Sepeda Bambu ke Jogja

Yuk ajari cinta sepeda sejak kecil

Berita tentang Sepeda Bambu ke Jogja sebenarnya kuterima secara mendadak, tapi aku langsung ingat janjiku dulu untuk selalu memberi dukungan penuh untuk kegiatan pembuatan sepeda bambu, sehingga aku langsung kontak beberapa teman goweser untuk mengikuti acara tersebut. Ternyata hampir semua temanku, maupun semua komunitas sepeda yang kukenal, sedang disibukkan dengan berbagai event bersepeda di bulan ini, akibatnya akupun hanya bisa mengajak beberapa orang untuk ikut kegiatan “Sepeda Bambu ke Jogja” ini.

SPEDAGI (sepeda pagi-pagi) dari Bambu

SPEDAGI (sepeda pagi-pagi) dari Bambu

Sehabis subuh aku langsung menyiapkan diri untuk menjemput Mas Singgih sang pembuat sepeda bambu yang pada waktu bersamaan juga meluncur dari Temanggung menuju ke Jogja. Rupanya sepeda bambu sedikit ngadat sejak pagi, mulai dari roda sepeda yang harus ganti, sampai rantai yang putus di tengah perjalanan 🙂

Akhirnya aku berbalik arah untuk menunggu rombongan Temanggung, sambil sarapan di warung Bronkos Bu Padmo yang sudah berdiri sejak tahun 1950. Inilah warung bronkos legendaris yang sangat terkenal di perbatasan Jogja dan Jateng. Rugi kalau sudah terlanjur nongkrong disini dan hanya duduk-duduk menunggu kedatangan sepeda bambu.

Major di Warung Bu Padmo

Major di Warung Bu Padmo

Beberapa gelas minuman sudah habis diteguk setelah selesai menyantap Bronkos paling jhoz di Jogja ini. Sebenarnya bukan paling enak, tetapi karena kondisi kelaparan setelah mengayuh sepeda beberapa kilo meter, maka rasa yang memang sudah enak menjadi super enak di lidahku.

Beberapa saat kemudian melalui WA, aku tahu posisi mas Singgih sudah ada di dekatku, segera kuselesaikan sarapanku plus pembayaran makanan yang sudah masuk perut. Kita langsung meluncur ke Siliran, tempat finish kegiatan bersepeda Temanggung Jogja pagi ini.

SPEDAGI dari Bambu

SPEDAGI dari Bambu

Usai sepedaan, mas Singgih menulis status di FB beliau “Already at home after 80 km Spedagi bamboo bike test with Adrian Windra Setiawan. Tired but happy, that was my farest trip! And bamboo bike is OK, just some little problem on chain. Thanks to Pak Eko Eshape, Mas Bagus Gowes dan seorang teman dari Jogja Gowes yg telah menjemput di Tempel untuk kemudian nggowes bareng ke Jogja. Temanggung-Jogja ternyata hanya membutuhkan 3,5 jam, lebih lama 1-1,5 jam dibandingkan dengan mengendarai mobil. Let’s do that again next with more bamboo bike!”

Beberapa tahun lalu aku sudah pernah mencoba sepeda bambu ini, tapi menurut Mas Singgih sudah banyak perbaikan disana-sini, sehingga secara keseluruhan ada peningkatan kualitas sepeda bambu ini. Apalagi ada campur tangan pribadi dari seseorang yang bekerja di pabrik sepeda Indonesia untuk menyempurnakan design sepeda bambu ini.

“Beberapa waktu lagi, entah kapan, sepeda ini harus segera terbang ke Belanda mas. Ada teman di Amsterdam yang tertarik untuk melakukan percobaan mengendarai sepeda bambu ini di luar negeri”

Akupun jadi ingat dengan seorang kenalan pesepeda yang pernah gabung denganku saat acara gowes ke Goa Kiskendo, dia pernah melahap rute Amsterdam Paris dan juga rute Jakarta Jogja saat acara mudik tahun ini. Kali ini yang akan melancong ke Amsterdam adalah sebuah sepeda bambu 🙂

Wawancara pesepeda saat mudik lebaran

Wawancara pesepeda saat mudik lebaran

Memasuki lokasi finish acara sepeda bambu touring Temanggung Jogja, ada beberapa bule yang tertarik mencoba sepeda bambu ini. Merek aterlihat penasaran dengan model sepeda ini. Sepanjang jalan, kupantau komentar teman-teman juga beberapa di antaranya meragukan kekuatan sepeda bambu ini, padahal kualitas bahan bambu tidak kalah hebatnya dengan kualitas bahan metal.

Beberapa teman  malah sudah tertarik untuk membeli sepeda bambu ini. Ada yang hanya ingin koleksi sepeda ini, tapi ada juga yang memang bercita-cita untuk memakai sepeda bambu ini untuk kegiatan bersepeda mereka.

“Lebih terasa nafas green, bila memakai sepeda bambu ini”

Siang hari, kami berpisah menuju tempat masing-masing. Suatu saat sebaiknya aku juga mencoba bersepeda ke kandangan, tempat sepeda bambu ini bersarang. Aku pasti akan lebih terinspirasi, jika mengendarai sepeda ini di habitat aslinya. Jalan berbatu, berpasir, masuk keluar dusun, masuk sungai dan merasakan nikmatny ablusukan di cuaca yang sejuk segar 🙂

Terima kasih mas Singgih, sudah diberi kepercayaan mengawani dan mencoba sepeda bambu ini, meskipun hanya sebentar saja. Semoga ponakanku, Titan, saat dia sudah besar, saat itu sudah semakin banyak sepeda bambu yang berkeliaran di Indonesia.

Semoga.

Yuk ajari cinta sepeda sejak kecil

Yuk ajari cinta sepeda sejak kecil

2 komentar

  • salam kenal

    Suka

    • salam kenal kembali

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s