Punthuk Setumbu Tour

Tata Tertib pengunjung Punthuk Setumbu

Acara “Punthuk Setumbu Tour” kurancang ketika seorang teman mendatangi mejaku dengan penuh senyuman. Dia sudah tersenyum-senyum dari jauh melihat aku duduk terdiam di mejaku.

“Pak Eko tahu tidak sebuah tempat yang sangat terkenal di dunia maya tetapi tidak banyak dikenal oleh orang Jogja ?”

“Hmm… apa itu?”

“Ada sebuah tempat yang letaknya di dekat candi Borobudur Magelang, tetapi ketinggiannya jauh di atas Borobudur, sehingga di lokasi itu kita bisa melihat candi Borobudur terlihat kecil dan ada di bawah awan”

“Kayaknya adikku pernah ke lokasi itu naik sepeda deh, cuma aku lupa namanya”, jawabku mengingat-ingat.

Namanya Punthuk Setumbu !”, ucap kawanku dengan kepuasan karena aku tidak bisa menyebutkan nama lokasi itu.

Sebenarnya sambil aku diskusi dengan temanku, tanganku bergerak cepat di atas tust keyboard PC. Kucari nama Punthuk Setumbu dan langsung muncul beberapa artikel maupun gambar tentang Punthuk Setumbu.

Tarif hotel di seputaran Punthuk Setumbu

Tarif hotel di seputaran Punthuk Setumbu

Itulah lokasi wisata yang disebut juga dengan nama “Nirwana Sunrise”, di lokasi itulah kita serasa sedang berada di alam lain. Sepasang gunung Merapi dan Merbabu terpampang di depan mata kita dan di bawahnya ada sekumpulan awan mistis dan di bawahnya lagi terlihat sebuah kepingan seperti piring dengan candi Borobudur di atasnya. Sangat eksotis dan membuat decak kagum selalu muncul ketika candi Borobudur itu makin terlihat jelas.

Bila beruntung, maka akan didapatkan sebuah pemandangan dua gunung dan satu matahari di tengahnya. Persis seperti gambar kita waktu masih anak-anak, dua buah gunung dan satu matahari plus sebidang sawah. Lebih indah lagi karena ada tambahan gambar candi Borobudur di bawah sepasang gunung itu. Namun jangan menunggu sampai terang tanah, karena awan bisa datang kapan saja dan menutupi pemandangan indah ini.

Pintu masuk Punthuk Setumbu (di depan mushola)

Pintu masuk Punthuk Setumbu (di depan mushola)

Pengalamanku memotret pemandangan Punthuk Setumbu adalah pada tanggal 14 September 2014, sekitar jam 5:00 wib sampai jam 6:00. Pemandangan pada jam itu dimulai dari suasana yang masih gelap gulita sampai terang tanah. Candi Borobudur kulihat dari sejak tidak terlihat jelas, sampai sedikit lebih jelas dan akhirnya tidak jelas lagi ketika tanah mulai terang dan awan mulai menutupinya.

Matahari pada bulan September muncul dari kaki gunung Merapi di sisi kanan dariku. Gunung Merbabu terlihat gelap dan pada bulan lain matahari akan bergerak menuju ke arah gunung Merbabu. Menurut pengalaman para pengunjung, sebaiknya datang ke Punthuk Setumbu pada bulan Pebruari sampai September. Aku tidak tahu apakah itu artinya memilih musim kemarau dibanding musim penghujan atau berdasar posisi matahari di bulan itulah yang paling bagus dilihat dari komposisinya.

Gambar hasil searching Punthuk Setumbu

Gambar hasil searching Punthuk Setumbu

Akupun mulai searching hotel dan menyusun acara apa yang sebaiknya kulakukan bersama keluargaku. Kebetulan banyak temanku yang ingin aku segera ke lokasi untuk melihat secara langsung kondisi tempat wisata Punthuk Setumbu itu. Mereka sedang merencanakan untuk bersepeda dari Jogja ke lokasi tersebut dan aku diminta untuk membuat tempat-tempat pemberhentian untuk makan snack dan sarapan pagi.

Akhirnya kesepakatan di keluargaku memilih acara tour ini dimulai sejak dari hari Sabtu pagi sampai Minggu sore. Sabtu pagi sehabis subuh kita berangkat menuju Magelang dan langsung menuju lokasi pemberhentian touring. Di lokasi ini kita nanti akan sering datang untuk beberapa acara makan dan merancang realisasi touring. Banyak sekali sepeda di lokasi ini, rupanya memang disinilah pusat persewaan sepeda terbesar di Magelang. Ada sekitar 1.600 sepeda di lokasi ini, kebanyakan dari sepeda itu berjenis onthel dan sebagian di antara sepeda itu terlihat sedang dirawat untuk lebih baik penampilannya.

