Gowes Jakarta

CFD Jakarta melalui Stasiun Kota

Tidak ada yang membuat Gowes Jakarta menjadi mudah, semua yang ada di Jakarta membuat gowes menjadi tidak menarik. Anehnya atau jamaknya, semakin sedikit fasilitas untuk melakukan sesuatu, maka akan membuat sesuatu itu makin menarik. Semakin hari semakin padat acara CFD (Car Free Day) di Jakarta dan juga di kota-kota lain. Animo untuk mengikuti acara CFD semakin lama semakin besar, padahal usaha untuk mengadakan CFD kadang malah tidak mengurangi nuansa GREEN.

Beberapa hal yang membuat minat bersepeda di Jakarta menjadi turun antara lain adalah sebagai berikut :

1. Ada beberapa ruas jalan yang menyediakan ruang untuk pesepeda, tapi ruang itu justru dipakai oleh bukan pesepeda.

2. Polusi di Jakarta yang tetap tinggi, sehingga bersepeda di Jakarta seperti menghirup pencemaran udara ke dalam paru-paru kita.

3. Ruas jalan yang terus meningkat kemacetannya.

4. Perilaku pengguna jalan yang sangat mengabaikan pesepeda di jalan.

5. dan masih banyak hal lain yang membuat pesepeda menjadi nomor sekian dari daftar prioritas pengguna jalan.

Gowes blusukan di Sungai

Gowes blusukan di Sungai

Di Jakarta kita tidak bisa menikmati keindahan gowes blusukan seperti di Jogja atau di kota-kota lain yang masih menyisakan udara jernih tanpa polusi, bahkan di sudut kota Surabaya masih ada tersisa beberapa lokasi yang hijau dan udaranya masih bersih. Bila ingin suasana hijau dan udaranya jernih, maka pesepeda harus keluar dari Jakarta dulu, misalnya ke kilo meter Nol di Sentul ataupun ke Delta Mas di timur Jakarta, bukan Jakarta Timur.

Sorga bagi pesepeda yang gemar RB (Road Bike) bagiku adalah bersepeda ke Belitung. Alamnya sangat ramah dan jalannya sangat mulus. Membelah pulau Belitung dari Timur ke Barat jaraknya sekitar 80-90 km, sebuah jarak yang cukup membuat adrenalin tertantang untuk melahapnya dengan sepeda balap (RB). Tantangan di Belitung hanyalah cuaca yang sangat panas, jadi kalau bisa memilih cuaca yang mendung tentu sangat indah sekali sepedaan di Belitung.

Kabarnya bersepeda di Lombok juga tidak kalah asyiknya, karena lokasinya cukup sepi dan jalannya naik turun seperti di Belitung. Saat ini para pesepeda malah sedang keranjingan untuk memakai sepeda MTB (Mountain Bike) di Bali, karena lokasinya yang artistik dan medannya sangat menantang.

Bagi yang gemar Borobudur, lokasi MTB juga banyak bertebaran, mulai dari sepedaan ke Borobudur melalui rute khusus atau memang sepedaan di PUNTHUK seputaran Magelang. Aku sendiri belum pernah gowes ke Borobudur, padahal aku tinggal di Jogja dan sering ke Borobudur. Aku malah ikutan gowes Surabaya Jogja, dalam rangka Dies UGM.

Sepedaan Jakarta CFD harus lewat MONAS

Sepedaan Jakarta CFD harus lewat MONAS

Yang membuat heran, pesepeda di Jakarta tetap setia mengikuti CFD yang suasananya sudah semakin “crowded” (krodit), berjubel dan para pemakai jalannya sudah tidak melihat rambu yang dipasang oleh pemerintah. Pada setiap tempat, terutama di ujung-ujung jalan selalu dipasang rambu untuk membedakan lokasi pejalan kaki, pesepeda anak-anak dan pesepeda orang tua atau pembalap profesional.

Yang terjadi adalah para pejalan kaki seenaknya sendiri menggunakan jalur jalan. Mereka merasa bebas berjalan di sebelah kanan ataupun kiri. Akhirnya para pesepeda menjadi kesulitan mencari jalur jalan untuk mengarahkan sepedanya dan jalan keluarnya lebih parah lagi. Para pesepeda itu kemudian menggunakan jalur busway untuk melancarkan gowesnya.

Para pejalan kaki yang melawan arus juga tidak sedikit, sehingga suasana CFD di sepanjang jalur CFD Jakarta menjadi tidak nyaman untuk para pesepeda. Kelihatannya ada euforia tersendiri bagi para pejalan kaki. Kalau biasanya mereka tersingkir dari trotoar di sepanjang rute mereka jalan kaki, maka kini saatnya mereka bisa berjalan dimana mereka suka.

CFD Jakarta melalui Stasiun Kota

CFD Jakarta melalui Stasiun Kota

Hari ini aku kembali melahap jalur CFD seperti yang telah pernah kulakukan, hanya saja aku selalu memperpanjang jalur dengan menambahkan tujuan sepeda adalah Kota Tua. Aku pernah juga meperpanjang jalur ini sampai ke Pantai Indah Kapuk (PIK), tapi yang kudapat justru suasana yang makin ruwet, sehingga kuputuskan jalur terjauh hanyalah sampai Kota Tua saja.

Suasana Kota Tua masih menarik minat para pelancong, domestik maupun luar begeri. Meskipun pagi itu tidak banyak aktor dadakan yang berperan sebagai noni-noni atau sinyo-sinyo menyewakan segala macam lagak gaya mereka. Yang masih tetap ada hanya persewaan sepeda warna warni.

Persewaan sepeda di Kota Tua

Persewaan sepeda di Kota Tua

Bersepeda di Jakarta memang tidak pernah mati. Meskipun saat ini komunitas B2W sudah tidak seramai dulu lagi, tapi penggemar gowes jakarta masih tetap tinggi dan mereka akan bermunculan di hari libur atau di hari diadakannya CFD Jakarta. Bila pagi-pagi sehabis subuh aku giowes di seputaran Jakarta, maka selalu masih kujumpai komunitas B2W yang masih rajin bersepeda menuju tempat kerjanya.

Bersepeda di Jakarta tidak sesehat bersepeda di kota lain, tetapi kalau itu sebuah keharusan, maka tidak ada salahnya bersepeda di Jakarta. Kita hanya harus tahu kebiasaan bersepeda di Jakarta dan bahayanya bersepeda di Jakarta. Jangan samakan Jakarta dengan Jogja.

Selamat Gowes Jakarta !:-)

Pusat Sepedaan di Jogja

4 komentar

  • Ping-balik: Gowes Minggu Pagi | Blogger Goweser Jogja

  • sobatgowesbekasi.blogspot.com

    Suka

    • yuk gowes bareng 🙂

      Suka

  • keren om.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s