Tidak ada DR ABC lagi

Highlight of AHA 2010

Sejak tahun 2010 AHA (American Heart Association) menyatakan tidak ada DR ABC lagi, yang ada sekarang adalah DRCAB. Indonesia selama ini mengacu pada AHA, sehingga rumus umum dalam pelajaran dasar First Aider dengan singkatan DR ABC sudah diubah menjadi DRCAB.

Basic Medical First Aid adalah pelatihan yang mengajarkan ilmu menolong orang yang mengalami kondisi mati klinis agar tidak menjadi mati biologis. Pelajaran yang diberikan sangat sederhana tetapi sangat banyak orang yang tidak tahu dan sangat banyak kejadian orang meninggal karena ketidak tahuan ini.

Seseorang yang jatuh dari ketinggian dan mestinya masih bisa selamat, bisa saja malah jadi meninggal karena kurangnya pengetahuan tentang pentingnya pengetahuan first aid ini. Seorang yang nafasnya terhenti atau nadinya tidak berdenyut bisa saja selamat karena kita tahu ilmunya, tapi bisa saja meninggal sia-sia karena kita tidak tahu cara penanganannya.

Korban bisa ada dimana-mana

Korban bisa ada dimana-mana

Kita bisa tetap hidup meskipun tidak bernafas selama 2 menit, tapi kalau dibiarkan tidak bernafas sampai sekitar 9 menit, maka dijamin kita akan mati betulan. Waktu yang diperlukan untuk tetap hidup setelah mati suri itulah yang disebut periode emas (Golden Period). Selama masih berada dalam rentang waktu emas tersebut masih bisa ditolong untuk tetap hidup kembali.

Sayangnya, sifat penolong kita kadang malah justru yang menimbulkan masalah. Contoh ada orang yang masuk sumur dan minta tolong dari dalam sumur karena menghirup gas beracun, maka penolong yang baik pasti tidak akan dengan gegabah masuk sumur untuk menjadi korban selanjutnya.

Kecepatan penanganan akan banyak membantu korban

Kecepatan penanganan akan banyak membantu korban

Pelajaran pertama dan yang sangat penting adalah menyelamatkan penolong dari bahaya apa saja yang menimpa korban. Dalam kasus di atas, korban menghirup gas beracun, maka yang pertama dilakukan penolong adalah memastikan dulu bahaya apa yang telah menyebabkan korban minta tolong. Bila sebabnya adalah gas beracun, maka sang penolong akan menyingkirkan gas beracun dulu sebelum menolong korban.

Begitu juga misalnya korban gagal bernafas karena kena aliran listrik (kesetrum), maka sumber listrik harus dimatikan dulu dan lokasi sudah aman dari bahaya listrik, baru kemudian penolong akan melakukan tindakan menolong korban. Jadi huruf D dalam DRCAB adalah singkatan dari kata DANGER, artinya memastikan bahwa penolong sudah mengetahui bahaya yang menyebabkan korban terkena bahaya dan memastikan bahwa penolong sudah aman melakukan pertolongan pada korban.

Huruf kedua dari DRCAB adalah R yang merupakan kepanjangan dari kata RESPONSE.

Kata RESPONSE merupakan langkah yang harus dilakukan setelah penolong mengetahui bahaya yang ada dan telah menyingkirkan bahaya itu, sehingga penolong bisa memulai pertolongannya. Yang dilakukan penolong adalah melakukan pengecekan, apakah korban bisa memberi response terhadap apa yang dilakukan oleh penolong.

Penolong akan melakukan panggilan pada korban untuk mengecek tingkat kesadaran korban, bila ada response dari korban, maka dilanjutkan dengan tindakan selanjutnya yaitu “C” atau CIRCULATION. Apabila korban belum melakukan response, maka dilanjutkan dengan tindakan pengecekan tingkat kesadaran korban dengan cara menepuk pundaknya, atau mencubit lengannya.

Metode yang dahulu adalah DR ABC, jadi setelah huruf “R” (response) adalah huruf “A” atau Airway (membuka/mengecek jalan nafas). Metode sekarang adalah huruf “C” atau Circulation (melakukan pijat jantung) atau bisa disebut juga dengan kata Compression.

Sebelum melakukan “C”, maka kita usahakan menghubungi petugas medis atau RS terdekat atau ambulan. Kita berteriak minta pertolongan orang lain agar menghubungi pihak medis dan kemudian kita minta balik lagi untuk menjadi saksi tindakan kita selanjutnya.

Sambil menanti pertolongan, maka kita bisa melakukan “C” yaitu melakukan pemijatan jantung dengan frekuensi 30x pijatan diselingi 2x bantuan pernafasan. Lakukan prosedur pemijatan jantung ini selama 5x siklus pemijatan dan kemudian diperiksa lagi apakah sudah ada detak jantung atau denyut nadinya. Proses ini berulang terus dan akan berhenti bila korban sudah bereaksi, misalnya batuk dan terbangun atau sadar dan mulai bernafas kembali.

Bila petugas medis yang kita panggil sudah datang, maka proses “C” ini juga bisa dihentikan sampai selesai sebuah siklus kita dan akan dilanjutkan siklusnya oleh petugas medis yang lebih ahli dan terlatih.

Bila belum sadar dan belum bernafas sementara itu kita sudah melakuakn lima siklus “C” Compression, maka kita bisa lanjutkan dulu dengan huruf “A” Airway (membuka/mengecek jalan nafas). Siapa tahu ada sumbatan di jalan nafas korban.

Selanjutnya kita juga bisa melakukan huruf “B” Breathing (memberikan initiakl breathing) berupa bantuan pernafasan, biasanya dilakukan untuk orang dewasa sebanyak 12 nafas buatan per menit. Apabila tetap tidak ada respons, maka bisa dilanjutkan dengan memberikan pijat jantung lagi sebanyak 30 x dan nafas 2 x.

Untuk lebih detail mengapa “tidak ada DR ABC lagi”, silahkan cari file petunjuk dari AHA berjudul “Highlights of the 2010 American Heart Association Guidelines for CPR and ECC”. Silahkan membacanya dan Salam sehati.

Highlight of AHA 2010

Highlight of AHA 2010

2 komentar

  • makasih infonya. jadi pas golden preiod penolong harus berusaha semaksimal mungkin seperti CPR ya

    Suka

    • benar
      makasih komentarnya

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s