TIA (transient ischemic attack)

Gowes itu Fun dan Sehat

TIA (transient ischemic attack) adalah istilah yang baru saja beberapa bulan lalu kukenal, padahal kasus TIA banyak terjadi di masyarakat. Aku menduga kasus yang menimpa mas Yuda goweser handal di komunitas BluXpit adalah kasus TIA. Beliau yang sudah terbiasa gowes jarak jauh dan dengan kecepatan di atas rata-rata, tiba-tiba terjungkal dari sepedanya tanpa sebab apapun.

Ada yang curiga dengan tidur malam beliau menjelang gowes ke Sermo yang hanya sekitar 2,5 jam dan ada yang menduga niat beliau yang ingin gowes di atas 100 km sementara badan beliau dinyatakan dalam kondisi kelelahan.

Semua alasan itu dapat kuterima, apalagi sebelum sarapan ringan pagi beliau sudah bersepeda sekitar 15 km dan mengejar rombongan yang jauh di depan beliau dengan full speed. Pasti beliau sangat kecapekan, ditambah porsi makan siang beliau yang tidak sebanyak kalori yang dibakar pada hari itu.

Lengkaplah sudah data yang menyatakan mas Yuda dalam kondisi di puncak kecapekan dan akhirnya tiba-tiba tidak sadar dalam beberapa menit. Beliau baru sadar ketika tubuh beliau diangkat oleh teman-teman goweser lainnya.

Minggu pagi pulang dari gowes kuliner, teman-teman mampir ke rumah mas Yuda untuk menikmati jamu beras kencur sambil mendengarkan cerita mas Yuda. Aku sibuk memotret dan upload kondisi mas Yuda di socmed, sehingga hanya sayup-sayup mendengar cerita mas Yuda.

Meski begitu berdasar cerita yang kudapat, aku berkesimpulan bahwa mas Yuda terkena TIA, seperti yang pernah kualami tahun lalu. Inilah data yang menguatkan kesimpulanku :

1. Ada riwayat hipertensi pada diri mas Yuda.

2. Selama gowes, dari start sampai terjadi kecelakaan tunggal, mas Yuda tidak merasakan adanya kelainan di kegiatannya.

3. Mas Yuda, sesaat sebelum jatuh, masih ingat apa yang terjadi di sekitarnya dan “blank” hanya terjadi sesaat saja.

Karena aku bukan dokter, maka aku mencoba mencari berita seputar TIA di internet. Kutemukan penyebab TIA adalah karena tergangunya pasokan darah ke otak akibat adanya penyumbatan aliran darah. Inilah stroke ringan yang sering tidak dipandang dengan cermat karena hanya terjadi sebentar saja.

Gejala TIA sebenarnya sudah bisa dirasakan, antara lain adalah sebagai berikut :

1. Kesemutan

2. Penglihatan terganggu/penglihatan ganda

3. Koordinasi tubuh terganggu (keseimbangan badan terganggu)

4. Kaki dan Tangan terasa lemas

5. Nyeri di kepala

6. Fungsi bicara terganggu, berpikir lama sebelum berbicara

Bila gejala itu terjadi pada diri kita, sebaiknya kita lebih waspada menjaga tubuh kita. Memang belum tentu gejala di atas sebagai penyebab adanya TIA, tapi berjaga-jaga tentu lebih baik daripada menyesal bila sudah terjadi.

Pelajaran dari Mas Yuda

Pelajaran dari Mas Yuda

Kisah mas Yuda KotaJogjaCom di FB beliau perlu juga kita renungkan.

+++

Jaga stamina sebelum olahraga berat. Warning untuk Kita

Ketika Gowes acara Tour De Sermo BluxPit UGM saya mengalami kecelakaan tunggal. Pada perjalanan pulang ketika menempuh 85 km, sekitar beberapa detik melewati lampu merah Jl Wates Ringroad tiba-tiba saya tidak sadar padahal sepeda sedang melaju pada kecepatan 33.5 km/jam (dr data Strava). Sepertinya sepeda sempat jalan tidak dikendalikan yang kemudian akhirnya jatuh dengan kepala dan wajah menghantam ke aspal terlebih dahulu dan kemudian glundung (melihat dari luka saya dan kerusakan sepeda di sebelah kanan dan kiri). Saya juga sudah terlepas dari cleat (pedal yang ada kuncinya ke kaki).

