Alhamdulillah aku difitnah

Masjid di atap Mall

“Alhamdulillah aku difitnah, itu ucapan yang seharusnya kita ucapkan saat kita difitnah”, begitu kata pembicara di atas mimbar dengan wajah teduh dan penuh senyum.

Hadirin dan aku tentu saja tersenyum mendengar ucapan itu. Kita saling pandang dan saling senyum. Aku membayangkan betapa beratnya mengucapkan kalimat itu saat kita benar-benar sedang difitnah. Harus bersyukur saat sedang difitnah ?Rasanya kok agak tidak masuk akal.

“Hadirin pasti tahu, bahwa seseorang yang rajin beramal, rajin beribadah dan melakukan segala yang baik-baik di dunia, bisa saja di akhirat nanti tetap akan masuk neraka karena perbuatannya sendiri”

Kutebak pasti yang dibahas adalah orang yang rajin beribadah tapi suka bergunjing, sehingga ketika di akhirat ditimbang amalnya, ternyata amalnya habis untuk membayar dosanya ketika bergunjing. Saat amalnya sudah habis, maka dosa orang-orang yang digunjingkannya harus dia terima sebagai dosanya.

“Amalnya hangus karena ternyata tidak sanggup membayar dosanya. Jadi itulah sebabnya kita harus selalu bersyukur saat difitnah. Apa jadinya jika justru kita yang memfitnah? Apa jadinya jika amalan kita yang sedikit tidak cukup membayar dosa kita?”

Hadirin akhirnya makin mafhum dengan apa yang disampaikan. Di dunia ini memang yang namanya fitnah itu sangat mudah dilakukan, baik fitnah kecil-kecilan sampai ke fitnah yang beneran.

Pelajaran khotbah Jumat kali ini memang sangat berkesan, padahal yang disampaikan sangat biasa. Kita sudah sangat sering mendengarnya dan kitapun sudah lama memahami maksud sang khotib, tetapi cara penyampaian yang lugas dan wajah yang penuh senyum ramah,  membuat kita seperti tersihir.

Masjid di kala hening malam

Masjid di kala hening malam

Kuperhatikan wajah-wajah jamaah masjid, kali ini tidak banyak yang menundukkan wajah dengan khusuk alias ngantuk. Sebagian besar menyimak khotbah singkat ini. Cuma beberapa menit, tidak sampai berjam-jam, bahkan tidak sampai setengah jam, khotbah I sudah selesai. Khotbah ke dua hanya diisi doa dan selesailah sholat Jumat kali ini.

Biasanya saat Khotib sudah naik ke atas mimbar adalah saat kepala ditundukkan dan mata mulai terpejam, secara sengaja maupun tidak sengaja. Padahal nilai ibadah Jumat adalah nilai dari saat Khotib naik mimbar sampai imam selesai memimpin sholat. Tak ada pembicaraan apapun selama khotib mulai angkat bicara. Semua wajib diam mendengarkan, bahkan meminta orang lain untuk diam saja dijauhi.

Adab sholat Jumat itu gampang, seperti juga adab sholat hari Raya, tapi banyak jamaah yang masih sering salah memahaminya. Dua rukun yang ada adalah mendirikan sholat jamaah dan mendengarkan khotib berceramah, tanpa menimbulkan bunyi apapun atau melakukan hal-hal lain selain mendengarkan. Hanya itu saja rukunnya, tapi waktu aku kecil sampai jaman mahasiswa, jamaah sholat hari Raya masih saja melakukan diluar yang disarankan.

Alhamdulillah, saat ini sudah makin banyak yang ikut rukun sholat hari Raya atau sholat Jumatan dan makin banyak khotib yang berkualitas, sehingga tidak membuat jamaah mengantuk tanpa sengaja.

Masjid di atap Mall

Masjid di atap Mall

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s