Sigar Bencah Semarang

Sigar Bencah Semarang

Sabtu-Minggu, 13-14 Juni 2015, komunitas Gowes WSKT melahap rute Jogja Semarang dan kemudian ditutup dengan rute Sigar Bencah Semarang yang sangat menggoda. Beberapa bulan lalu, WSKT sudah mencoba Semarang Banaran pp, akibatnya banyak yang penasaran untuk mencoba menjalani rute Jogja Semarang pp.

Sayangnya banyak kesibukan dari para anggota komunitas Gowes WSKT, sehingga rencana Jogja Semarang pp berubah menjadi Jogja Semarang plus tanjakan Sigar Bencah Semarang. Inilah tanjakan di Semarang yang lebih curam dari tanjakan Gombel.

Sigar Bencah Semarang bisa dilalui via Gombel atau kebalikannya, tinggal memilih rute tanjakan yang mana yang mau diambil, apakah tanjakan Gombel atau tanjakan Sigar Bencah Semarang. Setelah melalui dua tanjakan itu, maka yang paling aman memang mencoba melalui Gombel dan setelah itu baru dicoba melalui arah kebalikannya.

Perjalanan hari pertama, Sabtu 13 Juni 2015, diikuti oleh goweser WSKT dan beberapa tamu dari komunitas BBWS. Sebagian dari mereka adalah peserta gowes Semarang Borobudur yang dilaksanakan beberapa bulan lalu. Dua komunitas ini berpisah di Turunan/Tanjakan Kopi Eva karena yang satu ingin berisitirahat dulu dan komunitas satunya ingin segera sampai di Semarang, karena sorenya mereka harus bebenah untuk acara khusus di Semarang.

Benar seperti yang diceritakan oleh Goweser BluXpit yang pernah melahap rute Jogja Semarang beberapa bulan lalu. Ada Granfondo yang bisa diraih dan ada hiburan roling setelah sampai Secang menuju Bawen. Jalan mulus dan naik turun, pasti sangat menyenangkan buat para pesepeda balap. Meski demikian ada juga yang setia naik MTB sepanjang rute. Kuperhatikan salah satu goweser dengan santainya tetap mengayuh sepeda MTB dan saat istirahat baru kutahu bahwa dia adalah goweser vegetarian.

Gondrong Nang Goweser vegetarian

Gondrong Nang Goweser vegetarian

Dengan halus dia menolak makanan yang berlauk daging dan tetap lancar mengayuh dari Jogja sampai Semarang. Terbukti bahwa vegetarian tidak berpengaruh terhadap kecepatan dan ketahanan bersepeda.

Aku biasanya selalu bersepeda di urutan paling belakang, disamping tidak terlalu capek, juga bisa ngobrol panjang lebar dengan goweser yang sudah kehabisan napas di deretan paling belakang. Suasana selalu sangat menyenangkan bagiku. Perjalanan jauh jadi tidak begitu terasa. Sayangnya, di hari pertama tidak banyak peserta yang gowes di urutan paling belakang. Ada yang terkena kram dan langsung loading naik mobil dan ada yang begitu ketemu turunan langsung tancap gas sampai Semarang, jauh di depan sepedaku.

Pengalaman jatuh di Nanggulan tahun lalu masih membuatku takut untuk melaju saat jalan menurun, itu pula yang membuat aku naik sepeda Heist yang memakai rem cakram dibanding naik Wilier yang memakai rem V Brake. Aku merasa lebih nyaman saat jalan menurun dan memakai Polygon Heist dengan rem cakram.

Sigar Bencah Semarang

Sigar Bencah Semarang

Paling seru memang pengalaman gowes di hari ke dua, hari Minggu 14 Juni 2015. Meskipun peserta gowes hanya beberapa orang, tetapi suasana sangat akrab dan rute sangat menarik untuk mereka yang gemar tanjakan. Itulah rute Sigar Bencah Semarang yang sangat cepat mengunduh adrenalin. Tanjakan ini lebih curam dibanding tanjakan Gombel yang sudah sangat terkenal dan memang merupakan paket yang menyatu meskipun berlawanan arah.

Sigar Bencah Semarang

Sigar Bencah Semarang

Baik dari arah Gombel ke Sigar Bencah atau dari Sigar Bencah ke Gombel, pasti akan melalui tanjakan yang cukup deras mengalirkan keringat maupun adrenalin. Akupun baru memahami mengapa kawan Semarangku kalau di Jakarta jarang berolah raga sepeda, rupanya rute ini sudah jadi makanan mingguan untuk temanku, sehingga rute di Jakarta sudah tidak menarik lagi bagi dia.

Di rute ini aku harus menyadari, bahwa nafsu itu jangan sampai mengalahkan akal sehat. Banyak temanku yang lebih memilih naik sepeda, meskipun dengan memaksakan diri, dibanding menuntun sepeda. Aku memilih menuntun untuk menjaga nilai heart rate ada pada angka yang normal dan dijauhkan dari angka ekstrem. Rumus umum heart rate adalah 220-umur, sehingga aku selalu memasang target pada sekitar 80% terhadap nilai maksimal heart rate yang ada.

Kalau goweser pergi ke Semarang, sebaiknya mencoba rute ini. Sangat menyenangkan dan sangat menantang.

https://www.endomondo.com/embed/workouts?w=iMIx5FyFyc0&width=580&height=600&width=950&height=600

https://www.strava.com/activities/324891309?utm_content=1264670&utm_medium=twitter&utm_source=ride_share

4 komentar

  • Ping-balik: Granfondo New York di LOMBOK | Blogger Goweser Jogja

  • Nova kurniawan

    Wah ini tanjakan deket rumah saya, sudah 2 kali lewat sini. Belum berani nyoba lagi, badan udah kaku lagi, udah jarang gowes an soalnya. Hehe

    Disukai oleh 1 orang

    • Salam @Nova

      Memang tanjakan yang sangat menantang untuk kota Semarang 🙂

      Suka

  • Ping-balik: Gowes Merdeka itu harus FUN | Blogger Goweser Jogja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s