Tips bersepeda yang lain

BluXpit wisata kuliner gowes kurcaci

Setiap membaca “Tips bersepeda untuk pemula”, pasti isinya kurang lebih tentang perlunya bersepeda ditinjau dari sisi kesehatan, kemudian disusul dengan berbagai jenis sepeda yang sebaiknya digunakan disesuaikan dengan medan dan kemudian ditutup dengan beberapa tips untuk mengikuti sepeda bersama, baik jarak dekat maupun jarak jauh.

Bagi pemula memang disarankan untuk tidak langsung gowes dengan porsi goweser terlatih, bersepeda sebaiknya dimulai dari rute yang pendek dulu dan makin lama intensitasnya makin dinaikkan, sampai tercapai kondisi yang nyaman, baik dalam jarak maupun kecepatan. Biasanya untuk mereka yang berumur 40 tahun ke atas, kecepatan rata-rata antara 20-25 km/jam. Untuk yang lebih muda pasti bisa lebih cepat lagi. Sedangkan jarak tempuh per hari per kegiatan sekitar 15 sampai dengan maksimal 20 km saja.

Kali ini aku ingin menulis tips bersepeda yang lain, yang baru saja kudapat dari beberapa goweser yang kebetulan bertemu denganku di beberapa titik jalan. Yang pertama aku bertemu dengan seorang goweser yang sekaligus designer. Sepedanya terlihat baik-baik saja, tetapi sang Goweser merasa ada masalah di sepedanya, sehingga dibongkar untuk diservice ringan.

“Barusan gowes di Bali mas, dan kayaknya ada air yang masuk ke BB, sehingga perlu dibersihkan dulu”, kata sang goweser.

Perbincangan pagi itu membuat kami cepat akrab dan langsung nyetel dalam topik bersepeda. Kami langsung bertukar akun socmed di STRAVA dan kusempatkan memotretnya.

“Saya ini blogger mas, jadi biasanya ada nuansa narsis sehingga ada yang menarik dari saya yang kemudian bisa saya bagikan pada semua pembaca saya”, kataku pada sang Goweser.

“Mari kita cerita sepeda dan aplikasi STRAVA”, kataku melanjutkan.

“Saya sering lupa tidak mengaktifkan Strava mas, menurut saya lebih penting bersepedanya daripada aplikasinya”, katanya sambil tersenyum.

Aku acungkan jempol padanya dan menimpali ucapannya,”Bener mas. Aku sekarang sudah tidak sedih lagi ketika strava error atau Endomondoku bermasalah. Yang penting bukan sang pencatat kegiatan olah ragaku tetapi olah raganya itu sendiri”

Strava atau Endomondo memang aplikasi pencatat kegiatan olah raga kita secara detil, dengan demikian kita bisa melakukan evaluasi terhadap kegiatan olah raga yang telah dilakukan. Fungsinya sangat membantu kegiatan berolah raga, namun tetap saja yang paling penting adalah rutinitas dalam berolah raga. Seminggu cukup 3 kali bersepeda dan setiap bersepeda cukup 1/2 jam saja.

Pembicaraan seru juga terjadi ketika membahas masalah sepatu klip dengan pedal.

“Tips Klip pedal yang saya lakukan adalah membuat klip sebelah kanan lebih kencang dibanding klip sebelah kiri”

“Kenapa?”

“Kaki kanan adalah power saya, kalau kidal, maka klip yang punya powerlah yang harus dibuat kuat”

Pembicaraan berhenti ketika kawan sang Goweser datang dan mengajak mengayuh sepeda menelusuri sudut kota Jakarta.

Fri Goweser Jakarta

Fri Goweser Jakarta

Di perjalanan pulang dari SCBD, aku disalip seorang pesepeda santai. Kulihat ada identias kemah sepeda di sepedanya, aku langsung mengejarnya dan menyapanya. Aku berani menyapanya karena dia memang sudah menyapaku saat menyalip tadi, disamping itu ada kawanku yang ikut kemah bersepeda itu, sehingga aku bisa bicara tentang suasana kemah itu padanya.

Ternyata mas yang kukejar sangat ramah dan kamipun asyik ngobrol di sepanjang jalan yang sepi karena hari Sabtu ini. Obrolan terus berlanjut dan makin meriah ketika akhirnya kita berhenti untuk minum dawet ayu di pinggir jalan.

“Saya sering bersepeda kemana-mana mas, termasuk tour Padang Aceh beberapa tahun lalu. Hanya saja kalau dilihat di Endomondo, pasti jarak gowes saya kalah sama orang lain, karena dalam seminggu tidak mesti bisa rutin bersepeda”

“Jadi bersepeda kalau jarak jauh saja ya mas ?”

“Ya benar, saya hanya bersepeda jarak jauh dengan waktu tempuh sekitar 7 atau 8 hari, belum pernah yang sampai berbulan-bulan”

“Ups … Gowes Bandung Jogja kemarin cuma tiga hari mas”, kataku

“Nah inilah tips dari saya, waktu menentukan rute di hari ketiga jangan rute yang ekstrem, baik dari sisi waktu maupun dari sisi kontur jalan, karena pada hari ke 3 dan ke 4 biasanya tenaga kita menurun. Pada hari ke 5 dan selanjutnya silahkan dilanjut dengan rute ekstrem karena badan sudah terbiasa melahap rute sebelumnya”

Kamipun berpisah setelah saling bertukar akun FB. Malamnya kutulis masukan dari dua goweser yang kukenal pagi ini. Semoga bermanfaat.

Anan Priyanto spesial Touring

Anan Priyanto spesial Touring

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s