Sewa sepeda tua Magelang

Sewa sepeda tua Magelang

Dari lokasi itu, kita diarahkan untuk acara rafting (Arung Jeram) di sungai Elo. Alhamdulillah, kita berangkat masih pagi, sehingga suasana masih nyaman untuk mendayung perahu maupun untuk mandi setelah selesai acara rafting. Saat kita makan siang, maka terlihat para peserta rafting berebut untuk mencuci badan, padahal kamar mandi yang disediakan sudah sangat banyak, tetapi peserta rafting ternyata lebih banyak lagi. Untung kita sudah selesai mandi dan selesai menjemur pakaian.

Selesai rafting kita lanjutkan dengan diskusi keluarga, meskipun pada prakteknya kita lebih banyak tiduran karena kecapekan waktu mendayung. Maklum untuk musim kering seperti ini, maka tenaga mendayung sangat dibutuhkan untuk mencapai finish. Arus sungai yang mengalir pelan membuat membuat kita harus aktif mendayung. Saat menemui jeram yang deras baru dayung bisa kita taruh untuk menjaga keseimbangan tubuh dan tangan kitapun beralih ke tali pengaman perahu.

Borobudur dilihat dari Punthuk Setumbu

Borobudur dilihat dari Punthuk Setumbu

Minggu pagi, kita lanjutkan dengan travelling ke Punthuk Setumbu. Kita nikmati lokasi “Nirwana Sunrise” sejak masih gelap sampai terang tanah. Mulai dari adegan memotret sepasang gunung sampai memotret diri sendiri (selfie) menggunakan tongsis (tongkat narsis) masing-masing. Di candi Borobudur banyak sekali penjual tongsis ini dengan gaya jual masing-masing yang bikin geli sendiri.

Melihat mahalnya biaya akomodasi di lokasi ini, maka cara terbaik menikmati Punthuk Setumbu adalah menginap jauh dari lokasi, bahkan bila ingin biaya yang paling murah, cukup menginap di hotel yang ada Jogja dan yang harganya masih murah. Bisa dicoba dengan menginap di hotel Melati atau Homestay yang saat ini sangat banyak bertebaran di Jogja.

Mengiris ketela menjadi ceriping

Mengiris ketela menjadi ceriping

Selesai acara di Punthuk Setumbu, maka Lovina Tour yang kupakai mengarahkan perjalanan wisata ini ke penduduk yang berjualan keripik pohong dan melihat proses pembuatan keripik itu. Ternyata sangat berat untuk membuat sekilo keripik, jadi ketika aku membeli dengan harga 20.000 per kg rasanya masih murah, karena untuk membuat satu kilogram keripik itu energi yang dibutuhkan sangat luar biasa.

Bergantian kita mencoba menumbuk pohong (ketela pohon), memadatkannya dan kemudian mengirisnya menjadi potongan-potongan kecil sebelum akhirnya digoreng. Rasanya dijamin gurih dan “kemripik”.

Menumbuk ketela pohon dengan ALU

Menumbuk ketela pohon dengan ALU

Usai dari lokasi keripik pohong ini perjalanan wisata dilanjutkan ke lokasi pembuatan grabah. Tangan kita yang bersih langsung berlepotan tanah liat, namun kotornya tangan kita terbayar dengan keasyikan membuat benda-benda dari tanah liat. Jadi teringat Film GHOST yang diperankan oleh Demi Moore beberapa tahun silam.

Setelah sarapan di hotel, maka perjalanan dilanjutkan ke candi Borobudur. Inilah salah satu keajaiban dunia yang patut kita tengok untuk meyakinkan diri kita bahwa nenek moyang kita memang asli hebat dan keren. Sebagai lulusan teknik sipil, aku bisa merasakan bagaimana sulitnya membuat candi ini pada tahun pembuatannya. Alat apa yang mereka pakai dan metoda apa yang mereka gunakan, sehingga candi ini bisa dibangun dengan sangat baik dan dengan presisi tinggi.

Hari Minggu tanggal 14 September ini benar-benar melelahkan sekaligus memuaskan. Usai dari candi Borobudur, kita masih diarahkan ke lokasi pembuatan batik. Disini kita kembali belajar membuat batik sampai mewarnainya. Teknik-teknik batik diajarkan secara sederhana oleh ahlinya dan kitapun akhirnya pulang dengan penuh kecapekan.

Sungguh Punthuk Setumbu Tour yang sangat berkesan. Alhamdulillah.

Punthuk Setumbu yang segar udaranya

Punthuk Setumbu yang segar udaranya

3 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s