalah keamanan mereka tidak bisa menjamin, sehingga akhirnya diputuskan semua sepeda disimpan di kamar masing-masing. Kamar hotel yang cukup luas membuat semua pesepeda tidak berkeberatan dan justru senang bisa tidur bersama sepeda masing-masing.

Gowes Hotel Aston

Gowes Hotel Aston

Pagi sehabis subuh, perjalanan yang sebenarnya barulah dimulai. Jarak tempuh sepanjang 87 km ditempuh dalam tiga etape. Pos I ada di km 42, pos II ada di km 60an dan pos III atau tujuan akhir adalah pantai kota Manggar, kota 1001 warung kopi Belitung.

Tidak semua peserta sesuai pos tersebut, ada yang melewati pos II dan langsung menuju ke pos III, tapi banyak juga yang menambah pos mereka. Ada yang sudah berhenti di km 20 sebelum pos I, ada juga yang menambah pos pada beberapa km setelah pos I.

“Waduh panas banget ini, kita cari pohon yuk meneduh sebentar”, kataku pada beberapa pesepeda.

“Wah lokasi ini sudah tidak ada lagi pohon, sepanjang jalan hanya pohon di rumah orang yang ada. Mau mampir ke rumah penduduk?”

Akhirnya aku dan beberapa teman tetap mengayuh sepeda karena tidak menemukan pohon di pinggir jalan, sampai akhirnya aku mendengar suara mesin mobil di belakangku. Ketika kutengok ke belakang ternyata ada ambulan yang mengikutiku pelan-pelan.

“Kalau ada ambulan di belakangku artinya aku paling belakang donk”, pikirku. “Padahal aku yakin ada beberapa peserta di belakangku, mengapa kok aku jadi yang paling belakang?”, aku terus berpikir sampai akhirnya aku mendapat jawaban ketika masuk dalam mobil ambulan itu.

Ternyata ada beberapa pesepeda yang sudah duduk manis di dalam ambulan yang dingin menyegarkan itu.

“Lho? Kok disini pak?”, kataku

“Iya nih, saya dipesan untuk tidak terlalu ngoyo menempuh rute gila ini”, jawabnya sambil tersenyum

“Hahahaha…. saya tak kuat-kuatkan pak, biar lambat yang penting sampai finish”

“Silahkan pak Eko, saya sudah bersepeda lebih dari 60 km sudah cukuplah. Cuaca juga sangat panas di bumi timah ini”

Perjalanan yang melewati berbagai desa dengan berbagai model tanjakan dan turunan memang mengasyikkan sekaligus melelahkan. Ada satu tanjakan yang tidak terlalu curam tetapi cukup panjang, sehingga sempat hampir menyerah menjalaninya. Alhamdulillah, masih diberi kekuatan untuk melewatinya, meskipun ada godaan kuat dari panitia bersepeda motor yang mengawal di samping kananku.

Rute Gowes Pulau Belitung

Rute Gowes Pulau Belitung

Perjalanan gowes 87 km akhirnya tuntas sudah di pantai kota Manggar. Semua disuguhi air kelapa muda pengganti ion yang hilang. Akupun memilih salah satu saung di pinggir pantai dan menikmati tidur telentang dengan kaki di angkat. Hari itu terasa sangat indah. apalagi ada istri yang siap melayani kebutuhan makan minumku.

Ini memang gabungan antara bersepeda gembira, menikmati segala macam model tanjakan dan turunan, membuktikan kekuatan daya tahan tubuh terhadap panas dan jarak tempuh yang lumayan jauh dan piknik berdua bersama istri. Terima kasih buat teman-teman yang sudah membuat hari ini menjadi hari bersejarah bagiku.

Salam sehati.

Gowes Belitung Timur

Gowes Belitung Timur

 

11 komentar

  • Ping-balik: Blogger Goweser | Blogger Goweser Jogja

  • Ping-balik: Sepeda itu cukup satu | Blogger Goweser Jogja

  • Ping-balik: Gowes Borobudur | Es Ha Pe Blogger Jogja

  • Ping-balik: Gowes Jakarta | Es Ha Pe Blogger Jogja

  • Ping-balik: Gowes Kaliurang | Es Ha Pe Blogger Jogja

  • seru kang ceritanya.

    Suka

    • seru dan sehat

      salam sehati

      Suka

  • Andaikan saja saya punya sepedahnya pasti ikutan goes

    Suka

    • Semoga segera beli sepeda
      amiiin

      salam sehati

      Suka

  • ternyata boleh ya tidur bareng sepeda di hotel…ha3x

    http://www.mesinidcard.com

    Suka

    • iya nih
      baru sekali ini tidur bareng sepeda

      salam sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s