Sejarah Gedung Waskita

Sharing knowledge konstruksi Cakar Ayam

Sejarah Gedung Waskita akhirnya diceritakan oleh pak Maryadi Darmokumoro dalam rangkaian acara Sharing Knowledge di Gedung Waskita untuk menjawab keinginan dari panitia Sertifikasi Green Building dari Gedung Waskita. Pihak panitia memang menginginkan pak Maryadi, mantan Dirut Wakita, untuk menceritakan konsep pembuatan gedung Waskita, sehingga mempunyai gedung yang ramah lingkungan, ditandai dengan sedikitnya energi yang dipakai untuk mendinginkan gedung dan penggunaan sumber daya air yang hemat.

Maryadi Darmokumoro dan cerita tentang sejarah Waskita

Maryadi Darmokumoro dan cerita tentang sejarah Waskita

Aku sendiri ikut berperan dalam acara sharing knowledge itu dengan bercerita tentang sebab diperolehnya tender proyek Airport Soekarno-Hatta sebagai cikal bakal berdirinya Gedung Waskita. Adalah sebuah metode karya Prof Dr Ir Sedijatmo (alumni ITB) yang membuat Waskita memenangkan tender proyek raksasa itu. Ketika semua kontraktor ingin membangun bandara Soekarno-Hatta dengan cara mengganti tanah jelek di Cengkareng dengan tanah bagus sebesar 10 juta meter kubik, maka Waskita menyorongkan metode Konstruksi Cakar Ayam yang bisa langsung dikerjakan di atas tanah jelek (gambut, ekspansif atau tanah lunak). Tentu metode karya anak bangsa ini diragukan oleh banyak pihak, termasuk oleh partner Waskita dari Perancis yang juga sangat meragukan kehandalan metode ini. Bagaimana bisa sebuah konstruksi langsung dibangun di atas tanah becek, dengan CBR sekitar 2, sementara bangunan yang akan dibuat adalah sebuah bandara yang akan didarati oleh pesawat-pesawat besar dari seantero dunia.

Sharing Knowledge Cakar Ayam

Sharing Knowledge Cakar Ayam

Prof Dr Ir Sedijatmo sendiri tidak mau menjawab keraguan itu dengan penjelasan teknis, dia hanya memberi bukti dengan penjelasan praktek lapangan tentang kekuatan konstruksi Cakar Ayam. Hitungan beban konstruksi diwakili oleh kekuatan Bulldozer yang berjalan dengan kecepatan tertentu dan ternyata hasil uji praktek itu rupanya memberi keyakinan pada partner Waskita, sehingga saat tender proyek dilaksanakan, Waskita memakai metode konstruksi Cakar Ayam.

Sharing Knowledge Metode Cakar Ayam

Sharing Knowledge Metode Cakar Ayam

Dari keuntungan proyek Cengkareng inilah Waskita akhirnya dapat membangun sebuah gedung di Cawang. Cita-cita Waskita membangun gedung sejak tahun 1975 akhirnya terlaksana pada tahun 1988. Sebuah gedung yang dirancang sebagai showroom Waskita, sebagai ajang Waskita untuk menunjukkan keunggulan mutunya, sesuai dengan Motto “Maju Dengan Karya Bermutu!” Gedung 11 lantai itupun menjadi gedung terbesar di Cawang pada tahun 90-an. Sebuah bangunan beton ekspose tanpa sentuhan finishing yang sangat mengagumkan dari kaca mata orang teknik. Bisa dibayangkan kalau saat itu Waskita gagal memenangkan tender Cengkareng. Kontraktor lain akan mengerjakan bangunan Bandara Soekarno Hatta dengan sebuah metode yang merusak lingkungan, yaitu dengan menggusur 10 juta meter kubik tanah untuk dipindah ke lokasi proyek. Tanah sebanyak itu, rencananya akan diambil dari laut memakai kapal penyedot pasir, artinya akan ada 10 kali lipat dari 10 juta kubik air yang diambil dari laut untuk mendapatkan tanah sebanyak itu dan digelontorkan ke lokasi proyek. Belum lagi dihitung, berapa jumlah DT (dump truck) yang harus dipergunakan untuk mengangkut tanah sebanyak itu. Waskita telah menyelamatkan lingkungan Cengkareng dengan metode Cakar Ayam dan hasil keuntungan dari metode itu telah menjadi sebuah Gedung Waskita yang ramah lingkungan. Sebuah cerita yang sangat klop untuk menunjukkan betapa ramahnya Waskita terhadap lingkungan. Acara sharing knowledge yang memakan waktu lebih setengah hari ini akhirnya selesai setelah molor dari jadwal yang ditentukan. Besarnya animo audience untuk bertanya membuat acara berjalan lebih lama dari yang dijadwalkan. Pengalaman bertahun-tahun mengadakan acara sharing knowledge, inilah acara yang paling sukses. Hal ini ditandai dengan masih lengkapnya peserta sampai di akhir acara dan banyaknya pertanyaan yang muncul dari peserta.

Menyanyi Mars Waskita

Menyanyi Mars Waskita

Terima kasih buat pak Maryadi yang sudah membagikan ilmunya pada seri sharing knowledge edisi awal tahun 2015. Terima kasih juga pada bapak Jumhan, yang telah ikut bercerita tentang konstruksi Cakar Ayam Modifikasi, yang merupakan penyempurnaan metode Cakar Ayam konvensional versi Prof Dr Ir Sedijatmo. Kepada pak Ariko, anggota GBCI (Green Building Council Indonesia) yang ikut memandu acara, diucapkan juga terima kasih atas kesediaan beliau meluangkan waktunya untuk berbagi tentang konsep green di dalam kehidupan ini. “Maju Dengan Karya Bermutu!”

Sharing knowledge konstruksi Cakar Ayam

Sharing knowledge konstruksi Cakar Ayam

+++

CHUP = Cengkareng Hydraulic Unit Press
CHADU = Cengkareng Hydraulic Auger Driving Unit

2 komentar

  • Ping-balik: Sertifikasi Green Building | Blogger Goweser Jogja

  • I love it when people come together and share opinions.
    Great site, continue the goodd work!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s