Kehamilan yang ke Dua

Haslita Nisa

Kehamilan yang ke Dua istriku ceritanya sedikit berbeda dengan kehamilan yang pertama. Kalau dulu setiap pagi bisa jalan kaki berdua sehabis subuh, maka sekarang kegiatan itu jarang dilakukan. Banyak hal yang menjadi sebab. Tentu penyebab utama adalah cuaca yang sangat dingin di Takengon yang membuat pagi hari selalu nikmat dengan bermalas-malasan saja di rumah.

Dingin pagi memang sangat menusuk di Takengon. Sangat berbeda jauh dengan suasana di Blang Pidie yang subuhnya selalu sejuk karena kita tinggal di dekat pantai dan udara yang nihil polusi. Tahun 90an, memang Aceh adalah salah satu daerah yang masih jauh dari polusi dan alamnya benar-benar masih natural.

Acara makan roti celup susu segar tidak ada lagi di Takengon. Malam hari dan Subuh hari selalu suasana rumah yang muncul. Maunya tinggal di rumah saja dan malas kemana-mana. Bila siang hari barulah kita berkeliaran mencari tempat-tempat yang mengasyikan di kota Takengon yang indah. Kopi Gayo baru kunikmati ketika aku ada di bumi Takengon. Memang sangat cocok dengan udara Takengon yang dingin.

Mbak Luluk, anak pertamaku belum genap menikmati ASI dari ibunya, ternyata adik mbak Luluk sudah ada di rahim istriku. Jadinya mbak Luluk lebih banyak menikmati susu non ASI, dibanding adik-adiknya. Orang jawa bilang “kesundulan”.

Menjelang kelahiran adik mbak Luluk, akupun selesai menjalankan tugas sebagai Kepala Proyek dan semua fasilitas yang melekat padaku kukembalikan ke kantor. Akupun tinggal di rumah tanpa mempunyai mobil dinas lagi, sehingga akupun akhirnya menyewa mobil ke koperasi untuk menghadapi minggu-minggu menjelang kelahiran anak ke dua.

Haslita Nisa dan Monas

Haslita Nisa dan Monas

Aku jadi ingat ketika mertuaku datang di acara kelahiran anak pertamaku. Rumahku yang besar saat itu dipakai oleh beberapa stafku dari Jawa yang tidak punya rumah di Banda Aceh. Beberapa kamar dipakai oleh mereka dan akibatnya setiap kamar selalu ada TV. Di ruang keluarga juga ada TV besar untuk kumpul bersama, berkaraoke bersama. Kalau tidak salah ada 6 (enam) buah TV di rumahku.

Di atap rumah ada sebuah antena parabola dan di halaman belakang rumah terlihat sebuah antena parabola dalam kondisi siap pakai tapi masih terikat rapi. Tentu mertuaku yang memeriksa setiap kamar terheran-heran melihat banyaknya TV di rumahku. Tahun 1995 kondisi seperti itu sebenarnya tidak terlalu istimewa di Banda Aceh, tapi pasti sangat ostimewa bagi mereka yang biasa tinggal di Jawa dan jarang yang mempunyai parabola dengan begitu banyak TV di rumah.

Seperti kehamilan pertama, sehabis subuh kuantar istriku ke RS Bersalin terbaik di Banda Aceh dengan naik mobil sewa. Nama untuk anak ke dua sudah kusiapkan dengan baik. Kecanggihan teknologi saat itu sudah mampu memprediksi jenis kelamin anakku.

Aku ingat nama seorang perawat cantik yang sangat telaten merawatku saat aku sakit. Aku tahu dia merawat karena memang tugasnya sebagai perawat, tetapi caranya memperlakukan pasien dan kecantikannya membuat aku selalu terkenang pada dia. Nama perawat itu HASNA, jadi akupun ingat ketika kedua orang tuaku memberi nama adikku dengan inspirasi perawat yang membantu kelahiran adikku.

Akupun memakai nama HASNA sebagai salah satu bagian doa untuk anak ke duaku. Akupun selalu terobsesi untuk mempunyai anak dengan nama arab yang legendaris yaitu NISA. Itu nama pasaran mungkin, tetapi aku sangat menyukai nama itu. Seolah-olah itu doaku agar adik mbak Luluk nantinya menjadi seorang WANITA yang shalihah.

Nama yang kusodorkan pada istriku adalah HASLITA NISA. Nama itu merupakan rangkaian doaku agar anakku menjadi WANITA yang Baik, cantik dan berbudi. Hasna Jelita dan Nisa jika dirangkai jadilah sebuah nama anak nomor duaku, HASLITA NISA. Tak kusangka akhirnya dia tidak hanya cantik, tapi banyak kawannya, banyak kegiatannya dan banyak juga prestasinya.

Haslita Juara Kompetisi Pasar Modal

Haslita Juara Kompetisi Pasar Modal

Kurang rajinnya istriku jalan pagi kusaksikan di saat proses kelahiran yang sangat berat. Setelah beberapa jam bergulat dengan berbagai macam rasa sakit yang kutahu sangat melelahkan, akhirnya Haslita Nisa lahir di bumi Aceh. Tanganku sampai baret-baret kemerahan karena dipegang dengan sangat erat oleh istriku saat dia menahan sakit dalam proses persalinan. Wajah istriku berubah drastis, benar-benar tidak nampak lagi wajah asli istriku. Wajahnya berubah menjadi sebuah wajah yang sama sekali tidak kukenal.

Wajah asli Yeni Rumiyaningtyas kala itu

Wajah asli Yeni Rumiyaningtyas kala itu

Perjuangan melahirkan anak nomor dua ini rupanya sangat luar biasa. Keringat sebesar biji jagung menetes dan mengalir dari wajah istriku. Aku sangat tidak tega melihatnya, tapi aku juga tidak bisa pergi keluar dari ruangan bersalin. Tangan istriku sangat erat memegangku dan rasanya aku tak akan sanggup melepaskannya.

Istriku sangat butuh kehadiranku dihari kelahiran anak nomor dua ini dan ketika saat kelahiran itu datang akupun bisa menyaksikan seorang bayi mungil berwarna abu-abu yang akhirnya menangis keras ketika dipukul pantatnya.

“Alhamdulillah, kehamilan yang ke dua dari istriku ini telah berlalu dengan sukses”

Haslita Nisa

Haslita Nisa

++

Kehamilan Pertama
Kehamilan ke tiga

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s