Sepeda Sendirian


“Dab Penyo kok suka naik sepeda sendirian ? Apa enaknya bersepeda sendirian, bukankah ikut komunitas sepeda lebih seru gowesnya ?”

Bersepeda bersama teman-teman pasti merupakan sesuatu yang mengasyikkan, meskipun kadang-kadang ego pribadi harus dikesampingkan demi terciptanya suasana kebersamaan dalam sebuah komunitas. Foto-foto yang kuunggah via instagram saat ini memang tidak hanya saat aku narsis bersama kawan-kawan, tapi ada kalanya saat aku sepedaan sendirian, sehingga munculan pertanyaan yang mengiraku lebih senang naik sepeda sendirian.

Pagi ini aku juga bersepeda sendirian menempuh rute pendek 23 km dari Cawang ke Sudirman pp via flyover Casablanca. Nikmatnya adalah ketika sampai di puncak flyover dan ingin mengambil foto suasana Jakarta dari jalan layang itu. Naik sepeda sendirian, seperti pagi ini, membuatku bebas melakukan apa saja di sepanjang jalan, sepanjang tidak mengganggu lalu lintas atau mengganggu lingkungan. Aku bebas berhenti di titik mana saja dan mengabadikan suasana di sekitar titik hentiku.

Flyover Sudirman

Flyover Sudirman

Bila aku bersepeda bersama komunitas sepeda, maka perlu kesepakatan dulu untuk berhenti di sembarang tempat, kecuali kalau kita pakai model sok nekad dan sok kuasa, maka kita bisa berhenti dimana saja dan berharap semua anggota komunitas mengikuti yang kita lakukan atau minimal memahami apa yang kita lakukan.

Pada intinya bersepeda adalah olah raga melawan diri sendiri, jangan sampai kita terjebak berolah raga karena melawan orang lain atau ingin bersaing dengan orang lain tanpa memahami kondisi jasmani kita. Bersaing dengan pesepeda lain adalah milik para atlit profesional yang tiap saat berlatih untuk menjadi yang lebih baik atau agar menjadi yang terbaik di kelas masing-masing.

Kita adalah pesepeda yang bukan atlit, jadi nikmati saja olah raga sepeda ini dengan perasaan senang dan penuh semangat. Makin senja usia kita, maka kesabaran bersepeda semakin dituntut lebih lapang. Jangan mudah terpancing dengan prestasi kawan yang sanggup melahap tanjakan curam dengan waktu tempuh yang cepat. Saat sepeda melalui rute menanjak, maka jantung akan bekerja dengan lebih keras, saat itulah banyak pesepeda yang sudah berusia senja lupa diri dan ingin ikut menanjak dengan kecepatan tinggi atau setinggi mungkin.

Banyak dijumpai kasus sang pesepeda mendadak tersungkur tanpa sebab dan tidak tertolong lagi di rumah sakit. Jantung tuanya sudah terlalu capek bekerja atau tidak terbiasa dengan olah raga seberat itu, sehingga tidak berfungsi lagi.

Bersepeda dalam sebuah komunitas sepeda, perlu dianggap sebagai ajang rekreasi sepeda dan jangan dianggap sebagai ajang beradu prestasi. Nikmati saja kekuatan bersepeda kita dengan senyum dan semangat. Jangan terpengaruh dengan kekuatan teman kita yang mungkin memang lebih terlatih, lebih rajin latihan, lebih muda atau yang mempunyai sepeda lebih bagus dari milik kita. Ikutlah semangat SEGO SEGAWE, “sepeda dinggo sekolah dan sepeda dinggo nyambut gawe” (sepeda untuk bersekolah dan untuk bekerja), sebagai kesadaran bermasyarakat di Jogja.

Sego segawe Jogja

Sego segawe Jogja

Merk sepeda Polygon, buatan Sidoarjo Jawa Timur, sudah lebih dari cukup untuk menunjang hobi kita bersepeda. Di manca negara sepeda Polygon sudah diterima para pesepeda disana, mereka melihat sepeda bukan dari merk atau brand, tapi melihat sepeda dari sisi kualitasnya. Dari sisi ini, maka Polygon sudah dianggap memenuhi kriteria mereka.

Tidak perlu lagi kita tertarik dengan merk sepeda luar negeri yang harganya dijamin lebih mahal. Bahwa aku juga mempunyai sepeda luar negeri, itu adalah sebuah kasus diskon. Sepeda luar negeri dan juga sepeda dalam negeri, sebenarnya selalu mempunyai bulan diskon yang besar-besaran. Pada bulan itu, harga gila-gilaan yang dipajang bisa diturunkan sampai di atas 50%, harga sepeda menjadi sangat murah karena modelnya sudah ketinggalan setahun.

Sayangnya sepeda Polygon Heist 5 yang kumiliki, bukannya harganya turun malah justru naik !:-)

Sepeda dengan diskon besar-besaran, biasanya hanya terjadi pada sepeda jalan aspal (Road bike). Sepeda jenis lain, misalnya MTB, bisa turun harga, tapi bisa juga harganya tetap dan tidak turun sama sekali.

Sebaiknya kalau anda sepedaan, nikmati saja sepeda bersama teman ataupun sendirian. Merk apapun tidak jadi masalah, yang penting adalah pengendaranya bukan sepedanya. “Man behind the PIT” lebih penting !:-)

Flyover Sudirman Jakarta

Flyover Sudirman Jakarta

4 komentar

  • saya sangat suka photonya, keren banget om

    Suka

    • Makasih apresiasinya

      Salam sehati

      Suka

  • Keren fotonya kang! Sepeda saya juga polygon dulu ..
    Sudah dijual … ke tukang besi. Soalnya udah betagaran kena panas, kena hujan Hehehee

    Suka

    • Salam @Putra

      Saya ikutan komunitas Heister, itu komunitas pesepeda yang memakai Polygon Heist, meski tidak aktif di komunitas itu, tapi banyak ilmu tentang sepeda yang didapat di komunitas itu.

      Bangga sih dengan sepeda Polygon yang produk Indonesia dan diakui kuaslitasnya di luar negeri.

      Salam sehati

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s