Ketika Wanita Berbicara

Pemeran Kolase dan 7 jendela

Setelah tahun lalu sukses mementaskan monolog berbahasa Jawa yang pertama oleh seorang wanita, maka teater We En (Wanita ngunandika) pada tahun ini, kembali akan mementaskan perjuangan seorang Perempuan Pati “Tayu” dalam sebuah rangkaian beberapa monolog dalam tajuk Kolase dan 7 jendela kaca “part two” di Taman Budaya Yogyakarta. Sejak didirikan pada tanggal 24 Oktober 2012, teater We En memang lebih menonjol dalam kiprah dunia monolog dengan memanfaatkan keragaman para pemerannya, yang semuanya adalah wanita. Hal inilah yang mendasari Djujuk memberi nama teater ini dengan nama teater We En, seolah saat itu adalah saatnya Wanita berbicara (wanita ngunandika).

Yeni Eshape dari Teater WN

Yeni Eshape dari Teater WN di tahun lalu

Tahun ini mbah Gati, Sang Sutradara, kembali akan meramu beberapa rangkaian cerita pendek menjadi sebuah kesatuan pementasan, seperti yang pernah dipentaskan beberapa tahun lalu, Kolase dan 7 Jendela Kaca #2. Dengan cerita yang berbeda dan pemeran yang tidak sama, maka ramuan dari mbah Gati akan kembali diuji di Taman Budaya Yogyakarta. Inilah ramuan dengan kemasan artistik versi Gati sekaligus sebuah pementasan yang tetap mengacu pada kepuasan penonton.

Beberapa nama pemeran Kolase dan 7 Jendela Kaca #1 ada yang tetap menghiasi pementasan kali ini, antara lain adalah Yeni Eshape, Labibah dan Sita, sementara beberapa pemain lainnya diambil dari kalangan yang jauh lebih muda dalam usia maupun jam terbang. Racikan untuk memadukan dua generasi yang berbeda ini, tentu akan menjadi tontonan tersendiri bagi penonton. Tugas mbah Gati maupun mas Bhe, adalah memastikan sisi artistik yang tetap terjaga kualitasnya, meskipun usia para pemain terpaut cukup jauh.

Yeni Eshape kembali akan membawakan naskah monolog “Tayu”, sebuah perjuangan dari perempuan Pati dalam meniti hidup dan kehidupannya. Inilah naskah sama yang telah sukses dipentaskan dalam penampilan monolog tunggal tahun lalu. Kali ini naskah ini akan diusung kembali, bersama beberapa naskah monolog lainnya, misalnya SLOBOK yang akan dipentaskan oleh penyanyi muda Jogja saat ini, Valen Ash. Wajah penyanyi dalam dunia teater sebenarnya sudah bukan hal baru, bahkan menjadi trend saat ini. Banyak artis non teater yang belajar akting di dunia teater, semata untuk memperkuat penghayatan mereka terhadap apa yang disuarakan.

Teater WN, TBY Jogja, Rabu, 20 Mei 2015

Teater WN, TBY Jogja, Rabu, 20 Mei 2015

Pementasan JURANG di Taman Budaya Jogja beberapa waktu lalu juga sukes besar karena membludaknya pengunjung, semua itu terjadi bukan tidak mungkin karena ada nama artis di pementasan itu.

Gati sengaja mencari wajah baru dalam pementasan Teater WN kali ini, disamping untuk membina generasi muda Jogja, juga untuk menunjukkan pada kita, bahwa pemain muda yang serius menggeluti dunia teater bisa juga tampil memukau.

Cerita yang akan dibawakan oleh 7 wanita dalam pementasan kolase dan 7 Jendela Kaca #2 ini adalah sebuah potret kehidupan yang mungkin sering dilihat bahkan mungkin dialami, namun mungkin terluput dari panca indera kita. Tegarnya seorang Wanita, rapuhnya sebuah hati Wanita atau kisah buram seorang Wanita tersaji dalam 7 cerpen yang diangkat ke panggung Teater.

Ibu dan sebuah doa yang hilang, sebuah buku kecil yang mengharu biru pembacanya, akan diangkat juga dalam pementasan ini. Inilah sebuah buku yang wajib dibaca, terutama oleh seluruh anak muda generasi kita. Pengarang buku ini, Bagas, sangat tersanjung karena dipentaskannya salah satu cerita dalam bukunya. Para awak teater WN juga sangat termotivasi untuk membawakan cerita itu dalam sebuah pementasan yang tidak akan mudah dilupakan.

Yang istimewa, pementasan ini didukung oleh Pemerintah Daerah Jogjakarta, sehingga tidak ada yang harus membayar untuk menonton pertunjukkan ini. Semua penikmat seni atau pemerhati seni di Jogja dapat menonton pementasan 7 monolog wanita ini dengan gratis. Sungguh sebuah apresiasi dari Pemda jogja untuk seluruh seniman Jogja. Inilah wujud kepedulian pemerintah terhadap kekuatan dan keindahan warganya.

Catat saja hari dan tanggal pementasannya, Rabu 20 Mei 2015 di Taman Budaya Jogjakarta, pukul 19.00 sudah berkumpul di lokasi pementasan. Yang ingin tetap nonton gratis dan tidak bisa nonton di Jogja, bisa juga diingat jadwal mainnya di Surabaya, Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jatim, Sabtu 19 September 2015. Bagi yang ingin membayar untuk apresiasi di dunia seni dalam pementasan ini, silahkan beli Tiket di Jakarta untuk pementasan di Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta, Sabtu 9 Januari 2016.

Pemeran Kolase dan 7 jendela

Pemeran Kolase dan 7 jendela

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s