Apa yang membuatmu Senang ?

Senyum Pagi menyambut keindahan dunia

“Apa yang membuatmu senang ? Ayo, silahkan ditulis di selembar kertas dan cermati bener-bener apa yang membuatmu senang”, begitu kata sang instruktur ketika mengajak audiens menuliskan apa yang menjadi sebab mereka menjadi senang.

Ternyata penyebab senang itu bermacam ragam. Ada yang senang kalau gajinya naik, ada yang senang kalau anaknya lulus ujian dan berbagai macam kesenangan lainnya. Umumnya mereka menuliskan apa yang membuat mereka senang dalam beberapa item.

Setelah selesai, maka ternyata jumlah kesenangan yang mereka harapkan tidak lebih banyak dari 7 item. Hanya beberapa orang yang bisa membuat 10 macam hal yang membuat mereka senang, itupun setelah sang instruktur memberi contoh dan menambah waktu untuk menulis.

“Kenapa sulit sekali menulis tentang apa yang membuatmu senang?”, tanya sang instruktur.

Semua audiens terlihat saling pandang dan tersenyum sendiri-sendiri.

“Ternyata mencari penyebab kita senang itu tidak terlalu gampang ya?”

“……………………..”

“Kalau hati kita senang, maka sebenarnya akan banyak sekali kesenangan susulan yang akan kita terima. Coba kita bayangkan kita sudah merasa senang ketika bangun dari tidur, apa yang terjadi setelah kita bangun dari tidur?”

“Mandi…”

“Membersihkan kamar tidur”

“Makan …”

“Memeluk istri”

Banyak sekali komentar saling bersahutan dan semua komentar disampakan dengan raut wajah yang sumringah, senang dan penuh semangat. Beberapa komentar memang ada yang lebay dan ada juga yang memancing senyum di kulum.

“Tadi pada saat saya suruh menuliskan apa yang membuatmu senang, nampaknya teman-teman kesulitan menulis, tapi begitu sudah terpancing menulis dan membayangkan suasana pagi yang cerah, komentar langsung ramai bersahutan. Kenapa?”

Audiens terdiam sambil tersenyum. Mereka baru sadar kalau aroma pagi telah membuat suasana hati mereka menjadi cerah dan membuat mereka mudah menautkan senyum di bibir.

“Oke, kita lanjutkan dengan memeriksa apa yang telah ditulis. Ada yang bersedia menjadi relawan membacakan apa yang membuat kita senang?”

Ternyata audiens kembali ragu-ragu dan akhirnya muncul relawan yang bersedia membacakan tulsiannya setelah dia yakin bahwa apa yang akan dia sampaikan tidak menjadi buah tertawaan audiens.

Sang instrukturpun bertepuk tangan dengan semangat ketika sang relawan selesai membacakan catatan tentang apa yang membuatnya senang.

“Nah kita dengarkan tadi, ada sepuluh kriteria yang membuat teman kita ini senang”

“Ada beberapa catatannya yang sama dengan aku pak”, salah satu peserta terusik untuk berkata karena ikut terbawa semangat sang instruktur.

“Bisa memberi contoh catatan yang sama?”

“Catatan nomor dua pak, saya senang bisa bangun pagi dan bisa gowes bareng teman-teman”

“Emm … kayaknya sama dengan catatan mas relawan tadi ya? Tapi ada bedanya sedikit, bener nggak mbak?”

“Iya pak, ada bedanya, karena saya tambahkan kata gowes”

“Yessss ! Itu bedanya”, sahut sang Instruktur dengan wajah penuh kepuasan.

Rupanya beda yang sedikit itu menjadi besar pengaruhnya ketika diulas. Dengan gaya yang penuh canda ria tanpa membuat tertohok yang mendengar, sang instruktur menceritakan arti perbedaan kalimat hanya karena ada kata gowes.

Kalimat pertama yang disampaikan oleh sang relawan adalah “saya senang bisa bangun pagi”, sedangkan kalimat kedua yang mirip adalah “saya senang bisa bangun pagi dan bisa gowes bareng teman-teman”

Rupanya perbedaan kalimat itu menyebabkan kalimat ke dua lebih sulit membuat hati kita senang. Pada kalimat ke dua ada persyaratan yang lebih sulit diwujudkan dibanding kalimat pertama. Ada dua hal yang harus dilakukan pada kalimat ke dua agar kita bisa senang, yaitu :

1. Harus ada acara gowes, artinya harus ada sepeda untuk gowes agar kita bisa senang.

2. Harus ada teman untuk gowes agar kita senang. Apalagi ada pengulangan kata teman pada kalimat ke dua, artinya temannya harus lebih dari satu.

Bandingkan dengan kalimat pertama yang syaratnya hanya bertumpu pada diri sendiri. “Saya senang bisa bangun pagi”, kalimat ini tidak tergantung orang lain dan hanya bergantung pada diri kita sendiri. Selama kita punya tekad kuat untuk bangun pagi, maka kita akan senang.

Pada kalimat ke dua, tidak hanya bisa bangun pagi yang membuat kita bisa senang, tapi harus ada sepeda dan harus ada teman bersepeda untuk membuat kita senang, artinya ada ketergantungan pada orang lain atau hal-hal lain selain kita.

Jadi, marilah kita tulis lagi apa yang membuat kita senang, tapi jangan sertakan orang lain atau kondisi di luar diri kita sebagai kriteria senang”. Misalnya sebagai berikut :

1. Saya senang bisa bangun pagi.

2. Saya senang bisa sholat subah sebelum subuh.

3. Saya senang bisa menghirup oksigen pagi

4. Saya senang bisa jalan pagi

5. Saya senang bisa bernyanyi kecil

6. Saya senang bisa minum di pagi hari

7. Saya senang bisa melihat langit

8. Saya senang bisa tersenyum

9. Saya senang bisa membaca

10. Saya senang bisa tidur nyenyak

Salam sehati

Senyum Pagi menyambut keindahan dunia

Senyum Pagi menyambut keindahan dunia

 

 

6 komentar

  • agentmaster138

    Cerita yang menggugah pak..

    Suka

    • Terima kasih

      Suka

  • This is really fascinating. Thanks for a sharing this!!!!! 🙂

    Suka

    • Salam @Jade Blair

      Semoga situs https://www.promolta.com/ sukses selalu.
      Amin

      Salam sehati

      Suka

  • kalo seneng itu sesuai kehendak hati saja Lah,, hehhee

    Suka

    • Yes !:-)
      Salam sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s