Menyusur Curug Panjang

Mandi di atas Curug Panjang

Acara gowes minggu ini kukurangi agar minggu depan aku bisa fit ikut acara gowes Surabaya Malang, 2 April 2015. Minggu kemarin aku sukses mengawal 5 orang goweser menuju Bandung, meskipun salah satu goweser yang kukawal sebenarnya punya kemampuan yang jauh di atasku.Kita berlima kompak dan finish bersama, meskipun harus beberapa kali berhenti untuk mengambil nafas. Untuk minggu ini judul acaraku adalah “Menyusur Curug Panjang”.

Inilah perngalaman pertamaku ikut acara menyusuri sebuah curug yang satu ke curug yang lainnya, dengan cara berbasah ria menceburkan diri dalam aliran sungai. Ketinggian air diprediksi sekitar paha orang dewasa, sehingga celana kita akan basah luar dalam 🙂

Yang menyebabkan aku mengikuti acara ini adalah ajakan seorang teman, yang sangat peduli dengan nilai-nilai K3, sehingga aku langsung menyanggupi begitu diajak ke lokasi ini. Pasti semua aspek K3 sudah dibahas, sehingga tinggal berangkat saja dan sampai lokasi akan dijelaskan dengan lebih gamblang oleh para pemandu.

Ternyata aturan untuk mengikuti olah raga menyusur sungai ini memang sangat gampang, namun yang gampang itu saja, aku sudah salah mengikutinya. Pertama masalah sepatu. Kata kawanku, pakai saja sepatu olah raga atau sandal gunung saja sudah memadai, ternyata sepatu olah raga yang kupakai tidak memenuhi kriteria yang disebutkan oleh sang pemandu jalan.

Sandal atau Sepatu

Sandal atau Sepatu

Yang ke dua, soal medan yang akan ditempuh. Kata kawanku, kita akan berjalan menyusuri sungai dan akan ada bagian sungai yang sedalam pinggang orang dewasa, tapi bisa dihindari dengan berjalan di jalan tanah di pinggir sungai, sehingga aku bisa membawa ponsel dengan aman, sambil berfoto ria sepanjang jalan. Yang terjadi adalah, sepanjang sungai yang disusuri, kita akan masuk dalam sungai dan tidak ada acara jalan di pinggir sungai. Semua rute adalah berjalan di dalam alur sungai. Untuk berjalan di tanah, bukan di air akan diberi kesempatan setelah acara menyusuri sungai selesai alias finish.

Camera DSLR maupun ponsel terpaksa ditinggal di pos awal, sehingga perjalanan terasa ada yang berbeda, karena tidak bisa berhenti untuk mengambil foto di sepanjang perjalanan. Untung kawanku membawa ponsel yang dimasukkan ke dalam plastik, dengan risiko kalau kecebur air ponsel jadi rusak.

Pemandangan alam yang luar biasa perawan hanya bisa dilihat tanpa bisa diabadikan. Anggota rombongan yang jatuh dan terbawa arus, hanya bisa dilihat tanpa bisa ditolong apalagi difoto. Berbeda dengan sepasang wisatawan mancanegara yang dua-duanya membawa camera GoPro anti air, mereka dengan leluasa merekam semua kejadian yang menarik perhatian mereka.

Andai aku bawa GoPro atau Pentax WG III anti air, pasti perjalanan ini akan makin menyenangkan. Masih untung kau membawa Garmin Forerunner 920xt, sehingga perjalanan mengasyikkan ini bisa kurekam dalam aplikasi Strava.

Rute Trekking Curug Panjang

Rute Trekking Curug Panjang

Dari perjalanan trekking Curug Panjang ini, aku langsung menyusun apa yang harus disiapkan, apabila ada kesempatan mencoba jalur ini.

1. Melengkapi diri dengan sepatu yang cocok.

2. Membawa camera anti air dan tas yang cocok untuk membawa camera tersebut.

3. Berdiskusi dengan pemandu jalan, untuk mencari saat yang paling tepat untuk menyusuri sungai. Karakter cuaca pagi, siang, sore dan malam akan sangat berbeda, sehingga harus paham apa yang perlu dibawa.

Ada kalimat yang menegangkan, ketika acara briefing dilakukan sebelum acara menyusuri sungai dimulai.

“Tadi malam turun hujan dan saat ini juga sedang hujan gerimis, jadi kita menunggu arahan dari pemantau sungai di atas, sebelum memulai acara ini. Jika cuaca tidak mengijinkan, maka acara kita ini, akan kita tunda sampai aman”

Kalimat lain :

“Anggap semua hal berbahaya, jadi waspadalah, semua kecelakaan bisa terjadi kapanpun di lokasi kita berjalan”

Kalimat menyejukkan :

“Kita sudah sampai lokasi pemandian, silahkan mandi, tapi tetap tidak boleh melepas pelampung, apapun alasannya!”

Mandi di atas Curug Panjang

Mandi di atas Curug Panjang, ada juga cewek yang nekad melepas pelampung 🙂

+++

Dari Google ini keterangannya :

Terletak di Desa Citamiang – Paseban, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat.
Peta dan Koordinat GPS: 6° 38′ 46.54″ S  106° 56′ 42.02″ E

Aksesbilitas
Berjarak sekitar 8 km dihitung dari jalan masuk di pertigaan Megamendung (sebelah Mesjid Jami Nurul Huda) dari arah jalan raya Bogor Puncak. Dari pertigaan tersebut belok kiri  melewati Unilever Learning Center, Mega Training Center, Pusdik Reskrim Polri.  Lalu dari Reskrim ambil jalur kanan, ada beberapa ruas jalan yang rusak akibat longsor, selanjutnya akan melewati hutan pinus.

Tiket dan Parkir
Harga tiket masuk adalah Rp. 5000 /orang dan Rp 5000 lagi kalau menginap/camping di kawasan ini.

Fasilitas dan Akomodasi
Fasilitas yang disediakan di kawasan wisata ini cukup banyak dan lengkap seperti  area camping, outbound/gathering dengan beberapa permainan sepertiflyingfox, jungle tracking dan river tracking, bushwalking ke beberapa curug, dan mountainbike.  Ada juga beberapa paket untuk susur sungai dan jelajah hutan seperti paket 4-5 jam, 10 jam atau menginap semalam di tengah hutan dengan harga per paket berkisar  Rp 100.000-Rp 300.000 saja.
Bagi yang ingin mengadakan kegiatan outbound dan berkemah akan tetapi tak punya/membawa camping gear pihak pengelola menyediakan penyewaan berbagai jenis tenda, sleeping bag, dapur dadakan, api unggun, dan sebagainya termasuk alat memasak dan peralatan makan yang memadai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s