Kehamilan pertama

LuLiTa (Luluk dan Lita)

Kehamilan pertama istriku benar-benar seperti berkah tak terkira, meski caraku menerimanya tidak sama dengan yang sering ditampilkan dalam beberapa adegan sinetron di layar kaca. Bagaimana tidak, aku menikah pada tanggal 12 Desember 1991 dan baru tahun 1994 aku merasa akan punya momongan.

Meski hari kelahiran masih jauh, aku sudah mulai merancang nama untuk anakku. Segala macam metode sudah kupakai untuk menemukan nama anak yang paling memenuhi doa kita berdua. Aku begitu yakin dan percaya bahwa aku akan mendapat anak laki-laki, sehingga nama laki-laki yang selalu kurangkai. Berbagai kombinasi doa sudah kurangkai menjadi beberapa nama yang nanti akan kuputuskan di hari H kelahiran anak pertamaku.

Setiap pagi, sehabis subuh, selalu ada acara rutin makan roti dicelup susu segar. Kita jalan berdua menyusuri jalan utama di Blang Pidie Aceh sambil ngobrol apa saja. Istriku jago merangkai cerita dan aku cukup menjadi pendengar yang setia, meskipun kadang-kadang menyela karena ceritanya terlalu panjang, detil dan lari kemana-mana.

Apa memang semua wanita seperti itu ya?

Bagi mereka, para istri, yang penting bercerita, soal isinya mereka tidak begitu peduli, pokoknya cerita dan wajah mereka langsung jadi berseri-seri. Kadang aku bisa menghadapinya dengan baik-baik, tapi kadang senyum kecut juga, soalnya ceritanya bisa meloncat-loncat kemana-mana. Kadang aku jadi kehilangan fokus saat mendengarkan ceritanya, meskipun aku sudah berusaha sefokus mungkin mendengarkan.

Mungkin itu beda antara pria dan wanita ya?

Yang jelas kebiasaan jalan pagi sehabis subuh ini ternyata banyak manfaatnya. Dokter yang merawat istriku selalu tersenyum melihat perkembangan janin si kecil yang terlihat sehat dan memang pada saat proses kelahirannya amat sangat lancar. Bagi suami siaga yang baru pertama kali mempunyai anak, maka proses kelahiran anak pertamaku benar-benar tidak mirip dengan yang sering muncul di sinetron.

Sehabis subuh aku antar istriku ke RS terbagus di Banda Aceh dan beberapa saat kemudian sang jabang bayi sudah menghirup indahnya dunia ini. Aku segera mengabarkan kelahiran ini pada dua orang tuaku, baik orang tua kandungku maupun mertuaku. Kabar baik ini tentu membuat mertuaku sangat gembira, sehingga langsung menyempatkan terbang ke Banda Aceh, melihat cucu keduanya.

Luluk Tresnaningtryas berkaraoke ria

Luluk Tresnaningtryas berkaraoke ria

Aku hanya bisa tersenyum melihat kenyataan anakku ternyata perempuan bukan laki-laki. Aku keluar dari RS bersalin itu dan sambil berjalan keluar aku ternyata langsung menemukan nama anakku. Sebuah perpaduan nama Jawa dan Arab. Akupun langsung masuk lagi ke RS dan menyampaikan nama itu pada istriku. Alhamdulillah istriku dengan ikhlas menerimanya.

Permata Hati Yang tercinta, itulah nama anakku.

Nama Permata kuambil dari bahasa Arab, yaitu Al Lu’lu’ dan kujadikan sebuah nama LULUK.

Hati kuambil dari bahasa jawa yaitu TYAS, sedang Cinta kuambil juga dari bahasa jawa yaitu TRESNA. Dengan demikian lengkaplah nama anakku, Luluk Tresnaningtyas (Permata hati yang tercinta). Itulah doa dari kami berdua orang tuanya, agar Luluk selalu menjadi permata hati bagi semua orang dan juga dicintai oleh semua hati.

Yeni Rumiyaningtyas, Luluk, Lilo dan aku

Yeni Rumiyaningtyas, Luluk, Lilo dan aku

Saat ini Luluk sudah menjadi mahasiswa Sastra Jepang, sebuah jurusan yang sangat disukainya. Kulihat dia benar-benar menikmati kuliah di Sastra Jepang, sebuah jurusan yang tidak pernah kubayangkan akan diambil oleh anakku.

Saat di SMA 1 Teladan Jogja, kulihat Luluk tidak banyak bergaul. Lebih sering didatangi kawan-kawannya dan jarang main ke sekolah atau ke tempat lain. Waktunya lebih sering dihabiskan di kamar untuk menggambar dan kalau keluar dari kamar yang diceritakan tidak pernah kegiatan yang berhubungan dengan sekolahnya. Sejak masuk di Sastra Jepang, banyak sekali kegiatan yang diikutinya. Bahkan kepanitiaan apapun dia ikuti untuk menunjukkan komitmennya sebagai mahasiswa Sastra Jepang.

Di SMA 1 Teladan Jogja, mana mau Luluk ikut panitia, paling banter jadi illustrator majalah sekolah. Sedangkan sekarang dia aktif di berbagai panitia, apalagi kalau ada hubungannya dengan lukisan Jepang. Dia pasti ambil bagian.

Semoga doa kita terkabul buat Luluk Tresnaningtyas. Semoga dia bisa menjadi Permata hati yang dicintai banyak hati. Semoga jalan hidupnya lancar seperti proses kelahirannya yang sangat lancar, berkat rajin jalan pagi sehabis subuh. Amin.

LuLiTa (Luluk dan Lita)

LuLiTa (Luluk dan Lita)

+++

Kehamilan yang ke dua

8 komentar

  • Ping-balik: Kehamilan ke tiga | Es Ha Pe Blogger Jogja

  • Ping-balik: Kehamilan yang ke Dua | Es Ha Pe Blogger Jogja

  • halooo mba Luluk,….arti namanya indah sekali 🙂

    Suka

    • Salam.

      Alhamdulillah, terima kasih mbak Irma yang selalu suka Senja.

      Salam sehati

      Suka

  • sederhana tapi menginspirasi .. 🙂

    Suka

    • terima kasih

      salam sehati

      Suka

  • Mantab Sekali

    Suka

    • Alhamdulillah

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s