Sepeda itu cukup satu

Cukup satu sepeda saja

Pagi ini aku mendapat sebuah nasehat dari seorang goweser yang sudah malang melintang memakai berbagai jenis sepeda, “Sepeda itu cukup satu!”

Aku tertawa mendengarnya, karena kalimat itu sudah sangat klise dan diterjemahkan lain oleh teman-teman gowesku. Benar, sepeda memang cukup satu, artinya satu di Jogja, satu di Jakarta, satu MTB (mountain bike), satu RB (roadbike), satu seli (sepeda lipat) dan satu sepeda lagi untuk jenis yang belum disebut :-).

“Saya dulu pertama kali memang memakai sepeda MTB, tapi sekarang saya cukup memakai satu sepeda touring saja”

Kawan baruku itupun melanjutkan ceritanya,”setelah rajin ikut sepedaan dan merasakan nikmatnya bersepeda, maka rasanya tidak lengkap kalau hanya ikut bersepeda di sebuah komunitas, maka sayapun ikut juga bergabung dengan komunitas lainnya”

Kawankupun bercerita tentang perjalanan bersepedanya, mulai dari memakai sepeda jenis MTB, kemudian ke sepeda balap (RB), sampai akhirnya dia menemukan kedamaian dengan sepeda touring.

Setiap pergi bersepeda, dia tidak harus memilih memakai jenis sepedaΒ mana yang cocok, dia cukup menaiki sepeda satu-satunya dan diapun sanggup bersepeda mengikuti irama komunitas yang diikutinya.

Saat teman-temannya dari komunitas balap, on road dengan RB, maka kecepatan sepedanya ternyata masih sanggup mengimbangi kecepatan sepeda kawan-kawannya. Demikian juga ketika diajak “blusukan” ke kampung-kampung, dia dengan sepeda touringnya sangat menikmati perjalanan yang dilakukan, meskipun lewat sungai atau jalan yang tidakΒ mulus.

Tidak ada kamus “haram nuntun” baginya, kalau memang kondisi jalan tidak memungkinkan untuk dilalui dengan naik sepeda, maka dia rela menuntun sepedanya atau bahkan menaikkan sepeda ke kendaraan angkut yang disediakan. Bila tidak ada angkutan yang disediakan, maka dengan santai dia tuntun sepedanya sampai bertemu dengan jalan yang bisa dilalui sepeda. Gowes Kaliurang sudah kecil baginya, asal tidak down hill saja rutenya.

Cukup satu sepeda onroad, tak perlu dua

Cukup satu sepeda onroad, tak perlu dua

“Ada yang lebih hebat dari sepeda saya mas Eko”

“Sepeda apa itu?”

“Sepeda single gear, cukup satu gigi dan tidak pusing memindahkan gigi, yang penting kayuh terus sampai sesampainya”

Aku jadi ingat tulisan di kaos seorang pesepeda, “Gowes sak modare”. Sebuah semangat gowes yang tak kenal menyerah dan memang begitulah kebanyakan semangat dari para pesepeda.

Seorang pesepeda onthel, single gear, pernah dengan tetap tersenyum melahap tanjakan Mangunan Imogiri Jogja, yang mustahil digowes oleh sebuah sepeda onthel. Itu contoh yang menunjukkan semangat bersepeda demi kesehatan dan demi kebersamaan komunitas sepeda Jogja. Meskipun nuntun, tapi tetap semangat !:-)

Seorang temanku sangat enjoy menikmati kegiatan bersepeda, sehingga memutuskan menjadikan bersepeda sebagai kegiatan rutin yang menyehatkannya.

“Sekitar tahun 2005 saya kena vonis harus pasang ring di tiga tempat, tapi dokter menyarankan dan akhirnya melakukan pemasangan ring di empat tempat, satu untuk cadangan, dengan cara bypass”

“Dokter nyentrik itu mas”

“Sepuluh tahun kemudian saya divonis untuk pasang lagi dua buah ring dan diultimatum untuk rajin berolah raga, saran pak dokter olah raga jalan kaki yang rutin”

“Lha kok milih bersepeda ?”

“Saya lakukan perintah dokter, tetapi sekitar dua bulan, saya menjadi bosan, hampir setiap saat melakukan olah raga jalan kaki yang melalui lokasi itu-itu saja”

“Terus milih olah raga bersepeda ?”

“Salah seorang teman komunitas sepeda mengajak saya bersepeda, tepatnya setelah lebaran tahun lalu dan alhamdulillah sampai saat ini saya masih rajin bersepeda”

“Dan tidak perlu pasang ring lagi ?”

“Hahahaha…… jangan lupa tetap konsultasi dengan dokter ahli, karena kalau tidak berkonsultasi, bisa-bisa malah dengan bersepeda akan muncul hal-hal yang tidak diinginkan”

Banyak teman-temanku yang terkena penyumbatan aliran darah dan akhirnya harus pasang ring memilih naik sepeda dibanding olah raga jalan kaki atau renang, padahal olah raga bersepeda tidak termasuk yang disarankan. Mereka beralasan bahwa dengan bersepeda, mereka tetap dapat berkumpul dengan santai bersama komunitasnya dalam suasana guyub dan tidak membosankan, serta biayanya masih terjangkau.

Beberapa pesepeda yang kukenal, bahkan karena semangatnya bersepeda, mempunyai sepeda lebih dari satu, tetapi nasehat sepeda cukup satu rupanya cukup ampuh. Dengan hanya mempunyai sebuah sepeda, maka yang menjadi fokus bukan sepedanya tetapi bersepedanya. “Man behind the pit” yang lebih penting dibanding sepedanya.

Sepeda canggih memang membuat gengsi naik, tapi yang lebih penting sebenarnya adalah kegiatan bersepedanya. Kegiatan beersepeda boleh banyak, tetapi sepeda cukup SATU !

Cukup satu sepeda saja

Cukup satu sepeda saja

33 komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.