Tersadar ketika sedang ditolong orang pinggir jalan. Saya sempat kehilangan kesadaran sesaat sedang apa ini. Kemudian di larikan ke PMI yg dekat sekali dg lokasi utk pertolongan pertama (Terima kasih buat pemilik mobil yang sudah mengantar). Kemudian di antar istri dan anak lanjut ke Pantirapih untuk rontgen rusuk yang sepertinya terkena stang (terlihat dari rem bengkong). Alhamdulillah tidak ada retak dan patah hanya memar yg lumayan nyeri di rusuk dan pinggang dan cedera di 8 tempat. Beruntung mata terlindungi oleh kacamata sehingga tidak terluka ketika wajah mengenai aspal. Goresan yang dalam di kacamata. Pada kejadian ini helm yang saya pakai sangat vital melindungi ketika kepala saya mengenai aspal. Oleh karena itu helm wajib dipakai lah buat yang suka gowes.

Mencoba memperhatikan hal-hal sebelumnya untuk mencari penyebabnya.

1. Beberapa hari sebelum kejadian kurang tidur mungkin kurang 4 jam dan malam sebelum gowes hanya tidur 2.5 jam. Padahal rute gowes termasuk gowes berat estimasi rute PP 100 km dengan tanjakan yg lumayan (sebenernya jarak segitu hal yang biasa buat saya). Meski mata tidak ngantuk tetapi fisik mungkin lelah dan terforsir. Kemudian sama tubuh dipaksa shutdown sebentar. Sayangnya lagi melaju di tengah jalan. Bersyukur di Jl Wates yang ramai hanya kecelakaan tunggal.

2.Ketika saya cek di jam Heart Rate Monitor kalori terakhir 2600 KCal ini setara dengan orang makan 4 porsi (1 porsi +- 600 kcal). Padahal sebelum gowes saya sama sekali tidak makan. Baru makan sampai di sermo itu pun rendah kalori tanpa nasi). Makan siang beberapa saat sebelum kejadian mungkin energinya belum terserap ke tubuh. Bisa jadi tubuh kekurangan kalori. Menjadi pelajaran ketika gowes berat abaikan dulu program diet karena saat itu tubuh butuh kalori yang cukup.

3. Faktor minum, minum sangat penting untuk menjaga keseimbangan tubuh. Orang bisa pingsan ketika dehidrasi apalagi cuaca panas. Namun pada gowes kemarin saya merasa minum sudah cukup.

4. Rute tanjakan sermo memang lumayan, di tanjakan yang cukup tinggi, jam tangan HR Monitor sempat berbunyi dan saya cek detak HR masuk tinggi 168. Namun sewaktu itu saya tidak merasa ada sesuatu yang masalah.

5. Pemanasan saya mungkin terlalu kebanyakan. Sambil menunggu janjian jam 06.00 berangkat saya memanfaatkan 30 menit untuk pemanasan dengan bersepeda. Dan saya malah menempuh 12 km. Waktu itu saya juga ada rencana untuk mencapai total jarak 100 km.

6. Berdoa ketika mau pergi pun kemarin tidak lupa agar dijauhkan dari marabahaya. Mungkin oleh Allah saya masih dikasih selamat dan luka yang tidak fatal.

Dari pengalaman ini, saya mencoba mengambil hikmahnya, bahwa persiapan selain kendaraan itu penting yaitu kesiapan si orangnya. Menjaga stamina dan istirahat yg cukup itu penting.

+++

Bila ada pembaca yang bersedia berbagi ilmu tentang kasus ini atau fokus tentang TIA, pembaca yang lain tentu akan merasa berterima kasih. Kasus ini bagiku masih menjadi tanda tanya, kenapa bisa terjadi untuk goweser sekaliber mas Yuda yang kemampuan gowesnya jauh di atasku.

Gowes itu Fun dan Sehat

Gowes itu Fun dan Sehat

4 komentar

  • Ping-balik: Goweser beraksi kembali | Blogger Goweser Jogja

  • Ping-balik: Keselamatan bersepeda itu nomor satu | Blogger Goweser Jogja

  • Baru tahu juga Mas saya, jadi TIA kayak nyerang mendadak orang yang merasa sehat gitu ya…dan ternyata tia termasuk stroke ringan. Terimakasih infonya

    Suka

    • Salam mas @Ahmed Tsar

      TIA disebut stroke ringan, jadi setelah kejadian seperti tidak terjadi apa-apa, tetapi sebaiknya begitu kena serangan langsung ditindak lanjuti sebelum jadi stroke beneran di kemudian hari.

      Salam sehati.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s